Kay menghabiskan sorenya bersama Edgar, menatap langit senja dari bibir pantai pari yang menyuguhkan pemandangan indah. Tiba-tiba ponsel Ed berbunyi sehingga Ed harus menjauh dari Kay untuk mengangkat teleponnya.
“ada apa ka?” tanya Ed mengangkat telepon dari kakaknya, Adrian.
“Kay ada bersamaku, biarkan dia bersamaku hari ini, lagipula kau pasti tidak akan bisa menyusul kami, sudah ya, aku akan makan malam dengan Kay, dadah kak.” Ucap Ed di telepon kemudian segera mematikan sambungan telepon tersebut dan kembali menhampiri Kay.
“siapa?” tanya Kay sesaat Ed kembali menghampirinya dan duduk bersamanya.
“manager ku.” Ucap Ed yang di angguki oleh Kay.
“Kay, bagamana kalau kita kembali ke resort? Memebrshkan diri terus kita pergi makan malam?” tanya Ed yang di setujui oleh Kay.
“tapi bajuku bagaimana?” tanya Kay.
“ada di paper bag yang ada di ranjangmu, aku menyapkannya khusus untukmu.” Ucap Ed sembari terkekeh.
“kau ini Ed ada-ada saja.” Ucap Kay sambil terkekeh. Mereka pun akhirnya melangkahkan kakinya pergi ke resort yang sudah Ed pesan, dan benar saja di ranjangnya sudah terdapat sebuah paper bag yang cukup besar dan berisi 3 setel pakaiannya.
Sementara Kay membersihkan dirinya, Ed sedang mengatur makan malamnya dengan Kay, sehingga ketika Kay telah bersiap, Ed dapat segera mengantar Kay ke tempat makan malam itu.
Malam ini Kay begitu cantik dengan hotpants jeans, kaos putih polos pendek, dan cardigan pantai warna putihnya. Ia sengaja tidak merias wajahnya, hanya lipstik lah yang ia gunakan, karna memang ia tidak mau walapun di paper bag itu sudah terdapat make up juga.
Ketika ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya, ia menemukan Ed yang sedang memainkan iphonenya, ketika menyadari bahwa Kay sudah keluar, Ed pun mengalihkan pandangnya dari iphonenya ke arah Kay yang sekarang di depannya.
“Kay kenapa kau beda sekali ketika mengenakan pakaian formal dan pakaian santai seperti ini?” tanya Ed yang hanya di tanggapi kekehan oleh Kay.
“ayo makan, aku lapar.” Ucap Kay yang membuat Ed tersadar. Ed pun langsung bangkit dan menggenggam tangan Kay untuk menuju tempat makan mereka. “ayo.” Ucap Ed.
Ed membawanya ke sebuah restoran yang menyajikan masakan nusantra, ia pun kemudian memesan makanan untuk dirinya dan Kay. Ketika sedang menunggu makanan, Ed secara diam-diam memfoto Kay dan menirimkannya ke Ad.
Setelah beberapa menit akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang sehingga mereka mulai memakan makanannya di iringi obrolan-obrolan kecil.
Kay tidak ingin memikirkan Adrian, dengan Adanya Ed ia bisa secara perlahan menjauh dari Adrian walau dengan cara Adrian membencinya.
...
Adrian sedang memijit pelipisnya karena pening, adiknya itu bisa-bisanya membawa Kay yang polos itu berlibur, apalagi Kay tidak membawa ponselnya pada saat ini.
Ia pun sempat marah besar kepada Edgar karena Ed tidak memberitahukannya terlebih dahulu, walau ia tau ketika Ed memberitahukannya pasti akan ia larang. Tetapi ketika seperti ini Ad mana bisa tidur tenang, ia memikirkan apa yang di lakukan oleh Ed kepada Kay.
Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar handphonenya, Ad pun lantas membuka sebuah notifikasi itu, apalagi yang mengirimkannya adalah Edgar.
Ternyata Edgar mengirimkan sebuah photo dimana Kay yang sedang memalingkan wajahnya, s**t! Kenapa pakaian Kay sangat-sangat seksi. Ad pun langsung memanggil Jack yang kebetulan ada di mansionnya.
“Jak, cari tau keberadaan Edgar.” Ucap Ad dengan nada emosinya. Ia tidak habis pikir kenapa Adiknya itu nekat membawa kekasihnya berlibur berdua.
Setelah Jack mencari tahu keberadaan Edgar lewat lokasinya, ternyata lokasinya sangat mengejutkan. Akhirnya Jack pun segera memberitahukan Adrian tentang hal ini. Jack memberitahukan lokasi keberadaan Edgar dengan menampilkan lokasi keberadaan Edgar lewat laptopnya.
“pulau Pari, itu di pulau seribu?” tanya Adrian kaget. Jack pun segera mengangguk.
“Jack siapkan mobil.” Ucap Ad kemudian segera bangkit dari duduknya dan menjambar jaketnyanya dan keluar dari rumahnya segera.
Jack pun segera mengantarkan Ad ke pulau seribu, sedangkan Jack yang melihat bos nya dari kaca mobil tersebut terlihat sangat-sangat marah.
Ketika mereka sampai di kepulauan seribu, ternyata untuk menuju pulau Pari mereka harus menggunakan kapal laut, dan sialnya kapal laut hanya beroperasi pada jam 8 dan jam 9 pagi, Ad yang mendengar itu pun menjambak rambutnya kesal. Emosinya sangat-sangat memuncak sekarang.
Sedangkan Jack masih bernegosiasi dengan orang-orang yang berada di sana agar mereka tetap bisa berangkat ke pulau pari.
“maaf pak, tidak bisa, lagipula cuaca di lau tidak mendukung.” Ucap orang-orang disana.
“jadi apakah ada cara lain agar kita bisa sampai di pulau Pari dengan segera pak.” Tanya Jack.
“Bisa dengan menyewa speedboat, tetapi batas penyewaannya juga hanya sampai jam enam sore.” Ucap orang itu. Jack pun melihat jam di pergelangan tangannya, ini sudah hampir jam 7, mereka tidak akan bisa kesana hari ini.
“yasudah terimakasih pak.” Ucap Jack kemudian melangkahkan kakinya menuju Ad yang sedang menatap laut lepas disana.
“maaf Ad, tetapi tidak bisa, paling bisa kita harus besok menyusul Kay.” Ucap Jack.
Adrian pun membuang napas kasar, ia memandang semu kehadapannya. “aku ingin disini sampai besok Jack, jam enam pagi kita berangkat menggunakan speedboat.” Ucap Ad yang di angguki oleh Jack.
Mereka pun kembali ke mobil dan beristirahat di mobil, Jack sudah tertidur di kursi kemudinya tetapi Ad masih di luar, duduk di kursi yang ada disana, sembari membuka iphonenya dan membuka foto Kay yang di kirimkan oleh Ed, disana Kay nampak cantik sekali, ia merindukan wanita itu. Ad memejamkan matanya, menikmati angin yang membuat rambutnya berterbangan. “aku sehari tanpamu saja bisa gila Kay.” Ucap Ad dengan tawa kecutnya.
...
“makanan tadi sangat enak, makasih Ed kau telah membawaku kesini.” Ucap Kay ketika mereka berjalan mengelilingi pantai.
“sama-sama, aku boleh bertanya sesuatu padaamu, Kay?” tanya Ed ketika mereka berjalan untuk menuju sebuah cafe yang ada disana.
“tentu.” Ucap Kay.
“apakah kau tidak khawatir kepada Ad? Atau kau tidak khawatir bahwa Ad akan mencarimu?” tanya Ed. Kay pun otomatis tertawa hambar, sedangkan Ed mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“aku tidak sepenting itu Ed.” Ucap Kay sambil melanjutkan tertawanya, sedangkan Ed pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
Mereka kemudian singgah di salah satu cafe untuk menikmati secangkir kopi sebelum mereka kembai ke resort, mereka benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan quality time. Dan disini Ed sadar bahwa pantas saja kakaknya jatuh cinta pada Kay, ternyata Kay memang pantas di cintai dengan attitudenya yang baik dan anaknya yang ceria.
Ed menyewa resort, dan tidur satu ruangan dengan Kay, tetapi mereka berbeda ranjang, Ed masih menghargai kakaknya.
“selamat tidur Kay.” Ucap Edgar saambil menatap Kay yang di sebrangnya.
“selamat tidur Ed.” Balas Kay, kemudian mereka benar-benar terlelap dlam mimpinya.
Adrian mengejapkan matanya akibat sinar matahari yang mengganggunya, ia melihat ke sekelilingnya kemudian ia menyadari sesuatu, ia pun lantas bangkit dari duduknya dan berlari menuju mobilnya untuk membangunkan Jack.
Setelah beberapa menit pun akhirnya kesadaran jack penuh seutuhnya, mereka pun lebih memilih untuk menyewa speedboat untuk menuju pulau pari, memang harga menyewa speedboat sangat-sangat mahal tetapi itu akan mempersingkat perjalanan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju pulau pari tersebut, Ad selalu saja melamun, ia terlalu mengkhawatirkan Kay walaupun Kay dengan adiknya sekalipun.
Setelah 1 jam lebih perjalananpun, akhirnya mereka pun sampai di pulau itu, Ad langsung turun dari speedboat dan langsung mencari Kay. Ia melihat jam tangannya, ini sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ad langsung mencarinya di sekitar pantai sampai Ad menyempitkan pandangannya dan memastikan bahwa itu Kay atau bukan.
Ad pun berlari menuju ke ujung pantai dan menghampiri sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang duduk menghadap ke pantai.
“Kay.” Panggilnya sembari mengatur napasnya. Kedua orang itu pun menengok ke arah sumber suara dengan mengerutkan keningnya.
“maaf, saya salah orang.” Ucap Ad kemudian berjalan lagi menjauhi mereka.
Ad menjambak rambutnya frustrasi dan mengusap wajahnya kasar. Ia terduduk di pasir, amarah, kecewa, cemburunya tercampur menjadi satu. Jack yang melihat itupun langsung menjauh dan menelepon Edgar karena jujur ia juga emosi kepada Edgar, apalagi mellihat kondisi Ad yang hampir gila.
“cepat ke pantai, Ad sudah mengamuk disini, jangan memancing amarahnya lagi, atau aku akan menghabisimu. Tidak peduli kau adiknya atau bukan.” Ucap Jack di telepon kemudian mematikannya.
Beberapa menit kemudian Kay dan Ed sampai di pantai. Tetapi Jack menahan Ed untuk tidak kesana dengan menggelengkan kepalanya, sedangakan Kay di suruh untuk cepat-cepat menghampiri Adrian sebelum lelaki itu meledak.
“Ad.” Panggil Kay lembut.
Adrian yang sedang menunduk pun tiba-tiba mengangkat pandangannya. Di lihatnya wanita cantik yang mengenakan pakaian seksi itu berdiri di sampingnya. Ad pun langsung berdiri dan memeluk Kay dengan sangat-sangat erat, ia mengecup seluruh bagian wajah Kay, tidak peduli ini tempat umum atau bukan.
“kau kenapa tidak menolak ajakan pria b******k itu, sayang?” tanya Ad sambil membelai pipi Kay.
“sudahlah, jangan bahas Edgar lagi, yang penting aku sudah bersamamu, mengerti?” tanya Kay yang di angguki oleh Ad.
“kenapa kau hanya mengenakkan hotpants jeans dan kemeja pantai seperti ini?, ini terlalu sksi, bagaimana kalau ada pria lain yang memperhatikanmu? Apalagi Edgar, aku tidak suka.” Ucap Ad posessif.
“sudahlah, kau pasti belum makan, ayo kita makan.” Ucap Kay sambil memainkan rambut Ad.
“aku lebih ingin memakanmu sekarang, Kay.” Ucap Ad yang mendapati tatapan tajam dari Kay.
“lihat, jangan penah mmbuat Ad emosi, Edgar.” Ucap Jack yang di anggkii oleh Ed.
Kay pun membawa Ad makan di tempat Kay dan Ed makan tadi malam, karena menurutnya makanan disini cukup enak. “maafkan aku.” Ucap Kay ketika Ad tidak menyentuh makanannya sama sekali.
Ad pun melirik Kay. “bukan salahmu, aku hanya tidak nafsu makan.” Ucap Ad dengan datar.
Kay yang mendengar itu pun langsung mengerucutkan bibirnya. “kalau aku suapi bagaimana?” tanya Kay yang tidak di tanggapi oleh Ad.
“Ad aku benar-benar minta maaf padamu hikss.” Ucap Kay sembari menangis.
Ad yang mendengar tangisan Kay itupun langsung membawanya ke pelukan. “kau tidak salah Kay, kau terlalu polos. Kau tau aku terlalu khawatir, aku khawatir ketika kau menghilang, aku khawatir ketika kau jalan dengan pria lain, aku khawatir setelah itu kau tidak mencintaiku lagi, aku khawatir bahwa kau akan meninggalkanku lagi suatu hari nanti.” Lirih Ad dalam pelukannya.
“aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali kau yang menginginkannya. percayalah padaku.” Ucap Kay. Ad pun melepaskan pelukannya dan mengecup singkat bibir Kay.
Setelah itu mereka pun memakan makanannya dan kembali ke resort untuk membawa paper bag Kay, stelah itu mereka akan pulang kembali ke mansion karena Ad yang tak mungkin meninggalkan pekerjaannya.
Di atas speedboat, Ad pun menghabiskan waktunya berdua bersama Kay, sedangkan Jack hanya bisa tersenyum melihat mereka bahagia, sedangkan Edgar tidak di izinkan untuk ikut bersama mereka atas keputusan Ad, walaupun Kay telah memohon pada Ad, Ad tetap tidak memperbolehkannya.
Ketika mereka sampai di kepulauan seribu lagi, mereka langsung menaiki mobil untuk pulang ke mansion Ad. Belum lima menit perjalanan, Ad pun sudah tertidur di bahu Kay sembari memeluk Kay, kay yang melihat itu pun hanya tersenyum simpul sembari mengeulus rambut Ad, ia tau pasti pria ini tidak cukup istirahat kemarin.
“kau tau Kay, ketika kau menghilang dari kantor, Ad sampai memarahi seisi kantor, bahkan sampai scurity juga.” Ucap Jack sambil terkekeh.
“kau serius Jack?” tanya Kay dengan kaget, tetapi ia juga tertawa.
“iya, bahkan malam tadi kita tidur di area pantai hanya untuk menjemputmu se pagi mungkin.” Ucap Jack.
“aku sangat-sangat terkejut, Jack.” Ucap Kay tak percaya
“selama aku bertahun-tahun dengannya, dia lebih mengkhawatirkanmu lebih dari orangtuanya.” Ucap Jack yang membuat Kay melongo.
Akhirnya setelah hampir satu jam, mereka pun telah sampai di mansion Ad, Kay pun segera membangunkan Ad dengan menepuk-nepuk pipi Ad dan juga memencet hidung Ad agar pria itu tidak bisa bernapas dan bangun.
Benar saja, Ad pun segera menyingkirkan tangan Kay dari hidungnya dan kembali memper erat pelukannya. “hey bangunlah Ad, kau bekerja tidak?” tanya Kay.
Teringat dengan pekerjaanya, Ad pun akhirnya bangun dan berjalan masuk ke mansionnya, membersihkan dirinya kemudian memakai baju yang telah di siapkan oleh Kay, jas berarna hitam, celana yang senada dengan jas kemudian dengan kemeja putih dan dasi hitamnya kini Ad telah siap untuk berangkat ke kantor.
Melihat Kay yang sudah siap dengan pakaian kantornya juga membuat Ad mengerutkan keninngnya. “untuk apa kau memakai baju seperti itu, Kay.” Tanya Ad yang di tanggapi aneh oleh Kay.
“memangnya kenapa?” tanya Kay aneh.
“kau kemarin meminta untuk resign kan? Aku menuruti kemauanmu Kay, sekarang istirahatlah.” Ucap Ad sembari mengecup kening Kay.
“kau serius Ad?” tanya Kay sembari membetulkan dasi Ad.
“aku serius, Sayang.” Ucap Ad sembari tersenyum.
“makasih Ad.” Ucap Kay sembari memeluk Kay.
Setelah selesai pun, akhirnya Ad berangkat menuju kantor dengan Jack yang sudah siap dengan pakaian formalnya.
“aku berangkat.” Ucap Ad sembari mengecup kening Kay dan kemudian berangkat menggunakan mobil Ad yang di kemudikan oleh Jack.