09. Survive

1227 Kata
"Tidak! Kita harus bisa segera keluar dari hutan ini sebelum malam!" ucap Bian. Kira kira berapa jauh lagi jarak yang harus kita tempuh agar bisa keluar dari hutan ini?" tanya Bian pada anak buahnya itu. Tadi Bian berjalan sambil dibuntuti oleh dua orang penjahat yang menyandranya. Sehingga ia lupa seberapa jauh jarak yang telah ia tempuh sampai tiba di markas tersebut. "Kurang lebih 2 km, Ndan," jawab anak buah Bian. "Kalo hanya kita saja mungkin masih bisa dengan berjalan cepat. Tapi kan ada dokter Ira yang harus kita lindungi. Rasanya mustahil bisa keluar dari hutan ini sebelum gelap," timpal temannya. "Maaf, ya. Gara-gara aku semuanya jadi repot repot," ucap Ira. Ia tidak enak hati karena telah merepotkan banyak orang. Bahkan sudah seperti ini saja Ira merasa menjadi penghalang bagi mereka. "Kamu enggak perlu minta maaf. Ini sudah kewajiban kami untuk menolong setiap warga sipil yang terancam keselamatannya," jawab Bian. "Terima kasih," ucap Ira, kemudian ia memalingkan wajah. Entah mengapa ia sedikit kecewa. Saat Bian mengatakan bahwa hal yang ia lakukan hanyalah sebatas kewajiban sebagai tim keamanan Ya sudah kalau begitu mari kita lanjut jalan ajak Biyan "Lalu bagaimana dengan tim yang lain? Apakah mereka kita tinggal?" tanya Ira. Ira memikirkan anak buah Bian yang sedang melawan penjahat itu. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka! Mungkin nanti bisa jadi mereka duluan yang keluar dari hutan ini," ucap Bian. Ia yakin anak buahnya sudah terlatih. Sehingga mampu menghadapi situasi seperti itu. "Iya juga, ya. Mereka pasti bisa bergerak lebih cepat daripada aku," gumam Ira. Mereka pun menyusuri hutan itu melalui tapi sungai menuju ke hilir. Mereka yakin di hilir nanti akan menemukan pemukiman. Setidaknya jika belum bisa keluar dari hutan itu mereka bisa berlindung di rumah warga. Mereka lupa bahwa saat ini sedang ada di perbatasan. Sehingga kemungkinannya sangat kecil untuk adanya penduduk di tengah hutan tersebut. "Tinggal setengah perjalanan lagi, Ndan," ucap anak buah Bian. "Apa kamu masih kuat jalan?" tanya Bian pada Ira. "Masih," jawab Ira. Padahal kakinya sudah terasa sakit. Ini kali pertama ia berjalan sangat jauh di tengah hutan. Seandainya Ira pernah berjalan jauh pun, mungkin di mall atau di kota sehingga tidak terlalu terasa capai. "Kalau kamu enggak kuat, jangan dipaksa!" ucap Bian. Ira pun mengangguk. Ia sudah terlalu lelah Sehingga tidak ingin banyak bicara. Apalagi kali ini dirinya pun lapar. Di tengah perjalanan tiba-tiba kaki Ira tersandung dan terkilir. "Aww!" pekiknya. Mereka semua menoleh ke arah Ira. "Kamu kenapa?" tanya Bian. "Kaki aku terkilir," jawab Ira, sambil meringis. Biar berjongkok untuk mengecek kondisi kaki Ira. Ia melepaskan sepatu yang Ira kenakan. Kemudian melihat kakinya ternyata benar kakinya terlihat memar. "Kamu tidak mungkin bisa berjalan dalam kondisi kaki seperti ini. Biar aku gendong lagi!" ucap Bian. "Jangan! Tadi kamu udah jalan jauh sambil gendong aku. Aku bisa jalan sendiri," jawab Ira. Ia tidak enak hati jika harus digendong oleh Bian lagi. "Tolong bekerjasamalah! Jangan merepotkan kami! Sebab, jika kamu terus menolak, justru kami akan repot," ucap Bian. Akhirnya Ira menurut. Ia kembali naik ke punggung Bian untuk digendong. Anak buah Bian tidak tega melihat Bian menggendong Ira terus. Namun mereka pun tak berani menggantikannya. Entah mengapa mereka merasakan ada sesuatu di antara Bian dan Ira yang sering bertengkar itu. "Jika kalian bisa berjalan atau berlari. Pergilah lebih dulu!" ucap Bian, pada anak buahnya. "Kami tidak mungkin meninggalkan kalian berdua di sini, Ndan," jawab anak buah Bian. "Tapi kalian bahkan tidak membawa air minum. Apalagi makanan. Bagaimana jika nanti kita semua kelaparan? Setidaknya jika kalian bisa keluar dari sini lebih dulu, kalian bisa menyuruh orang untuk membawakan makanan atau bahkan tandu untuk menggotong dokter Ira," jelas Bian. Apa yang Bian katakan cukup masuk akal. Sehingga mereka pun sepakat. "Baiklah kalau begitu. Biar saya sendiri yang berlari! Kamu tunggu di sini! Temani komandan," ucap salah satu anak buah Bian. "Jangan seperti itu! Di tengah hutan seperti ini, kita tidak boleh sendirian. Minimal harus berdua. Setidaknya jika menghadapi sesuatu, masih ada satu orang yang bisa membantu atau sekadar memberikan informasi kepada orang lain," ucap Bian. Sebagai komandan, Bian pasti memikirkan segala sesuatu dari berbagai aspek. "Tapi bagaimana dengan Komandan?" tanya mereka. Mereka tidak tega meninggalkan Bian hanya berdua dengan Ira yang kakinya sakit itu. "Kalian jangan khawatir! Saya masih punya senjata dan banyak peluru. Jadi untuk beberapa jam ke depan kami akan aman. Semoga tidak bertemu dengan siapa pun," ucap Bian. Ia yakin malam hari tidak akan ada orang yang berkeliling di tengah hutan. Sehingga senjata itu bisa ia gunakan untuk melindungi diri dari hewan buas. "Baiklah kalau begitu. Kira-kira apa lagi yang komandan butuhkan? Agar bisa kami bawakan ke sini," tanya anak buah Bian. "Selain yang tadi saya sebutkan, tolong bawakan senter serta baju hangat dan korek," pinta Bian. Ia ingin mengantisipasi jika sekiranya nanti mereka tidak bisa keluar sebelum gelap. Jarak kurang lebih 1 km. Jika di luar hutan mungkin tidak terlalu jauh. Namun kini mereka ada di dalam hutan. Sehingga 1 km terasa sangat jauh. Akhirnya mereka pun berpisah. Bian masih menggendong Ira, meski tenaganya mungkin tinggal separuh. Sedangkan dua anak buahnya terus berlari agar bisa keluar dari hutan itu sebelum gelap. Ira tidak tega melihat Bian seperti itu. Namun dia tidak memiliki pilihan lain. Sebab jika dirinya protes, mungkin Bian akan kesal. Baru berjalan sekitar 200 m, gerimis pun mulai turun rintik-rintik. "Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Lebih baik kita cari gubuk untuk berteduh!" ucap Bian. Kemudian ia berusaha dan berharap agar bisa menemukan sebuah tempat berteduh. Ia tidak bisa membayangkan. Bagaimana jadinya jika Ira kehujanan di tengah hutan malam-malam. Semakin lama, hujan semakin banyak. Beruntung, akhirnya mereka pun menemukan sebuah gubuk yang terlihat sudah lama kosong. "Itu dia," gumam Bian sambil berjalan menuju gubuk tersebut. "Apa kamu yakin mau masuk ke sana? Aku takut," ucap Ira. "Apa kamu mau kehujanan? Udara di sini akan sangat dingin dan kamu tidak akan kuat jika kehujanan. Dalam kondisi seperti ini kita tidak sempat untuk memikirkan rasa takut. Yang terpenting adalah keselamatan kita," jawab Bian. Akhirnya mereka pun masuk ke gubuk tersebut. Bian yang masih menggendong Ira itu dapat merasakan debaran jantung Ira semakin kencang. Bahkan lebih kencang dari dikejar penjahat, tadi. Bian menurunkan Ira secara perlahan. "Kamu tunggu di sini, ya! Aku akan cari kayu untuk membuat api unggun. Agar bisa lebih hangat," ucap Bian. Saat Bian hendak pergi, Ira langsung mengenggam tangannya. "Tolong jangan tinggalkan aku! Aku takut sendirian. Lagi pula di luar sudah gerimis. pasti kayunya basah," pinta Ira, memelas. "Tapi kita tidak mungkin hanya diam saja," sahut Bian. Ira mengerdarkan pandangan matanya. Mencari sesuatu yang ada di dalam sana. Hingga ia menyadari ada tumpukan kayu di bawah balai yang ia duduki. "Nah, itu dia ada kayu," ucap Ira. Bian menoleh ke arah bawah dan ternyata memang benar di sana banyak kayu. Ia pun senang karena bisa membuat api unggun. "Tapi gimana cara nyalain apinya?" tanya Ira. "Kamu jangan khawatir! Aku sudah biasa survive di tengah hutan seperti ini. Jadi aku tidak butuh korek untuk menyalakan api," jawab Bian, percaya diri. "Bukankah tadi kamu minta korek ke anak buahmu?" tanya Ira. "Memang. Setidaknya itu bisa mempermudah. Karena menyalakan api tanpa korek butuh tenaga dan itu tidak mudah," jawab Bian, jujur. Bian pun menggulung lengan bajunya. Kemudian ia berjongkok untuk menyalakan api. Bian berusaha dengan keras agar bisa menyalakan api dari kayu tersebut. Ia terlihat sangat serius membuat Ira tidak tega melihatnya. 'Ternyata dia baik juga,' batin Ira sambil menatap Bian dalam kondisi remang-remang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN