Aku menggeliat ketika alarm ponsel berbunyi. Tubuhku masih terasa pegal dan masih ingin beristirahat, tetapi hari ini aku sudah harus masuk kerja. Dengan malas aku bangkit dari ranjangku dan bergegas menuju toilet. Sengaja aku mandi air dingin agar merasa lebih segar dan bersemangat.
Usai mandi, aku memutuskan untuk membuat beberapa potong sandwich di dapur. Aku menoleh ketika kudengar suara langkah kaki. Leonard berjalan ke arahku dengan pakaian kerjanya yang rapi. Aku sudah beberapa kali melihatnya mengenakan setelan jas, tentu saja. Namun kenapa pagi ini ia terlihat sangat tampan?
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu?" tanya Leonard.
"Ah, tidak. Hanya saja kamu terlihat tampan menggunakan setelan jas itu," jawabku jujur.
"Aku memang tampan. Kamu saja yang baru menyadarinya." Leonard berkata jumawa.
Aku memutar bola mata mendengar ucapannya. Dasar pria narsis! Menyesal aku memujinya. Kalau tak ingat dia sudah jadi suamiku, mungkin akan kudebat dia seperti saat pertama kali kami bertemu. Namun aku sedang tak ingin berdebat pagi ini. Tak ingin suasana hatiku menjadi buruk dan membuatku malas bekerja.
"Makanlah sandwich ini sebelum kamu berangkat kerja." Tanganku menunjuk sepiring sandwich yang sudah kusajikan.
Leonard menurut dan duduk di seberangku. Kami mulai mengunyah makanan kami tanpa bersuara. Tiba-tiba ponselku bergetar dan nama Pedro tertera di layar. Aku baru ingat bahwa aku tidak jadi menghubunginya tadi malam. Seminggu ini aku sengaja mengabaikannya karena aku sangat sibuk dengan urusan pernikahan. Hanya membalas pesannya sesekali.
"Halo, Pedro," sapaku pelan setelah mengangkat telepon.
Kulirik Leonard yang melihat ke arahku saat kusebut nama Pedro. Namun aku pura-pura tak memperhatikannya. Ia pun kembali mengunyah sandwich di tangannya.
"Halo, Sayang. Akhirnya kamu mengangkat teleponku juga." Suara Pedro terdengar di seberang sana.
"Apa kabarmu?"
"Baik-baik saja. Tapi aku tidak bersemangat karena seminggu ini kamu tidak mengangkat telepon dariku dan sangat jarang membalas pesanku," jawab Pedro.
"Maaf, ya, Pedro. Aku memang sangat sibuk dengan pekerjaan belakangan ini," dalihku.
Mendengarku berbohong, Leonard tertawa pelan. Tampaknya dia mengejekku. Menyebalkan! Aku pun bangkit dari duduk dan beranjak ke kamar untuk melanjutkan percakapanku dengan Pedro. Kututup telepon setelah mengatakan bahwa aku akan menemuinya malam ini. Lalu aku kembali ke dapur untuk menyelesaikan sarapan.
Kubatalkan melanjutkan sarapan karena kulihat hari sudah terang. Segera aku mengenakan sepatu, kemudian meraih tasku yang berada di atas meja makan.
"Kamu belum menyelesaikan sarapan," ucap Leonard saat melihatku akan beranjak.
"Aku sudah terlambat."
"Jadi kamu belum mengatakan pada Pedro bahwa kita sudah menikah?" tanya Leonard sambil bangkit dari duduknya.
Pertanyaan Leonard menghentikan langkahku. "Belum. Dan aku akan ke rumahnya malam ini untuk memberi tahunya."
Leonard mengernyit. "Kamu akan ke rumahnya malam ini?"
"Ya. Memangnya kenapa?" Aku menyilangkan lengan.
"Tidak apa-apa. Kalau kamu menginap di rumahnya pun, aku tidak peduli." Leonard merapikan jasnya sejenak, kemudian berlalu meninggalkanku.
Siapa pula yang ingin dipedulikan olehnya? Aku mencibir, lantas mengikuti langkahnya meninggalkan apartemen. Selama berada di dalam lift menuju basement kami tidak saling bicara. Begitu pun saat berada di basement, kami langsung menuju mobil masing-masing untuk berangkat kerja.
Setibanya di hotel, aku langsung menuju loker untuk meletakkan tasku. Lalu mengenakan apron dan perlengkapan lainnya sebelum bergegas menuju dapur. Para cook helpers sudah menyiapkan bahan masakan. Mereka tersenyum begitu melihatku memasuki dapur.
"Good morning," sapaku.
"Good morning, Chef Luna. Happy wedding once again!" seru mereka bersamaan.
"Terima kasih," jawabku tersenyum.
Kami pun memulai pekerjaan untuk menyiapkan makanan untuk para tamu hari ini. Saat tengah sibuk mengolah masakan, Chef Daniel, executive chef di The Bright Moon Hotel datang ke dapur untuk memeriksa pekerjaan kami. Setelah melihat-lihat kegiatan di dapur sebentar, ia kemudian memanggilku.
"Ya, Chef?"
"Saya ingin memberitahukan bahwa event malam ini akan ditunda ke Jumat malam nanti. Jadi kamu masih mempunyai waktu untuk memikirkan persiapan menu yang lebih baik," ujar Chef Daniel.
"Baik, Chef," jawabku.
"Oh, ya. Congratulations on your wedding, Luna."
Aku tersenyum. "Thank you."
Chef Daniel mengangguk, lalu meninggalkan dapur. Sungguh aku merasa lega mendengar pemberitahuan tersebut. Itu berarti aku bisa pulang lebih awal malam ini. Aku sudah berjanji untuk menemui Pedro ke rumahnya. Selain merindukannya, aku juga ingin mengatakan yang sebenarnya tentang pernikahanku.
Meskipun sedang tidak ada event, pekerjaan kami tetap sibuk karena The Bright Moon Hotel mengalami peningkatan tamu belakangan ini. Setelah seharian berkutat di dapur, akhirnya pekerjaanku dan tim selesai juga. Tak ingin membuang waktu, aku bergegas meninggalkan hotel, mengendarai mobil menuju rumah Pedro.
"Sayang!" sambut Pedro begitu melihatku berada di depan rumahnya.
Pedro menarikku masuk dan menutup pintu dari dalam. Ia memeluk dan mencium kedua pipiku. Ketika ia ingin mengecup bibirku, aku menahan wajahnya. Entah kenapa aku merasa tak pantas berciuman dengannya karena aku baru saja menikah.
Mungkin itu hanya perasaan sementara. Nanti juga aku akan bermesraan dengannya lagi karena pernikahanku dengan Leonard sebenarnya justru untuk menutupi hubunganku dengan Pedro. Kening Pedro berkerut melihatku termenung sejenak. Aku segera menarik tangannya untuk duduk di sofa.
"Kenapa kamu menghindariku seminggu ini, Luna?" tanya Pedro.
"Aku bukan menghindarimu, Pedro. Aku kan sudah bilang bahwa aku sedang banyak pekerjaan," kilahku.
Pedro menggeleng. "Biasanya kamu juga banyak pekerjaan. Tapi tidak pernah tidak membalas pesanku. Apalagi mengabaikan teleponku."
Aku terdiam sebentar, tak tahu harus berkata apa. Rasanya lidahku kelu untuk menyampaikan tentang pernikahanku. Sungguh aku khawatir dengan reaksi Pedro. Apakah dia akan marah atau bagaimana? Aku juga bingung harus mulai dari mana untuk mengatakannya.
"Ada apa, Luna?" Pedro menatapku. "Kamu terlihat aneh. Seperti ada yang kamu sembunyikan dariku."
"Kurasa aku harus menyampaikan yang sejujurnya."
"Maksudmu? Kamu telah berbohong padaku?" cecar Pedro.
"Pedro, maafkan aku." Aku berkata pelan sambil menatap lekat matanya.
Pedro tak menyahut, menungguku melanjutkan perkataan.
"Sebenarnya aku telah menikah," ucapku akhirnya.
"M-maksudmu?"
"Aku telah menikah dengan pria lain, Pedro. Tapi itu kulakukan demi hubungan kita." Aku menggigit bibir.
"Sungguh aku belum mengerti maksudmu, Luna. Kamu sedang bercanda, kan?" Ia menggenggam tanganku.
Perlahan aku menggeleng. "Aku serius, Pedro. Aku telah menikah dengan orang lain. Maafkan aku."
Pedro melepaskan genggaman tangannya dan menatapku tak percaya. "Kenapa kamu tega melakukannya, Luna? Kamu telah mengkhianatiku."
"Ini semua demi hubungan kita. Sampai kapan pun orang tuaku sepertinya tidak akan pernah merestui kita. Papa bahkan mengancam akan memberi perhitungan padamu jika kita masih bertemu. Aku tidak mau terjadi hal yang buruk padamu." Kukatakan yang sejujurnya.
"Tapi kenapa harus menikah dengan orang lain?"
"Karena dengan begitu orang tuaku tidak akan mencurigai kita lagi dan aku bisa bebas menemuimu," jawabku.
"Lalu bagaimana dengan suamimu?"
"Tidak ada masalah," sahutku. "Dia sudah mengetahui bahwa aku sudah punya pacar. Kami menikah tanpa cinta. Dia pun menikahiku hanya karena ingin menghilangkan skandalnya dengan seorang model."
Pedro mengernyit, masih merasa heran dengan penjelasanku.
"Kami tidak saling mencintai. Dan jika kami sudah bercerai nanti, aku akan berusaha membujuk mama dan papa lagi untuk merestui hubungan kita. Percayalah padaku, Pedro." Aku menggenggam tangannya.
Kembali Pedro tak menjawab.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku akan tetap memberi uang bulanan untukmu," lanjutku.
"Kurasa kamu salah menilaiku, Luna. Aku tulus menyayangimu. Bukan karena menginginkan uangmu." Pedro menarik tangannya dari genggamanku.
"Bukan begitu maksudku, Pedro." Aku berdehem. "Kamu tulus menyayangiku, aku tahu itu. Aku juga sangat menyayangimu. Namun saat ini tidak ada pilihan lain yang lebih tepat daripada keputusanku untuk menikahi Leonard."
Tak ada yang bicara di antara kami untuk beberapa lama. Keheningan meliputi kami hingga suara jam dinding bisa terdengar.
"Apakah suamimu orang kaya?" tanya Pedro kemudian.
Aku mengangguk. "Dia sangat kaya."
Pedro menghela napas. "Ini semua salahku. Kalau aku jadi orang kaya, pasti orang tuamu akan menyetujui hubungan kita."
"Jangan menyalahkan dirimu. Ini semua memang sudah menjadi ujian dalam hubungan kita. Mungkin ini yang memang harus kita jalani untuk meraih bahagia." Aku memeluk bahunya.
"Entahlah. Aku masih belum bisa menerima semua ini. Aku masih sangat terkejut, Luna." Pedro menutup wajahnya.
"Maafkan aku, Pedro." Perlahan kusandarkan kepalaku di bahunya.
Setelah beberapa lama kami berpelukan, aku memutuskan untuk pulang. Sepertinya Pedro masih butuh waktu untuk menerima semua kenyataan yang didengarnya. Aku mengerti. Dengan membiarkannya sendiri, kuharap bisa memberinya ketenangan hingga kemudian bisa memaklumi keputusanku.
Sungguh aku merasa bersalah padanya. Namun mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Aku menghela napas panjang, lalu mengendarai mobilku untuk pulang. Jalanan masih sangat ramai, namun tak macet. Sehingga aku tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke apartemen Leonard.
Setibanya di apartemen, kulihat Leonard telah pulang dan duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Ia belum berganti baju, masih mengenakan setelan kerjanya yang kulihat tadi pagi. Hanya saja ia sudah melepas jasnya. Ia menoleh ketika melihat kehadiranku.
"Kamu sudah pulang?" tanyanya berbasa-basi.
Aku hanya mengangguk sambil melepas sepatu.
"Apa kata pacarmu ketika kamu bilang bahwa kita sudah menikah?"
Keningku berkerut. "Kenapa kamu ingin tahu?"
"Wajahmu telihat kusut," komentarnya. "Kalau kamu butuh cerita, duduklah. Kamu bisa bercerita padaku."
Aku ragu sesaat, tetapi kemudian aku duduk di sampingnya. Menatap hampa ke layar televisi. Leonard mematikan televisi sehingga suasana menjadi hening. Ia lalu memutar arah duduknya menghadapku, seolah ia siap mendengar curahan hatiku tentang Pedro.
"Pedro terlihat begitu sedih. Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa aku telah menikah," ujarku.
"Tentu saja itu sangat berat baginya."
Aku mengangguk membenarkan ucapan Leonard.
"Sungguh aku merasa bersalah padanya. Aku sangat sedih melihat wajahnya tadi. Ia terlihat sangat kecewa." Aku menghela napas sambil memegangi keningku.
Leonard berdehem. "Kalau kamu ingin menangis, kamu boleh menangis di pundakku."
Apa katanya? Menangis di pundaknya? Benar-benar ingin mencari kesempatan. Kupikir dia tulus ingin mendengarkan curahan hatiku, ternyata ini tak lebih hanya triknya untuk menggodaku. Aku menoleh padanya sambil menggemeretakkan gigi. Namun Leonard hanya menatapku tanpa merasa bersalah.
***