Pukulan Putus Asa

1546 Kata

Leonor menyaksikan adegan itu dengan mata sedingin baja, seolah tidak ada emosi yang mampu menembus perisainya. Di hadapannya, Keyli memeluk erat jasad Hudson yang berlumuran darah, jeritan histerisnya merobek keheningan ruangan yang dipenuhi bau anyir dan kematian. Setiap tarikan napas Keyli adalah tangisan putus asa yang menyayat hati, sebuah melodi pilu dari jiwa yang tercabik. Leonor mengayunkan tangannya, memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang sudah sigap di ambang pintu. Wajah mereka datar, tak menunjukkan secuil pun empati, hanya fokus pada perintah sang Tuan. "Lepaskan dia," perintah Leonor, suaranya tenang, namun memiliki otoritas mutlak yang tak bisa dibantah. Dua sosok berbadan tegap itu bergerak mendekat. Salah satu dari mereka membungkuk, meraih lengan Keyli yang mence

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN