BAB 8 : LUKISAN INDAH

1668 Kata
Rooftop rumah sakit menjadi tempat pelarian para staf ketika mumet dengan pekerjaan mereka. Orion termasuk orang yang menjadikan rooftop sebagai sweet escape-nya. Saking banyaknya staf yang naik turun hanya demi menghirup udara dari atas sini pihak RS bahkan menyediakan bench. Setiap menjelang malam lampu di rooftop juga akan dinyalakan sehingga setiap orang yang datang tidak perlu repot-repot berjalan dalam gelap. “Belum pulang?” Bariton berat itu terdengar ketika Orion sedang berdiri menghadap pembatas rooftop. Sewaktu menoleh tampak Mada yang sedang berjalan ke arahnya. Dokter pediatri itu terlihat santai dengan setelan baju bebas. Di tangannya terdapat sebuah kotak rokok. “Bentar lagi, nih pulangnya. Dokter belum pulang juga?” tanya Orion basa-basi. “Masih nunggu istri saya. Dia ada kerjaan buat membimbing dokter koas.” Orion mengangguk saja. Pandangannya kembali lurus tertuju pada langit sore yang membentang di depan sana. Jakarta menjelang sore terlihat sama padatnya dengan Jakarta menjelang pagi. Para pekerja tampak sibuk berjubel di jalan yang padat oleh kendaraan. “Mau?” Mada menyodorkan kotak rokoknya. Orion sempat memandangi lintingan tembakau itu sebentar. Sudah 3 hari ini Orion tinggal bersama Gyanetta di apartemen perempuan itu. Mereka tidur satu kamar dan Orion khawatir aroma dari jejak rokok yang ia hisap akan tertinggal di pakaiannya nanti dan mengganggu Gyanetta. Berdasarkan pertimbangan itulah dengan sopan Orion menolak. “Enggak dulu, dok. Terima kasih.” Mada memasukan kotak rokoknya setelah menyalakan satu dan menjepitnya di antara mulut. Mereka tidak saling bicara sampai akhirnya Orion melontarkan satu pertanyaan yang menganggunya akhir-akhir ini. “Menurut dokter … istilah cinta habis di orang lama itu bagaimana?” Mada terlihat berpikir sebentar sebelum menimpali, “Itu akal-akalan orang yang belum sepenuhnya move on aja.” “Begitu ya?” Mada menarik keluar rokoknya. Diliriknya Orion yang terlihat gusar. “Orion, sesungguhnya hati manusia itu seluas lautan. Ketika cinta yang pertama usai, maka akan ada seribu kesempatan bagi cinta yang kedua dan ketiga untuk tumbuh. Kenapa bertanya tentang itu?” Orion mempertimbangkan. Mada adalah dokter senior yang sangat ia hormati. Lelaki itu menikah ketika seusia Orion. Dengan kata lain pengalaman Mada tentang cinta pasti lebih banyak daripada Orion. “Saya kenal seseorang yang kebetulan menikah bukan dengan orang yang dia cintai. Sebelumnya dia menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya selama bertahun-tahun. Saya penasaran aja … apa mungkin pasangan barunya punya kesempatan untuk dicintai juga.” Tentu saja Orion sedang menyinggung tentang Gyanetta. Sepanjang pernikahan mereka yang baru seumur jagung sikap Gyanetta kepadanya memang baik. Hanya saja, Orion merasa ada yang salah. Entah apa. Orion sendiri masih meraba-raba perasaannya. “Pernikahan itu seperti naik kapal di atas lautan yang ombaknya besar. Sepasang suami istri harus bekerja sama supaya kapal itu enggak karam.” Mada menjelaskan dengan nada yang tenang seakan dia sedang mendongeng pada seorang anak lelaki. “Bagi saya … satu-satunya hal yang membuat kapal bisa bertahan hanya kekuatan cinta. Mungkin memang ada yang berpendapat bahwa di dalam rumah tangga cinta aja enggak cukup. Ya, saya setuju. Tapi, cinta itu bahan bakar dari segalanya. Pernikahan itu isinya bukan hanya tentang bahagia dan kaya. Tapi, juga susah dan miskin. Kalau hanya mengandalkan sisi materialistis maka, rumah tangga bisa langsung hancur begitu Tuhan mengambil kekayaan.” “Cinta di dalam pernikahan sepenting itu?” Mada menyentil ujung rokoknya yang mulai menjadi abu. “Penting. Begini, Rion. Cinta manusia memang enggak akan habis pada satu makhluk, tapi apakah manusia itu punya keinginan untuk menumbuhkan cinta yang barulah yang menjadi pembeda. Apakah kebetulan orang yang kamu kenal itu punya keberanian untuk meninggalkan bayang-bayang masalalunya dan mulai untuk mencintai orang baru? Itu jadi pertanyaan saya.” Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Orion termenung. Sayangnya, Orion tak menemukan jawaban untuk pertanyaan Mada bahkan sampai dokter senior itu pamit untuk pulang duluan. *** “Welcome homeeee!” Gyanetta menyambut Orion dengan ceria manakala lelaki itu baru membuka pintu utama. Apartemen Gyanetta cukup luas. Unit apartemennya terdiri dari 2 kamar tidur—1 kamar dengan ukuran lebih kecil digunakan untuk ART, 2 kamar mandi, satu walk in closet, ruang tengah, dan satu ruang kerja. Orion hanya pernah mengunjungi apartemen ini sesekali. Namun, sekarang bangunan yang dia sebut sebagai rumah akan menjadi pemandangan sehari-harinya. Sore itu Gyanetta masih mengenakan setelan kantor yang dilapisi oleh apron. Aroma gurih santan bercampur aromatic lengkuas tercium di udara. Wanginya mengingatkan Orion pada sesuatu yang tak lagi asing. “Kamu cape enggak?” tanya Gyanetta mencurigakan. Orion mengangguk ragu-ragu. Pada saat itulah Gyanetta berlari kecil ke arahnya dan memeluk Orion dengan gemas. Tinggi Gyanetta yang tak sejajar dengan Orion membuat perempuan itu tampak lucu memeluk Orion. “You need a hug!” pekik Gyanetta sambil masih memeluk Orion. “Kita harus pelukan minimal 5 detik, Rion. Supaya energi kamu ke-charger lagi.” Semula Orion membeku. Sikap Gyanetta akhir-akhir ini jadi manja sekali. Dari dulu Gyanetta memang selalu jadi orang pertama yang membuat kontak fisik dengan Orion. Hanya saja, kali ini berbeda. Ragu-ragu Orion melingkarkan tangannya ke punggung Gyanetta. Samar-samar hidung Orion dapat mencium aroma sampo Gyanetta yang manis. Aroma yang juga tertinggal di bantal tempat perempuan itu merebahkan kepala. Aroma yang kemudian Orion simpan di dalam sudut memorinya. Anehnya pelukan hari itu membawa ketenangan yang hangat. Dengan sadar Orion mengeratkan pelukan. Orion juga menempelkan pipinya ke puncak kepala Gyanetta. “Kamu masak hari ini?” tanya Orion pelan. Waktu 5 detik sudah berlalu, tetapi dia masih sayang untuk mengurai pelukan. Begitu pula dengan Gyanetta. Di dalam dekapan suaminya Gyanetta mengangguk pelan. “Iya. Aku sama Mbak masak tom kha kai, makanan yang kamu suka banget itu pas kita ke Thailand.” “Emang kamu enggak cape?” Gyanetta mengangkat pandangan. “Cape, tapi sekarang udah enggak soalnya udah dipeluk kamu.” Pertanyaan Mada melintas lagi di benak Orion detik itu. Sikap Gyanetta yang hangat dan manja ini … apakah tanda bahwa perempuan itu memiliki keberanian untuk menumbuhkan cinta yang baru? Apakah mungkin Gyanetta mulai berusaha untuk meninggalkan bayang-bayang lelaki itu? Tetapi, bagaimana dengan perasaan Orion sendiri? Hatinya menghangat karena Gyanetta, namun belum tentu itu karena cinta. Pada saat itu Orion ingin memastikan. Tangannya beralih dari memeluk punggung Gyanetta menjadi meraih rahang perempuan itu. Orion kembali melakukan apa yang pernah dia lakukan di pesta pernikahan mereka. Bibir Orion mencium bibir Gyanetta. Kelembutan bibir Gyanetta masih sama seperti hari itu. Detik berikutnya Orion merasakan jari-jemari Gyanetta di sekitar tengkuknya. Jari tangan Gyanetta yang lentik bergerak pelan mengusap tengkuk dan rahang Orion seiring dengan tempo ciuman mereka. Orion sempat membuka matanya. Di saat yang sama Gyanetta melakukan hal serupa. Pandangan keduanya tampak sayu … keduanya tenggelam di dalam sesuatu yang bukan disebut dengan cinta. *** Orion menatap pantulan dirinya melalui cermin kamar mandi. Tetes air tampak jatuh dari ujung rambutnya yang masih basah dan jatuh ke bahu lalu turun melewati kulit perutnya yang rata. Orion masih bertelanjjang ddadda. Dia hanya mengenakan handuk mandi yang dililit di sekitar pinggang. Tubuh Orion terasa dingin setelah diguyur oleh air. Wajahnya tampak gugup menatap cermin. Ketika keluar dari kamar mandi Orion melihat Gyanetta yang duduk di tepi kasur. Perempuan itu hanya mengenakan bathrobe. Sama seperti Orion malam itu Gyanetta juga gugup. “Rambutnya mau dikeringkan dulu?” tanya Gyanetta. Dia berusaha menyingkirkan gugup yang membuat tangannya bergetar pelan. Orion mengangguk kikuk. “Duduk dulu. Aku ambil handuk baru setelah itu dikeringkan pakai hair dryer,” sambung Gyanetta. Orion patuh. Dia duduk di tempat bekas Gyanetta sementara sang istri berjalan meraih handuk di keranjang tak jauh dari kasur. Adegan ketika Gyanetta mengusap rambut basah Orion menggunakan handuk menjadi adegan paling canggung yang pernah Gyanetta lihat. “Gimana perasaan kamu?” “Soal?” Orion ingin memastikan. “Soal apa yang akan kita lakukan.” Orion menyerngit tak nyaman. “Aku bingung. Mungkin kita bisa melakukannya kalau sudah lebih yakin—” “Aku yakin kok.” Gerakan tangan Gyanetta terhenti. Perempuan itu menatap Orion dengan serius seolah sengaja supaya Orion bisa membaca kesungguhan hatinya. “Kamu suamiku … apapun alasan kita menikah pada akhirnya kamu suamiku.” Orion meragu. Apakah dia bisa menyentuh Gyanetta selayaknya lelaki yang menyentuh perempuan? Selama ini Orion memandang Gyanetta sebagai sahabat … sebagai rekan … sebagai kawan. “Can I?” tanya Orion sekali lagi. Gyanetta mengangguk pelan. Dengan tangan yang sama bergetarnya Orion menarik tali bathrobe yang melingkar di sekitar pinggang Gyanetta. Hal tersebut secara langsung membuat tubuh Gyanetta terekspos. Orion seorang lelaki normal. Dia tahu ketika darah berdesir dari jantung ke wajah dan ke perutnya. Rasa panas yang mengalir secara tiba-tiba itu menggiring Orion untuk mendaratkan bibirnya di tulang selangka Gyanetta. Aroma sabun yang segar dan manis tercium saat itu. “Kamu gugup,” ucap Gyanetta ketika Orion merebahkannya di bawah tubuh Orion. Dengan penuh kelembutan Gyanetta meraih rahang Orion dan menariknya mendekat. Bibir Gyanetta bergerak di atas permukaan bibir Orion. Kala itu Orion seperti melihat hamparan bunga, kupu-kupu, pelangi, dan kicau burung yang merdu. Orion dapat melihat keindahan saat lidah Gyanetta bergerak di antara bibir dan gigi Orion. Ciuman itu hangat dan hati-hati. Gyanetta menjadi pihak yang memimpin sesekali. Ketika telah menemukan tempo yang pas Orion akan menjadi pihak yang mendominasi. Sentuhan Gyanetta bagai api yang mencairkan dingin. Mengikuti nalurinya Orion melepas ciuman dan mendaratkan gigitan kecil pada bagian tubuh yang lain. “Bilang kalau kamu enggak nyaman.” Orion mengatakan hal tersebut sambil memandang Gyanetta yang tampak sayu di bawah sana. Lagi-lagi Gyanetta mengangguk. Rasanya Orion hampir menggila ketika untuk pertama kalinya memasuki tubuh Gyanetta. Hatinya dipenuhi banyak warna ketika Gyanetta melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Orion. Suara perempuan itu yang lirih bagai lagu yang ingin Orion dengar di penghujung malam. “Orion ….” Lirih Gyanetta di bawah sana. Di bawah sana Gyanetta terlihat luar biasa indah. Sesekali keningnya berkerut samar. Sesekali mulutnya mengucap nama Orion bagai mantra yang mendorong lelaki itu untuk bergerak lebih dalam … lebih jauh di antara daging yang membentuk Gyanetta. Gyanetta malam itu tampak bagai lukisan … kecantikannya seakan tak nyata bagi Orion. Tangan kanan Gyanetta bergerak resah mencari pegangan. Orion dengan cepat meraih tangan Gyanetta dan merangkumnya di dalam kehangatan yang menenangkan. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN