BAB 11 : KEHADIRAN CECILY

1771 Kata
From Orion Oweis: Maaf aku enggak bisa menemani To Orion Oweis: It’s okayyy. Kerja aja “Antrean YH 11 poli kebidanan dan kandungan.” Bertepatan dengan Gyanetta yang menekan icon sent suara robot di mesin antrean itu memanggil nomornya. Hati Gyanetta berdebar gugup ketika dia melangkah mendorong pintu ruang praktik dokter. Usia kehamilan Gyanetta telah memasuki bulan keempat minggu lalu. Setiap bulannya Gyanetta akan melakukan kontrol. Sayangnya setiap kali kontrol Orion tak memiliki kesempatan untuk ikut menemani. Mau bagaimana lagi? Jadwal kontrol dokter obgyn di RS Harapan dimulai pukul 10 pagi bersamaan dengan jadwal praktik poli penyakit dalam. “Nyaman berbaringnya?” tanya dr. Yasmin Hutomo, Sp. OG. Dokter yang menangani Gyanetta itu ingin memastikan Gyanetta berbaring dengan nyaman di atas brankar. Gyanetta mengembuskan napas dari mulut berusaha menenangkan degup jantungnya. “Nyaman, dok. Kita jadi USG hari ini ya, dok?” “Iya. Ibu siap?” Di kondisi seperti ini Gyanetta butuh Orion di sisinya. Di 3 bulan sebelumnya Gyanetta menahan diri untuk kontrol sendiri karena ya … dia tidak mau membebankan Orion dengan tanggung jawab untuk menemani Gyanetta. Hanya saja, hari ini rasanya berbeda. Gyanetta berharap Orion ada di sini dan ikut menenangkannya. “Siap, dok,” jawab Gyanetta pasrah. Perawat membantu Gyanetta menyingkap bajunya sehingga kini perut Gyanetta yang mulai tampak membulat tampak dengan jelas. Perawat secara telaten mengoleskan ultrasound gel di atas permukaan kulit Gyanetta. “Kita mulai ya.” Yasmin mulai menempelkan transduser ke dinding bagian bawah perut Gyanetta. Rasanya memang tak sakit, namun juga tak nyaman. Tak lama dari itu muncul gambar hitam putih pada layar monitor. “Ini janinnya ya, Bu. Di usia ini organ-organ seperti otak, jantung, dan sistem saraf semakin berkembang. Apa Ibu mungkin mulai bisa merasakan ada sesuatu yang hidup di dalam perut Ibu?” “Iya … samar-samar saya bisa merasakan sesuatu seperti bergerak di dalam perut.” Yasmin mengangguk paham. “Umumnya memang memasuki usia kehamilan 16 minggu ibu akan mulai merasakan gerakan janin ketika bergerak di dalam rahim. Di usia ini juga jenis kelamin bayi sudah bisa diketahui. Ibu mau lihat?” Jantung Gyanetta seakan berhenti selama sepersekian detik. “Jangan dulu, deh. Saya mau liat nanti aja sama suami saya.” “Oh, iya. Sayang sekali dokter Orion belum bisa ikut mendampingi ya.” Gyanetta tersenyum pahit. “Apalagi yang bisa saya ketahui selain jenis kelamin, dok?” “Kita bisa mendengar detak jantung bayi. Ibu mau?” Tampaknya kalau sekadar suara detak jantung Gyanetta masih sanggup menghadapinya sendirian. “Mau.” Entah apa yang dilakukan dokter Yasmin sampai akhirnya beberapa detik kemudian Gyanetta mampu mendengar ritme suara yang bunyinya mirip dengan degup jantung. “Ini suara detak jantung janin Ibu.” Yasmin menjelaskan seakan mampu membaca isi kepala Gyanetta. Ajaibnya suara itu terdengar indah di telinga Gyanetta. Entah magis semacam apa yang sedang menghipnotisnya. Tiba-tiba saja Gyanetta merasakan lonjakan emosi yang membuat airmatanya tumpah di pipi. *** Gyanetta masih menangis terharu di kursi farmasi. Setelah menyelesaikan sesi kontrol Gyanetta diminta untuk menebus vitamin seperti biasa. Di antara riuh rendah suara di sekitarnya Gyanetta masih dapat mendengar suara detak jantung bayinya. Jauh di dalam kepalanya Gyanetta merekam suara itu. “Silakan.” Di tengah isak tangis itu seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan tepat ke hadapan Gyanetta. Dengan airmata yang masih tumpah Gyanetta mengangkat pandangan. Rasanya seperti mimpi ketika Gyanetta menemukan wajah Cecily di hadapannya. Perempuan yang Gyanetta kenal sebagai mantan kekasih Orion itu terlihat menggunakan jas dokter. Di lehernya tergantung lanyard card bertuliskan Rumah Sakit Harapan drg. Cecily Tan. Benda tersebut secara gamblang menunjukkan status Cecily sebagai dokter di RS ini. Pertanyaannya adalah sejak kapan perempuan ini bekerja di RS yang sama dengan Orion? Mengapa Orion tak memberitahunya? “Gyanetta ‘kan?” tanya Cecily. Suara dan ekspresinya terkesan ramah. Malah Cecily cenderung terlihat senang bertemu dengan Gyanetta di sini. “Ambilah. Kamu butuh ini, kecuali kamu mau berjalan dengan kondisi maskara yang luntur.” Bimbang. Gyanetta terjebak di antara dua pilihan antara menolak atau menerima pemberian Cecily. Membayangkan dirinya berjalan di sekitar RS dengan kondisi riasan yang luntur tampaknya jauh lebih memalukan daripada menerima bantuan dari mantan kekasih suaminya. Dengan setengah hati Gyanetta mengucapkan terima kasih sambil meraih sapu tangan milik Cecily. Cecily ikut duduk di kursi kosong tepat di samping Gyanetta. “Lama ya kita enggak jumpa.” Perempuan manis itu menoleh. “Aku dengar kamu dan Orion menikah.” “Ya, begitulah,” sahut Gyanetta ogah-ogaha. Sekarang Gyanetta berharap nomor obatnya segera dipanggil. Hanya dengan begitu Gyanetta dapat lepas dari percakapan yang melibatkan Cecily. “Kamu sakit apa?” “Aku habis dari obgyn.” Cecily terlihat terkejut tanpa dibuat-buat. “Kamu sudah hamil?” Gyanetta mengendikkan bahunya secara acuh tak acuh. Padahal dulu Gyanetta dan Cecily cukup akrab. Entah mengapa kini secara otomatis Gyanetta hanya ingin bersikap dingin kepada Cecily. Menyadari bahasa tubuhnya yang tak sopan membuat Gyanetta mendesah resah. “Maafkan sikapku. Sejak hamil suasana hatiku cepat sekali berubah.” Cecily berpikir sejenak. “Itu wajar karena ketika hamil perempuan akan mengalami fluktuasi kadar hormon estrogen dan progesteron. Akibatnya neurotransmiter di otak yang berfungsi untuk mengatur suasana hati ikut terpengaruh.” Gyanetta mendengkus. “Kamu dokter gigi, tapi cukup tau banyak hal.” “Dari dulu aku memang mengetahui banyak hal. Sebetulnya dari dulu aku juga sudah bisa menebak kalau kamu dan Orion pada akhirnya akan bersama.” Gyanetta menatap Cecily heran. “Kenapa mikir begitu?” “Dari cara kamu menatap Orion aja sudah beda. Aku kenal banyak orang yang bersahabat dengan lawan jenis dan aku bisa membedakan mana tatapan yang mengandung cinta dan yang enggak.” Cecily tersenyum menampilan eye smile-nya. “Karena itu juga aku sering cemburu.” “Cemburu?” “Wajar ‘kan kalau pacar yang aku sayang punya sahabat perempuan yang menatap dia dengan mesra?” Lidah Gyanetta gatal ingin menjelaskan. “Kamu salah sangka. Perasaanku ke Orion enggak sedalam itu.” “Tapi, aku masih inget tuh setiap kali aku dan Orion pacaran pasti kamu akan ikutan. Mungkin tanpa sadar kamu juga cemburu. Takut sahabatmu pergi meninggalkan kamu. Atau mungkin ada ketakutan-ketakutan lain yang kamu sendiri enggak sadari.” “Ya, karena kamu ajak aku. Setiap kali mau nonton di bioskop kamu pasti akan ikut nawarin aku buat ikut sama kamu dan Orion.” Cecily terlihat tenang menanggapi Gyanetta yang justru terlihat emosi. “Entahlah? Aku malah merasa itu sebagai basa-basi. Setiap kali aku dan Orion mau pergi pasti kamu akan mengeluh karena ditinggalkan padahal kamu juga posisinya punya pacar, tapi Orion tetap harus berperan sebagai baby sitter yang menjaga kamu.” Pada saat itu alarm di ponsel Cecily berdering. “Aku harus balik ke ruang praktik.” Cecily bangn. “Senang bertemu kamu di sini. Aku ikut bahagia atas pernikahan kalian. Aku harap kamu enggak melihat aku ketika sedang menyentuh Orion.” Setelah mengatakan kata-kata kejam berbalut nada bersahabat itu Cecily pergi meninggalkan Gyanetta yang melamun sendirian. *** “Gyanetta!” Sang pemilik nama mengabaikan panggilan itu. Saking marahnya alih-alih memperlambat langkah Gyanetta justru berjalan semakin cepat. Jauh di dalam lubuk hatinya Gyanetta berharap segera sampai ke mobil yang parkir. Dengan begitu dia bisa menghindari Orion yang berjalan cepat menyusul langkahnya di belakang sana. Sayangnya, semesta sedang tak mendukung Gyanetta. Pada detik kelima Orion berhasil meraih pergelangan tangan Gyanetta. Tindakannya berhasil membuat Gyanetta berhenti secara terpaksa. “Tunggu.” Napas Orion terdengar putus-putus. Tadi setelah pasien terakhirnya keluar dari ruang praktik Orion langsung berlari mencari Gyanetta. “Gimana hasil kontrolnya?” Tanpa menoleh Gyanetta menyahut dingin, “Aman aja.” Orion yang telah mengenal Gyanetta sejak SMP tentu dapat langsung membaca suasana hati Gyanetta. “Are you okay?” “Kenapa kamu enggak bilang kalau Cecily kerja di sini?” desak Gyanetta. Nada suaranya meninggi tanpa mampu dikontrol. Perkataan Cecily … tindakan Cecily … bagaimana perempuan itu mengorek masalalu tentang Orion terasa menjengkelkan. Walaupun apa yang dikatakan oleh Cecily sebagian besarnya benar, tetap saja Gyanetta merasa tak terima. “Aku rasa itu enggak penting,” jawab Orion cepat. “Tunggu, apa mungkin kamu marah karena ini?” “Penting atau enggaknya biar aku yang memutuskan.” Gyanetta mengalihkan percakapan. “Dia itu mantan pacar kamu, Rion. Enggak adil kalau kamu enggak ngabarin aku kalau ternyata kalian satu RS.” Kening Orion berkerut dengan tak nyaman. “Dan, apa yang salah dengan itu? Apa yang terjadi antara aku dan Cecily tinggal kenangan. Itu bahkan terjadi belasan tahun lalu. Astaga.” “Astaga?” Orion terlihat lelah. “Tolong jangan berantem karena ini hm? Ini bukan sesuatu yang harus dipikirkan secara serius.” “Kenapa? Kamu risih ya aku tanya-tanya begini?” “Ya, karena udah irrelative, Nett. The past is in the past.” “Dia itu cinta pertama kamu! Dia orang pertama yang membuat kamu mengenal cinta, Orion. Kita di sini ….” Gyanetta menelan ludahnya yang terasa pahit. “Kita menikah tanpa cinta. Dan di tempat ini kamu akan bertemu hampir setiap hari dengan seseorang yang mengingatkan kamu pada cinta.” Orion ingin membantah. Cecily memang pacar pertamanya, namun bukan berarti Cecily adalah cinta pertamanya. Melihat Orion yang diam saja semakin membuat kemarahan Gyanetta menjadi-jadi. Dengan kasar Gyanetta menepis tangan Orion sampai pegangan lelaki itu di pergelangan Gyanetta lepas. Tanpa mengatakan apapun lagi Gyanetta meninggalkan Orion. Kali ini Orion tak lagi mencegah. Dipandanginya punggung Gyanetta yang secara perlahan menghilang ditelan jarak. Keesokannya Gyanetta mendiamkan Orion. Perempuan itu masih mempersilakan Orion untuk tidur di sampingnya. Namun, hanya sebatas itu saja. Tidak ada interaksi yang berarti. Tidak ada kontak fisik yang intim. Keduanya lebih mirip teman sekamar yang tak punya pilihan lain selain tidur satu kasur. “Nett, aku rasa kita harus bicara,” kata Orion pagi itu ketika dia dan Gyanetta sedang sarapan. Terhitung sudah 5 hari Gyanetta dan Orion tidak melakukan komunikasi dua arah. Selama 5 hari terakhir Orion selalu berusaha menjadi orang pertama yang membujuk. Selama 5 hari terakhir ini Orion selalu menjadi orang pertama yang berusaha untuk menciptakan percakapan. Hanya saja, tak peduli seberapa banyak Orion mencoba respons yang diberikan oleh Gyanetta selalu dingin. Perempuan itu mengabaikan Orion. Gyanetta bersikap seakan-akan ucapan Orion hanyalah desau angin dan eksistensi lelaki itu hanyalah ilusi. “Aku harus pergi ke kantor pagi-pagi,” jawab Gyanetta cuek. Baru kali ini Gyanetta buka mulut. “Aku enggak punya banyak waktu buat ngobrol sama kamu.” “5 menit aja. Aku enggak akan pakai waktu kamu terlalu lama.” Gyanetta menelan rotinya dengan cepat. “Enggak bisa. 5 menit terlalu berharga. Lagian kita masih bisa ngobrol nanti malam atau kapan pun itu. Tapi, pekerjaanku sama sekali enggak bisa diganggu.” Tanpa pamit Gyanetta meninggalkan meja makan dan kembali mengabaikan Orion. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN