"Kenapa dilepas tangannya?" tanya Alam saat mereka sudah berada di parkiran kantor.
"Gak enak, tadi ada yang liatin kita," jawab Alya sambil melihat keadaan sekitar.
Alam kembali menggenggam tangan Alya dan berucap, "Jangan hiraukan pandangan orang-orang. Kalau mereka tau, justru saya akan sangat bangga."
Mendengar ucapan Alam, hati Alya seketika berdesir dan tersenyum. Ia membalas genggaman tangan Alam dengan sangat erat, seakan-akan takut kehilangannya. Semoga saja apa yang dilakukan Alya itu adalah hal yang benar.
Benar saja, semua sorot mata melempar tatapan tajam pada Alya, apalagi saat mereka melihat dua tangan yang bertautan. Alya menatap Alam dengan mata takut, tetapi Alam membalasnya dengan senyuman dan itu cukup membuat hati Alya tenang.
"Saya ke ruangan ya. Kerja yang fokus," pamit Alam dan melangkahkan kaki meninggalkan Alya.
Setelah Alam benar-benar pergi dari sisi Alya, Cintiya buru-buru menghampiri Alya dan langsung menanyakan apa yang sudah sedari tadi mengganjal di hatinya. "Al, jangan bilang lo sama Pak Alam udah ...." Cintiya tak melanjutkan ucapannya, ia hanya memperagakan dengan kedua tangan yang disatukan.
"Apaan sih, gak jelas banget deh lo." Alya langsung menoyor kepala Cintiya dan mulai menyalakan komputer di depannya.
"Eh, Al! Jawab pertanyaan gue dulu dong," pinta Cintiya dengan nada menyentak di awalnya.
"Pertanyaan apaan sih?" tanya Alya berpura-pura tak mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Cintiya tadi.
"Huftt ... lo sama Pak Alam punya hubungan lebih?" Kini Cintiya menatap Alya lebih tajam dari yang tadi. Alya yang ditatap seperti itu hanya mengeluarkan senyumannya dan sedetik setelah itu, ia mengangguk ringan.
"What! Lo jangan ngaco deh, Al!" sentak Cintiya lagi. Suaranya yang melengking membuat pegawai lain menatap tajam mereka berdua, ada juga yang berusaha mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Apalagi, Alya adalah pegawai baru di sini, tetapi sudah mampu menggaet hati Pak Alam yang dikenal dengan irit bicaranya.
Melihat reaksi para pegawai di sekitar, Alya langsung menempelkan telunjuknya di bibir, lalu berucap, "Nanti aja gue ceritanya, sekarang kerja dulu yang bener." Mendengar tanggapan dari Alya, Cintiya hanya bisa menghembuskan napas kasar dan kembali fokus melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa jam telah berlalu, tepat sekali saat Cintiya melirik ke arah jam, jarum tersebut berada di angka lima. Yang berarti waktu kerjanya telah habis, dengan rasa gembira Cintiya buru-buru membereskan perlatan miliknya.
"Eh, lo mau ke mana?" tanya Alya bingung, saat melihat Cintiya yang tengah sibuk membereskan tempat kerjanya.
"Sekarang udah jam lima sore, Al. Lo mau nginep di sini?" jawab Cintiya menatap Alya dan menghentikan aktivitasnya.
"Ya enggaklah! enak aja. Lagian, lo enggak ngasih tau gue sama sekali." Alya juga segera mengemasi barang-barang yang ada di atas mejanya.
"Hehe ya maap, kan kita belum punya banyak waktu buat ngobrol," sahut Cintiya, ia sedikit terkejut dengan kedatangan Alam yang tiba-tiba dan sudah berada di belakang Alya. Mungkin saja, karena Cintiya yang sedari tadi sibuk membereskan peralatan miliknya.
Dengan segera, Cintiya mengambil tas miliknya. "Al, gue duluan ya." Sembari tersenyum dan melambaikan tangan kanan.
"Eh, lo gak nungguin gue? Aduh!" Alya terkejut, saat wajahnya menempel di d**a bidang seorang pria. Saat ia melihat ke arah wajah, senyumannya mengembang, lalu ia menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk orang tersebut.
"Sudah selesai?" tanya Alam sambil membalas pelukan Alya. Mereka mengumbar kemesraan dengan secara terang-terangan di depan karyawan yang masih berada di situ, sehingga menimbulkan omongan-omongan pedas dan juga bisik-bisik yang membicarakan Alya dengan Alam.
"Sebentar lagi, tinggal matiin komputer." Alya melepas pelukannya, lalu dengan segera mematikan komputer tersebut.
Setelah itu, Alya dan Alam pergi keluar dari kantor. Jangan lupakan dengan tangan mereka yang dari tadi saling bertautan. Sesekali Alam melempar sebuah candaan, membuat Alya harus menahan sakit di perutnya karena menahan sebuah kelucuan yang dilontarkan oleh Alam.
"Oh iya, kita mau ke mana, Mas?" tanya Alya saat mobil sudah bergerak beberapa menit lalu.
Alam menatap Alya, lalu menjawab, "Kamu mau pulang enggak sih?"
Alya mengangguk ragu, lalu ia kembali berucap, "Tapi Alya enggak tau jalan ke kosan Alya, Mas."
"Dan saya udah tau, Sayang." Alam mencubit gemas pipi Alya dan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Laper lagi enggak? Kalo laper nanti kita makan dulu sebentar," ucap Alam sambil menatap Alya sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Laper sih, tapi nanti aja deh. Belum laper banget kok." Alya tersenyum dan menatap wajah kekasihnya itu dari samping, lalu pandangannya berpindah menuju ke arah jalanan yang terlihat dari kaca mobil.
Baru beberapa detik Alya berucap seperti itu, tiba-tiba mobil milik Adam sudah terparkir rapih di barisan tempat parkir. "Ayo keluar, Sayang. Kita makan dulu yuk! Kebetulan saya juga sudah lapar."
Alya yang baru mengerti maksud dari ucapan Alam pun segera keluar dari mobil dan membereskan pakaian yang dikenakannya. Setelah Alam juga keluar dari mobil, Alya langsung menggandeng tangan Alam dan berjalan mesra layaknya pasangan pada umumnya.
"Ayah!" Suara tinggi yang berasal dari laki-laki tampan yang ada di depan Alya dan Alam membuat Alya terkejut dan mengeratkan gandengan tangannya pada Alam. Sebagai seorang laki-laki, Alam paham betul jika Alya tengah ketakutan, ia menyentuh tangan Alya dan menganggukkan kepalanya. Memberikan isyarat bahwa semua baik-baik saja.
Alam berlalu dari depan laki-laki tersebut tanpa ada sepatah kata pun yang keluar, lalu segera masuk ke dalam restoran dan memesan makanan yang cukup untuk dirinya dan juga Alya. Sembari menunggu pesanan datang, Alya ingin sekali bertanya pada Alam tentang laki-laki yang ditemuinya tadi. Mengapa dia memanggil Alam dengan sebutan Ayah? Apakah benar jika orang tersebut adakah anak dari Alam?
"Eum ..., Mas. Alya boleh nanya?" tanya Alya dengan sangat hati-hati.
Alam menatap kekasihnya, lalu mengangguk. Memberi jawaban atas pertanyaan yang terlontar tadi. "Kamu boleh bertanya apa saja, kecuali tentang laki-laki tadi. Karena saya tidak akan menjawabnya. Akan saya beritahu siapa dia. Namun, bukan sekarang, karena bukan waktu yang tepat."
Mendengar jawaban Adit yang langsung menuju ke inti, membuat Alya seketika langsung bungkam dan memilih untuk melihat-lihat dekorasi restoran yang ada saat ini.
"Maaf, Sayang. Bukannya saya gak terbuka sama kamu, tapi memang sekarang itu bukan waktu yang tepat untuk kamu tahu semuanya," ucap Alam sambil meraih kedua tangan Alya, lalu mencium dengan sangat lembut.
Alya menatap Alam, lalu ia kembali bersuara dan bertanya, "Apa itu anak kamu, Mas? Iya kan?"