Lunaria masih berdiri menatap punggung Leonard yang meninggalkannya di ruang tamu. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada sebuah koper besar dan beberapa tas miliknya yang kemarin baru saja diantarkan oleh sopir ke apartemen Leonard. Semua barang itu masih tergeletak di ruang tamu. Bagaimana caranya membawa semua itu ke kamar?
Lagi pula, Lunaria belum tahu kamar yang mana yang harus ia tempati. Baru hari ini ia menjejakkan kaki di apartemen mewah milik suaminya. Sekarang Leonard meninggalkannya begitu saja tanpa sedikit pun mengajaknya melihat-lihat isi unit apartemen. Dasar pria menyebalkan! Dengan langkah gusar, Lunaria beranjak menuju kamar Leonard.
"Leonard!" Lunaria mengetuk pintu.
Tak ada sahutan, sehingga Lunaria mengetuk pintu kembali. "Leonard! Keluarlah sebentar."
Lunaria menunggu sejenak. Tak lama Leonard membuka pintu dengan raut wajah sebal.
"Ada apa? Kamu mengangguku yang sedang mencoba tidur," sungut Leonard.
"Bantu aku membawa koper dan semua barang-barangku ke kamar," pinta Lunaria. "Dan kamar mana yang harus aku tempati?"
"Itu ada dua kamar di sebelah sana." Leonard menunjuk ke arah kiri. "Pilih saja mana yang kamu mau."
Leonard sudah akan menutup pintu lagi, tetapi Lunaria menahannya.
"Ada apa lagi?"
"Bantu aku membawa barang-barangku ke kamar," pinta Lunaria lagi.
"Kenapa aku harus membantumu?" Leonard menyilangkan lengan.
"Karena kamu suamiku." Lunaria berdehem dan segera melarat ucapannya. "Maksudku kamu adalah seorang pria, sudah seharusnya kamu membantu wanita."
Leonard memutar bola matanya, lalu menutup pintu kembali. Ia masih merasa kesal pada Lunaria. Wanita itu sudah menolak untuk tidur sekamar dengannya. Sekarang seenaknya saja memintanya membantu membawakan semua barang-barang itu. Lunaria yang tak kalah kesal, kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar Leonard.
"Leonard! Kenapa kamu malah masuk kamar lagi?! Ayo, bantu aku!" gerutu Lunaria.
"Kamu bawa saja sendiri!" sahut Leonard dari dalam.
"Dasar! Pria macam apa membiarkan seorang wanita membawa barang-barang berat seorang diri!" Lunaria berdecak sambil menendang pintu kamar Leonard.
Dengan raut wajah marah, Lunaria berjalan kembali menuju ruang tamu dan mencoba membawa barang-barangnya. Sial sekali di penthouse itu tidak ada asisten rumah tangga. Leonard hanya menggunakan jasa cleaning service untuk membersihkan unit apartemennya.
Sudah berulang kali Lunaria mencoba membawa kopernya, tetapi gagal. Meski memiliki roda, koper tersebut tetap terasa berat. Lunaria mengembuskan napas kencang sambil berdiri menatap semua barang-barangnya. Apa dia minta tolong asisten rumah tangga di rumah papanya untuk datang kemari saja?
Di tengah kebimbangannya, Lunaria mendengar suara Leonard berdehem. Ia menoleh dan mendapati pria itu sudah berdiri di belakangnya. Ternyata Leonard tak tega juga membayangkan Lunaria membawa semua barang-barang berat itu ke kamarnya seorang diri. Berusaha membuang kekesalannya, ia pun berniat membantu Lunaria.
"Tidak usah!" sergah Lunaria ketika Leonard ingin membawakan kopernya.
"Bukannya tadi kamu meminta tolong padaku untuk membantumu membawa semua ini?" tanya Leonard.
"Tidak jadi. Aku bisa sendiri." Lunaria bersungut.
"Oh, ya, sudah." Leonard berbalik ingin kembali ke kamarnya.
"Eh, jangan begitu." Lunaria menarik baju suaminya. "Dasar kamu tidak peka, Leonard!"
"Jadi kamu mau dibantu atau tidak?"
"Ya, mau." Lunaria mengalihkan pandangannya.
Leonard mencibir, tetapi ia tetap membawakan barang-barang Lunaria ke sebuah kamar yang berukuran cukup besar. Lunaria membantu membawakan beberapa tas-tas yang lebih kecil. Setelah semuanya selesai, Leonard kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur yang tertunda.
Setelah mengucapkan terima kasih pada pria itu, Lunaria menutup pintu kamarnya dari dalam. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Kamar itu bersih dan rapi, tetapi desain interiornya terlalu maskulin. Sepertinya Lunaria harus mengubahnya agar terlihat lebih feminin.
Namun tentu saja ia tak melakukannya saat itu juga. Setelah menyusun barang-barangnya ke lemari, ia merebahkan diri ke atas ranjang. Meskipun tadi malam tidurnya cukup nyenyak, tetapi rasa letih bersanding di pelaminan kemarin belum sepenuhnya hilang. Badannya masih terasa pegal dan tak menunggu waktu lama ia terlelap hingga hari berubah gelap.
Malamnya Lunaria bergegas keluar kamar dan beranjak ke dapur ketika perutnya terasa lapar. Ia membuka isi lemari pendingin dan isinya hanya dipenuhi dengan buah dan camilan kering. Tak ada bahan masakan yang bisa diolah. Ia pun memutuskan untuk membeli makanan secara delivery, memesan dua porsi makanan berat untuknya dan Leonard serta beberapa penganan pelengkap.
"Lunaria." Suara Leonard terdengar.
"Aku di sini," sahut Lunaria arah dapur.
"Kamu sudah makan malam?"
"Belum. Ini baru mau makan. Tadi aku memesan makanan secara delivery."
Lunaria terlihat memindahkan makanan dari kemasan ke beberapa piring, lalu menatanya di atas meja makan. Setelahnya, mereka duduk berseberangan dan mulai menikmati hidangan mereka masing-masing. Tak ada yang bicara di antara mereka untuk beberapa lama.
"Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam di luar." Leonard membuka obrolan.
"Aku sedang malas keluar." Lunaria meneguk minumannya sebelum kembali melanjutkan mengunyah.
"Malam ini aku tidak memasak karena masih merasa letih. Lagi pula, tidak ada bahan masakan di dalam kulkas. Jadi, aku memutuskan membeli makanan saja," lanjut Lunaria lagi.
"Kamu tidak perlu harus selalu memasak, aku tidak mau merepotkanmu. Kita bisa beli makanan atau makan malam di luar saja," ujar Leonard.
Lunaria menggeleng. "Sama sekali aku tidak merasa repot jika memang sempat memasak. Aku seorang chef, tentu saja aku suka memasak."
"Terserahmu saja." Leonard mengedikkan bahu.
Kembali keheningan meliputi mereka untuk beberapa saat. Hanya terdengar denting peralatan makan yang beradu. Meskipun mereka tidak mesra layaknya suami istri, paling tidak mereka sudah tidak bertengkar lagi. Apalagi sejak menikah, mereka sudah saling memanggil aku-kamu sehingga tidak terlalu formal lagi saat berbicara.
Leonard berdehem. "Kamu mau kita memiliki asisten rumah tangga di apartemen ini, Lunaria?"
"Kamu gila?!" sungut Lunaria. "Kita tidak tidur sekamar. Nanti kalau ketahuan bagaimana?"
"Kamu tidak perlu menyebutku gila! Lagi pula, kamu sendiri yang tidak mau tidur sekamar!" balas Leonard.
"Ya, sudah. Makanya kubilang jangan ada orang lain selain kita di apartemen ini," jawab Lunaria santai.
"Lalu bagaimana kalau nanti orang tua kita datang?"
Lunaria terdiam sejenak sebelum berkata, "Akan kita pikirkan nanti."
"Idemu tidur di kamar terpisah memang aneh. Kamu merepotkan dirimu karena ulahmu sendiri." Leonard tersenyum sinis.
Tak menyahut, Lunaria hanya mengedikkan bahu mendengar sindiran suaminya itu.
Baru saja mereka berdamai, mereka sudah mulai ribut lagi. Kekesalan kembali muncul di hati Leonard. Seharusnya mereka membicarakan rencana bulan madu untuk mereka berdua nanti, bukannya malah sibuk bertengkar setiap kali bertemu seperti yang mereka lakukan sepanjang hari ini.
Tak ubahnya dengan Leonard, Lunaria pun merasa kesal. Pria yang jadi suaminya itu selalu saja bersikap menyebalkan baginya. Setelah menghentikan pertikaian, mereka pun saling berdiam diri lagi. Sebentar lagi malam akan habis. Hari pertama pernikahan mereka akan segera berlalu.
***
Sementara itu, di suatu studio seorang model profesional sedang melakukan sesi pemotretan. Berulang kali ia memutar tubuhnya untuk melalukan pose sesuai arahan fotografer. Sang fotografer tampak bersemangat mengambil foto model yang bertubuh semampai itu. Cahaya kamera terlihat berkilat tak henti.
Tak berapa lama, sesi pemotetran selesai. Fotografer mengacungkan jempolnya ke arah model. Para kru beristirahat sebentar sebelum melakukan sesi pemotretan dengan model yang lain. Helen menghela napas lega melihat fotografer dan kru yang merasa puas dengan kerjanya.
Dengan langkah riang, ia berjalan menemui beberapa teman modelnya yang juga sudah selesai melakukan pemotretan. Mereka terlihat sedang bercengkerama dan tertawa. Melihat kedatangan Helen, mereka langsung berseru mengajak wanita itu bergabung dalam obrolan.
"Wah, kamu terlihat gembira malam ini, Helen." Meira berkomentar.
"Tentu saja. Akhirnya pekerjaanku selesai setelah dua hari ini aku tak bisa beristirahat," jawab Helen sambil meneguk minumannya.
"Tapi apakah kamu sudah mendengar berita itu?" tanya Sally ragu.
Helen mengernyit. "Berita apa?"
"Berita pernikahan mantan pacarmu itu."
"Mantan pacar?" Helen belum mengerti maksud perkataan Sally.
"Jadi kamu benar-benar belum tahu?" Meira penasaran.
Helen menggeleng.
"Leonard Tanadi yang sering terlibat skandal denganmu itu adalah mantan pacarmu, bukan? Dia sudah menikah kemarin," ujar Meira lagi.
"Apa?! Leonard menikah?" Helen membulatkan matanya.
"Benar. Leonard menikah dengan seorang chef yang bekerja di The Bright Moon Hotel. Kemarin masuk infotainment karena ternyata chef itu cukup terkenal," jelas Sally.
Masih tak percaya dengan ucapan teman-temannya, Helen terdiam sejenak. Dua hari ini ia memang sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak terlalu memperhatikan media sosial, infotainment, atau pemberitaan lainnya. Perlahan ia meraih ponselnya dan memilih menu penelusuran untuk mencari berita tentang pernikahan Leonard.
Sesaat kemudian laman pencarian menunjukkan beberapa artikel berita yang berkaitan dengan pernikahan mantan pacarnya itu. Jemarinya memilih salah satu dari judul berita tersebut. Ia menggigit bibir membaca isi berita. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Meira dan Sally bahwa Leonard telah menikah.
"Kamu bilang kalian masih berteman baik meski sudah putus. Tapi sepertinya tidak begitu. Jangankan diundang, kabar pernikahannya saja kamu tidak tahu." Meira menggoda Helen sambil mengulum senyum.
"Helen juga pernah bilang bahwa Leonard masih mencintainya. Ternyata tidak seperti itu," imbuh Sally ikut memanas-manasi.
"Mungkin kamu yang masih mencintainya, Helen." Meira tertawa geli.
Mendengar ucapan Meira, Sally ikut tertawa. Mereka terdiam saat Helen menatap mereka sinis. Dengan raut wajah kesal, Helen bangkit dari duduknya, lantas meninggalkan mereka. Meira dan Sally hanya mengedikkan bahu melihat sikap Helen. Setelah Helen berlalu, mereka kembali terbahak menertawakan teman mereka itu.
Helen beranjak ke toilet dan mencuci mukanya dengan air yang mengucur dari keran di wastafel untuk meredakan amarah. Ia lalu memukulkan kedua tangannya pada marmer wastafel, menahan geram. Kenapa Leonard menikah tanpa memberitahunya? Dan kenapa Leonard memutuskan untuk menikah?
"Awas kamu, Leo!" desis Helen.
Sungguh Helen tak mampu menahan cemburunya. Wanita yang menjadi istri Leonard itu memang cantik, namun dirinya juga tidak kalah cantik. Apa kurangnya dia dibandingkan wanita bernama Lunaria itu? Helen tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri. Setelah amarahnya sedikit mereda, ia meninggalkan toilet.
***