08. Berusaha Keluar dari Hutan

1230 Kata
Ira mengangguk ragu. Debaran hatinya pun semakin cepat karena ini kali pertama Ira menghadapi situasi seperti itu. “Ayo!” ajak Bian. Mereka berdiri di balik pintu sabil menunggu Bian memantau situasi di luar. Sebelum keluar, Bian menggenggam tangan Ira tanpa menoleh. Deg! Ira sangat gugup kala tangannya digenggam seperti itu oleh Bian. Ia pun menatap genggaman tangan mereka. Kemudian ia menatap Bian yang serius memantau situasi di luar dari celah pintu. Kini debaran hati Ira semakin bertambah. Sebab selain karena takut, Ira pun berdebar karena genggaman tangan Bian itu. ‘Ternyata dia baik juga,’ batin Ira sambil menatap Bian dari belakang. “Di luar sudah sepi. Apa kamu siap?” tanya Bian, sambil menoleh. Ira yang sedang menatap Bian pun langsung gelagapan. “Heuh? I-iya. Siap,” jawab Ira. “Tangan kamu dingin sekali. Apa kamu yakin bisa lari?” tanya Bian sambil melihat tangan Ira. “Bisa kok. Aku kalau gugup emang suka gini. Aku gugup karena situasinya menegangkan,” jelas Ira. Bian mengelap telapak tangan Ira ke dadanya. Hal itu pun malah membuat Ira semakin gugup. “Oke, kita keluar sekarang! Usahakan langkah kamu jangan sampai menimbulkan suara. Mengerti?” tanya Bian. “Ngerti,” jawab Ira. Ia tidak bisa banyak bicara karena dadanya terlalu sesak. Bian pun membuka pintu secara perlahan. Kemudian mereka mengendap keluar dan mencari jalan belakang. Sementara itu, anak buah Bian sudah mengepung tempat tersebut. Mereka menyamar menggunakan daun dan rerumputan. Mereka pun membawa senjata dan beberapa alat lainnya. Beberapa orang berada di atas pohon untuk memantau situasi markas tersebut menggunakan teropong. “Lapor! Elang (Bian) sudah terlihat. Ia berhasil menyelamatkan sandra. Namun saat ini mereka belum keluar dari tempat tersebut,” ucap salah satu anak buah Bian yang berada di atas pohon. “Fokuskan ke sekitar! Hadang setiap orang yang hendak menyerang Elang!” sahut leader yang menggantikan Bian. “Siap! Laksanakan!” Mereka pun memantau sekitar Bian dan Ira. Dan bersiap membidik siapa pun yang menyerang. Bian dan Ira jalan sambil membungkuk. Semakin jauh melangkah, kaki Ira semakin gemetar. Ia khawatir tiba-tiba ada orang yang menembaknya. ‘Ya Tuhan, mimpi apa aku bisa nemu situasi kayak gini?’ batin Ira. Sedangkan Bian sudah tidak sempat memikirkan apa pun. Saat ini ia hanya fokus agar bisa keluar dari tempat itu. Namun, baru beberapa kali melangkah, Bian dan Ira sudah ditodong senapan oleh seseorang. “Jangan bergerak! Mau ke mana, kalian?” tanya orang itu. Kebetulan saat itu bos mereka baru saja datang. Sehingga mereka bersiap untuk menyerahkan Bian dan Ira ke bos mereka. Bian dan Ira pun langsung angkat tangan. Kaki Ira gemetar karena saat ini nyawanya sedang terancam. ‘Ya Tuhan, apa harus berakhir saat ini juga?’ batin Ira. Ia merasa sangat konyol jika nyawanya harus berakhir di tangan penjahat itu. Mata Bian melirik ke sekitar untuk memastikan bahwa anak buahnya sudah tiba di sana. ‘Syukurlah mereka sudah datang,’ batin Bian. Ia melihat ada anak buahnya di atas pohon dan bidikan laser dari senapan anak buahnya yang siap melepaskan peluru ke arah orang yang sedang menodongkan senjata ke arah Bian. Jleb! Peluru pun langsung bersarang di jantung orang itu tanpa suara dari senapannya. Sehingga orang tersebut tumbang seketika. Sontak saja Ira terkejut. “Ayo! Kita harus segera lari dari sini!” ajak Bian. Ia melihat salah satu anak buahnya telah melemparkan tali ke dinding pembatas yang terbuat dari bambu dan kayu itu. Ira pun membuntuti Bian meski kakinya sangat lemas. “Kamu naik duluan!” ucap Bian. “Mereka kabur!” teriak seseorang. Bian pun mendengar hal itu. Membuatnya sedikit tegang karena Ira kesulitan memanjat. “Maaf!” ucap bian. Ia terpaksa memeluk Ira dan menggendongnya sambil memanjat dinding tersebut. “ITU MEREKA! KEJAARR!” pekik salah seorang dari penjahat itu. Dor! Dor! Dor! Mereka menembaki Bian dan Ira. Beruntung pelurunya tidak ada yang mengenai tubuh Bian maupun Ira. Setelah berhasil memanjat, Bian pun langsung melompat sambil tetap menggendong Ira. Bug! Ira jatuh tepat di atas tubuh Bian. “Maaf,” ucap Ira dengan suara gemetar. “Ayo lari!” ajak Bian. Ira mengangguk cepat. Namun wajahnya terlihat begitu pucat dan berkeringat. Bian pun tak tega membiarkan Ira berlari dalam kondisi seperti itu. Ia berjongkok di depan Ira. “Ayo naik!” ucapnya. “Aku bisa sendiri,” sahut Ira. “Kita tidak punya waktu untuk berdebat. Cepat!” ucap Bian dengan sedikit menyentak. Akhirnya Ira pun naik ke punggung Bian. Setelah itu Bian pun membawanya berlari menjauh dari tempat tersebut. Salah satu anak buah Bian mendekat ke arah mereka. Ia memberi petunjuk arah pada Bian. Sedangkan yang lain masih berisap untuk menghadang pasukan yang sedang mengejar Bian. “Ini, Ndan!” ucap anak buah Bian. Sambil menunjukkan alat komunikasi mereka. Bian pun menghentikan langkahnya. “Tolong pasangkan!” pinta Bian. Anak buah Bian memasangkan alat itu di telinga Bian. Kemudian mereka melanjutkan larinya. Baku hantam tembakan pun terjadi. Hutan yang sepi itu kini jadi ramai. Dor! Dor! Dor! Ira memeluk erat Bian. Ia sangat ketakutan. Rasanya begitu sesak karena terlalu tegang. “Aku takut,” lirih Ira. Saat ini ia terlihat seperti anak manja. “Jangan khawatir! Kami semua pasti menyelamatkan kamu!” ucap Bian. Bian dapat merasakan debaran jantung Ira yang begitu kencang. Ia tahu betul bagaimana takutnya warga sipil seperti Ira ketika harus menghadapi situasi mencekam seperti itu. “Tenang saja! Anak buahku sudah ada di sekeliling kita,” ucap Bian. Ira tidak merespon. Sebab ia sudah sangat lemas. Bian khawatir Ira dehidrasi karena terlalu tegang. “Ada yang bawa minum?” tanya Bian. “Siap! Tidak ada, Ndan!” jawab mereka. Bian pun kesal karena anak buahnya itu tidak prepare. Padahal minum merupakan hal yang paling penting. Namun ia tidak bisa menyalahkan mereka. Sebab tidak ada yang memberi komando mereka. Mungkin mereka pun terlalu panik karena Bian dan Ira menghilang. Sehingga terburu-buru ingin menyelamatkannya. “Kalau begitu aku mau cari sungai. Semoga ada sungai di dekat sini,” ucap Bian. Beberapa anak buah Bian pun membuntutinya. Mereka tidak ingin Bian menghilang lagi. “Sepertinya di dekat sini ada sungai, Ndan!” ucap anak buah Bian. “Ayo kita ke sana!” ajak Bian. Mereka pun berjalan ke arah sungai. Beruntung di sana mereka menemukan suangai dengan air jernih. Sehingga Bian bisa memberi minum Ira. Sementara anak buah Bian yang lain masih sibuk berperang melawan penjahat itu. Beruntung tidak ada satu pun dari mereka yang tertangkap. Hanya beberapa orang yang terluka. “Lebih baik kamu minum dulu!” ucap Bian sambil menyodorkan air yang ia ciduk menggunakan daun lebar. “Thanks,” ucap Ira, lemas. Dalam kondisi seperti itu, Ira tidak bisa pilih-pilih. Ia pun meminum air yang diberikan oleh Bian. Sebelumnya ia melepaskan sapu tangan Bian lebih dulu. “Bagaimana?” tanya Bian setelah Ira meminumnya. “Good,” jawab Ira. Bian pun meminum air itu. Ia tidak kalah haus karena baru saja menggendong Ira sambil berlari. “Maafin aku, ya. Gara-gara aku, kamu jadi kesusahan,” ucap Ira sambil mengelap keringat di wajah Bian. Bian menggenggam tangan Ira yang sedang mengelapi keringatnya. “Biar aku saja!” ucapnya. Kemudian ia mengambil saputangan itu dan mengelap keringat di wajahnya. Anak buah Bian pun menghadap ke belakang karena tidak nyaman melihat pemandangan yang menurut mereka mesra tersebut. “Lebih baik kita pulang sekarang!” ajak Bian. “Sebentar lagi hampir malam, Ndan. Sepertinya kita tidak akan bisa keluar dari hutan ini sebelum malam,” ucap anak buah Bian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN