Lunaria memandangi suaminya. Ia heran melihat Leonard yang ternyata begitu melankolis, sangat perhatian dan takut kehilangan ayahnya. Di balik sikapnya yang kadang menyebalkan, ternyata pria itu berhati lembut. Sungguh tak tega Lunaria melihat kesedihan Leonard, apalagi suaminya itu tadi belum sempat makan malam.
Tampak jelas kekhawatiran di wajah Leonard. Tanpa sadar Lunaria mengelus pelan bahu Leonard untuk menenangkan. Sentuhan itu membuat Leonard menoleh. Mereka beradu tatap sesaat, namun kemudian Leonard mengalihkan pandangannya lagi. Lunaria pun segera menurunkan tangannya.
Semua mata menoleh ketika pintu terbuka. David dan Andini datang menjenguk setelah tadi Lunaria mengabari mereka lewat pesan. Lunaria heran kenapa orang tuanya itu tetap bisa pergi bersama padahal sudah berpisah. Dengan wajah khawatir, David dan Andini menghampiri besan mereka yang terbaring lemah dan terlihat pucat.
"Handoyo, kami sangat terkejut mendengar kau masuk rumah sakit secara tiba-tiba," ujar David disertai anggukan Andini.
"Saya baik-baik saja," jawab Handoyo tersenyum.
"Bagaimana kau bisa bilang baik-baik saja dalam kondisi begini?" David geleng-geleng kepala. "Apa diagnosis dari dokter?"
"Kata dokter tidak ada yang serius, Pa. Ayah hanya kelelahan dan perlu bed rest," jelas Leonard.
David menghela napas lega. "Syukurlah kalau memang tidak ada yang serius. Kau harus istirahat yang banyak, Besan."
Handoyo tertawa. "Baiklah. Tapi siapa yang mengabari kalian bahwa saya sakit?"
"Lunaria tentu saja," sahut Andini.
"Luna, seharusnya tidak perlu kamu kabari orang tuamu karena jadi merepotkan mereka datang kemari," ujar Handoyo.
"Sama sekali tidak merepotkan. Kita adalah keluarga karena kau besan kami." Andini lalu beralih pada Lunaria dan menyerahkan satu kantung plastik besar berisi buah-buahan.
Lunaria menerima buah tangan itu dan meletakkannya ke atas meja di samping hospital bed. David dan Andini hanya bercengkerama sebentar dengan Handoyo sebelum mereka berpamitan pulang. Mereka tahu tak boleh terlalu banyak tamu di rumah sakit agar pasien bisa beristirahat dengan nyaman.
Tanpa diminta, Lunaria mengupas dan memotong buah apel lalu menyerahkannya pada Handoyo. Mertuanya itu tersenyum. Handoyo merasa terharu akan perhatian dari menantunya. Dengan begitu, ia tak perlu merasa khawatir jika suatu saat nanti ia tiada, maka Leonard sudah memiliki istri yang baik dan perhatian seperti Lunaria.
Tak lama Handoyo tertidur dengan Leonard yang masih berjaga di sisinya. Lunaria memutuskan untuk turun sebentar ingin membeli camilan ke supermarket dan juga seporsi makanan untuk Leonard. Ia yakin Leonard tak akan mau kalau disuruh pergi makan malam karena masih begitu khawatir akan Handoyo.
Sekembalinya dari membeli makanan, Lunaria mendapati Leonard duduk bersandar di sofa sudut ruangan. Ia menghampiri suaminya itu dan duduk tepat di sampingnya.
"Makanlah ini." Lunaria menyodorkan seporsi rice bowl yang tadi dibelinya.
"Aku tidak berselera makan," sahut Leonard.
"Tapi kamu harus tetap makan, jangan sampai jatuh sakit juga. Kamu belum sempat makan malam tadi di rumah. Makanlah sedikit." Lunaria berusaha membujuk.
Leonard menoleh. "Kenapa kamu peduli padaku?"
Lunaria menghela napas. "Tentu saja aku peduli. Ayahmu sakit dan kamu bersedih karenanya. Kamu juga harus mengurusi banyak pekerjaan. Maka kamu harus menjaga kesehatanmu. Makanlah."
Tak menjawab, Leonard mengambil rice bowl dari tangan Lunaria dan mulai memakannya. Lunaria tersenyum melihat suaminya akhirnya mau makan. Ia kembali memotong dan mengupas buah apel. Kali ini untuk Leonard. Kening Leonard berkerut melihat perhatian Lunaria padanya. Tak ayal, hatinya menghangat sesaat.
Namun segera Leonard tersadar bahwa perhatian Lunaria itu tak lebih karena rasa kemanusiaan atau mungkin karena di depan ayahnya, bukan karena menganggapnya sebagai suami. Meski begitu, ia tak mempermasalahkannya. Paling tidak, ia mengerti bahwa Lunaria adalah wanita yang baik meski galak dan sering marah padanya.
"Kamu akan menginap di sini?" tanya Lunaria setelah Leonard selesai makan.
Leonard mengangguk.
Lunaria mengernyit. "Bukankah besok kamu akan kerja?"
"Ya, besok pagi aku akan berangkat dari sini. Pak Abdi akan mengambil pakaian kerjaku nanti," jawab Leonard lalu menatap istrinya. "Kamu pulanglah sekarang, sudah malam. Pak Abdi akan mengantarmu."
Terdiam sejenak, Lunaria kemudian mengangguk. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Leonard menunggui ayahnya sendiri. Namun ia mengerti perasaan Leonard, maka ia pun tak membantah perkataan suaminya itu. Diantar oleh Abdi, Lunaria kembali ke apartemen.
Setibanya di apartemen, Lunaria menyiapkan beberapa lembar pakaian Leonard dari dalam lemari di kamar suaminya itu. Setelah memasukkannya ke dalam tas kecil, ia menyerahkannya pada Abdi yang kemudian kembali ke rumah sakit. Sepeninggalan Abdi, Lunaria masuk ke kamar. Ia harus segera beristirahat karena besok pagi ia harus kerja.
Meski sudah membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri, Lunaria belum dapat memejamkan mata. Ia memikirkan Leonard, khawatir suaminya itu tak bisa tidur nyenyak di rumah sakit. Juga memikirkan mertuanya, berharap kondisinya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Setelah lewat tengah malam, akhirnya Luna terlelap.
Esoknya Lunaria bekerja seperti biasa. Seharian itu ia sibuk di hotel karena sedang banyak tamu. Di sela jam makan siang, Lunaria menelepon Leonard. Mengingatkan suaminya itu untuk makan. Meskipun Leonard hanya menjawab telepon dengan singkat, ia tak mempermasalahkannya. Hal terpenting adalah Leonard menuruti pesannya untuk menjaga kesehatan.
***
Tiga hari sudah Leonard tidak pulang ke apartemen. Sehabis dari kantornya, Leonard pergi ke kantor Handoyo untuk mengecek pekerjaan yang diamanatkan padanya, baru ia menuju ke rumah sakit untuk menemani ayahnya. Tentu saja Leonard merasa letih, namun ia tak mengeluh karena menjaga ayahnya adalah keinginannya sendiri.
Sementara itu, di apartemen Lunaria seorang diri menatap hampa ke arah televisi. Beberapa malam tanpa Leonard ternyata sepi juga. Biasanya ada saja ulah suaminya itu untuk membuatnya marah. Apakah ia merindukan Leonard? Lunaria menggeleng. Tak mungkin ia merindukan pria menyebalkan itu.
Lamunan Lunaria terhenti begitu mendengar suara langkah kaki. Ia menoleh dan mendapati Leonard sedang melepas sepatu lalu berjalan ke arahnya. Meski menyangkal rasa rindunya, tanpa sadar Lunaria tersenyum melihat kehadiran Leonard.
"Kamu pulang ke sini malam ini?" tanya Lunaria.
Leonard mengangguk. "Ayah memaksaku pulang agar beristirahat di rumah," jawab Leonard sambil duduk di samping istrinya.
"Ya, kamu juga perlu beristirahat dengan nyaman." Lunaria menghela napas. "Bagaimana keadaan ayah?"
"Semakin membaik."
"Syukurlah." Lunaria kembali tersenyum. "Kamu sudah makan malam?"
Leonard menggeleng sambil menatap istrinya. Sejujurnya ia senang dengan perhatian Lunaria namun tubuhnya terasa amat lelah untuk bersikap ramah pada wanita itu. Dalam hati ia merasa penasaran, apakah Lunaria akan tetap bersikap begitu nanti setelah ayahnya sembuh?
"Kalau begitu tunggulah di sini. Akan kuhangatkan masakan sebentar," ujar Lunaria.
Tanpa menjawab, Leonard menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Lunaria memandangi suaminya sejenak, merasa tak tega. Bisa ia bayangkan betapa lelahnya Leonard beberapa hari ini. Setelah seharian bekerja, Leonard harus singgah ke kantor ayahnya, lalu bermalam di rumah sakit.
Menghentikan lamunannya, Lunaria segera bangkit dan beranjak ke dapur untuk menghangatkan makanan. Setelah semuanya dihidangkan ke atas meja makan, ia memanggil Leonard. Menggeliat sebentar, Leonard kemudian melangkah menuju dapur dan duduk di seberang Lunaria.
"Besok kamu akan ke rumah sakit lagi?" tanya Lunaria.
"Tentu saja. Besok aku akan berangkat pagi ke sana."
"Aku ikut. Besok aku libur."
Leonard menatap istrinya sejenak, kemudian mengunyah makanannya lagi. "Kamu tidak ada kencan dengan Pedro?"
Lunaria berdehem. "Tidak. Kami tidak selalu bertemu tiap akhir pekan. Kalaupun aku ada janji dengannya, aku akan membatalkannya karena aku ingin menjenguk ayah."
"Tidak perlu memaksakan diri. Silakan kamu lakukan kegiatanmu. Jangan merasa terbebani untuk mengunjungi ayahku." Leonard berkata tanpa menoleh.
"Aku tidak merasa terbebani. Tentu saja aku juga merasa khawatir pada ayah. Meskipun kita menikah tanpa cinta, ayah tetaplah ayah mertuaku. Aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi papa," ujar Lunaria.
Leonard mengernyit. "Benarkah kamu berpikir begitu?"
"Tentu saja. Kamu pikir aku tidak punya hati?" Lunaria menyilangkan lengan.
"Aku tidak bilang begitu. Kenapa kamu marah-marah?" Leonard menyudahi makannya, lalu meneguk segelas air putih.
Lalu berterima kasih untuk makan malam yang telah disiapkan oleh Lunaria, lalu beranjak ke kamarnya. Lunaria mengembuskan napas kesal. Ternyata Leonard masih tetap menyebalkan. Apakah pria itu tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusan hatinya beberapa hari ini?
Namun tentu saja Lunaria tak ingin mendebat Leonard malam itu. Ia pun berjalan ke kamarnya untuk beristirahat. Karena belum bisa tidur, Lunaria bermain media sosial sebentar. Saat matanya mulai mengantuk, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Pedro. Ia segera mengangkatnya.
"Halo, Sayang. Besok kamu libur?" Suara Pedro terdengar di ujung sana.
"Ya, aku libur. Ada apa, Pedro?"
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, Luna. Aku merindukanmu," goda Pedro.
"Maaf, Pedro. Aku tidak bisa. Mertuaku sedang sakit, aku harus menjenguknya ke rumah sakit." Lunaria memilih untuk berkata jujur.
Pedro terdiam sesaat sebelum bertanya. "Ini bukan karena kamu ingin menghindariku, kan?"
Lunaria menghela napas. "Tentu saja tidak, Pedro. Kenapa kamu punya pikiran seperti itu? Ayah mertuaku benar-benar sedang sakit. Besok libur, maka aku harus mengunjunginya."
"Baiklah, aku memercayaimu. Lalu, kapan kita bisa bertemu?"
"Aku belum tahu. Nanti aku meneleponmu lagi kalau kita bisa bertemu," jawab Lunaria.
Setelah menutup telepon, Lunaria segera merebahkan diri. Matanya sudah mengantuk, maka tak perlu waktu lama ia pun terlelap. Esok paginya, Lunaria telah sibuk di dapur. Sambil menunggu Leonard bangun, ia ingin membuatkan bubur dan sup untuk mertuanya. Bubur dan sup selalu menjadi andalan Lunaria saat sedang sakit.
Tak lama, Leonard bangun. Usai sarapan dan bersiap-siap sebentar, mereka bergegas berangkat ke rumah sakit dengan mobil Leonard. Setibanya di ruang tempat Handoyo dirawat, tengah ada dokter yang berkunjung. Leonard pun langsung menanyakan keadaan ayahnya. Ia merasa lega mendengar perkataan dokter bahwa Handoyo telah pulih dan esok sudah bisa pulang.
Lunaria turut merasa gembira, kemudian menelepon papanya untuk mengabarkan hal tersebut. David menyuruh Lunaria untuk mengambil libur selama sehari lagi agar bisa ikut mengantar Handoyo pulang. Karena di The Bright Moon Hotel sedang tidak ada event untuk dua hari ke depan, maka Lunaria menyetujui titah papanya.
"Terima kasih, Luna. Kamu sudah memasak bubur dan sup yang lezat untuk ayah," ucap Handoyo usai menghabiskan masakan yang dibawa oleh Lunaria tadi.
Lunaria mengangguk tersenyum.
"Beruntungnya ayah punya menantu seorang chef. Leo pasti bahagia bisa menikmati masakanmu tiap hari," puji Handoyo lagi.
Entah kenapa hati Lunaria menghangat mendengar pujian dari mertuanya. Padahal ia hanya memasak bubur dan sup ayam biasa, namun Handoyo sangat menghargainya. Lunaria masih tersenyum, kemudian menoleh pada Leonard yang ternyata juga sedang menatapnya. Bersitatap sejenak, mereka lalu saling membuang pandangan.
***