Sejak tadi aku menatap layar ponsel dengan hampa. Sudah seminggu ini aku dan Pedro tidak saling menelepon. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun ia tak mengangkat meski masih membalas pesanku. Tampaknya dia masih merasa sedih akan kenyataan bahwa aku telah menikah.
Sekarang aku benar-benar merasa bersalah. Aku terlalu terburu-buru menerima tawaran Leonard untuk menikahinya tanpa berpikir panjang. Termakan triknya. Alih-alih memuluskan hubunganku dengan Pedro, kami justru semakin menjauh kini. Aku menghela napas panjang, kembali menatap layar ponselku.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat aku berniat menelepon Pedro, panggilan darinya masuk lebih dulu ke ponselku. Hatiku melonjak gembira. Sepertinya ia sudah tak marah lagi. Dengan perasaan riang, kugeser tombol berwarna hijau untuk mengangkat telepon. Lantas aku menyapanya dengan manis.
"Kamu terdengar gembira sekali, Luna." Suara Pedro terdengar di ujung sana.
"Tentu saja! Aku mendapat telepon darimu setelah seminggu kita tidak saling menelepon," ucapku dengan nada merajuk.
"Maafkan aku, Luna. Aku memerlukan waktu untuk menerima kenyataan dan memikirkan tentang hubungan kita," jawab Pedro.
Aku berdehem. "Kamu tidak perlu minta maaf, Pedro. Aku sangat mengerti perasaanmu. Seharusnya akulah yang meminta maaf."
"Kamu sudah meminta maaf dan aku sudah memaafkanmu." Pedro berkata lembut.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" tanyaku ragu.
Pedro menghela napas. "Aku berusaha menerima kenyataan dan ingin mempertahankan hubungan denganmu."
"Terima kasih, Pedro," ucapku terharu.
"Asal kita tetap menjaga cinta kita," lanjut Pedro.
"Tentu saja!" sahutku pasti.
Kami lalu berjanji untuk bertemu esok hari. Kebetulan besok aku libur sehingga kami bisa berjalan-jalan sepuasnya. Aku akan mengajaknya makan siang di restoran. Baru setelah itu terserah dia ingin mengajakku ke mana. Rencana yang indah. Rasanya tak sabar menunggu malam berlalu.
Ternyata aku memang merindukan dan menyayangi Pedro, sehingga aku merasa bahagia ketika ia menelepon. Kalau aku sesekali mengagumi Leonard, itu hanya karena ketampanan dan tubuh bagusnya saja. Namun hatiku tetap untuk Pedro. Aku tahu itu. Ah, sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan Leonard?
Matahari telah terbit lagi, menggantikan malam yang membuatku gelisah.
Pagi menjelang siang itu, aku beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Sekilas aku melirik ke arah kamar Leonard. Tampaknya ia sudah berangkat kerja. Aku mengedikkan bahu, berusaha tak memedulikannya. Usai sarapan, aku bergegas mandi dan bersiap-siap menuju rumah Pedro.
Sebelum mengajaknya ke restoran, aku akan menjemputnya terlebih dahulu. Setengah jam perjalanan, aku tiba di rumah Pedro. Dia telah menungguku dengan senyuman. Hatiku berbunga melihatnya. Dengan hati riang, kucium kedua pipinya. Ia balas mengecup sambil memelukku erat.
"Aku merindukanmu, Pedro."
"Aku juga, Luna sayang. Kamu cantik sekali hari ini." Ia mencium keningku.
"Terima kasih." Aku tersenyum. "Ayo, kita berangkat sekarang. Aku sudah lapar."
"Seharusnya kamu tidak usah repot mengajakku ke restoran mahal, Luna." Ia menatapku.
"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak merasa repot. Justru aku berulang kali ingin mengajakmu makan di restoran, tetapi kamu selalu menolaknya," ujarku.
Pedro tertawa sambil mengikuti langkahku. Kami berjalan beriringan menuju mobilku yang terparkir. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Setibanya di restoran, kami langsung memesan dua porsi beef steak dan dua gelas minuman. Setelah mencatat pesanan kami, pramusaji berlalu.
Masih dengan senyuman, aku memandangi wajah Pedro yang terlihat tampan hari ini. Tidak seperti biasanya, siang ini ia mengenakan setelan formal sehingga membuatnya terlihat lebih rapi. Pedro hanya tersenyum ketika aku memujinya. Perlahan ia meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Rencananya kapan kamu dan suamimu akan bercerai, Luna?" tanya Pedro tiba-tiba, membuatku tersentak.
"Aku belum tahu, Pedro. Kami belum membahasnya," jawabku jujur.
"Lalu, kapan aku bisa bersama denganmu lagi?"
"Sepert yang kubilang, kita tetap bisa bersama meski aku sudah menikah."
"Maksudku bersama denganmu tanpa pria lain di antara kita." Pedro menatapku sendu.
Aku berdehem. "Tidak bisa terburu-buru, Pedro. Itu akan membuat orang tuaku curiga."
Pedro menghela napas. "Baiklah aku akan berusaha menunggu."
"Tenang saja. Hatiku tidak akan pernah berpaling darimu." Aku menggenggam tangannya.
Tak lama pramusaji datang mengantarkan pesanan kami. Sambil saling tersenyum, kami mulai menikmati hidangan lezat yang tersaji. Sungguh aku merasa lega melihat hubunganku dan Pedro sudah seperti sedia kala. Masih kuingat bagaimana raut kekecewaannya minggu lalu saat aku mengatakan tentang pernikahanku.
Kini raut wajah Pedro kembali bersinar. Begitu pun kemesraan di antara kami yang kembali terjalin. Hari ini benar-benar sempurna. Seharusnya memang berjalan sempurna sampai aku mendengar suara tawa seorang pria yang baru saja memasuki restoran dan kebetulan lewat di belakang kursiku.
Suara itu tak asing bagiku, tapi aku masih menyangkal pendengaranku. Kupandangi dua orang pria yang baru masuk tadi. Mereka berjalan ke arah meja kosong yang berjarak tak terlalu jauh dari mejaku dan Pedro. Kedua pria itu mengenakan setelan jas formal, tampaknya kolega bisnis.
Ketika mereka duduk, barulah aku bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Benar dugaanku. Salah satu dari pria itu adalah Leonard. Sepertinya ia sedang makan siang bersama kliennya. Mataku membulat ketika kemudian ia menoleh ke arahku. Pandangan kami bertemu.
Sama sepertiku, ia pun tampak heran bahwa kami bisa makan di restoran yang sama secara kebetulan. Ia menatapku sejenak, kemudian beralih kepada Pedro. Ia mengalihkan pandangannya dari kami ketika kemudian kliennya mengajak mengobrol. Aku menghela napas lega.
"Kamu melihat siapa, Luna?" Pedro mengikuti arah mataku.
"T-tidak. Bukan siapa-siapa," jawabku tergagap sambil mulai mengunyah makananku lagi.
Pedro menatapku heran sejenak, tetapi kemudian ia tersenyum dan melanjutkan makannya. Sesekali aku melirik pada Leonard yang juga masih mencuri pandang ke arahku. Dengan cepat aku menghabiskan makananku agar bisa segera meninggalkan restoran.
Meskipun Leonard pura-pura tidak mengenalku, tetap saja aku merasa tak nyaman melihatnya ada di tempat yang sama saat aku sedang bersama Pedro. Menyebalkan sekali. Makan siangku bersama Pedro yang romantis jadi rusak karena kedatangannya. Aku mengembuskan napas kasar.
Usai menghabiskan hidangan, aku bergegas mengajak Pedro keluar dari restoran setelah membayar bill. Sebelum beranjak, aku menoleh pada Leonard sekali lagi. Ia menaikkan alisnya sambil tersenyum simpul ke arahku. Dia pasti ingin menggodaku. Menyebalkan! Kupercepat langkah menuju parkiran.
"Kamu sepertinya tidak menikmati makan siang kita tadi," ujar Pedro ketika kami sudah berada di dalam mobil.
"Makanannya kurang enak," jawabku berbohong.
Pedro mengernyit. "Benarkah? Bagiku beef steak tadi terasa lezat sekali."
Aku tak menyahut.
"Tapi tentu saja aku memercayai pendapatmu soal makanan karena kamu adalah seorang chef," lanjut Pedro.
Hanya dengan seulas senyum aku menanggapi ucapan Pedro. Tak mungkin kuceritakan bahwa tadi aku ingin segera meninggalkan restoran karena ada Leonard di sana. Kembali aku fokus menyetir. Pedro mengajakku ke rumahnya. Aku menyetujuinya, tetapi sebelum itu kami singgah sebentar ke sebuah mall karena aku ingin membelikan pakaian untuknya.
Pedro sempat menolak, namun akhirnya ia menurut ketika aku sedikit memaksa. Setelah puas berkeliling, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Pedro. Aku merasa lega tak banyak tetangga Pedro yang tampak, mengingat hari ini bukan akhir pekan. Kami pun duduk berdampingan di atas sofa setelah menutup pintu.
"Terima kasih untuk makan siang dan juga semua barang yang kamu belikan untukku ini, Luna. Aku merasa seperti sedang berulang tahun," ujar Pedro mqembuatku terbahak.
"Kamu tidak perlu berterima kasih karena aku akan tetap melakukannya meski kamu sedang tidak berulang tahun," sahutku masih tertawa.
Pedro mendekap tubuhku secara tiba-tiba, lalu mengecup pipiku. "Aku mencintaimu, Luna," bisiknya mesra.
Aku tersenyum dan balas memeluknya erat. Pedro mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibirku. Sejenak aku terdiam karena teringat akan pernikahanku dengan Leonard. Namun kemudian aku memilih tak peduli dan membiarkan Pedro menciumku. Kami saling mengecap, tetapi entah kenapa kali ini aku tak menikmatinya seperti biasa.
"Luna, mari kita ke kamarku," ajak Pedro masih dengan napas tersengal.
"Untuk apa?"
"Aku ingin kita melakukannya."
"M-maksudmu?" tanyaku terbata.
"Sebelum suamimu menyentuhmu, aku ingin melakukannya denganmu. Kamu tahu apa yang kumaksud," ujar Pedro.
"Tidak, Pedro. Maafkan aku tapi aku tidak bisa. Kamu kan tahu aku tidak mau melakukannya kalau kita belum menikah." Aku menjauhkan sedikit tubuhku darinya.
Pedro menatapku. "Tapi bagaimana kalau suamimu ingin melakukannya denganmu?"
Aku menghela napas. "Kami tidak akan melakukannya. Sudah kubilang bahwa kami tidak saling mencintai. Percayalah padaku."
Meski dengan raut wajah kecewa, Pedro akhirnya mengangguk. Aku mengembuskan napas lega karenanya. Kami pun kembali bercengkerama sambil mengunyah camilan yang sempat kami beli dari swalayan dalam mall tadi. Menyenangkan bisa kembali berbagi cerita dengannya lagi.
Pedro bukan sekadar kekasih, tetapi juga tempatku mencurahkan hati dan pikiran selama ini. Dia sangat dewasa dan selalu menjadi pendengar yang baik. Belum lagi, Pedro sangat sabar menghadapiku dan lebih sering mengalah. Tidak seperti Leonard yang kekanak-kanakan dan menyebalkan. Ada saja ulahnya yang membuatku kesal.
"Luna, apakah kamu ingin makan malam di sini? Biar aku memasak untukmu," tawar Pedro.
"Tidak usah, Pedro. Terima kasih. Kurasa aku harus pulang sekarang," ujarku sambil melirik penunjuk jam di ponselku.
Pedro mengernyit. "Kenapa terburu-buru? Suamimu menunggu?"
"Bukan begitu, Pedro. Aku hanya takut ketahuan mama dan papa kalau aku pulang kemalaman. Waktu itu mama pernah memergoki mobilku dari arah wilayah tempat tinggalmu," jelasku.
"Benarkah?"
"Ya. Makanya aku harus pulang sekarang."
"Baiklah. Tapi berjanjilah kamu akan selalu mengingatku. Sungguh aku cemburu membayangkan kamu tinggal seatap dengan suamimu." Pedro berkata sendu.
"Maafkan aku, Pedro. Aku berjanji akan selalu mengingatmu," ujarku mengecup kedua pipinya.
Pedro pun tersenyum, kemudian mengantarku hingga ke mobil. Aku segera melajukan mobilku ke pusat kota. Hari sudah petang. Entah kenapa aku terpikir akan Leonard. Khawatir dia pulang lebih cepat malam ini dan tidak menemukan masakan di meja makan.
Memang dia bisa saja membelinya atau mungkin makan di luar sebentar. Tapi sebagai seorang istri, aku tetap ingin menyediakan makan malam untuknya, apalagi dia selalu terlihat lahap setiap kali memakan masakanku. Tidak. Hal itu bukan berarti apa-apa, sekadar formalitas sebagai suami istri saja. Aku berusaha meyakinkan diriku.
***