Dinar terdiam menunduk dalam perjalanan pulang. Sesekali ia membingkai wajah Arya dengan hati yang perih. Ada banyak luka yang harus ia bebat dengan kemandirian. Sandaran yang seharusnya mampu menguatkan nyatanya hanyalah fatamorgana. Dinar menertawai kebodohannya sendiri dalam keheningan. Cinta yang ia harapkan mampu membuatnya bahagia nyatanya kini telah lepas dari dekapan. Laki-laki yang seharusnya menjadi sandaran kepalanya atas semua yang menimpa, nyatanya lebih dulu diambil Sang Pemilik Kehidupan. Kini didepannya ada suami yang seharusnya menjadi pelindung dan pelipur lara, nyatanya hanyalah sebatas status. Bak pernikahan kontrak yang hanya terlihat manis di depan orang lain dan penuh borok di dalamnya. Tak ada yang bisa diharapkan selain dirinya sendiri. Berdiri di atas dua kak

