Seminggu sudah usia pernikahan Leonard dan Lunaria. Namun mereka masih tetap seperti sebelumnya. Kadang bertengkar dan mereka lebih sering tak bertemu karena keduanya sibuk bekerja. Pada akhir pekan mereka masih bermalas-malasan di kamar masing-masing meski matahari sudah meninggi.
Dengan mata terpejam, Lunaria meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas. Sambil menguap, ia mengangkat telepon. Mamanya menelepon, mengatakan bahwa mama dan papanya akan datang ke apartemen. Rasanya Lunaria ingin menolak kedatangan mereka, tetapi itu tak mungkin dilakukannya.
Sebagai seorang chef, sangat jarang Lunaria mendapat libur di akhir pekan. Sekalinya libur, orang tuanya ingin datang. Ia menghela napas. Setelah menggeliat sebentar, ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar Leonard untuk memberitahukan kedatangan orang tuanya.
"Leonard!" panggil Lunaria sambil mengetuk pintu.
Ia mengetuk pintu lebih keras karena tak ada sahutan dari dalam. Leonard kemudian keluar masih dengan hanya mengenakan celana pendek dan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Lunaria memandangi Leonard sejenak, mengagumi betapa bagus badan suaminya itu. Tinggi dan atletis.
"Ada apa? Kenapa kamu suka sekali mengganggu tidurku?" gerutu Leonard membuyarkan lamunan Lunaria.
Lunaria mencibir. "Aku hanya ingin bilang bahwa mama dan papaku akan datang ke sini."
"Hari ini?"
"Ya, aku sudah memberitahu alamat apartemenmu. Mungkin beberapa jam lagi mereka akan datang. Cepatlah kamu mandi. Aku akan mempersiapkan sarapan terlebih dahulu," ujar Lunaria.
Leonard mengangguk. "Oke."
Baru saja Lunaria ingin berlalu, ketika Leonard memanggilnya lagi. Lunaria menoleh dan kembali mencuri pandang ke arah tubuh Leonard yang menawan. Benar-benar pemandangan indah di pagi hari. Tanpa sadar ia mengulum senyum.
"Kamu melihat apa, sih?" tanya Leonard.
"B-bukan apa-apa," jawab Lunaria terbata.
Leonard tersenyum simpul. "Pasti kamu mengagumi tubuhku yang bagus, kan?"
"Enak saja!" Lunaria menyilangkan lengan. "Kamu ingin bicara apa tadi?"
"Oh, itu. Kalau kamu sudah selesai bersiap, jangan lupa mengunci kamarmu," ujar Leonard.
Lunaria mengernyit. "Kenapa?"
"Kalau orang tuamu masuk ke kamar itu, mereka akan tahu bahwa kita tidur terpisah. Begitu saja kamu tidak paham." Leonard menghela napas.
"Benar juga." Lunaria menggaruk kepalanya, lantas beranjak.
Setelah menyiapkan bahan-bahan dari dalam lemari pendingin, Lunaria pun mulai memasak. Ia membuat beberapa menu masakan dan kudapan. Tak butuh waktu lama bagi Lunaria untuk menyelesaikan semua itu. Saat Leonard keluar dari kamarnya, semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan. Penataan makanan diatur sedemikian rupa sehingga menggugah selera.
Leonard mengendus aroma harum masakan yang menguar. Ia memandang kagum pada banyaknya masakan yang tersaji. Kadang Lunaria juga memasak untuknya, tetapi tak pernah sebanyak itu. Tentu saja karena akan ada tamu. Leonard tersenyum, ternyata menyenangkan mempunyai istri seorang chef. Meski bisa membeli makanan, masakan istri pasti akan terasa lebih nikmat.
"Kenapa kamu melamun, Leonard? Bagaimana masakanku?" tanya Lunaria.
"Penampilannya bagus dan aromanya enak. Semoga rasanya juga lezat," komentar Leonard.
"Tentu saja. Memangnya kamu meragukan kemampuanku sebagai seorang chef di The Bright Moon Hotel?" Lunaria menyilangkan lengan.
"Tidak, aku tidak meragukanmu. Kamu memang chef yang hebat," puji Leonard tulus.
Lunaria tersenyum. "Ya, sudah. Kalau mama dan papaku sudah datang, kamu jemput mereka di lobi, ya. Aku ingin mandi dulu."
Leonard mengangguk, lalu berjalan ke ruang tengah. Sedangkan Lunaria beranjak ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Sesuai pesan Leonard tadi, ia pun mengunci kamarnya setelah keluar. Tak berapa lama mereka menunggu, David dan Andini pun tiba.
"Wah, apartemenmu luas dan mewah sekali, Leo," komentar Andini sambil mengedarkan pandangannya, persis apa yang dilakukan oleh Lunaria saat pertama kali menginjakkan kaki ke penthouse milik Leonard.
"Ini bukan hanya apartemen saya, Ma," sahut Leonard. "Ini juga sudah menjadi milik Lunaria karena kami sudah menikah."
"Kamu bijak sekali, Leo. Tidak salah Lunaria memilihmu sebagai suami." David menepuk-nepuk pundak menantunya.
Leonard tersenyum mendengar pujian itu. Sedangkan Lunaria hanya mencibir menatap Leonard yang tampak sok bijak di matanya. Padahal menururnya, suaminya itu tak lebih dari pria narsis dan hidung belang. Leonard menoleh pada Lunaria dan mengernyit melihat raut muka istrinya yang tak bersahabat itu.
"Ayo, kita makan, Ma, Pa. Nanti hidangannya dingin." Lunaria berusaha mengalihkan perhatian orang tuanya dari kekaguman terhadap penthouse Leonard.
Mereka berempat pun segera duduk mengitari meja makan yang lebar. Sambil mengobrol ringan, mereka mulai menikmati hidangan makan siang. Leonard terlihat sangat lahap mengunyah makanannya. Dia sudah mencoba berbagai makanan enak di dunia, tetapi masakan Lunaria selalu terasa istimewa lidahnya.
Leonard sangat mengagumi kepiawaian istrinya memasak. Tak heran Lunaria menjadi chef andalan di The Bright Moon Hotel. David dan Andini memandangi Leonard sambil tersenyum, melihat menantu mereka begitu menikmati masakan Lunaria. Sadar diperhatikan, Leonard menjadi salah tingkah dan mencoba menjaga wibawanya kembali.
"Masakan Luna lezat, kan?" Andini bertanya pada Leonard yang dijawab anggukan oleh menantunya itu.
"Luna memang sangat pintar memasak. Makanya karirnya sebagai chef sangat bagus." David memuji anaknya.
"Sudahlah, Ma, Pa. Tidak usah terlalu memuji," protes Lunaria.
"Kami mengatakan yang sebenarnya, Luna. Kami sering kali merindukan masakanmu. Akhirnya bisa menikmati hidanganmu lagi seperti ini tentu saja kami merasa senang," ujar Andini.
Lunaria pun tak menyahut lagi. Mereka kembali menikmati hidangan sambil masih mengobrol. Usai makan, mereka duduk di ruang tamu untuk bercengkerama. David dan Andini duduk berdampingan. Sementara Leonard dan Lunaria juga duduk bersebelahan di seberang mereka.
Leonard menaruh lengannya di bahu Lunaria, tak memedulikan tatapan tajam istrinya itu terhadapnya. Rasanya Lunaria ingin menurunkan lengan Leonard, tapi itu tak mungkin dilakukannya karena akan membuat David dan Andini curiga. Ia hanya menahan geram melihat Leonard yang mencuri kesempatan.
"Jadi kapan mama dan papa akan menimang cucu?" tanya David tiba-tiba.
"Secepatnya, Pa," sahut Leonard.
"Apa kamu bilang?!" Tanpa sadar Lunaria memukul bahu suaminya itu.
"Kenapa kamu memukulnya, Luna?" Andini mengernyit. "Apa salahnya kalau kalian cepat mendapat anak? Kalian kan sudah menikah."
"Bukan begitu, Ma. Hanya saja, aku sedang banyak pekerjaan. Leonard juga begitu. Kurasa aku akan menunda kehamilan dulu," jawab Lunaria ragu.
David dan Andini beradu pandang sejenak. Sebenarnya mereka sangat berharap kehadiran seorang cucu. Namun jika itu sudah menjadi keputusan Lunaria, mau bagaimana lagi. Mereka sadar karir Lunaria sedang naik daun. Tentu saja dia tak akan punya banyak waktu untuk mengurus anak saat inii.
"Ya, sudah kalau begitu. Hal terpenting adalah kalian sehat-sehat saja. Tapi kalau bisa, jangan menunda terlalu lama," ujar David.
"Benar, Luna. Kalau menuruti karir maka kamu tak akan pernah memiliki anak. Kalau kamu sudah siap nanti, pertimbangkan untuk merencanakan kehamilan," imbuh Andini.
Lunaria mengangguk. "Baik, Ma, Pa."
"Dan kamu harus mendengarkan keinginan Leo juga. Siapa tahu dia sudah ingin punya anak," nasihat David lagi.
"Kalau saya memang ingin punya anak. Tapi saya bersedia menunggu hingga Lunaria siap," jawab Leonard.
"Luna, kamu sangat beruntung mempunyai suami yang bijak seperti Leo." David kembali memuji menantunya.
Leonard tersenyum simpul, sementara Lunaria mendengus sebal melihat sikap Leonard yang suka cari muka itu. Berpura-pura bijak dan dewasa, padahal sebenarnya sangat kekanak-kanakan. Lunaria mengembuskan napas untuk membuang kekesalannya.
Tak lama David dan Andini berpamitan pulang. Lunaria baru bisa bernapas lega ketika orang tuanya sudah meninggalkan apartemen. Dengan kasar Ia melepaskan lengan Leonard yang sejak tadi melingkari pinggangnya, lantas memukul bahu suaminya itu.
"Kami kenapa, Lunaria? Kenapa kamu suka sekali memukulku?" Leonard meringis memegangi bahunya.
"Kenapa kamu sengaja mencari kesempatan di depan mama dan papa?" omel Lunaria sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Kesempatan bagaimana?"
"Merangkul bahuku dan memeluk pinggangku."
"Aku bukan mencari kesempatan. Itu sandiwara agar mama dan papa percaya bahwa kita bersikap mesra. Kalau tidak begitu, nanti mereka bisa curiga." Leonard membela diri.
Lunaria terdiam sejenak, membenarkan perkataan Leonard dalam hati. Mereka pengantin baru, seharusnya mereka terlihat mesra. Kalau orang tuanya curiga bahwa salah satu tujuan pernikahan mereka adalah untuk menutupi hubungannya dengan Pedro, bisa gawat.
"Lalu, kenapa tadi kamu bilang bahwa kita akan memberikan cucu pada mama dan papa secepatnya?" tanya Lunaria lagi, masih merasa sebal.
"Ya, kalau kamu mau, kita memang bisa memberikan mereka cucu secepatnya," jawab Leonard santai.
"A-apa maksudmu?"
"Apa perlu kujelaskan?" Leonard mendekati istrinya. "Kamu mau kita melakukannya di mana?"
"Leonaaard!" Lunaria mendorong tubuh suaminya. "Dasar kamu pria yang suka merayu!"
"Apa salahnya kalau kita melakukannya? Kita kan sudah menikah." Leonard masih berusaha menggoda wanita di hadapannya.
"Kamu lupa atau bagaimana? Kita menikah bukan atas dasar rasa cinta tapi karena tujuan untuk saling menguntungkan. Kamu untuk menghilangkan skandalmu dan aku ingin menutupi hubunganku dengan Pedro. Aku yakin kamu tidak hilang ingatan!" omel Lunaria lagi.
"Aku ingat itu. Tapi kan tetap tidak masalah kalau kita melakukan hubungan suami-istri." Leonard tak mau kalah.
Lunaria sudah akan membuka mulutnya, namun segera mengatupkannya lagi. Rasanya sia-sia saja berdebat dengan Leonard. Hanya buang-buang energi. Lunaria memilih diam sambil menahan kekesalannya. Menatap tajam ke arah Leonard sejenak, ia berlalu melewati suaminya begitu saja.
Sengaja ia membanting pintu setelah berada di dalam kamar. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menengadah menatap langit-langit, memikirkan ucapan Leonard tadi. Apa pria itu benar-benar tak mempermasalahkan jika mereka berhubungan badan?
Kalau boleh jujur, sebenarnya Lunaria pun tak masalah berhubungan intim dengan Leonard jika persoalannya hanya menikah tanpa cinta. Leonard tampan dan memiliki badan yang bagus. Lunaria bahkan beberapa kali terpesona melihat tubuh suaminya itu. Tapi masalahnya dia punya Pedro. Tentu saja ia tak ingin mengkhianati pacarnya itu.
Seketika bayangan wajah Leonard melintas di kepalanya. Kenapa Leonard harus setampan itu? Lunaria menggeleng, berusaha menghalau wajah Leonard dari benaknya. Berulang kali ia membalikkan badan agar bisa tertidur, namun matanya tak kunjung bisa terpejam.
***