Wira bingung apa yang harus ia lakujan. Berjalan mendekat ke arah ibunya yang tengah berteriak frustasi, lalu membawa kepala Monik ke dalam pelukannya, sambil berucap, “Bu, tenang dulu. Yang sabar!” Tak ada gerakan memberontak yang dilakukan oleh Monik, hanya saja bahunya bergetar lebih kencang dari biasanya. Menandakan bahwa Monik tengah menangis tersedu-sedu. “Tolong ambilin ponsel Ibu, Nak!” titah Monik, saat dirinya sudah menarik dari pelukan Wira. Wira mengangguk, lalu mengambil ponsel yang berada di atas nakas dan menyerahkannya pada Monik. “Ini, Bu. Mau buat apa? Ngasih tau ayah?” tanya Wira langsung. “Hah? Enggak lah! Ibu mau telepon orang lain!” Mendengar jawaban yang keluar dari Monik, Wira langsung mengernyitkan dahinya. “Maksud Ibu apa? Ibu juga selingkuh? Sama kek Ayah?”

