Siang itu ayah mertuaku sudah boleh keluar dari rumah sakit. Aku ikut mengantar ke kediaman keluarga Tanadi bersama Leonard. Setibanya di rumah megah itu, Leonard langsung memapah ayahnya ke kamar untuk beristirahat, karena dokter menyarankan untuk tetap bed rest selama beberapa hari meskipun sudah boleh pulang ke rumah.
Malam beranjak. Aku dan Leonard menikmati makan malam yang telah dihidangkan oleh para pelayan. Entah berapa jumlah asisten rumah tangga di rumah keluarga Leonard. Tapi yang jelas untuk urusan apa pun dalam rumah, para pelayan itu selalu siap sedia. Bahkan jika aku hanya ingin minum pun, mereka akan mengambilkannya.
"Asisten rumah tangga di rumahmu banyak sekali, Leonard," ucapku setengah berbisik usai makan.
"Rumah ini cukup besar, tentu saja membutuhkan banyak tenaga untuk mengurusnya," jawab Leonard kemudian meneguk minumannya.
"Tapi kamu tidak tinggal di sini. Ayahmu biasanya juga selalu sibuk bekerja. Anggota keluarga sangat jarang berada di rumah ini, apakah memang membutuhkan asisten rumah tangga sebanyak itu?" tanyaku penasaran.
Leonard mengangguk. "Ya. Kami memang memerlukan mereka untuk mengurus rumah ini dengan baik."
Mendengar jawaban Leonard, aku pun tak bertanya lagi. Mungkin memang begitulah orang kaya. Aku mengedikkan bahu. Leonard ke kamar ayahnya sebentar untuk melihat keadaan mertuaku itu, lalu ia mengajakku beristirahat ke kamarnya. Tentu saja mau tak mau kami harus tidur sekamar malam ini.
Ini pertama kalinya aku memasuki kamar Leonard di kediaman Tanadi. Malam pertama setelah pernikahan kemarin, kami menginap di hotel. Sepulangnya dari hotel, kami langsung ke apartemen Leonard. Untungnya mertuaku bukan tipe cerewet yang mengharuskan menantunya menetap di rumah keluarga laki-laki usai pernikahan.
Kamar Leonard cukup luas, mungkin lebih luas daripada ukuran kamarnya di apartemen. Aku tak terlalu yakin karena aku pun belum pernah memasuki kamarnya di sana. Tapi yang jelas kamar ini terbilang mewah, apalagi ada ruang khusus wardrobe yang cukup besar dengan lemari dan laci-laci kaca di dalamnya.
"Di sini hanya ada satu ranjang. Bagaimana kita tidurnya, Leonard?" Aku mengedarkan pandangan.
"Kamu tidur saja di ranjang. Biar aku tidur di sofa." Leonard menunjuk sebuah sofa berukuran besar di sudut kamar.
"Benar tidak apa-apa kamu tidur di sofa?" tanyaku ragu. "Bagaimana kalau kamu tidur di ranjang dan aku yang di sofa?"
"Kamu wanita. Mana mungkin kubiarkan tidur di sofa. Sudah, tidurlah di ranjang," titah Leonard. "Aku mau mandi dulu."
Akhirnya aku mengangguk dan beranjak ke ranjang, sedangkan Leonard berjalan menuju kamar mandi. Perlahan aku merebahkan diri di atas ranjang yang berukuran sangat lebar. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Kembali aku bangkit dari ranjang dan bergegas membukakan pintu.
"Non, ini kopi pesanan Den Leo, tadi minta diantarkan ke kamar." Seorang pelayan muncul dari balik pintu dan menyerahkan secangkir kopi padaku sambil tersenyum.
Setelah mengucapkan terima kasih dan menutup pintu, aku meletakkan cangkir kopi ke atas nakas. Belum merasa mengantuk, aku melangkah ke salah satu sudut kamar yang terpajang foto-foto Leonard sejak ia masih kecil. Semua foto menggunakan figura minimalis yang elegan.
Ada satu foto di mana Leonard bersama ayah dan ibunya saat masih muda. Mendiang ibunya cantik sekali, pantas saja Leonard sangat tampan. Aku memandangi wajah Leonard saat masih kecil, sungguh menggemaskan. Sepertinya dia memang tampan sejak lahir. Tanpa sadar aku tersenyum.
"Sedang apa kamu tersenyum sendiri?" Suara Leonard mengagetkanku.
"Ah, tidak. Hanya melihat foto-fotomu semasa kecil," sahutku sambil memperhatikan Leonard yang sudah berganti baju.
Padahal aku berharap ia keluar kamar mandi masih mengenakan handuk. Aku menggeleng untuk menghilangkan pikiran konyol yang melintas di kepalaku. Bisa-bisanya aku berpikir begitu. Padahal aku sudah berjanji pada Pedro agar selalu mengingatnya. Tidak seharusnya aku memikirkan tubuh indah Leonard.
"Kamu tidak ganti baju, Lunaria?" Leonard memandangiku.
.
Aku menggeleng. "Tidak bawa baju. Kemarin kan tidak berencana menginap. Aku hanya membawa dalaman."
"Berarti bajumu itu sudah dua hari. Ganti dengan bajuku sana. Banyak kaus di salah satu laci lemari. Kamu pilih saja," ujar Leonard.
"Ya, sudah," jawabku pasrah lalu menunjuk nakas. "Oh, ya. Itu kopimu sudah diantarkan."
Leonard mengangguk dan beranjak. Mau tak mau kuseret langkahku menuju ruang wardrobe dan memilih salah satu laci berisi tumpukan kaus yang tersusun rapi. Kupilih salah satu dan memakainya. Kaus Leonard cukup besar sehingga panjangnya hampir ke lutut saat kukenakan.
Memakai baju milik Leonard? Tak pernah terpikir sebelumnya. Karena keadaan, aku terpaksa memakainya. Kalau aku minta, Leonard bisa saja menyuruh salah satu pelayanannya untuk membelikan baju. Tapi aku tak mau merepotkan mereka. Aku menghela napas sambil keluar dari ruang wardrobe.
"Leonard?" panggilku ketika tak menemukannya di dalam kamar.
"Aku di sini," sahutnya.
Aku mencari sumber suara sambil melangkah. Ternyata ia sedang berada di balkon sambil menyesap kopi. Aku pun duduk di sampingnya. Ia memandangiku sejenak yang memakai bajunya. Entah kenapa aku jadi salah tingkah sehingga aku membenarkan sedikit dudukku.
"Kenapa kamu belum tidur?" Aku membuka obrolan untuk mencairkan suasana.
"Belum bisa tidur."
"Apa kamu merasa terganggu karena aku ada di kamarmu?"
Leonard menggeleng. "Bukan karena itu."
.
"Lalu?"
Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku rindu mendiang ibuku."
Aku tak menjawab, hanya memandangi raut wajahnya yang terlihat sendu. Tak hanya ayahnya, ternyata ia juga sangat sayang pada ibunya. Jarang sekali pria dewasa seperti itu. Aku saja yang seorang wanita bisa dibilang sangat cuek pada kedua orang tuaku, apalagi sejak mereka bercerai.
"Saat masih hidup, ibuku selalu menjadi penerang dalam keluarga. Ayahku sangat mencintai ibuku. Hingga ibu tiada, ayah juga tidak berniat menikah lagi," lanjut Leonard dengan mata menerawang.
"Sepertinya keluargamu sangat harmonis," komentarku. "Tidak seperti orang tuaku yang sudah bercerai sejak aku masih remaja."
Leonard menatapku. "Maafkan aku, Lunaria. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan perceraian orang tuamu."
"Ya, aku tahu. Aku hanya teringat akan mereka saja karena kamu berbicara tentang orang tuamu," ujarku tersenyum getir.
"Paling tidak mereka terlihat akur di depanmu walaupun sudah bercerai." Leonard terdengar seperti menghiburku.
Aku menghela napas. "Benar, aku mensyukuri hal itu meski aku sering kesepian dan merasa sedih sejak mereka bercerai dulu. Beberapa tahun lalu, aku bertemu dengan Pedro yang menawarkan cinta. Karena aku sedang butuh kasih sayang, aku menerimanya jadi pacarku."
Leonard kembali menatapku. "Apa kamu mencintai Pedro, Lunaria?"
Pertanyaan Leonard membuatku menoleh. "Aku tidak tahu."
Kami lalu saling membuang pandangan dan terhanyut dalam keheningan lagi, memandangi langit di atas sana yang bertabur bintang. Di sekitar rumah Leonard juga terdapat banyak pepohonan, sehingga menambah asri pemandangan. Malam itu terasa menenangkan bagiku.
"Leonard, nanti kamu tidur di ranjang saja, ya. Aku tidak tega kalau kamu tidur di sofa karena ini kamarmu. Lagi pula, kita kan sudah pernah tidur seranjang saat malam pernikahan kita di hotel," ujarku.
Tanpa menunggu jawabannya, aku beranjak masuk dan merebahkan diri di atas ranjang karena mataku sudah mengantuk. Kulihat Leonard tak menyusul masuk. Mungkin dia belum mengantuk. Aku berusaha tak memedulikannya. Tak lama memejamkan mata, aku pun terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur. Begitu terbangun, tak kudapati Leonard di ranjang. Aku menoleh dan melihatnya terbaring pulas di atas sofa. Kenapa dia masih tidur di sana? Padahal sudah kubilang untuk tidur di ranjang saja. Dasar keras kepala. Aku pun beranjak bangkit dan melangkah mendekatinya.
"Leonard, bangun," panggilku.
Ia bergeming. Aku mengguncang bahunya agar dia terbangun.
"Ada apa?" tanyanya kemudian dengan mata memicing.
"Kenapa kamu tidur di sofa? Kan sudah kubilang tidur di ranjang saja." Aku menyilangkan lengan.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku di sini saja." Leonard kembali memejakan mata.
Karena merasa kesal, aku menariknya. "Leonard, bangun! Pindah ke ranjang."
Leonard berdecak. "Kenapa kamu selalu mengganggu tidurku di mana-mana? Di sini, di apartemen juga."
"Makanya kamu pindah ke ranjang sana. Sudah kubatasi dengan bantal."
"Sudah kubilang aku di sini saja."
"Tidak bisa!" Aku menarik lengannya. "Ayo, cepat pindah!"
"Apa kamu sangat ingin tidur denganku, Lunaria?" tuduh Leonard.
"B-bukan begitu," jawabku tergagap. "Hanya saja ini kamarmu. Aku merasa tidak enak kalau kamu tidur di sofa!"
Leonard sudah akan membuka mulutnya lagi untuk berbicara, namun aku mendorong tubuhnya untuk melangkah ke ranjang. Ia pun akhirnya menurut dan berbaring di atas ranjang. Aku lalu merebahkan diri di sampingnya. Tentu saja sebuah bantal besar telah kujadikan pemisah di antara kami.
Kulihat Leonard tidur membelakangiku dan ia tak memakai selimut. Maka kuselimuti ia dengan selimut yang juga sedang kugunakan. Selimut ini sangat lebar dan bisa digunakan berdua, sehingga tak membuatku khawatir bahwa kami akan tidur menempel karenanya.
Mataku masih terasa segar karena tadi aku sudah terbangun. Setelah membalik-balikkan badan ke kanan dan ke kiri, akhirnya aku tertidur kembali. Kurasa aku tidur sangat nyenyak sehingga—antara mimpi atau tidak—aku menyingkirkan bantal pemisah dan menggeser tubuhku ke tengah.
Tiba-tiba aku merasa memeluk tubuh seseorang. Aku merasa ada yang aneh. Namun karena merasa nyaman, aku tetap memeluk orang tersebut. Tubuhnya yang kekar membuatku merasa semakin nyaman, sehingga aku mengeratkan pelukan. Entah berapa lama aku tertidur dalam posisi itu sampai kemudian seorang yang lain datang menghampiri.
***