"Apa katamu? Menangis di pundakmu?" Lunaria menyilangkan lengannya.
"Tentu saja kalau kamu mau," jawab Leonard masih dengan wajah tak bersalah.
Lunaria tertawa sinis. Ucapan Leonard baginya terdengar seperti rayuan yang buruk dari seorang pria. Menyesal dia menuruti pria itu untuk duduk dan menceritakan kesedihannya tentang Pedro. Lunaria masih memandangi suaminya sambil menyipitkan mata.
"Dasar pria gila!" cibirnya.
"Kenapa kamu suka sekali menyebutku gila?! " protes Leonard. "Ini sudah ketiga kalinya kamu mengatakan aku gila!"
"Karena kamu memang gila!" Lunaria bangkit dari duduknya.
Wanita itu ingin beranjak ke kamarnya. Namun saat melewati Leonard, ia tak sengaja tersandung kaki meja sehingga tubuhnya limbung. Dengan sigap Leonard menangkap tubuh Lunaria sehingga terduduk di pangkuannya. Mereka beradu tatap sesaat dengan wajah mereka yang sangat dekat.
Meski sedang kesal, Lunaria mengagumi ketampanan Leonard. Jantungnya berdegup. Kalau tak ingat bahwa ia menyayangi Pedro, mungkin ia akan mencium wajah tampan di hadapannya itu sekarang. Lunaria menggeleng untuk menghalau pikiran konyolnya.
Sedangkan Leonard menahan gejolak tubuhnya yang datang secara tiba-tiba. Wajah cantik Lunaria kini berada tepat di bawahnya. Rasanya ia ingin mendaratkan kecupan di bibir merah muda itu, namun ia tak melakukannya. Selama beberapa saat mereka dalam posisi tersebut, Lunaria tersadar. Ia pun turun dari pangkuan Leonard, lalu mendorong bahu suaminya itu dengan kesal.
"Kenapa kamu malah mendorongku?" Leonard tak terima.
"Kamu sedang menggodaku! Kamu pasti sengaja menarikku ke atas pangkuanmu," tuduh Lunaria.
Leonard tersenyum sinis. "Dasar tidak tahu terima kasih. Kalau aku tidak menampung tubuhmu tadi, kamu sudah jatuh ke lantai!"
"Lebih baik aku jatuh ke lantai, daripada jatuh ke pangkuanmu!" balas Lunaria lagi.
"Terserahlah!" Leonard bangkit dari duduknya.
Saat melewati Lunaria, ia dengan sengaja sedikit menabrak Lunaria sehingga wanita itu meringis. Lunaria berdecak kesal memandangi Leonard yang berjalan menuju kamar utama. Perlahan Lunaria mengembuskan napas untuk menghilangkan kekesalannya, lalu melangkah ke kamarnya.
Esok paginya, Leonard berangkat kerja lebih awal karena ada meeting pagi. Saat beranjak ke dapur untuk sarapan, ia tak menemukan Lunaria di sana. Lunaria tampaknya belum bangun atau mungkin sudah berangkat kerja. Leonard mengedikkan bahu, berusaha tak peduli.
Setibanya di kantor, Leonard segera memasuki ruang meeting. Stafnya telah berkumpul di sana. Mereka semua sibuk mempersiapkan perlengkapan dan dokumen untuk keperluan meeting. Begitu melihat kehadiran Leonard, mereka menghentikan kegiatan mereka sebentar untuk menyapa direktur muda itu.
"Selamat pagi," sapa Leonard setelah duduk di kursinya.
"Pagi, Pak," jawab para peserta serempak. Mereka terlihat sudah siap untuk memulai meeting.
Leonard membuka laptopnya. Dokumen-dokumen penting yang akan dibahas telah dipersiapkan oleh sekretarisnya, Miranda. Setelah mengamati laptop sejenak, Leonard mengedarkan pandangan kepada para staf, mempersilakan mereka untuk menyampaikan laporan mingguan setiap divisi.
"Baiklah, terima kasih untuk laporan kalian." Leonard tersenyum, merasa puas dengan laporan perkembangan positif yang disampaikan oleh para stafnya.
"Lalu, bagaimana dengan project terbaru kita untuk sebuah badan usaha di Banyuwangi?" tanyanya kemudian.
"Semuanya berjalan baik, Pak. Pemilik badan usaha yang bernama Andrew itu telah setuju untuk menggunakan jasa layanan perusahaan kita. Saat ini kami masih dalam tahap negosiasi lebih lanjut sebelum mencapai persetujuan. Tapi kami masih berkomunikasi secara online karena Pak Andrew belum bisa bertemu secara langsung," jelas Rafa, Business Analyst sekaligus IT Manager di Leonard Com.
"Tapi apakah kalian sudah mengecek badan usaha tersebut? Jasa layanan kita tebilang cukup mahal. Apakah mungkin badan usaha kecil di sebuah desa terpencil bisa membayarnya?" tanya Leonard ragu.
"Jangan khawatir, Pak. Kami telah melakukan survey secara online dan berencana melalukan survey secara langsung ke sana nantinya. Tampaknya Pak Andrew ini orang berada. Dia menggunakan uangnya untuk pendidikan rakyat menengah ke bawah sehingga dia membuka bimbingan komputer secara gratis untuk anak-anak di desa itu," lanjut Rafa.
Leonard mengangguk-angguk mendengar penjelasan Rafa.
Setelah beberapa orang dari stafnya melakukan presentasi, Leonard pun menyudahi rapat pagi itu. Mereka semua membubarkan diri, meninggalkan ruang rapat dan kembali ke ruangan mereka masing-masing untuk memulai pekerjaan mereka dengan semangat.
Leonard masuk ke ruangannya dan kembali membuka laptop untuk mempelajari laporan-laporan dari stafnya lebih lanjut. Hari itu ia sangat sibuk berkutat dengan pekerjaan. Setelah malam tiba dan pekerjaannya selesai, Leonard baru bisa menghela napas lega.
Perlahan ia menyesap sisa kopi sebelum beranjak meninggalkan ruangannya, lalu memasuki lift untuk menuju basement. Baru saja ia masuk ke dalam mobil ketika ponselnya berdering. Seorang temannya menelepon dan mengajaknya berkumpul di sebuah klub malam. Leonard sebenarnya malas karena ia merasa sangat lelah.
Namun karena merasa tak enak hati menolak, akhirnya ia datang juga ke klub malam itu. Sesampainya di sana, teman-temannya sudah ramai berkumpul. Sebagian dari mereka duduk bercengkerama, sebagian lagi menari tak tentu arah mengikuti musik yang dipersembahkan oleh seorang DJ.
"Wah, lihat itu, teman kita yang tampan datang!" seru mereka saat melihat kehadiran Leonard.
"Akhirnya direktur muda yang super sibuk ini mau juga bertemu dengan kita lagi," sindir Kevin.
"Ya, kalau tidak kita minta datang, mana mungkin dia mau menemui kita lagi," imbuh Asraf tertawa.
"Bukan begitu." Leonard duduk bergabung bersama mereka.
"Farewell party sebelum pernikahan pun tidak ada," tuding Kevin lagi disertai anggukan teman-temannya yang lain.
Leonard menghela napas. "Pekerjaanku sangat menyita waktu. Bulan madu dengan istriku saja belum sempat."
"Ya, sudahlah. Selamat untuk pernikahanmu. Sekarang mari kita rayakan pernikahan Leonard!" Asraf mengangkat gelasnya.
Mereka pun saling mengadu gelas, lalu segera terlarut dalam obrolan dan canda tawa. Leonard menolak ketika teman-temannya mengajaknya berjoget. Tubuhnya masih merasa letih sepulang kerja. Ia hanya duduk sendirian di sofa tersebut ketika teman-temannya meninggalkannya.
"Hai, Leo Sayang."
Suara seorang wanita membuat Leonard tersentak. Tiba-tiba saja Helen sudah ada di dekatnya. Wanita itu lalu duduk tepat di sampingnya. Leonard menoleh sekilas pada dress Helen yang berbelahan d**a rendah, namun ia segera membuang pandangannya. Melihat itu, Helen tersenyum.
"Kenapa kamu selalu muncul setiap kali aku ada di bar atau klub malam?" tanya Leonard.
Helen mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin karena kita sehati?"
Leonard tersenyum sinis mendengar ucapan Helen yang menggelikan itu. Sejujurnya ia memang merasa heran karena Helen selalu bisa menemui keberadaannya. Hal itulah yang membuat Leonard malas pergi ke tempat hiburan malam beberapa tahun belakangan.
Sebagai seorang model, Helen memang akrab dan sering datang ke tempat seperti itu. Kemungkinan bertemu dengan Helen tanpa sengaja bisa saja terjadi. Namun malam ini sepertinya ada kesengajaan. Tampaknya ada yang mengatur pertemuan mereka. Entah kenapa Leonard berpikir seperti itu.
"Kamu tampan sekali malam ini, Leo." Helen memandangi wajah mantan pacarnya sambil berusaha menempelkan tubuhnya.
Leonard yang merasa risih, segera menggeser duduknya.
"Selamat bersenang-senang, Kawan!" seru Kevin.
Ucapan Kevin membuat Leonard menoleh. Mereka semua terbahak menatapnya. Leonard menggeram. Benar dugaannya. Ternyata ini semua adalah rencana teman-temannya itu. Mereka sengaja mempertemukan Leonard dengan Helen, padahal mereka tahu Leonard sudah menikah.
"Kenapa kamu diam saja, Sayang?" Helen berusaha mendekati Leonard lagi.
Leonard berdecak. "Tolong jangan panggil aku dengan sebutan sayang, Helen. Apalagi kamu pasti tahu bahwa aku sudah menikah."
Raut wajah Helen berubah ketika mendengar perkataan Leonard..
"Ya, aku menemuimu karena ingin menanyakan hal itu. Kenapa kamu menikah?" tanya Helen kesal.
"Kenapa? Memangnya ada yang melarang?" Leonard mengernyit.
"Aku yang melarangmu!" tukas Helen. "Kenapa kamu menikah tanpa seizinku?!"
Kening Leonard berkerut. "Memangnya kamu siapa? Kenapa aku harus meminta izin padamu untuk menikah?"
"Kamu tidak seharusnya menikah dengan orang lain, Leo! Kita pernah saling mencintai dan aku yakin sampai sekarang pun kita masih mencintai satu sama lain." Helen menatap Leonard sendu.
Leonard tertawa sinis. "Itu hanya perasaanmu saja! Hubungan kita hanya masa lalu. Sudah berapa kali kubilang bahwa aku sudah melupakanmu."
"Aku tidak percaya!"
"Terserahmu saja!"
Tanpa menoleh, Leonard bangkit dari duduknya dan beranjak. Namun baru beberapa langkah, Helen mengejar, lalu memeluknya pria pujaan hatinya itu dengan erat. Dengan sengaja Helen merapatkan benda padat miliknya ke tubuh Leonard. Segera Leonard melepaskan pelukan Helen.
Sekilas Leonard menoleh ke arah teman-temannya yang masih menertawakannya. Ia memaki dalam hati. Sepertinya ia tak akan lagi datang jika mereka menelepon mengajak bertemu. Setelah berhasil melepaskan pelukan Helen, ia melanjutkan langkahnya. Tanpa memedulikan panggilan Helen, Leonard bergegas meninggalkan tempat itu.
Leonard mengembuskan napas kasar ketika ia sudah berada di dalam mobil. Tak ingin membuang waktu lagi, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Untung saja ia tak mabuk, sehingga ia masih bisa fokus menyetir dan selamat hingga tujuan.
Setibanya di apartemen, ia melihat televisi menyala dan Lunaria berjalan dari arah dapur. Sepertinya wanita itu baru saja mengambil camilan. Leonard berusaha mengabaikannya dan segera merebahkan diri di sofa ruang tengah. Lunaria yang hendak menonton televisi tak terima melihatnya.
"Leonard, jangan tidur di situ! Kalau kamu ingin tidur, sana pergi ke kamarmu!" omel Lunaria.
"Aku tidak mau!" jawab Leonard dengan mata terpejam.
"Jangan begitu, Leonard. Aku mau menonton TV!" rengek Lunaria lagi.
"Duduk saja di sini, Sayang." Leonard menepuk sofa sambil tersenyum.
"Apa kamu bilang? Sayang?" Lunaria menyilangkan lengan. "Kamu mabuk, ya, Leonard?"
"Aku tidak mabuk. Hanya minum sedikit tadi," jawab Leonard dengan suara berat sambil memejamkan matanya kembali.
Lunaria mencibir sambil menatap Leonard. Ia sangat tidak suka dengan pria yang menggemari minuman keras. Selain karena tidak suka bau alkohol, minuman itu juga tidak sehat bagi tubuh dan ia sangat peduli pada kesehatan. Meskipun The Bright Moon Hotel juga menyediakan minuman-minuman seperti itu, tetap saja Lunaria tak menyukainya.
Karena malas berdebat dengan Leonard, Lunaria pun beranjak setelah mematikan televisi. Sedangkan Leonard sudah terlelap di sofa ruang tengah. Saat memasuki kamarnya, Lunaria berbalik lagi. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa tak tega pada Leonard. Ia pun berjalan ke kamar Leonard untuk mengambil selimut, lalu kembali ke ruang tengah untuk menyelimuti suaminya itu.
***