Sambil menghela napas, Leonard menyandarkan tubuhnya. Ia baru saja kembali ke kantor sehabis dari bertemu dengan seorang klien saat jam makan siang. Tak disangkanya ia akan bertemu dengan Lunaria di sana. Istrinya itu sedang bersama seorang pria. Mungkin pria itulah yang bernama Pedro, pacar Lunaria.
Leonard menyimpulkan begitu karena Lunaria dan teman prianya terlihat mesra. Terbayang lagi di benak Leonard bagaimana ia dan Lunaria pura-pura tidak saling mengenal tadi. Mungkin begitu lebih baik. Lunaria sudah pasti tidak mau diganggu saat sedang bersama pacarnya, meski ia memergoki wanita itu meliriknya beberapa kali.
"Masuk," perintah Leonard ketika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Miranda, sekretarisnya, muncul dari balik pintu. "Pak, ada tamu dari Famous Agency."
"Saya ada janji dengan mereka?"
"Ya, Pak. Kita baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan mereka bulan lalu," jawab Miranda.
Leonard mengangguk. "Persilakan tamunya masuk."
Miranda balas mengangguk, lantas keluar ruangan. Tak lama muncul seorang tamu wanita. Mata Leonard membulat ketika melihat wanita yang memasuki ruangannya. Helen? Bagaimana bisa Helen yang menjadi perwakilan Famous Agency untuk bertemu dengannya?
"Sedang apa kamu di sini Helen?" tanya Leonard.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu, Pak Leonard yang tampan." Helen tersenyum seraya duduk di seberang Leonard tanpa dipersilakan.
"Kamu dari pihak Famous Agency?"
Helen mengangguk sambil memutar kursinya.
Leonard mengernyit. "Kenapa harus kamu?"
"Apa kamu tidak tahu bahwa aku sekarang berada di bawah naungan Famous Agency?" Helen balas bertanya.
"Aku tidak peduli itu. Maksudku kenapa harus kamu? Kamu kan seorang model. Seharusnya yang datang kemari adalah dari staf Famous Agency karena mereka menggunakan layanan jasa perusahaan kami," jelas Leonard mulai kesal.
"Why not? Aku bisa mengaturnya." Helen tersenyum simpul.
Leonard menghela napas. Sungguh mengherankan bagaimana staf Famous Agency mengizinkan Helen yang seorang model untuk bertemu dengan mereka. Kerja sama mereka adalah dalam bidang jasa pembuatan website. Sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan seorang model. Leonard menyesalkan sikap Famous Agency yang tidak profesional.
"Aku hanya akan melayani pembicaraan mengenai pekerjaan. Kalau kamu ingin membicarakan hal lain, aku tidak akan melayaninya," ujar Leonard.
"Jangan begitu, Leo." Helen berusaha menggenggam tangan Leonard, namun pria itu langsung menghindar.
Bibir Helen mengerucut melihat penolakan Leonard. "Baiklah. Aku akan pergi setelah kamu menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa? Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu." Leonard menyilangkan lengan.
"Kenapa kamu menikahi wanita lain dan bukan aku?"
"Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak ada perasaan padamu lagi. Kita sudah putus, Helen! Terserahku ingin menikah dengan siapa," sungut Leonard.
"Tapi apa kurangnya aku dibandingkan dia? Aku tak kalah cantik. Aku seorang model, banyak pria yang tergila-gila padaku. Tapi kamu malah tidak memedulikanku." Suara Helen terdengar sendu.
"Ya, sudah. Kencani saja para pria yang tergila-gila padamu itu," sindir Leonard.
Helen berdecak. "Leo! Kamu sama sekali tidak mengerti perasaanku!"
"Diamlah, Helen!" balas Leonard. "Ini kantor, tolong jaga sikapmu. Sudah kukatakan aku tak ingin membicarakan hal selain pekerjaan."
"Tapi ...."
"Silakan keluar dari ruangan ini," usir Leonard disertai dengan isyarat tangan.
Helen menatap kesal pada mantan pacarnya itu. "Baiklah aku akan pergi. Tapi ingat, aku tidak akan berhenti mengganggu hidupmu."
Masih menahan kekesalan, Helen meninggalkan ruangan. Leonard mengembuskan napas kasar. Ia baru bisa bernapas lega ketika tak didengarnya lagi suara ketukan sepatu wanita itu. Setelah yakin Helen benar-benar sudah pergi, Leonard menelepon sekretarisnya.
"Miranda, jika lain kali ada janji bertemu dengan pihak Famous Agency lagi, tolong suruh saja tim marketing yang menemui perwakilan mereka. Dan kalau bisa jangan lalukan pertemuan dengan mereka di kantor ini," ujar Leonard.
Usai menutup telepon, Leonard kembali melanjutkan pekerjaannya. Masih beberapa menit menatap laptop, pikirannya sudah teralihkan lagi. Selain masih kesal dengan kedatangan Helen, Leonard juga masih terbayang akan pertemuannya dengan Lunaria di restoran tadi.
Leonard yakin dia tidak cemburu. Hanya saja ada perasaan mengganjal di hatinya melihat sang istri menemui dan bermesraan dengan pria lain. Leonard tahu seharusnya ia menerima kenyataan karena atas alasan tersebut ia mengajak Lunaria menikah sehingga wanita itu mau menerimanya.
Berusaha menghalau pikiran tentang Lunaria, Leonard menyesap kopinya perlahan. Aroma kopi selalu mampu membuatnya merasa lebih baik. Setelah konsentrasinya kembali, Leonard pun mulai fokus dengan pekerjaannya lagi hingga tak terasa hari sudah hampir gelap dan ia memutuskan untuk pulang.
Setibanya di apartemen, Leonard mendapati Lunaria baru saja keluar dari kamar dan sudah berganti baju. Tak melihatnya, wanita itu berjalan ke dapur. Leonard pun melangkah pelan menuju dapur, namun tak bersuara. Ia kemudian berdehem sehingga membuat Lunaria menoleh.
"Oh, kamu sudah pulang?"
"Tentu saja," sahut Leonard. "Kalau tidak, mana mungkin aku berada di sini."
Lunaria berusaha tak menanggapi ucapan Leonard, karena ia sedang tak ingin berdebat.
"Aku baru saja ingin memasak untukmu. Duduklah. Aku akan masak sebentar," ujar Lunaria sambil menyiapkan bahan masakan.
Leonard menurut. Ia menarik sebuah kursi makan dan duduk di atasnya. Tatapannya fokus pada Lunaria yang sedang memotong sayuran di hadapannya. Rambut wanita itu digelung secara asal sehingga anak rambut menjuntai di pelipis dan lehernya. Tanpa sadar Leonard memandangi wajah strinya itu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Lunaria tiba-tiba.
"Bukan apa-apa," sahut Leonard.
Lunaria mencibir sambil melanjutkan kegiatannya memotong sayuran. Keheningan meliputi mereka sesaat. Leonard tetap sabar menunggu Lunaria selesai memasak meski perutnya sudah lapar. Sebenarnya ia hampir singgah di sebuah restoran tadi, namun bayangan masakan Lunaria lebih menggodanya.
"Jadi itu pacarmu yang bernama Pedro?" Leonard kembali memulai obrolan..
Menoleh ke arah suaminya sebentar, Lunaria kemudian mengangguk.
"Kenapa dia terlihat tua?"
"Enak saja kamu bilang dia tua!" hardik Lunaria. "Usia Pedro hanya beberapa tahun di atasku. Karena sikapnya dewasa, makanya wajahnya juga terlihat dewasa."
Leonard mengedikkan bahu.
"Pedro itu sikapnya dewasa, tidak seperti kamu yang kekanak-kanakan!" sungut Leonard lagi.
"Aku kekanak-kanakan? Hanya kamu yang bilang begitu. Kamu pikir kamu tidak kekanak-kanakan?" balas Leonard.
Lunaria mengedikkan bahu, lalu mulai memasukkan potongan sayuran ke dalam penggorengan. Selanjutnya ia menggoreng ayam. Tak lama kemudian ia telah menyajikan masakannya ke atas meja. Ayam goreng tepung dan capcay sayuran. Meski menu sederhana, Lunaria tahu bagaimana cara menciptakan rasa yang istimewa.
"Makanlah," ucap Lunaria seraya duduk di seberang suaminya, tak ingin memperpanjang perdebatan mereka tadi.
Harum aroma masakan menusuk hidung Leonard. Perutnya semakin terasa lapar melihat makanan yang menggugah selera. Leonard baru saja ingin menikmati hidangan ketika ponselnya bergetar. Keningnya berkerut melihat nama Abdi, sopir papanya, menelepon. Ia pun segera mengangkatnya.
Lunaria memperhatikan wajah suaminya yang sangat serius saat berbicara di telepon. Seperti ada sesuatu yang buruk terjadi. Ia sangat penasaran namun tak berani bertanya sebelum Leonard mengakhiri panggilan. Begitu menutup telepon, Leonard langsung bangkit dari duduknya dan beranjak.
"Leonard, kamu kamu mau ke mana?" sergah Lunaria.
"Ayahku masuk rumah sakit." Leonard menoleh sebentar, lantas melanjutkan langkahnya.
"Aku ikut, Leonard!" seru Lunaria.
Dengan langkah tergesa, ia mengambil jaketnya di kamar. Lalu berlari mengejar langkah Leonard yang panjang. Menggunakan lift, mereka menuju ke basement. Leonard segera melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling berdiam diri. Lunaria sama sekali tak berani bertanya apa pun.
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruang IGD. Namun ternyata Handoyo telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter mengatakan tak ada hal serius yang terjadi. Handoyo hanya kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Sehingga membutuhkan bed rest selama seminggu atau lebih.
Walaupun Leonard merasa lega bahwa tak ada hal serius yang terjadi, tetap saja Leonard merasa khawatir dengan keadaan ayahnya. Leonard mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai ke ruangan tempat Handoyo dirawat. Lunaria masih mengikuti langkah suaminya meski pria itu sejak tadi tak melihat ke arahnya.
"Ayah ...." Leonard berkata sendu melihat ayahnya terbaring lemah di atas hospital bed.
Melihat kedatangan Leonard dan Lunaria, Abdi menyerahkan dua buah kursi untuk pasangan suami istri tersebut. Leonard duduk di sisi ayahnya, lalu Lunaria duduk di sampingnya. Lunaria menyapa Handoyo yang dibalas senyuman oleh mertuanya itu. Ia merasa tak enak hati berkunjung tanpa membawa buah tangan karena mereka terburu-buru tadi.
"Seharusnya kalian beristirahat saja di rumah. Ayah tidak apa-apa," ujar Handoyo.
Leonard berdecak. "Sudah terbaring begini, Ayah masih bilang tidak apa-apa."
Handoyo tersenyum melihat kekhawatiran Leonard. Meski sudah dewasa dan menikah, perhatian Leonard terhadapnya tidak pernah berubah. Sebenarnya ia senang dengan kunjungan anak dan menantunya. Namun sungguh ia tak ingin membuat khawatir, apalagi merepotkan mereka.
"Kata dokter ayah kelelahan. Pasti ayah terlalu sibuk bekerja sampai tidak ingat untuk menjaga kesehatan." Leonard menghela napas.
"Banyak proyek yang harus diselesaikan. Kesibukan tidak dapat dihindari. Meskipun akhirnya kini justru ayah malah harus terbaring di rumah sakit untuk seminggu ke depan." Handoyo menatap langit-langit.
"Kalau ayah sudah keluar dari rumah sakit nanti, Ayah tidak boleh terlalu lelah lagi dan harus mengurangi kesibukan." Leonard memperingatkan.
"Baiklah," sahut Handoyo. "Tapi mungkin seminggu ini ayah akan meminta bantuanmu untuk mengawasi perusahaan ayah. Kalau kamu bisa, sepulang kerja tolong sempatkan ke kantor ayah untuk mengecek. Maaf merepotkanmu, Leo."
"Ayah tenang saja. Aku akan mengatasinya. Hal terpenting adalah Ayah harus segera sembuh dan kembali sehat," tutur Leonard.
Handoyo mengangguk dan tersenyum lagi.
"Ayah sudah tua, Leo. Kalau ayah sudah tiada nanti, kamu akan menggantikan ayah dan perusahaan ayah itu menjadi tanggung jawabmu." Kembali mata Handoyo menerawang melihat langit-langit.
"Jangan mengatakan hal seperti itu, Ayah." Leonard menatap ayahnya sendu. "Aku tidak mau Ayah meninggalkan aku seorang diri."
"Kenapa kamu berkata begitu, Leo?" Handoyo mengernyit. "Kamu kan sudah punya Lunaria sekarang."
Leonard tak menjawab. Seandainya ayahnya tahu bahwa ia dan Lunaria menikah tanpa cinta dan wanita itu ingin bercerai nanti, pasti Handoyo akan merasa sedih. Handoyo dan istrinya dipisahkan oleh maut, maka tentunya ia ingin Leonard dan Lunaria juga begitu. Setia sampai waktu memisahkan. Secercah lara muncul di hati Leonard karena tampaknya ia tak bisa memenuhi keinginan ayahnya.
***