Bersatu

1026 Kata
Setelah diberi peringatan dan informasi oleh Cintiya mengenai Alam, Alya hanya diam memikirkan nasib hatinya. Entah mengapa, ada rasa ingin memiliki dan tak rela jika pada kenyataannya Alam sudah beristri. Sebersit keinginan untuk menghancurkan rumah tangga Alam, tetapi Alya selalu mengurungkan niat tak baiknya itu. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang wanita, kehilangan adalah suatu hal yang sangat menyakitkan. "Al," tegur Alam yang sedari tadi memperhatikan Alya tengah diam, dengan tatapan kosong dan pandangan lurus ke depan. "Eh, Pak." Alya langsung tersadar dan mengerjapkan matanya, ia menatap ke sekeliling terlebih dulu. Barulah ia sadar, jika sekarang ini ia tengah berada di sebuah restoran dekat kantor tempat bekerjanya. "Ada masalah?" tanya Alam yang langsung dijawab gelengan oleh Alya. Alam menganggukkan kepala dan kembali berucap, "Ya sudah, kalau begitu makanannya dihabisin. Sebentar lagi akan masuk." Sambil melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Alya buru-buru melihat ke arah meja dan ternyata benar, makanan Alya sama sekali belum tersentuh. Dengan segera Alya menepis pikirannya terlebih dulu, lalu melahap makanan yang berada di depannya. "Harga makanan ini berapa, Pak?" tanya Alya setelah makanannya habis. Ia baru ingat, kalau uangnya hanya sisa beberapa puluh ribu. Alam tersenyum, lalu ia menjawab, "Tiga ratus ribu." Sebenarnya Alam tahu, kalau Alya pasti tengah memikirkan tentang biaya makanan yang baru saja habis. Alya terdiam sebentar, ia mengingat berapa jumlah uang yang berada di sakunya saat ini. Kalau menghitung di depan Alam, ia pasti akan sangat malu. "Kenapa, Al?" tanya Alam, sembari tersenyum penuh arti. Ia sudah memiliki rencana untuk hal ini, tentunya supaya ia bisa selalu lebih dekat dengan Alya. "Eumm ...." Alya merogoh sakunya, lalu mengeluarkan empat lembar uang sepuluh ribu dan meletakkannya di atas meja. Dengan sedikit ragu, Alya menatap wajah Alam yang masih memasang muka datar. "Pak, maaf. Alya cuma punya uang segitu, sisanya dibayar sama Bapak dulu ya. Nanti kalau Alya udah gajian, Alya ganti kok," ucap Alya dengan tatapan yang sangat meyakinkan. Alam tersenyum smirk, ini waktu yang tepat untuk mengeluarkan rencananya. "Okey, tidak apa-apa. Saya akan bayar makanan yang sudah kamu makan, dan ini kamu simpan aja lagi." Alam menyerahkan kembali uang yang tadi dikeluarkan Alya. "Enggak usah, Pak. Ini buat tambahan aja, Alya pinjem uang Bapak dulu buat sisanya." Setelah berucap seperti itu, Alya langsung menunduk. Ia tak berani menatap Alam, takut jika ucapan Alya akan membuat Alam marah kepadanya. "Tidak usah. Saya enggak butuh uang punya kamu, simpan lagi aja uangnya!" titah Alam dengan nada tanpa penolakan. Alya kembali menatap Alam yang juga tengah menatapnya, lalu ia berucap, "Ini beneran, Pak?" Alam menganggukkan kepalanya, lalu ia memanggil salah satu waiters dan meminta total dari makanan yang sudah selesai dimakan itu. Di depan Alya, Alam mengeluarkan dompet miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu. Hal itu benar-benar membuat Alya kaget, sekaligus meneguk ludahnya berkali-kali. Pasalnya, ia tak pernah melihat penampakan uang yang sebanyak itu. "Makasih banyak ya, Pak," ucap Alya sambil tersenyum. "Nanti pasti Alya ganti," sambungnya lagi. Mendengar ucapan Alya barusan, Alam menggelengkan kepalanya membuat Alya bingung. "Saya tidak butuh uang kamu, disimpan aja," ujar Alam. Tangannya perlahan menggenggam tangan Alya dan menautkan dengan jari-jarinya. Alya heran apa yang sedang dilakukan atasannya itu, ia ingin melepaskan tautan jari-jari Alam. Namun, Alam menggenggam tangannya dengan sangat erat. "Saya tertarik sama kamu, saya harap kamu ngasih kesempatan buat saya," tutur Alam dengan sorot mata penuh harap. Alya bingung apa yang akan dijawabnya, sebenarnya ini adalah kesempatan untuk mengetahui rasa nyaman yang sudah hadir sejak pertama kali bertemu. Alya menarik napasnya pelan-pelan, lalu ia bertanya, "Bukannya Bapak sudah punya istri?" Mendengar pertanyaan Alya, Alam sedikit berdeham. Hal itu ia lakukan supaya mengurangi rasa sakit yang ada di hatinya. "Eum ... maaf ya, Pak kalau pertanyaan Alya salah." Alya merutuki ucapannya, kenapa juga sih harus menanyakan hal itu? Ia memilih untuk menggigit bibir bawahnya. Sampai akhirnya, Alam melepas tautan tangannya dan menarik napas pelan-pelan untuk bercerita sedikit dengan Alya, tentang perasaannya akhir-akhir ini. "Saya memang sudah punya istri, tapi perlu kamu tahu. Semenjak jabatan saya naik jadi direktur, istri saya itu bener-bener berubah. Saya enggak pernah lagi bertemu dengan yang namanya perhatian, kasih sayang, atau apapun yang biasa dilakukan istri saya," tutur Alam dengan menunduk. "Pas saya ketemu kamu, saya bener-bener tertarik sama kamu. Jujur, saya juga pengen banget dikasih perhatian, walaupun dari hal-hal kecil." Alya mendengarkan semua cerita yang diucapkan Alam, ada sedikit rasa kasihan padanya. Ia juga ingin sekali rasanya memberi perhatian pada Alam dan juga menduduki sebagai ratu di dalam hati Alam. "Saya mohon, kamu mau kan jadi kekasih saya?" tanya Alam sekali lagi, ia menaruh harapan banyak pada Alya. Alya menganggukkan kepalanya ragu, hal itu membuat Alam benar-benar senang. Terlihat dari wajahnya yang langsung berseri-seri. "Kamu beneran kan? Gak bercanda?" "Iya Pak, Alya juga suka sama Bapak," ungkap Alya sambil tersenyum. "Makasih banyak ya, Sayang." Panggilan Alam untuk Alya langsung berubah, lalu mencium punggung kedua tangan milik Alya. "Oh iya, kamu jangan manggil pake pak dong," pinta Alam tanpa melepas genggaman tangannya. Alya mengernyit, dirinya bingung harus memanggil dengan kata apa. Mengerti akan hal itu, Alam langsung berucap, "Mas. Kamu silahkan panggil saya pake 'mas'." "Mas Alam?" tanya Alya meyakinkan, sekaligus mencoba panggilan tersebut. Alam tersenyum senang dan kembali mencium punggung tangan Alya. "Makasih ya. Jangan bersikap formal kalau di depan saya," ucap Alam yang langsung diangguki Alya. Setelah itu, Alam bangkit dari tempat duduknya dan kembali menggenggam tangan Alya, lalu keluar dari restoran tersebut sambil sedikit bercanda dengan Alya yang mudah sekali tertawa. Alam masuk ke dalam tempat duduk pengemudi, setelah membukakan pintu untuk Alya masuk. Sepanjang itu, ia sama sekali tak melunturkan senyuman dari bibirnya. Rasa senang benar-benar mendominasi saat ini, tak henti-hentinya ia menatap dengan rasa kagum pada Alya. Sesaat, Alya teringat akan keluarganya di kampung. Bagaimana keadaan mak dan kedua adiknya, ada rencana licik yang akan dilakukan Alya untuk Alam, dan ia berdoa supaya rencananya bisa berjalan dengan mulus tanpa ada halangan. Tanpa ada perintah apapun dari Alam, Alya tiba-tiba memegang lengan Alam dan menaruh kepalanya di situ, lalu tersenyum saat Alam menatapnya dengan tatapan senang. Ini adalah awal dari rencana selanjutnya yang baru saja terpikirkan oleh Alya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN