BAB 7 : LARANGAN JATUH CINTA

1617 Kata
Orion ingat dia hanya pernah segugup ini ketika melakukan sumpah dokter beberapa tahun lalu. Setelah lulus dari Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Orion mengucapkan sumpah dokter lalu diberi gelar dokter. Kala itu kedua telapak tangan Orion berkeringat. Kegugupan menandakan hilangnya kendali Orion atas diri sendiri. Perasaan gugup itu baru Orion rasakan kembali hari ini. Di sampingnya wajah Gyanetta tak terlalu tampak jelas karena ditutupi oleh veil. Namun, Orion yakin bahwa perempuan itu juga merasakan hal yang sama. Hari ini upacara pernikahan dilakukan. Setelah melewati sesi persiapan yang melelahkan termasuk menyiapkan berkas pendukung yang dibutuhkan pada akhirnya Orion dan Gyanetta resmi menyandeng gelar pengantin. Di hadapan mereka seorang pendeta sedang memberitakan Firman Tuhan. Tak pernah Orion duga bahwa dirinya akan mendapatkan posisi ini. Biasanya Orion hanya menjadi penonton yang menyaksikan rekan sejawat dokternya yang menikah. Tempo waktu seakan bergerak 2 kali lebih cepat hari itu. Saat Orion masih berusaha meredam gugup tahu-tahu mereka sudah diminta untuk mengucapkan janji nikah. Orion meraih ujung jemari Gyanetta. Pandangan keduanya bertemu walaupun Orion tak dapat melihat mata Gyanetta secara jelas, namun Orion mampu merasakan tatapan Gyanetta yang terarah kepadanya. “Saya Orion Oweis menerima engkau Gyanetta Leticia Oshadi menjadi satu-satunya istri saya dalam pernikahan yang sah dan kudus untuk saling memiliki dan menjaga. Dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai kematian mempertemukan kita kembali di kekekalan. Inilah janji setia saya yang tulus.” Orion merasakan getaran di dalam hatinya. Sesuatu yang tak kasat mata seakan baru saja memeluk Orion dengan hangat dan secara ajaib mampu mengusir gugup. Kini Orion hanya mampu merasakan lonjakan haru yang tiba-tiba muncul. Dingin yang semula terasa membekukan ujung jari-jemari Gyanetta secara perlahan mencair. Mikrofon dialihkan ke dekat bibir Gyanetta. “Saya Gyanetta Leticia Oshadi menerima engkau Orion Oweis menjadi satu-satunya suami saya dalam pernikahan yang sah dan kudus untuk saling memiliki dan menjaga ….” Suara perempuan itu terdengar indah—pengalaman yang belum pernah Orion rasakan. Lembut sekali vokal Gyanetta mengucap sumpah pernikahan. Ketika Orion dipersilakan untuk membuka veil perasaan gugup kembali menyerang. Dengan tangan yang sedikit bergetar Orion membuka veil secara perlahan. Wajah Gyanetta yang merona oleh riasan tampak cantik sekali. Kicau burung yang terdengar samar-samar membuat Orion merasa dia sedang menapak surga. “You can kiss her.” Suara itu terdengar mempersilakan Orion. Orion meragu, tetapi Gyanetta sebaliknya. “It’s okay, Orion. You can do it,” kata Gyanetta pelan. Apakah perempuan itu tak gugup? Entah mendapat dorongan dari mana Orion meraih rahang Gyanetta. Tulang rahang perempuan itu terasa nyata menyentuh kulit Orion. Mengikuti nalurinya Orion mendekatkan wajahnya dan waktu seperti membeku saat bibirnya menyentuh bibir Gyanetta. Orion masih mencerna situasi ketika Gyanetta melingkarkan kedua tangannya di sekitar pinggang Orion dan menarik tubuh lelaki itu agar lebih mendekat. Tarikan itu membuat tekanan bibir Orion di atas bibir Gyanetta semakin dalam. Pada saat itu pula Gyanetta membuka sedikit mulutnya. Jejak lembut tertinggal di bibir Orion ketika ciuman itu selesai. *** Pernikahan yang disiapkan dalam kurun waktu 3 bulan itu selesai hanya dalam 5 jam. Setelah pukul 3 sore villa tempat dilangsungkannya acara mulai sepi. Tamu undangan yang jumlahnya tak lebih dari 50 orang telah meninggalkan tempat acara. Yang tersisa tinggal keluarga inti saja. Di luar Orion mengantarkan keluarganya dan keluarga Gyanetta untuk pulang. Gyanetta sendiri tak ikut mengantar. “Orion.” Rinjani yang sudah naik mobil dan bersiap untuk pulang memilih untuk turun lagi. “Ada apa, Bu?” Rinjani mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah kotak beludru ukuran kecil berbentuk kotak. “Ini untuk Gyanetta. Kamu yang kasih saja ya. Bilang, ini hadiah dari Ibu.” Orion menerima pemberian ibunya. Dia sudah dapat menduga apa isinya. “Kenapa bukan Ibu aja yang kasih?” “Ah, malu hadiahnya kecil. Enggak seberapa. Kamu saja ya? Bilang, ini hadiah pernikahan dari Ibu untuk Netta. Benda ini juga jadi saksi bisu dari kisah cinta nenekmu.” Setelah berpamitan untuk yang terakhir kalinya Rinjani pergi bersama rombongan keluarga. Suasana villa yang tadinya ramai perlahan menjadi sepi. Tinggal beberapa staf wedding organizer saja yang terlihat sibuk merapikan sisa-sisa pesta. Gyanetta sedang melepas gaunnya ketika Orion masuk ke kamar villa khusus pengantin. “S-sorry … pintunya enggak dikunci jadi aku pikir—” Orion panik bukan main. Rasanya seperti dia baru saja ketahuan mencuri. Gyanetta sendiri santai-santai saja. “Masuk aja. Sekalian ini bantu turunin resleting di belakang gaun.” Orion salah tingkah, namun dia tetap memilih untuk masuk. Dia sudah berganti baju menjadi kaos lengan pendek dan celana selutut sejak 30 menit yang lalu. “Mana yang susah?” tanya Orion langsung. Lelaki itu tak mau terjebak sunyi bersama dengan Gyanetta. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Orion tak nyaman. Gyanetta membalik tubuhnya. “Itu resletingnya diturunin sampai mentok.” Orion menjepit kepala resleting dan menariknya turun. Di saat itulah Orion dapat melihat tulang belakang Gyanetta yang menonjol. Kulit Gyanetta yang putih pucat tampak polos manakala gaun pengantin mewahnya luruh ke lantai. “Aku mungkin harus keluar.” Susah payah Orion berkata. “Stay di sini aja. Lagian di luar juga enggak ada apa-apa. Keluarga kita sudah pulang. Tinggal staf wedding organizer yang sedang kerja.” Orion kikuk. Lelaki itu bingung ketika Gyanetta berbalik ke arahnya. Perempuan itu hanya mengenakan dalaman bagian bawah, sedangkan tubuh bagian atas Gyanetta polos terkespos. “Lihat ini.” Telunjuk Gyanetta mengarah ke perutnya yang mulai menonjol. “Kata Mami perutku terlalu kecil. Mungkin karena aku kurus jadi perut aku enggak terlalu membuncit.” Pandangan Gyanetta beralih pada Orion. “Kamu mau coba pegang?” “Kamu enggak keberatan?” “Enggak. Kamu … kamu ‘kan ayah dari anak ini.” Orion menelan ludahnya. Benar. Kini bayi di dalam kandungan Gyanetta menjadi anaknya juga. Bayinya juga. Perlahan tangan Orion bergerak menyentuh perut Gyanetta tepat di mana janin kecil itu meringkuk. Dulu saat koas Orion pernah bertugas di stase obstetri dan ginekologi. Melihat ibu hamil bahkan sampai menyaksikan mereka melahirkan bukanlah sesuatu yang baru bagi Orion. Hanya saja, pengalaman kali ini berbeda. Ada euforia yang meletup di dalam hatinya. Sesuatu yang tak dapat Orion jabarkan dengan kata-kata. “Dia lagi apa ya sekarang?” Gyanetta bertanya setengah bergumam. Usia kandungan Gyanetta sudah memasuki 16 minggu. Artinya, Gyanetta telah melewati trisemester pertama. “Ukuran bayi baru 14 sentimeter. Beratnya paling 140 gram. Sekarang dia sedang membentuk sidik jari.” Orion menjelaskan sambil mengingat ilmu yang pernah dia dapatkan selama menjadi koas. “Di waktu senggangnya dia pasti akan mengapung di dalam air ketuban kamu sambil belajar caranya bernapas.” Gyanetta terkekeh mendengar cerita Orion. “Enak ya punya suami dokter. Aku nanya asal aja kamu jawabnya serius.” Perempuan itu kemudian bertanya kembali. “Kira-kira 140 gram itu sebesar apa ya?” “Mungkin alpukat.” “Kecil banget ya baby-nya.” Seulas senyum tipis mengembang di bibir Orion. Menggemaskan sekali membayangkan ada nyawa sebesar buah alpukat di dalam rahim Gyanetta. *** Orion sudah berbaring di atas kasur ketika Gyanetta baru selesai mandi. Karena terlalu memusingkan hari pernikahan, Gyanetta sampai tak membawa banyak baju ganti. Terpaksa perempuan itu meminjam paksa kaos dan celana Orion. Dengann rambut yang masih lembap Gyanetta ikut merebahkan tubuhnya di samping Orion. Tanpa canggung Gyanetta meletakkan kepalanya di bawah lengan Orion. Kini jarak mereka bahkan tak lebih dari satu jengkal. “Di sini dingin banget,” kata Gyanetta sambil merapat pada Orion. Kalau Gyanetta bisa biasa-biasa saja, maka Orion sebaliknya. Jantung Orion seperti mau pindah ke perut saat dadda Gyanetta menempel kepadanya. Kulit Gyanetta yang habis diguyur air terasa dingin bersentuhan dengan kulit Orion yang terasa sedikit lebih hangat. Gyanetta yang peka terhadap sikap Orion mengangkat pandangan. “Keberatan enggak dipeluk kayak gini?” Ini Orion boleh jujur saja tidak? “Iya, sih.” Dengan kecewa Gyanetta menarik mundur tubuhnya dan beralih merebahkan kepala di atas bantal yang lembut. Malam kemarin villa ini terasa ramai karena anggota keluarganya ikut menginap. Semalam sebelum pesta pernikahan Altair bahkan sempat melakukan karaoke bersama Vivienne. Hanya saja malam ini suasananya berbeda. Sepi. Di villa besar ini hanya ada Orion, Gyanetta, dan staf dapur yang tidur di lantai bawah. Sambil menatap langit-langit kamar yang polos Gyanetta bertanya, “Gimana rasanya menikah?” “Aneh.” Butuh waktu agak lama bagi Orion untuk menentukan padanan kata yang pas. “Pernikahan itu … sesuatu yang enggak pernah aku bayangkan. Biasanya aku hadir sebagai tamu, tapi tadi pagi aku yang jadi pengantinnya. Pakai tuksedo, mengucap sumpah pernikahan, dan ….” Orion agak ragu untuk mengucapkannya. “Mencium kamu. Itu semua terasa enggak nyata, sih buatku. Kamu sendiri gimana?” “Kalau soal menikah ya … aku emang udah punya bayangan. Dari dulu aku selalu ingin jadi ibu yang melahirkan seorang anak. Aku udah ngebayangin bakal nganterin anak aku sekolah, ngejemput dia, bikinin bekal yang lucu, dan pamer ke keluargaku kalau anakku punya prestasi. Tapi, kalau soal mempelai pengantinnya … jujur aja, aku enggak pernah membayangkan kalau orangnya bakal kamu.” “Kamu masih cinta sama laki-laki itu?” Orion menoleh. Gyanetta juga menatap ke arahnya. “Aku … masih sering kangen.” Seharusnya Orion tahu akan hal itu. Menikah tak lantas menjadikan Gyanetta melupakan lelaki yang telah meninggalkannya. “Wajar. Kamu bertahun-tahun pacaran sama dia.” “Kalau kamu?” “Aku kenapa?” Orion bingung kemana arah percakapan Gyanetta. “Kamu sudah mulai punya niatan untuk jatuh cinta sama aku?” Orion mendengkus tajam. “You wish.” Orion membalik tubuhnya menjadi membelakangi Gyanetta. Bete juga dia membayangkan wajah laki-laki yang telah mencampakkan Gyanetta. Detik berikutnya Orion merasakan tangan Gyanetta yang memeluk perutnya. Napas perempuan itu terasa halus meniup leher Orion. “Jangan jatuh cinta sama aku ya … aku takut nyakitin kamu.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN