Setelah Keyli selesai di toilet, ia keluar dari area toilet wanita. Sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya dengan kuat, begitu kuat hingga ia hampir tersentak. Keyli berbalik dengan kaget, dan matanya membelalak sempurna melihat Hudson berdiri di sana, rahangnya terkatup rapat, dan matanya menyala-nyala marah. "Hudson?" Keyli tergagap, darahnya berdesir dingin. Ia tak menyangka akan bertemu suaminya di tempat dan waktu seperti ini. Tanpa sepatah kata pun, Hudson menarik paksa Keyli, menyeretnya melewati lorong-lorong sepi menuju lift lain yang lebih terpencil. Kekuatan cengkeramannya membuat pergelangan tangan Keyli terasa nyeri, tapi ia tak berani melawan. Wajah Hudson begitu gelap, menunjukkan badai emosi yang siap meledak. Mereka naik ke salah satu lantai atas dalam keheningan

