BAB 9 : PENGANTIN PENGGANTI

1466 Kata
Sabtu pagi Orion terpaksa pergi ke RS Harapan. Katanya, hari ini akan ada sesi penyambutan dokter baru. Sebagai salah satu dokter spesialis Orion diminta untuk hadir. Mau tak mau Orion harus meninggalkan Gyanetta. Perempuan itu masih meringkuk di balik selimut. Kebetulan kantor Gyanetta libur di hari Sabtu jadi, perempuan itu bisa bebas bangun siang. Gyanetta yang mulai menyadari kasur di sebelahnya kosong terbangun. “Kamu mau kerja?” Suara Gyanetta terdengar serak. Orion yang sedang mengancingkan kemeja berbalik. Dilihatnya Gyanetta mengucek mata. “Iya. Ada penyambutan dokter baru. Enggak apa-apa aku ninggalin kamu?” “Enggak apa-apa, sih. Tapi, kenapa lampunya enggak dinyalan?” Gyanetta menyadari bahwa Orion bersiap-siap hanya dengan mengandalkan cahaya dari kamar mandi yang pintunya dibiarkan terbuka. Secara keseluruhan kamar tidur mereka remang-remang karena lampu utama masih dimatikan. Gorden juga tidak dibuka. “Khawatir cahayanya ganggu tidur kamu.” Orion ini manis banget, sih. Pikir Gyanetta. Tanpa banyak pikir Gyanetta bangkit. Perempuan itu menyalakan lampu dan memastikan penampilan Orion. Jari telunjuknya bergerak mengusap leher Orion. “Ini … kayaknya harus dikasih concealer sedikit,” kata Gyanetta lalu buru-buru meraih sesuatu yang menurut Orion mirip dengan bedak cair. Sebelum sempat Gyanetta mengoleskan kosmetik itu tangan Orion sudah menahannya terlebih dahulu. “Ini apa?” “Ini bedak untuk menutupi bekas di sini … ah, masa kamu enggak sadar, sih.” Menyadari bekas yang dimaksud membuat Orion langsung patuh saja. Bedak cair itu terasa dingin saat menyentuh kulit leher Orion. “Kamu lama di RS?” “Hmm … biasanya, sih lama karena aku biasa belajar di sana juga. Kadang ada dokter koas yang konsultasi.” “Kalau aku minta kamu pulang lebih cepet boleh enggak?” Gyanetta menatap Orion dengan kedua matanya yang indah. Orion mengangguk. “Aku akan pulang lebih cepet. Kamu mau aku bawain sesuatu?” “Enggak, ah. Kamu aja pulang. Aku enggak suka di rumah doang kalau weekend, kalau kamu pulang masih agak siang nanti kita pergi keluar yuk?” “Kamu mau kita pergi ke mana?” Senyum jahil terbit di bibir Gyanetta. Gigi kelincinya yang manis terlihat menggemaskan kala itu. “Ada, deh.” “Yaudah, ayo.” Pada saat itu Orion teringat pemberian Rinjani yang belum diserahkan kepada Gyanetta. “Tunggu.” Lelaki itu berjalan mendekati tas kerjanya. Dikeluarkannya kotak beludru dari dalam sana. Orion lantas menyerahkan kotak itu kepada Gyanetta. “Dari Ibu untuk kamu.” “Wow. Apa ini.” Gyanetta membuka kotak tersebut. Di dalam sana terdapat sebuah kalung emas dengan liontin green jade yang membentuk tetes airmata. Secara keseluruhan perhiasan ini tampak antik. Dengan takjub Gyanetta mengeluarkan kalung itu. Dipandanginya perhiasan tersebut. “Ini … untuk aku betulan?” “Iya. Ibu dapat ini dari Nenek. Ini adalah hadiah untuk pengantin baru. Sekarang kalung ini diwariskan kepada kamu … karena kamu pengantinku. Mau kamu pakai?” “Ini … kalung yang pernah kamu ceritakan waktu itu bukan?” Orion berusaha mengingat cerita yang dimaksud oleh