6

2323 Kata
Ketika Ad sudah berangkat menggunakan mobilnya, Kay pun menutup pintu Mansion Ad, kemudian berjalan kedalam. Kay duduk di sofa yang ada di ruangan santai Ad. Ia berpikir bahwa apa yang telah terjadi terhadap Ad? Tak mau ambil pusing, Kay pun segera menyibukkan dirinya membereskan rumah ini. ...                 Setelah beberapa menit, Ad pun telah sampai di kantornya, ketika ia pertama kali menginjakkan kaki disini, scurity pun segera menundukkan kepala menyambutnya yang hanya di tanggapi senyuman oleh Ad. Ad pun masuk ke kantornya, menaiki lift dan menuju ruangannya, tentu bersama Jack di belakangnya.                 Ad mengerutkan keningnya ketika ia melihat ada seseorang yang duduk di kursi kesayangannya. Ad pun segera masuk ke ruangannya daan melihat siapa yang duduk itu.                 “ada apa CEO?” Tanya Ad ketika mendapati ayahnya yang sedang duduk di kursinya.                 Sang CEO pun memutar kursinya yang semula membelakangi Adrian, kini ke arah Adrian. “saya lihat kau akhir-akhir ini jarang di kantor, kau kemana saja?” tanya CEO dengan tegas.                 “aku ada urusan, CEO.” Ucap Ad dengan nada rendahnya.                 “urusan pribadi? Apa kau sudah hebat sehingga kau mencampurkan urusan kantor dan urusan pribadimu, Direktur Adrian?” tanya CEO sembari melepas kacamata dan meletakkannya di meja.                 “tidak sama sekali CEO.” Ucap Adrian sembari menundukkan kepalanya.                 “saya sudah dengar semuanya tentang betapa buruknya kau menjadi direktur akhir-akhir ini, jika kau terus-terusan seperti ini, bisa-bisa saya akan menurunkan pangkatmu menjadi staff.” Ucap CEO dengan wajah seriusnya kemudian memakai lagi kacamatanya dan melangkah keluar dari ruangan Adrian.                 “maafkan aku.” Ucap Adrian menundukkan kepalanya dalam.                 Sang CEO pun menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan maaf dari anaknya tersebut. “saya tidak butuh maafmu, buktikan atau aku akan memisahkanmu dengan wanita itu. Aku tau semuanya son.” Ucap Lucas kemudian benar-benar pergi dari ruangan Adrian.                 Ad pun segera duduk di kursinya dan mengusap wajahnya Kasar. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah sekarang. “maafkan aku Kay.” Lirih Ad kemudian mulai membuka macbooknya dan bekerja.                 Adrian benar-benar menghabiskan waktunya untuk bekerja sampai ia melupakan makan siangnya. “kau ada meeting sepuluh menit lagi, tuan.” Ucap Jack ketika telah masuk ke ruangan Adrian sembari menyodorkan sebuah laporan pada Ad.                 “baik, tiga menit lagi aku akan kesana.” Ucap Ad yang di angguki oleh Jack. Setelah Jack kembali ke mejanya, Ad menghembuskan napasnya kasar, kemudian ia pun membaca laporan untuk meeting tersebut, setelah itu ia menuju ruang meeting dengan Jack di belakangnya.                 Setelah berpuluh-puluh menit, akhirnya mereka pun telah menyelesaikan meeting mereka, kini Ad pun kembali ke ruangannya. “Jack, Beritahu Kay bahwa aku lembur, dan antarkan dia ke apartemennya, sampaikan maafku kepadanya.” Ucap Ad.                 “baik, akan aku sampaikan.” Ucap Jack, kemudian Jack pun keluar untuk ke mansion milik Ad karena pekerjaannya pun sudah selesai, jadi ia bisa segera ke mansion.                 “ini semua demi kau, Kay.” Ucap Ad lirih kemudian kembali mengerjakan kerjaan yang menumpuknya.                 “akhirnya kau pulang Ad.” Ucap Kay sembari membukakan pintu mansion Ad degan senyumnya, tetapi senyum itu seketika luntur ketika ia tidak menemukan Ad.                 “kemana Ad?” tanya Kay.                 “dia meminta maaf Kay, dia harus lembur. Aku akan mengantarkanmu ke apartemen, bersiaplah.” Ucap Jack.                 “oh, okay.” Ucap Kay. Kay pun tersenyum getir, entah ia seperti marah atas perlakuan Ad yang seperti ini padanya.                 Kay pun hanya mengambil tasnya dan menemui Jack lagi untuk mengantarkannya ke apartemennya. “kau tidak apa, Kay?” tanya Jack yang melihat Kay seperti sedih ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju apartemen Kay.                 “aku tidak papa, Jack.” Ucap Kay yang berusaha tersenyum.                 Kay pun masuk ke apartemennya setelah Jack mengantarkannya sampai parkiran apartemen. kay duduk di balkon apartemennya sembari melihat view gedung-gedung yang ada di depannya. Kay tertawa hambar. “kenapa kau tidak mengatakannya langsung padaku, Ad? Kenapa harus Jack yang menyampaikannya, padahal jika kau mengabariku itu akan lebih baik.” Ucap Kay sembari tertawa miris. ...                 Sejak saat itu hubungan mereka sedikit renggang, sudah terhhitung seminggu mereka tidak saling berkomunikasi, bertemu maupun berkomunikasi lewat gadget mereka masing-masing. Kay sibuk melamunkan hidupnya saat ini, sedangkan Ad terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga ia melupakan Kay.                 Pada siang hari, seseorang memencet bell apartemennya, Kay yang sedang sibuk melamun tersebut mengabaikan orang itu sampai beberapa menit kemudian ia baru tersadar bahwa sur bell masuk ke indra pendengarannya. Kay pun berjalan gontai membukakan pintu untuk tamunya tersebut.                 Kay pun terkejut akan siapa yang datang ke apartemennya kali ini, pasalnya ia sudah lama sekali tidak bertemu dengan nya. “apa kabar?” ucapnya. Kay pun langsung tersenyum. “aku baik, ayo masuk.” Ucap Kay mempersilahkan tamunya itu masuk. Merekapun berbincang dan tertawa bersama. Rasanya sudah lama sekali Kay tidak tertawa sehingga ia merasa bahagia sekali kali ini.                 “ayo keluar Kay, aku akan mengajakmu ke toko buku bagaimana? Aku tahu kau suka membaca kan?” tanyanya sambil terkekeh.                 “sejak kapan kau tahu itu? Okey, mari kita ke toko buku.” Ucap Kay sambil tertawa.                 Setelah itu mereka pun berjalan menuju parkiran apartemen untuk menaiki mobil menuju kee salah satu toko buku yang berada di tengah pusat perbelanjaan yang berada di suatu mall besar. Setelah sampai disana, mereka pun turun dan langsung memilih memarkirkan mobil di lantai tiga agar mereka cepat untuk menuju Gramedia. Disana mereka pun memilih beberapa buku. Kay yang suka sekali dengan buku seperti misteri dan teka-teki pun mengambil tiga buku berbeda tetapi dengan penulis yang sama, yaitu Aghata christie. Kay memang sangat menyukai buku Aghata christie dari dulu, maka wajar saja bahwa Kay mengambil berbagai buku dari penulis terkenal itu.                 “aku tidak papa mengambil sebanyak ini?” tanya Kay.                 “baru tiga kau bilang banyak? Satu toko ini pun aku sanggup membelikannya untukmu Kay.” Ucapnya yang membuat Kay memukul lengan pria itu sambil terkekeh.                 Akhirnya pria itu pun membayar bukunya dan buku Kay juga. Setelah itu mereka tengah berada di Starbucks untuk membeli frappucino karena mereka berdua sangat menyukai frappucino.                 Tiba-tiba seorang pria menghampiri Kay dengan langkahnya yang tegap, kemudian ia pun segera menarik tangan Kay dan membawanya keluar dari starbucks itu. “kau apa-apan Ad!” teriak Kay kepada Adrian.                 “kau yang apa-apaan Kay!” ucapnya membentak Kay kemudian membawa Kay pergi dari depan toko tersebut.                 “sakit Ad, tolong lepaskan.” Ucap Kay meringis. Jujur saja cengkraman tangan Ad di pergelangan tangannya sangat kuat sampai membuat sangat sakit.                 Sedangkan pria yang tadi bersama Kay tersebut langsung menyusul Kay yang telah di bawa oleh Ad. “kau tidak boleh kasar terhadapnya.” Ucap pria itu ketika mereka tengah berada di parkiran mall ini, kebetulan sekali mereka memarkirkan mobilnya sama-sama di lantai tiga.                 Ad pun memasang senyum smirk nya, ia melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Kay, kemudian mendekati pria yang tadi bersama Kay.                 BUGH!                 Bogeman mentah tersebut di berikan Ad tepat di sudut bibir pria itu sehingga pria itu terpental cukup jauh. Kay yang melihatnya pun berteriak histeris kemudian berlari untuk menolongnya.                 “kau lebih memilihnya Kay?” tanya Ad dengan suara rendah dan tatapan tajam Ad di berikan kepada Kay.                 Kay yang sedang menolong pria itu pun melirik ke arah Ad walaupun ia sebenarnya takut akan pria itu tetapi ia memberanikan dirinya. “ya, jadi bisakah kau pergi dari hidupku, Adrian.” Ucap Kay.                 Setelah Kay mengucapkan itu, Ad pun langsung menuju mobilnya dan menaikinya. Kay tau bahwa di mata pria itu banyak kekecewaan atas dirinya. Kay pun mulai menitihkan air matanya, di susul isakan kecil yang keluar dari bibirnya.        “Kay, kau tidak seharusnya mengucapkan kata seperti itu, kau harus segera berbicara dengan kakak ku Kay.” Ucap pria itu sembari duduk, mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan Ad tadi dan segera memeluk Kay.                 Kay pun benar-benar menangis di bahu pria itu, hatinya sakit, sangat sakit melihat Ad yang bisa-bisanya memperlakukan ia dan adiknya sendiri seperti itu. Kay menggeleng lemah. “ia pantas mendapatkan itu Ed, ia sudah memukulmu.” Ucap Kay.                 Edgar pun melepaskan pelukannya. “aku tidak papa Kay.” Ucap Ed sembari tersenyum sehingga darah itu sangat terlihat.                 “ayo ke apartemenku, aku akan mengobati lukamu.” Ucap Kay. Kemudian mereka pun berjalan menuju mobil Ed dan menancap gas nya menuju apartemen Kay.                 “apakah sakit?” tanya Kay ketika ia membersihkan luka yang ada di sudut bibir Ed.                 “tidak.” Ucap Ed. Akhirnya Kay pun meneruskan dengan memberikannya obat merah pada sudut bibir Ed. Ed yang melihat wajah Kay yang sangat dekat dengannya pun menelan salivanya ndengan susah payah, tetapi Ed seberusaha mungkin sadar karna ini adalah pacar kakaknya, mana boleh ia jatuh cinta pada kaka iparnya sendiri.                 “sudah.” Ucap Kay, kemudian membereskan kotak P3K nya lagi.                 “terimakasih Kay.” Ucap Ed yang di angguki oleh Kay. Setelah itu pun Kay membuatkan Ed teh hangat, kemudian mereka lebih memilih membicarakan buku yang telah mereka beli tadi agar perasaan Kay kepada Ad pun tidak terlalu terpikirkan. ...                 Ad berusaha setenang mungkin ketika ia sudah berada di area kantor lagi. Ia pun hanya melangkahkan kakinya menuju ruangannya tanpa menampilkan ekspresi apapun walau banyak staff yang menyapanya. Ad masuk ke ruangannya dan menuju ruangan istirahatnya yang terdapat kamar disana. Ad menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di kamar kantornya ini. Ia menundukkan kepalanya dalam dan memejamkan matanya, mengingat bagaimana sorot mata Kay saat mengatakan bahwa Kay lebih memilih adiknya daripada dirinya.                 Ad tertawa hambar, ia bekerja mati-matian menyelesaikan semua pekerjaannya secepat mungkin agar ia bisa menikmati quality time bersama Kay, tetapi wanita itu malah mengecewakannya. Apalagi Kay tadi bersama Edgar, orang yang paling di bencinya setelah ia mebawa Kay pergi tanpa izinnya, sekarang ia juga mencoba mendekati Kay, k*****t.                 Ad mengambil nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, ia berharap bahwa emosi di dadanya segera cepat pergi agar ia bisa melanjutkan lagi pekerjaannya, k*****t dengan Kay dan Edgar.                 Setelah merasa dirinya lebih baik, Ad pun keluar dari kamarnya dan berjalan lagi menuju meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaanya hari ini yang akan selesai. Lagi dan lagi Ad harus membuang napas kasar dan berkali-kali ia harus mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa bayangan Kay selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Ad pun memutuskan untuk pulang dan mengerjakan semuanya di rumah.                 “kau baik-baik saja?” tanya Jack yang melihat wajah Ad yang nampak sangat frustrasi.                 “ya.” Jawab Ad singkat.                 “kau tidak melakukan hal bodoh kan saat aku meberitahumu bahwa Kay sedang bersama Edgar?” tanya Jack.                 Ad pun membuang napas dengan kasar. “Kay membenciku.” Ucap Ad lirih.                 Jack pun melongo tidak percaya. “bagaimana bisa?” tanya Jack.                 “aku memukul Edgar di hadapan Kay, dan Kay lebih memilih Edgar di bandingkan Aku.” Ucap Ad yang membuat Jack menepuk dahinya.                 “kau salah Ad, kau harus meminta maaf kepada Kay, harus.” Ucap Jack dengan penuh penekanan.                 “aku tidak salah Jack, sepertinya Kay juga senang dengan kepergianku dari hidupnya.” Ucap Ad yang membuat Jack sangat-sangat kesal.                 “terserah kau, tuan.” Ucap Jack kemudian ia tidak ikut campur lagi dengan pembicaraan ini. Ia tidak habis pikir dengan bosnya ini.                 “biarkan Kay bahagia Jack.” Lirih Ad yang hanya di tanggapi gumaman oleh Jack.                 “kau jangan menyesal ya.” Ucap Jack yang di angguki oleh Ad. “aku pasti tidak akan menyesal.” Ucapnya.                 Setelah sampai di mansion Ad, Ad pun turun bersama Jack, Ad meminta Jack untuk bersamanya satu minggu ini karna satu minggu belakangan ini ia meminta bantuan Jack untuk memata-matai Kay lewat GPS yang ada di iphone Kay.                 “Jack, tolong lihat dimana Kay.” Ucap Ad.                 “kau masih peduli?” tanya Jack dengan tawa renyahnya yang langsung mendapatkan protes dari Ad.                 “aku hanya memastikan bahwa dirinya aman.” Ucap Ad membela diri.                 “berarti kau khawatir?” tanya Jack menerka.                 “sudahlah Jack, cepat.” Ucap Ad karena ia merasa bahwa Jack ini banyak bicara sekali.                 “haha baiklah.” Ucap Jack kemudian membuka macbooknya dan memperlihatkan dimana Kay berada. Ternyata Kay tengah berada di sebuah cafe yang cukup terkenal, itu membuat Ad membulatkan matanya, dengan siapa Kay pergi?                 Sebelum-sebelumnya ketika mereka melihat lokasi Kay, pastilah Kay sedang berada di apartemennya, tetapi ini berbeda. Kay pergi cukup jauh dari apartemennya, Ad pun langsung berpikiran buruk tentang apa yang keadaan Kay.                 “Jack bisakah aku melihat siapa yang sedang bersamanya?” tanya Ad.                 “tidak.” Ucap Jack asal.                 “baiklah, aku akan kesana menemui Kay.” Ucap Ad kemudian bangkit dari duduknya dan menyambar kunci mobilnya.                 “ITU BERARTI KAU MASIH PEDULI AD, JANGAN LUPA UNTUK MEMINTA MAAF!” Teriak Jack yang melihat bosnya itu sangat terburu-buru ketika menyangkut tentang Kay.                 “aku tidak pernah melihatmu se khawatir itu sebelumnya Ad.” Gumam Jack sembari menggelengkan kepalanya.                 Adrian pun segera mengendarai ferrarinya menuju cafe dimana Kay berada, ia hapal betul cafe itu karena dulu ia setiap malam selalu disana, bersama seseorang yang sekarang ia benci.                 Ad mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai disana, ia pun segera masuk dan mencari keberadaan Kay.                 Lama mencari akhirnya akhirnya Ad menemukan Kay, duduk di pojok dan di samping jendela. Ia pun segera menhampiri Kay entah kenapa, dirinya begitu refleks ketika melihat Kay yang sedang melamun sembari mengaduk secangkir kopi dengan lesu.                 “Hay.” Ucap Ad sembari duduk di hadapan Kay.                 Kay yang sedang tidak mood itu hanya melirik pria di hadapannya tanpa selera. “apa aku menganggumu?” tanya Ad.                 “Sangat.” Ucap Kay dengan datar sembari nematap pria itu.                 Seketika suasana pun menjadi awkward, Ad menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia kehabisan bahan pembicaraan. “oh iya, kau sendiri? Kenapa kau memesan makanan seperti untuk dua orang?” tanya Ad penasaran karna terdapat secangkir kopi dan seppotong kue di meja yang kursinya ia duduki saat ini.                 Kay pun tidak menjawab pertanyaan Ad sampai seseorang menghampiri meja mereka. “maaf aku lama Kay.” Ucapnya sembari membetulkan kemejanya. “maaf.” Ucap pria yang baru datang tadi ketika melihat Ad. Ad yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum simpul. “maaf aku menganggu acara kencan kalian berdua, aku permisi.” Ucap Ad kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari cafe tersebut. Sang pria yang baru datang tadi pun langsung duduk. “Kay, apakah kau sudah baikan dengan kakakku?” tanyanya. “tidak.” Ucap Kay. “haishhh bagaimana, kita disini kan untuk membahas bagaimana kau akan baikan dengan kakakku.” Ucap Ed. “aku menyesal kenapa aku kembali dari toilet.” Ucap Ed tampak sangat menyesal. “sudahlah Ed.” Ucap Kay kemudian menyeruput kopinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN