BAB 10 : PERNIKAHAN MUTUALISME

1723 Kata
Siang itu Gyanetta bertemu kolega kerja di sebuah restoran sunda sekitar Jakarta Pusat. Pada saat itu pula Gyanetta seperti mendengar suara tawa Sentrala. Jantungnya berdegup riuh kala itu. Setelah buru-buru pamit kepada kolega kerjanya Gyanetta berusaha mencari asal suara. Restoran sunda itu cukup luas dan ramai sehingga Gyanetta agak kewalahan mencari keberadaan Sentrala. Di tengah rasa frustasinya Gyanetta melihat punggung yang tak asing. Itu punggung milik Sentrala. Rasanya begitu familier. “Sentrala!” Gyanetta berusaha menarik perhatian orang itu sambil berjalan mendekat. Sayangnya, sosok yang dia anggap sebagai Sentrala tak mendengar dan dengan cepat berlalu pergi menuju parkiran. Berulang kali Gyanetta menabrak bahu orang lain sebagai upaya melawan arah untuk keluar dari restoran demi mengejar sosok sang mantan kekasihnya. Walaupun begitu, usahanya berakhir sia-sia karena Sentrala tak ada di mana pun. Tanpa sadar Gyanetta tertunduk lesu. Rupanya masih ada bagian dari dirinya yang mengharapkan lelaki itu kembali. “Lo udah enggak waras.” Adalah respons yang diberikan oleh Sophia saat Gyanetta menceritakan peristiwa yang dia alami. Gyanetta sudah kembali ke kantor. Kini dia berada di ruang kerja Sophia. Suasana hati Gyanetta sedang kacau dan karenanya motivasi untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda ikut berantakan. Niatnya Gyanetta ingin bercerita kepada Sophia supaya hatinya lega, namun dia malah mendapatkan penghakiman dari sang kakak. “Gue kangen Sentrala sedikit. Wajar ‘kan?” Gyanetta berusaha membela diri. “Ya, lo mikir, dong gimana perasaan Orion kalau dia tau!” Sophia membentak dengan nada tinggi. Suaranya bahkan membuat Gyanetta terkejut. Namun, persettan Sophia tak peduli. “Dia udah ngasih hidupnya ke elo. Dia udah buang jauh-jauh harga dirinya di depan Papi, Mami, dan ibunya sendiri cuma buat menutupi kebodohan lo. Tapi, lo masih kangen sama mantan lo?” “Gue enggak ada rasa sama Orion.” “Dengan menikah dan tinggal bareng masih belum bikin lo move on?” “Lo mana paham.” Gyanetta berkata dengan frustasi. “Gue hamil anaknya Sentrala. Setiap malam gue mengingat dia. Setiap malam gue masih berharap kalau yang tidur di sebelah gue itu Sentarala. Gue masih berharap seengaknya lelaki itu balik dan sujud di kaki gue … untuk minta maaf karena sudah membuat gue merasa enggak dicintai.” Sophia memandang Gyanetta dengan tak percaya. Bagaimana mungkin adiknya bisa begitu egois? “Lo jahat banget sumpah. Lo egois.” Gyanetta tahu ucapan kakaknya tak salah. Akan tetapi, harga dirinya tak menerima itu. Dengan kesal Gyanetta meninggalkan ruangan Sophia. *** “Are you okay?” Sisi kasur sebelah kanan Gyanetta bergoyang. Ketika membuka mata dia melihat Orion yang sedang duduk di sana. Dari raut wajahnya Orion terlihat khawatir. Sejak kemarin Gyanetta memang murung. “Kepalanya pusing?” Orion meletakkan salah satu telapak tangannya di atas kening Gyanetta demi memeriksa suhu tubuh sang istri. Semalam Orion tak bisa tidur nyenyak dan berulang kali mengecek kondisi Gyanetta. Beruntungnya suhu tubuh Gyanetta normal. Gyanetta menggeleng lemah. “Aku cape aja. Mau tidur sebentar lagi boleh?” “10 menit aja gimana? Kamu harus makan. Takutnya kalau tidur lebih lama lagi nanti ketika bangun kamu malah lemas. Kamu lagi hamil, lho, Netta.” “Iya.” Orion hendak meninggalkan Gyanetta, namun ujung bajunya ditarik oleh sang istri. Tindakan tersebut membuat Orion membatu. “Di sini aja. Temenin aku. Aku hanya mau merem sebentar kok,” sambung Gyanetta menjelaskan maksud dari tindakannya. Orion setuju. Lelaki itu ikut bergabung bersama Gyanetta ke dalam selimut. Orion juga menyelipkan tangan kanannya ke belakang kepala Gyanetta. Secara hangat Orionn memeluk Gyanetta. Keduanya berbaring bersama dalam posisi seperti itu. “Semalam aku perhatikan kamu enggak nyenyak tidurnya.” Bariton Orion terdengar. Mata Gyanetta yang semula terpejam kembali terbuka. “Kamu merhatiin aku semalem?” Tangan Orion yang bebas bergerak mengusap kepala Gyanetta. Pada saat itu Gyanetta benar-benar merasa disayang. Entah bagaimana perasaan Orion yang sesungguhnya kepada Gyanetta. Satu yang pasti perlakuan lelaki itu membuat Gyanetta merasa aman. “Iya. Aku khawatir kamu sakit.” “Aku baik-baik aja secara fisik. Jangan khawatir.” Gyanetta menempelkan pipinya ke dadda bidang Orion. Pada saat itu aroma sabun yang digunakan oleh Orion tercium samar-samar. Sabun beraroma segar citrus itu membuat Gyanetta sedikit lebih tenang. “Ada yang menganggu pikiran kamu?” Embusan napas berat keluar dari mulut Gyanetta. Bagaimana dia harus berterus terang kepada Orion? Setelah ribut dengan Sophia kemarin tiba-tiba saja suasana hati Gyanetta memburuk. Akibatnya Gyanetta jadi malas melakukan apapun. Selain itu, pikirannya juga terus diisi oleh Sentrala. “Hanya masalah pekerjaan. Biasa.” Bohong Gyanetta. Tak mungkin dia berkata yang sebenarnya. “Kamu mau berhenti aja? Sekarang gajiku cukup untuk menghidupi kita berdua.” Jari Orion menyentuh anak-anak rambut Gyanetta yang berantakan. Rambut itu Orion tarik perlahan ke belakang telinga Gyanetta sampai penampilan istrinya menjadi sedikit lebih rapi. “Enggak dulu, deh. Aku suma sama pekerjaan ini.” Gyanetta mengeratkan pelukannya ke tubuh Orion. Di dalam benaknya Gyanetta membayangkan Orion sebagai Sentrala—lelaki yang sangat dia cintai sekaligus lelaki yang menyakitinya dengan sangat parah. Bukan salah Gyanetta kalau hatinya masih menginginkan Sentrala. Sejak awal Sentrala yang membuat Gyanetta jatuh cinta. Kemudian ketika lelaki itu pergi secara tiba-tiba wajar kalau Gyanetta masih menyimpan perasaan padanya. Seharusnya sebagai orang yang paling dekat dengan Gyanetta, Sophia yang paling memahaminya. “Udah yuk, makan dulu? Aku bikin bubur buat kamu.” Ajak Orion kemudian. Ucapan Orion cukup membuat Gyanetta merasa lebih baik. Tanpa penolakan Gyanetta membiarkan Orion membimbingnya berjalan dan duduk di meja makan. Benar saja di atas meja sudah tersedia bubur ayam. Orion menyerahkan sendok kepada Gyanetta. “Makan ya.” Gyanetta menyendok bubur buatan Orion. Secara mengejutkan rasanya enak. Semua bumbu terasa pas. Sejak jadi mahasiswa Orion memang sudah terbiasa memasak. Sebagai anak kost Orion harus menghemat biaya makan. Sebagai solusi dia mulai memasak sendiri. Sehubung Gyanetta dan Orion satu kampus, Gyanetta sering mampir ke kostan Orion dan makan masakan buatan lelaki itu. “Enak. Aku suka.” Orion tersenyum senang menerima pujian dari Gyanetta. Padahal dulu tidak begini. Kenapa ya sejak hubungan pertama mereka di malam itu Orion jadi memandang perlakuan Gyanetta dengan berbeda? Jika dulu pujian Gyanetta tak berarti banyak hal maka, sekarang berbeda. Rasanya Orion ingin lebih banyak dipuji oleh Gyanetta. “Kamu inget enggak dulu aku sering makan di kostan kamu?” Gyanetta membuka sesi nostalgia. “Mana mungkin aku lupa?” Selama 7 semester berkuliah Orion hanya kost di satu tempat yang sama, yakni Kost Biru—kost khusus putra. Di tempat itu pula banyak sekali penghuni kost yang minta dikenalkan kepada Gyanetta. “Kamu jadi legenda di antara teman-teman kostku yang lain.” “Legenda apa?” Di tengah sesi makan itu ibu jari Orion mengusap sudut bibir Gyanetta yang kotor oleh bubur. Secara refleks Orion menjilat ibu jarinya—tempat di mana sisa makanan Gyanetta menempel. “Dulu ada mahasiswa dari jurusan filsafat yang bilang kalau arti nama Gyanetta itu secara kebahasaan berarti God is gracious. Katanya, kamu adalah bukti nyata dari betapa murah hatinya Tuhan dengan menciptakan dewi yang bisa menapak bumi.” Gyanetta terpaku. Entah Orion sadar atau tidak tetapi tindakanya telah membuat Gyanetta merasakan sengatan yang aneh. *** Setelah merasa jauh lebih segar Gyanetta mengajak Orion untuk pergi keluar. Secara sengaja Gyanetta tidak mengatakan tujuan mereka. Perempuan itu hanya mengarahkan Orion untuk berkendara menuju kawasan Tangerang Selatan. Tadinya Orion sempat mengira Gyanetta akan mengajak Orion untuk mengunjungi ibunya. Kebetulan Rinjani dan Orion memang tinggal di kawasan yang berbeda. Namun, dugaan tersebut meleset ketika Gyanetta mengarahkan Orion untuk melajukan mobil mendekati deretan ruko yang terletak di Gading Serpong. “Nah, berhenti di situ,” perintah Gyanetta. “Kita mau apa?” “Turun aja dulu.” Gyanetta menjadi pihak pertama yang meninggalkan mobil. Orion menyusul langkah perempuan itu menuju salah satu bangunan ruko yang tampak tak berpenghuni. Di sekitar sini hampir semua rukonya telah diisi. Sepanjang mata memandang Orion dapat melihat rumah makan nasi padang, toko oleh-oleh, toko pakaian, toko sepatu, dan klinik kecantikan. Bahkan sekilas tadi Orion melihat ada klinik dokter gigi. Secara lokasi sih tempat ini memang terbilang strategis untuk dijadikan tempat usaha. Suara gembok yang menghantam rolling door membuyarkan lamunan Orion. Dilihatnya Gyanetta sedang berusaha membuka gembok sebesar kepalan tangannya sendiri. “Kamu sedang apa?” tanya Orion yang masih penasaran. “Dan, kenapa kita ada di sini?” Gyanetta baru menjawab ketika gembok telah berhasil dibuka. “Ini ruko untuk klinik pribadi kamu, Rion. Bantu aku dorong.” Orion dan Gyanetta bekerja sama mendorong rolling door. Ruangan di dalam sana tampak ketika cahaya dari luar masuk. Ruangan itu cukup luas mungkin setara dengan kamar tidur Gyanetta. Tampak tangga yang menghubungkan ke lantai dua. “Ayo, masuk.” Gyanetta meraih tangan Orion dan menariknya agar lelaki itu mengikuti. Lagi-lagi Gyanetta menjadi orang yang memimpin. “Tempat ini lumayan strategis buat dijadiin klinik pribadi kamu. Seperti yang kamu liat tadi aja ada klinik kecantikan ‘kan?” Gyanetta menoleh sebentar sebelum naik ke lantai dua. “Tapi, tempat ini masih harus direnovasi, sih supaya keliatan lebih layak untuk dijadiin klinik. Kamu jangan khawatir aku kenal beberapa kontraktor yang ahli di bidangnya.” Di lantai dua cahaya tampak remang-remang. Gyanetta melangkah meraih kenop pintu dan membukanya. Pintu itu menghubungkan mereka ke balkon. Dari atas sini tampak pemandangan kendaraan yang hilir mudik memenuhi jalanan. “Lumayan ‘kan pemandangannya?” Gyanetta menoleh pada Orion yang masih sibuk mencerna situasi. “Kalau lagi mumet sama kerjaan kamu bisa lari dulu ke sini, menghirup napas dalam-dalam, dan menjernihkan pikiran.” “Sebentar ….” Orion masih terlihat bingung. “Ini semua buat aku?” “Iya. Aku udah bilang sebagai imbalan dari pernikahan ini, aku akan kasih kamu tanah untuk bangun klinik ‘kan? Ruko ini rencananya mau aku jual, karena enggak keurus juga tanahnya sama aku. Tapi, aku ingat kamu butuh tempat untuk membangun klinik. Karena sudah berbentuk bangunan kamu enggak perlu capek-capek survei tempat, survei bahan material, dan hal-hal krusial lainnya.” Gyanetta menjelaskan dengan lancar. “Kamu tinggal duduk manis aja, Rion. Soal kontraktor biar jadi urusanku.” Imbalan. Satu kata itu mengganggu Orion. Kata tersebut secara gamblang mengartikan bahwa pernikahan yang mengikat Orion dan Gyanetta adalah hubungan mutualisme. Mengapa ya Orion baru ingat akan hal yang satu itu? Di saat Gyanetta sedang asyik menikmati angin yang bertiup Orion justru sibuk tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Apakah perasaan Gyanetta kepada Orion masih sama seperti dulu? Apakah Gyanetta masih menganggapnya sebagai sahabat di saat Orion sudah mulai menganggap Gyanetta sebagai perempuan? []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN