Tubuh Keyli merosot dalam pelukan Leonor, bukan karena menyerah, melainkan karena kehabisan tenaga. Dingin dan lelah telah menggerogoti setiap sendinya. Tangannya yang semula berusaha melepaskan diri, kini mencengkeram erat pakaian Leonor, mencari pijakan di tengah badai yang membasahi mereka berdua. Bau samar parfum mahal dari tubuh Leonor bercampur dengan aroma tanah basah dan hujan, menciptakan sensasi aneh yang tak asing sekaligus membingungkan bagi Keyli. Ia menengadah, mata Keyli yang redup bertemu pandang dengan mata Leonor yang tajam, penuh pertanyaan. Matanya menelusuri wajah Keyli yang pucat, bibirnya yang membiru, dan rambutnya yang basah kuyup menempel di dahi. “Leonor ...,” Suara Keyli tercekat, nama itu terucap nyaris tanpa sadar tak terdengar di tengah riuhnya alam. Nam

