Alya heran, karena Adit menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. "Pak! Ada apa?"
"Itu baju seragam kamu?" tanya Adit spontan. Alya mengangguk ragu. "Memangnya kenapa, Pak?"
Adit menggeleng, lalu menatap jam yang melingkar di tangan kanannya. "Tidak. Ayo masuk mobil!"
Alya mengangguk dan segera membuka pintu mobil, lalu ia masuk dan memasang pengaman terlebih dahulu. Rasanya sangat canggung dan percaya diri Alya turun, setelah Adit bertanya seperti tadi. Berkali-kali Alya melihat pakaian yang dikenakannya, memang benar sih bajunya sudah tak layak pakai.
"Eh, kita sudah sampai, Pak?" tanya Alya, saat Adit menghentikan mobilnya dan melepaskan pengaman.
"Sudah turun saja dulu!" titah Adit, lalu ia terlebih dahulu keluar meninggalkan Alya yang masih kebingungan.
Saat Alya keluar, ia heran dengan bangunan yang ada di depannya. Bangunan megah dan mewah yang di dalamnya berisi berbagai macam pakaian. Alya meneguk ludahnya berkali-kali, karena ia baru pertama kali melihat tempat yang seperti ini. Sangat bagus.
"Ayo masuk!" titah Adit saat melihat Alya yang masih saja bengong.
Mendengar suara Adit, Alya segera menyusul langkahnya dengan tatapan yang tidak terlepas dari pandangan kagum.
"Sedang mencari apa, Pak?" tanya salah seorang karyawan.
Adit melirik ke arah Alya, lalu ia berucap, "Berikan dia pakaian yang sangat bagus." Setelah itu Adit melangkah ke tempat duduk yang dikhususkan untuk menunggu.
Setelah Adit berucap seperti itu, karyawan tadi langsung mengajak Alya mencari pakaian yang pas untuknya, setelah terpilih karyawan menyuruh Alya mengganti pakaian yang sedang dipakai di dalam ruang ganti. Alya mengangguk, sembari menerima pakaian yang diberikan karyawan tersebut.
Alya berjalan menuju ke ruang ganti, sambil membolak-balikkan pakaian yang sedang dipegangnya itu. Kemeja berwarna pink dengan pita kecil di atas kanan, dengan celana hitam polos yang bahannya itu sangat lembut. Alya benar-benar seperti bermimpi bisa merasakan pakaian seperti ini, padahal dulunya ia hanya bisa bermimpi untuk membeli pakaian ini.
Setelah keluar dari ruang ganti, karyawan menawarkan Alya mengganti hijabnya, dan Alya hanya mengangguk menyetujui tawaran tersebut. Setelah mendapatkan baju yang menurut karyawan bagus, Alya langsung melepaskan hijab yang dikenakan, lalu memakai hijab yang dipilihkan tadi dan sedikit dibenarkan modelnya oleh karyawan.
Hasilnya, sangat sangat menakjubkan. Alya menatap pantulan dirinya di cermin, dan sangat terkejut bahwa dia bisa secantik ini.
"Sudah selesai, Mba. Silahkan menuju ke ruang tunggu di sebelah sana dan menyerahkan ini ke kasir, untuk membayar pakaian yang sudah dipakai," jelas karyawan tadi, sambil menunjuk tempat tunggu dan menyerahkan kertas kecil yang sudah dipotong terlebih dulu dari pakaian yang dikenakan Alya.
Alya mengangguk dan melenggang pergi setelah mengucapkan terima kasih pada karyawan tadi.
"Pak," panggil Alya ragu, saat melihat Adit tengah duduk sembari membaca majalah yang dipegangnya.
Adit menoleh ke sunber suara dan ia sangat terkejut melihat perubahan penampilan Alya, sampai-sampai tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Pak!" Alya melambai-lambaikan tangan kanannya tepat di depan wajah Adit.
"Eh! Sebentar, saya ke kasir dulu." Adit mengerjapkan matanya, lalu melangkah menuju ke meja kasir untuk membayar pakaian yang sudah dikenakan Alya.
Alya yang bingung dengan kertas di tangannya pun memilih untuk membuntuti Adit.
"Ini untuk apa, Pak?" tanya Alya, saat sudah sampai di meja kasir.
"Oh iya!" Adit langsung mengambil kertas tersebut dan menyerahkan pada karyawan tersebut. Setelah membayar, Adit melangkahkan kaki keluar dari toko tersebut dan menghampiri mobilnya yang tengah terparkir.
Dengan segera Adit melajukan mobilnya menuju ke tempat kerja, Alya tak banyak berbicara, ia hanya duduk diam sambil menatap indahnya jalanan kota Jakarta. Sedangkan Adit, ia diam-diam mencuri pandang ke arah Alya. Karena menurutnya, Alya sangatlah cantik.
"Sudah sampai, Pak?" tanya Alya heran, saat Adit menghentikan laju mobilnya. Adit tak menjawab, melainkan langsung turun dan membereskan jas yang dipakainya.
Alya yang bingung, memilih untuk ikut turun juga dari mobil dan menghampiri Adit yang masih sibuk merapihkan pakaiannya.
"Ayo masuk! Kamu nanti langsung kerja di tempat yang bakal saya tunjukin," jelas Adit, lalu terlebih dulu melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan tempat ia bekerja.
Alya mengikuti langkah Adit dan ia benar-benar terpana dengan megahnya tempat yang ia pijak sekarang ini. Alya melirik ke arah Adit yang tengah berbicara dengan seorang perempuan cantik, perlahan ia mendekati Adit dan perempuan tersebut.
"Al, ini Cintiya," ucap Adit seraya menunjuk Cintiya yang sedang tersenyum. "Dan Cintiya, ini Alya." Alya juga melempar senyuman.
"Ayo, Al. Aku tunjukkin tempat kerja kamu," ajak Cintiya sambil tersenyum.
Alya mengangguk antusias dan mengikuti langkah Cintiya, sedangkan Adit sudah melangkah menuju ke lift untuk membawanya menuju lantai 15--ruangan ia bekerja.
Kedatangan Alya disambut hangat oleh karyawan yang berada di situ, apalagi oleh para lelaki yang terpana akan kecantikan Alya meskipun tanpa menggunakan make up. Hal itu tentu saja membuat Alya sangat senang, ia dengan sangat semangat mendengarkan penjelasan yang diucapkan oleh Cintiya. Mulai hari itu juga, Alya langsung bekerja sebagai karyawan.
"Loh! Bapak." Alya tersenyum sekaligus terkejut saat melihat wajah familiar yang ada di depannya ini.
"Panggil saya Alam aja," ucap Alam mengoreksi panggilan Alya. Alya tersenyum tak enak, sambil membenarkan posisi hijabnya.
"Ngomong-ngomong, kamu kok ada di sini?" tanya Alam heran.
"Eumm ... oh iya, saya karyawan baru di sini. Saya Alya," jawab Alya, lalu mengulurkan tangan kanannya dan disambut dengan tangan kanan milik Alam.
Dua orang yang terpaut usia 25 tahun itu berbincang sangat akrab, Alya sama sekali tak menyangka jika ia akan kembali bertemu dengan laki-laki baik hati yang menyelamatkan kebingungannya. Meskipun kembali bertemu di pintu keluar toilet, tetapi itu mampu membuat Alya bahagia. Sungguh, ini pertama kalinya ia merasakan hal ini.
"Nanti, jam makan siang saya ke sini lagi ya," ucap Alam saat mereka sampai di tempat duduk milik Alya.
Alya tak menjawab ucapan Alam, ia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum dan kembali duduk. Alam pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat duduk Alya.
"Al! Lo kok keliatan deket banget sama, Pak Alam?" tanya Cintiya yang langsung menghentikan kegiatannya. Alya menengok ke arah Cintiya dan melemparkan senyumannya.
"Dih! Lo kenapa sih, Al? Ditanyain malah senyum gitu?" sentak Cintiya yang takut Alya kenapa-napa.
"Gue cocok gak sih sama dia?" Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Alya, membuat Cintiya terkejut sekaligus bingung harus menjawab apa.
"Al, Pak Alam sudah beristri," tutur Cintiya yang membuat senyuman Alya langsung luntur.