Gyanetta. “Kalung yang digadaikan ibuku untuk biaya pendidikan maksud kamu?” Rinjani adalah orangtua tunggal bagi Orion. Sewaktu umur 5 tahun ayahnya Orion kabur dari rumah dan meninggalkan keluarga kecilnya. Sejak itu pula Rinjani bekerja banting tulang demi menyekolahkan Orion dimulai dari berjualan kue basah di pasar sampai akhirnya bisa memiliki toko sembako besar di Pasar Ciputat kawasan Tangerang Selatan. Selama melewati pasang surut ekonomi yang tak jelas Rinjani pernah menggadaikan kalung tersebut supaya Orion bisa mengikuti ujian sekolah. Berkat kalung itu pula Orion bisa melangkah lebih jauh di dunia akademik. “Iya.” Gyanetta merasa tak enak hati menerima barang berharga ini. Mungkin perhiasan ini tak seberapa dari segi harga, namun dari sisi historis tentu saja kalung di tangannya mengandung nilai tinggi. Ada sejarah dan kisah yang suci yang ikut menemani perjalanan kalung ini. “Aku kayaknya enggak pantas deh, punya barang seberharga ini.” “Kenapa kamu mikir gitu?” Gyanetta memasang ekspresi bimbang. “Aku … bagaimana pun aku bukan pengantin yang kamu inginkan, Rion. Apa pantas orang seperti aku menerima barang yang bernilai begini?” Orion meraih kalung di tangan Gyanetta dan menjawab dengan sabar, “Kamu pengantinku, Gyanetta. Selamanya akan begitu.” Tanpa perlu menunggu persetujuan dari Gyanetta Orion berjalan menghadap punggung Gyanetta. Secara hati-hati Orion memasangkan kalung itu kepada Gyanetta. “Coba lihat.” Gyanetta berputar menghadap Orion. Malu-malu dia bertanya. “Pantas enggak?” Orion mencubit gemas pipi Gyanetta. “Enggak ada yang lebih pantas untuk pakai kalung ini selain kamu, Netta … istriku.” Secara inisiatif Orion memeluk tubuh Gyanetta. “Pengantinku.” Pengantinku. Satu kata itu berhasil menggetarkan jantung Gyanetta. Kalau boleh jujur Gyanetta merasa senang karena itu artinya Orion secara perlahan mulai menerima kehadiran Gyanetta sebagai istrinya. Hanya saja, di lain sisi Gyanetta merasa bersalah karena di mata Gyanetta sosok Orion tak lebih dari sekadar pengantin pengganti. *** SELAMAT BERGABUNG DI RUMAH SAKIT HARAPAN DRG. CECILY TAN Orion membaca sebaris kalimat yang dicetak pada selembar kertas HVS ukuran A4. Kertas tersebut ditempel pada meja kerja kosong tepat di samping meja kerja Orion. Tak jauh dari kalimat itu dicetak pula foto seseorang yang amat Orion kenali. Setiap dokter spesialis di RS Harapan memang diberikan ruangan khusus yang terdiri dari 3 sampai dengan 4 meja. “Manis sekali. Pasti itu dicetak oleh dokter koas.” Suara dokter Cecily terdengar di belakang Orion. Setelah direktur RS Harapan memperkenalkan drg. Cecily Tan kepada seluruh dokter spesialis yang hadir, secara random Orion ditunjuk untuk membawa Cecily ke ruang kerjanya. Orion meletakkan box plastik ukuran sedang berisi alat kerja Cecily di atas meja kerja perempuan itu. “Ini meja kamu sekarang.” Cecily tanpa canggung langsung mendudukan tubuh di atas kursi dan dengan antuasias memeriksa kemiringan meja dan debu yang menempel. “Sirkulasi udara di sini bagus. Pencahayaannya juga cukup. Selain itu, ruangan ini jauh dari parkiran. Jadi, pasti akan nyaman kerja di sini. Thanks.” “Sama-sama. Semoga kamu betah di sini. Itu meja kerjaku.” Ketika menunjuk meja kerjanya tak sengaja pandangan Cecily jatuh pada cincin yang melingkar di jari manis Orion. “Aku agak kaget pas tau kamu juga kerja di sini,” balas Cecily. Dia masih ingin mengorek informasi dari Orion. “Udah berapa tahun ya kita enggak ketemu?” “Entahlah. Yang aku ingat kita terakhir ketemu di kelulusan SMA.” Cecily mengangguk. “Ah, iya. Setelah lulus SMA aku langsung pindah ke Yogyakarta dan kuliah di sana. Sayang banget ya, habis itu kita putus dan lost contact. Aku sempet ragu, sih tadi apa mungkin kamu masih mengenali aku.” Bagaimana mungkin Orion dapat melupakan wajah Cecily? Perempuan itu masih tampak sama seperti ketika mereka masih duduk di bangku SMA. “How can I forget you? Suara dan wajah kamu masih mirip sekali dengan dulu.” Senyum Cecily mengembang. “So, gimana kabar kamu? Aku dengar kamu sudah menikah.” Bohong. Cecily belum sempat mengobrol banyak dengan staf RS ini. Perempuan itu hanya asal tebak saja begitu melihat letak cincin di jari Orion. Ditanya begitu membuat Orion salah tingkah. “Iya … kebetulan sudah.” “Wah, seriusan?” “Iya, pesta pernikahannya sederhana. Kami enggak undang banyak tamu.” Kini Cecily tampak penasaran. “Siapa istri kamu?” “Gyanetta.” Malu-malu Orion menyebut nama istrinya. “Gyanetta?” Cecily mengulang nama itu. Takut dia salah dengar. “Gyanetta Leticia?” Orion mengangguk. Cecily menutup mulutnya menunjukkan sikap terkejut yang terang-terangan. “Aku tau kalian emang cocok dari dulu. Karena itu juga aku nembak kamu duluan.” “Hmm?” Orion agak bingung dengan topik yang dibawa oleh mantan kekasihnya. Cecily Tan adalah mantan kekasih Orion. Cecily menjadi perempuan pertama yang mendapatkan gelar pacarnya Orion. Satu sekolah dulu heboh karena Cecily yang dikenal cantik dan berprestasi bisa menggaet hati Orion yang dingin. Sayangnya, hubungan mereka tak berjalan lama. Cecily yang kuliah di Yogyakarta, sedangkan Orion di Depok membuat mereka terpaksa menjalani hubungan jarak jauh. Sebagai mahasiswi kedokteran Cecily seringkali merasa kesepian dan stres sendirian. Orion yang berada jauh tentu tidak dapat berbuat banyak. Karena tak menemukan solusi dari permasalahan itu keduanya sepakat untuk putus baik-baik. “Itu lho, dulu aku nembak kamu duluan bukan tanpa alasan.” Cecily mengenang masalalu yang konyol. “Gyanetta keliatan naksir sama kamu dan aku cemburu. Karena enggak mau kehilangan kesempatan, aku langsung menyatakan perasaan aku ke kamu. Untungnya kamu nerima aku yah. Aku enggak malu-malu banget jadinya dulu.” Orion mulai ingat cerita yang dimaksud oleh Cecily. “Dulu Gyanetta enggak suka sama aku. Kamu hanya cemburu buta.” Cecily mengendikkan bahunya. “Enggak tau, deh. Tapi, feeling-ku bilang begitu. Enggak ada salahnya juga, sih. Kamu pacar yang baik meskipun pada akhirnya kita bukan jodoh.” Cecily bangkit dan mencari-cari sesuatu di dalam box-nya. “Aku senang karena kamu sudah berkeluarga. Aku harap Gyanetta enggak cemburu buta begitu tau kita satu tempat RS.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN