“janjilah padaku Kay ini terakhir kalinya kau menangis karnaku.” Ucap Ad setelah mereka melepaskan pelukannya, Kay pun mengangguk seperti anak kecil.
Ad pun mengecup kening Kay singkat, kemudian membawanya lagi ke pelukannya.
Setelah itu karena Ad harus bekerja, jadi Kay akan memasak lagi untuk Ad, apalagi mengetahui bahwa sekarang Ad sedang sakit membuatnya sedikit merasa bersalah, entah kenapa. Apalagi sekarang Ad masih memaksakan dirinya untuk bekerja walaupun badannya kurang fit.
Kay memasakkannya semangkuk bubur untuk Ad, setelah selesai memasak, ia pun menhampiri Ad untuk memberikan semangkuk bubur tersebut.
“nanti saja Kay, aku sedang sibuk.” Ucap Ad sambil masih terfokus pada macbooknya.
Kay yang mendengar jawaban Ad itu memutar bolamatanya malas. “kau harus makan Ad, biar aku suapi, buka mulutmu.” Ucap Kay kemudian menyuapkan sesendok bubur itu kepada Ad.
“kau memang yang terbaik, terimakasih Kay.” Ucap Ad sembari tersenyum kepada Kay sedangkan kay hanya bergumam menanggapinya.
Lama kelamaan semangkuk bubur buatan Kay itu habis di makan oleh Ad tanpa sadar. “habis yeayy.” Ucap Kay bahagia, Ad pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
“aku akan mengambilkanmu obat, dimana obatnya?” tanya Kay.
Setelah di beritahu dimana letak Ad menyimpan obat, akhirnya Kay pun melangkahkan kakinya menuju tempat obat itu, kemudian kembali lagi sembari membawa segelas air putih untuk di berikan kepada Ad.
“ini, minum obatmu dulu.” Ucap Kay sembari memberikan Ad obatnya.
Ad pun menanggapi obat itu kemudan meminumnya. “terimakasih Kay.” Ucap Ad tulus, kay di balas senyuman oleh Kay.
Setelah itu Kay pun bangkit dari duduknya untuk membereskan ini semua.
Mereka pun menghabiskan waktunya bersama, mulai dari menemani Ad bekerja samapai kini Kay ntertidur di bahu Ad, Ad yang menyadari bahwa Kay tertidur di pundaknya itu hanya tersenyum sembari sesekali ia membelai rambut panjang Kay.
“Kay, terimakasih kau telah membawaku keluar dari rasa sakit masalalu.” Ucap Ad dalam hatinya kemudian Ad pun meletakkan Macbooknya dan menyenderkan kepalanya ke kepala Kay, bergaung bersamanya menuju alam mimpi.
Jam pun menunjukkan pukul 9 malam, Kay tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dan memuihkan kesadarannya.
Dilhatnya seseorang yang baru saja ia cintai, Kay tersenyum sembari memandang intens wajah Ad ketika tertidur, masih terlihat tampan.
Kay berpikir, bagaimana jikalau ia yang harus merelakan pria ini nantinya? bagaimana jika takdir nya bukan bersama pria ini? Bagaimana jika Nesya benar-benar menikah dengan Ad? Lagi-lagi pada akhirnya Kay yang akan terluka, akhirnya hanya seperti sebuah dongeng, raja tidak akan bersatu dengan seorang upik abu sepertinya.
Ingin ia meninggalkan pria ini selamanya, sebelum semuanya terlambat. Tetapi ada ketidakrelaan di hatinya ketika ia harus berpisah dengan pria ini, apakah itu cinta? Jika iya, ia tidak mau jatuh cinta dengan pria ini, jika iya, ia sebisa mungkin menghapus perasaan cinta itu.
Kay memejamkan matanya. Bagaimana hidupnya nanti jika ia terus bersama pria ini tanpa restu orangtua? Tentunya tidak akan berjalan lancar, apakah Kay harus mundur? Logikanya mengatakan harus, tetapi hatinya menolak. Sekarang keputusannya bulat untuk melakukan suatu hal yang tidak akan merugikan Ad nantinnya.
Beberapa menit berlalu, Ad pun terbangun ketika merasakan bahwa seseorang bangkit dari sandarannya, Ad pun sama, mencari kesadarannya terleih dahulu, kemudian melangkahkan kakinya mencari Kay yang telah hilang dari sisinya.
“Kay.” Panggil Ad.
“ya?” tanya Kay.
Ad pun segera menghampiri sumber suara itu, Ad memeluk Kay dari belakang. “kenepa kau hilang tadi?” tanya Ad yang membuat Kay terkekeh.
“hilang? Aku masih disini Ad.” Ucap Kay sembari terkekeh.
“kau tidak memeritahuku kalau kau di dapur.” Ucap Ad sembari masih memeluk Kay dari belakang.
“kau tertidur Ad, mana mungkin aku tega membangunkanmu, jadi lepaskan pelukanmu, tunggu di meja makan, kita akan makan ya.” Ucap Kay.
Bukannya melepaskan pelukannya, Ad malah memperdalam pelukannya, menyembunyikan kepalanya di tengkuk Kay membuatnya terasa lebih nyaman, apalagi menghidup bau bunga sakura pada tubuh Kay membuatnya candu.
“Ad, aku sulit bergerak kalau kau terus memelukku seperti ini.” Ucap Kay.
Akhirnya Ad pun mengalah dan berjalan gontai menuju meja makan, d meja makan tersebut, Ad masih terus memperhatikan Kay yang sedang memasak, cantik.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Kay pun selesai dan menghidangkan makanannya di meja makan untuk ia makan bersama Ad. Makanan yang ia masak adalah soup brokoli yang di dalamnya terdapat brokoli, tahu, wortel, dan kacang polong. Serta ia juga memasak pasta carbonara untuk mereka.
Ad menikmatinya dengan sngat lahap, karna perlu di ketahui masakan Kay sangat-sangat enak, apalagi selama ia pindah ke mansion ia hanya memakan makanan yang cepat saji, sejak ada Kay ia baru merasakan lagi makanan rumahan.
Setelah beres memasak, Kay pun membereskan dapur di bantu oleh Ad, setelah itu mereka memutuskan untuk tidur.
“aku ingin tidur bersamamu, Kay.” Rengek Adrian seperti anak kecil.
“tidak, tidurlah di kamarmu sendiri Ad.” Ucap Kay.
“tidak mau, aku ingin bersamamu.” Ucap Ad.
“tidak, keluar dari kamarku sekarang Ad.” Ucap Kay.
Mereka sedang berdebat untuk tidur, Ad meminta Kay untuk tidur bersamanya, tetapi tentu Kay menolk ajakan itu mentah-mentah.
“baiklah Kay, jangan lupa di lemarimu sudah ada segala kebutuhanmu.” Ucap Ad mengalah.
Akhirnya Ad pun kembali ke kamar asalnya dan tidur, begitupun dengan Kay.
Sementara Kay tertidur di kamar tamu dengan nyenyak, Ad malah sebaliknya, ia tidak bisa tertidur walau ia mencobanya sedari tadi. Ia pun berinisiatif untuk melangkahkan kakinya dan pergi ke kamar Kay dan bergabung dengannya. Melihat Kay tertidur dengan damai di sampingnya mebuat tidak sadar senyum Ad mengembang, ia bahagia bersama Kay. Setelah itu ia pun memejamkan matanya dan tidur.
...
Kay bangun dari tidurnya pukul 6 pagi dan mendapati bahwa Ad tertidur di sampingnya. Ia pun hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ad. Kay menyingkirkan tangan Ad yang ada di perutnya, kemudian Kay pun turun dari ranjang dan membuka lemari yang ada di kamar ini, bagaimana bisa semuanya lengkap? Kay hanya melongo melihat semua lemari ini terisi penuh oleh pakaian wanita, dan segala kebutuhan untuk wanita.
Kay pun mengambil bajunya, berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar ini untuk membersihkan dirinya, kemudian berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan clana panjang hitam bahan, t shirt warna hitam dan blazer warna biru dongker serta flat shoes warna hitam. Setelah selesai, ia pun kemudian membangunkan Ad dengan menepuk-nepuk pipi pria itu.
Ad pun mengerang dan menarik Kay sehingga Kay njatuh di pelukan Ad. “Ini masih pagi Kay, kantor masih tutup.” Ucap Ad yang masih memejamkan matanya sembari memeluk Kay.
kay pun memukul d**a bidang Ad. “Ad lepaskan, bajuku kusut nanti!” kesal Kay.
“aku bisa membelikanmu ber ribu-ribu baju Kay, jadi diamlah.” Ucap Ad yang masih memeluk Kay.
Setelah beberapa menit karena Kay memarahi Ad terus, akhrinya Ad pun melepaskan peluknnya dan berjalan gontai menuju kamar mandi yang ada di kamar ini. “Kay, bisakah aku minta tolong kau untuk ambilkan bajuku di lemariku?” teriak Ad dari kamar dalam kamar mandi.
“iya, aku ambilkan.” Ucap Kay setelah itu Kay melangkahkan kakinya menuju walk in closet untuk membawakan Ad baju. “Ad, bajumu ada di tempat tidur, aku ke dapur.” Ucap Kay, kemudian berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.
Pagi ini hanya membuat sandwitch dan segelas s**u. “makan dulu Ad.” Ucap Kay yang melihat Ad tengah sibuk dengan ipad nya. Ad pun berjalan menghampiri Kay dan bergabung dengannya di meja makan. Mereka pun memakan makanannya dengan lahap sebelum mereka berangkat ke kantor.
Setelah selesai makan dan membereskan semuanya, mereka pun berjalan keluar dari mansion Ad untuk menuju ke kantor. Perjalanan ke kantor cukup singkat, hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke kantor.
Ketika Ad dan Kay turun dari mobil Ad, semua pandangan orang-orang mengarah ke mereka, ada yang menatapnya dengan kagum dan ada pula yang sebaliknya.
“Kay, bisakah kau mengantarkan laporan ini ke direktur bagian pemasaran? Ada di lantai 5.” Ucap Adrian yang di angguki oleh Kay.
Perlu di ketahui kantor Ad berada di lantai 15 dari 60 lantai yang ada di perusahaan ini. Kay pun menerima laporan itu dan segera bergegas keluar untuk menaiki lift menuju lantai 5. Ketika telah sampain di lantai lima dan bertemu direktur bagian pemasaran, tidak sengaja matanya menangkap seseorang yang tidak asing baginya, Kay pun mengingat lagi siapa pria ini. Tetapi anehnya pria ini memakai baju santainya ketika masuk perusahaan ini, tidak seperti orang kantor lainnya yang memakai baju formal.
“maaf, aku membawakanmu laporan dari direktur.” Ucap Kay saat obrolan dua orang itu telah terhenti karena kehadirannya. Sang direktur pemasaranpun mengangguk dan menerima laporan itu. “sebentar.” Ucapnya sembari bejalan untuk kembali ke meja kerjanya.
“kau Kayla?” tanya pria itu. Kay yang lupa akan siapa pria di depannya ini hanya bisa mengerutkan keningnya.
“aku Edgar.” Ucap pria di depannya ini. Kay yang ingat akan Edgar pun tersenyum. “ aku hampir saja melupakanmu, maaf.” Ucap Kay.
“tidak apa, oh iya ada yang aku ingin bicarakan denganmu.” Ucap Ed kepada Kay.
“bicaralah.” Ucap Kay.
“tidak bisa disini, bagaimana kalau kita keluar?” tanya Edgar yang mendapatkan penolakan dari Kay.
“bagaimana pekerjaanku?” tanya Kay.
“aku bisa meminta izin kepada kakak ku, ayo ini sangat penting.” Ucap Ed kemudian langsung menarik tangan Kay dan membawanya pergi dari perusahaan.
Ed membawanya menaiki mobil Ed, yang berwarna putih tersebut. “Ed sebenarnya kita akan kemana?” tanya Kay yang sekarang di samping Ad menaiki mobil ini.
“membawamu ke suatu tempat yang cocok untuk berbicara, kau pasti akan senang, percayalah padaku.” Ucap Ed yang hanya d angguki oleh Kay.
Ed membawa Kay pergi ke sebuah pulau yang ada di kepulauan seribu tepatnya di bagian selatan, kabupaten kepulauan seribu, daerah khusus ibukota Jakarta. Untuk sampai di pulau ini, mereka harus menaiki kapal kapal laut, beruntungnya disini Ed sudah menyewa Speedboat untuk perjalanan mereka ke pulau pari, jadi mereka lebih memiliki privasi. Kapal laut yang biasa beroperasi juga hanya ada di jam 8 pagi dan 9 pagi, karna ini sudah jam 2 siang, pastilah mereka tidak akan dapat kapal laut.
“Edgar, apa tidak salah kau mengajakku kesini?” tanya Kay tidak percaya ketika sebuah speedboat menghampiri mereka.
“tidak, naik lah Kay.” Ucap Ed.
Karna Kay tidak mengerti apa-apa dan sangat polos, ia pun menurut untuk menaiki speedboat dan di susul oleh Ed di belakangnya. Mereka pun menempuh perjalanan sekitar 1 jam 15 menit untuk sampai ke pulau pari. Di dalam speedboat Edgar banyak bercerita tentang dirinya dan kehidupannya kepada Kay.
Ternyata Edgar adalah seorang musisi, dan ia tidak beminat untuk melanjutkan masa depannya di dunia bisnis, ia berkata bahwa biarkan saja kakaknya yang terjun ke dalam dunia bisnis, ia tidak mau. Ed pun baru berusia 21 tahun, lebh muda 1 tahun darinya, tetapi Ed bsa dibilang pria sukses karna sudah terbang ke dunia internasional berkat bakatnya.
Tiba-tiba Ed menyodorkan sebungkus coklat dairy milk dari kantong jaketnya, ia memberikannya kepada Kay. “makasih.” Ucap Kay dan menerima colat pemberian Ed itu.
“aku boleh bertanya padamu, Kay?” tanya Ed yang di angguki oleh Kay.
“apakah kau serius dengan kakak ku?” tanya Ed yang membuat Kay yang sedang memakan coklat pemberian Ed itu tersedak. Ed yang melihat itupun segera memberi Kay minum yang telah mereka pesan sebelumnya, Kay pun segera meminumnya.
“apakah pertanyaanku membuatmu kaget Kay, maaf.” Ucap Ed merasa bersalah pada Kay. Kay pun menggelengkan kepalanya.
“kenapa kau bertanya seperti itu Ed?” tanya Kay dengan heran.
“Tidak apa-apa, aku hanya bahagia mendengar bahwa kakak ku jatuh cinta pa gadis imut ini.” Ucap Ed sembari terkekeh.
Kay pun terkekeh atas ucapan Ed. “apakah kau mendukungku Ed?” tanya Kay.
“tentu, bahkan sangat mendukung.” Ucap Ed.
Tidak terasa sekarang mereka telah sampai di pulau pari, ketika pertamakalinya Kay melihat pemandangan di pulau ini, ia terkagum-kagum. Ternyata Jakarta juga memiliki pulaau yang indah seperti ini ya.” Ucap Kay takjub.
“tentu Kay, ayo.” Ucap Ed menggenggam tangan Kay, membawanya ke resort yang sudah di sediakan.
Setelah selesai melihat-lihat resort, sore pun tiba, sehingga menghasilkan senja nan indah dari pantai. Kay pun sangat excited melihat senja disini. Ia langsung menarik tangan Ed untuk membawanya keluar dari resort dan melihat senja dari bibir pantai.
“kau tau Kay, kakak ku itu orang yang dingin, sedikit berbicara meski dengan kedua orang tuanya sekalipun. Dulu dia pernah sebahagia seperti saat bersamamu sekarang sampai akhirnya jiwa dinginnya kembali mendominasi, aku tidak tau kenapa.” Ucap Ed.
kay pun hanya mendengarkan cerita Edgar dengan seksama, ternyata Ad jauh sekali sikapnya saat tidak bersamanya. Apakah ia akan lanjut mencintai pria itu atau ia ingin mundur?