Pagi hari pun tiba, Granat lebih dulu terbangun dari pada Ayriszya. Dia menatap gadis itu dengan sangat lekat. Granat masih kepikiran dengan pria yang Ayriszya akui sebagai kekasih istrinya sendiri. Pria itu membelai lembut wajah Ayriszya, ia begitu merasa tenang saat melihat wajah gadis yang begitu cantik bagi dirinya. Kemudian Granat mendekatkan wajahnya kearah gadis itu. Saat dia hendak mengecup bibir Ayriszya, ia mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut. “Kalau dia bangun terus dia marah gimana? Saya tidak mau dia meninggalkan saya.” Granat melihat tubuh Ayriszya bergerak, saat gadis itu bangun. Dia buru-buru menutup matanya seolah-olah masih tertidur. “Nggak usah pura-pura gue tau lo udah bangun.” ucap Ayriszya. “Buka mata lo.” Ayriszya menggoyangkan tubuh pria

