Keysa mengucapkan terima kasih terlebih dulu, setelah ia selesai mengirimkan surat untuk keluarganya. Entah mengapa, ia sangat nyaman sekali berada di dekat laki-laki tersebut, yang ia ketahui namanya adalah 'Alamsyah'. Cara bicaranya, tampilannya, dan semua yang berkaitan dengan Alam, Alya menjadi suka.
Alya berjalan kaki menuju kembali ke indekosnya, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh. Hari ini ia sangat senang sekali, tetapi tiba-tiba perutnya terasa sangat lapar. Ia berhenti tepat di depan warung yang menyediakan nasi, Alya memesan nasi dengan lauk sederhana dan dibungkus, serta ia juga membeli air mineral. Karena di sana belum ada persediaan air mineral.
"Terima kasih, Mba," ucap Alya sembari menerima kantong plastik hitam dan menyerahkan uang pas untuk membayar.
Alya keluar dari rumah makan dengan wajah yang berseri-seri, lengkap sudah kebahagiaannya. Sesampainya di indekos, ia bisa segera melahap makanan ini. Perutnya sangat perih, karena sedari tadi tidak ada makanan sama sekali yang mengisi perut ini.
Setelah melahap habis makanan yang ia beli, Alya segera membereskan barang-barang yang dibawanya dan menata di tempat yang sudah disediakan. Tempat tinggal Alya sedikit terawat daripada yang lain, mungkin sewanya juga lebih tinggi. Entahlah, Alya tak memikirkan itu semua.
-
Tak usah dipasang alarm pun Alya seperti biasa akan bangun pukul tiga pagi, tentunya untuk melaksanakan salat sunnah Tahajud, tetapi karena teringat bahwa naanti pagi ia akan berangkat ke tempat kerjanya yang baru, Alya mengurungkan niatnya untuk membaca al-quran dan memilih untuk melanjutkan tidur kembali.
Waktu bergerak sangatlah cepat, rasanya seperti baru saja tertidur. Alya harus kembali terbangun, karena suara adzan yang menggema. Segera ia membuka mata dengan sangat lebar, supaya kantuk tak lagi datang. Terduduk sebentar sembari mengumpulkan kesadaran, lalu merenggangkan otot-ototnya dan melangkah menuju ke kamar mandi.
Selesai melaksanakan salat Subuh, Alya mandi terlebih dulu dan memakai baju santai serta tak lupa dengan hijabnya. Ia keluar rumah untuk mencari makanan, perutnya terasa sangat lapar, berharap akan menemukan pedagang yang sudah buka. Namun, saat baru saja ia membuka pintu, di sekelilingnya sangat sepi dan lampu-lampu juga sudah padam.
Rasa takut menyelimuti Alya, apalagi di sini ia hanya sendirian. Alya memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah dan membuka buku diary yang sengaja ia bawa. Membaca tulisan-tulisan dulu saat ia tengah merasakan apapun, Alya tersenyum mengingat masa-masa itu. Namun, saat Alya ingin mengambil bolpoin, ternyata bolpoinnya hilang. Mungkin karena tasnya yang terdapat beberapa lubang, itu menjadi kemungkinan bolpoin miliknya hilang.
Membosankan. Alya melepas hijabnya dan menatap langit-langit indekosnya, memikirkan Surti dan kedua adiknya. Apakah mereka sudah mendapatkan surat yang dikirimnya? Semoga saja mereka baik-baik saja.
Tok! Tok!
"Alya!" Ketukan pintu dan suara yang familiar di telinga, membuat Alya bergegas membuka pintu.
"Eh, Pak Adit." Alya membuka pintu lebih lebar. "Silahkan masuk, Pak."
Adit menggeleng dan menjawab, "Tidak usah, Al. Saya ke sini mau ngajak kamu beli sarapan. Kamu belum makan, kan?"
Alya menganggukkan kepalanya tak enak.
"Ya udah, yuk!" ajak Adit, lalu mendahului Alya masuk ke dalam mobil.
Alya segera menutup pintu dan menyusul Adit masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil tersebut bergerak membawa Alya dan Adit menuju ke sebuah tempat makan pinggir jalan, yang ternyata sudah penuh dengan orang yang sedang membeli sarapan.
"Ayo turun!" titah Adit yang langsung diangguki Alya.
Adit memesan makanan hanya untuk Alya, karena dirinya sudah menikmati sarapan di rumah bersama anak dan istrinya. Sebenarnya Alya sangat tidak enak jika harus memakan ini sendirian, tetapi karena ia sedang sangat lapar, persetan dengan semua itu. Lagi pula Adit sendiri tengah sibuk dengan ponselnya, ia tengah memeriksa email yang masuk, tentunya tentang pekerjaan.
"Sudah selesai?" tanya Adit, saat melihat Alya meminum.
Alya menengok ke arah Adit, lalu mengangguk tanpa melepas gelas yang berada di genggamannya.
"Ya udah, nanti pulang terus siap-siap buat ke kantor," ucap Adit yang kembali diangguki Alya.
"Oh iya, Pak. Nanti ke kantornya pake baju apa?" tanya Alya bingung, pasalnya ia sendiri baru pertama kali akan bekerja di sebuah kantor. Kalau di rumah makan Alya berpakaian bebas.
"Atasannya kemeja, bawahnya celana atau rok item," jawab Adit, sembari tetap fokus pada layar ponsel.
Alya berpikir sejenak, ia mengingat lagi baju-baju yang dibawanya dari rumah. Seingatnya, ia hanya membawa pakaian resmi yaitu seragam sekolah saja. Itu pun sudah kusam sekali, karena dipakai dari zamannya SMP.
"Eum ..., Pak Maaf. Saya adanya itu seragam sekolah hitam putih. Apa itu boleh?" tanya Alya dengan hati-hati.
Adit meletakkan ponselnya dan tampak berpikir sejenak, lalu ia menjawab, "Ya sudah gampang. Kamu pakai saja apa yang ada."
"Udah, yuk! Pulang!" Adit terlebih dahulu berdiri dan membayar makanan yang telah Alya habiskan, lalu merogoh kunci mobil dan masuk ke dalamnya, diikuti dengan Alya.
Tak ada obrolan sama sekali, hanya ada suara bisingnya kendaraan karena Alya sengaja membuka kaca mobil, untuk melihat pemandangan Kota Jakarta dan menghirup udara dingin yang masuk ke dalam hidung.
Sampai akhirnya mobil berhenti tepat di depan halaman indekos Alya. "Makasih banyak ya, Pak."
"Cepet beres-beres! Nanti 15 menit saya ke sini lagi!" perintah Adit sebelum akhirnya ia kembali melajukan mobilnya.
Alya segera merogoh kantong dan mengeluarkan kuncu indekosnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuh lagi, membuang seluruh keringat yang akan menyebabkan bau badan, lalu dengan segera mencari baju seragam yang dibawanya itu.
Warna baju putihnya tidak bisa dikatakan warna putih, lebih pas jika disebut kuning. Karena memang tampilannya sudah kusam, Alya menghembuskan napasnya dan membentengi diri supaya selalu tampil percaya diri, dengan apa yang dimiliki.
Rok hitamnya juga penuh dengan jahitan di bagian bawah, namanya juga rok murah, jadi mudah sekali untuk sobek. Namun, apalah daya. Alya segera memakai itu dan memakai hijab hitam juga, supaya senada.
Ia tak perlu memakai polesan apapun, karena memang wajahnya sudah putih dan bersih. Meskipun bibirnya tidak terlalu pink, tapi sudah senada dengan wajahnya. Selain itu, Alya juga tak memiliki alat-alat make up, berbeda dengan teman-temannya yang punya alat kecantikan sangat lengkap.
Tin! Tin!
Suara mobil terdengar sekali di telinga Alya.
"Cepat juga ya ternyata Pak Adit," gumam Alya sembari mengenakan sandal sepatu satu-satunya yang biasa ia gunakan.
Alya segera membuka pintu indekosnya dan kembali mengunci pintu tersebut.
"Al," ucap Adit yang sedang duduk di bagian depan mobilnya, tetapi ia berhenti berucap karena melihat penampilan Alya.