David dan Andini tersentak mendengar protes dari Lunaria yang tak ingin dijodohkan. Sebenarnya mereka bukan bermaksud menjodohkan, mereka hanya tak ingin anak mereka terus berhubungan dengan Pedro. Mengetahui sifat Lunaria yang keras hati, Andini bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati anak gadisnya itu.
Lunaria menatap Andini curiga. Ia tahu bahwa mamanya pintar membujuk.
"Duduklah dulu, Sayang. Kami tidak akan menjodohkanmu." Andini tersenyum menggenggam tangan putrinya.
Lunaria menurut. Ia mengikuti langkah Andini, kemudian duduk di sofa.
David berdehem. "Benar, Luna. Kami tidak akan menjodohkanmu."
"Lalu kenapa Papa tadi bilang begitu saat meneleponku?" cecar Lunaria.
"Itu karena papa tidak mau kamu berhubungan dengan Pedro lagi," sahut David.
Lunaria berdecak. "Apakah Mama dan Papa masih berpikir bahwa Pedro adalah pria tak berguna dan tak memiliki masa depan?"
"Selain itu, dia juga memanfaatkanmu untuk menjadi mesin uangnya." David menyilangkan lengan.
"Itu tidak benar, Pa! Tuduhan Papa sangat kejam. Pedro tidak seperti itu. Aku memang sering memberinya uang, tapi itu atas kemauanku sendiri. Pedro tidak pernah meminta," jelas Lunaria frustrasi.
Davidi sudah akan membuka mulutnya, namun mengatupkannya lagi saat Andini menahannya untuk bicara. David pun menuruti mantan istrinya itu.
"Begini, Sayang." Andini berkata lembut pada Lunaria. "Mama dan papa hanya mengkhawatirkan kehidupanmu di masa depan. Pedro itu tidak berpenghasilan. Selama ini kamu sering memberinya uang untuk biaya hidupnya, bukan? Tentu saja akan bermasalah jika dia terus begitu, apalagi kalau kalian sampai menikah nanti."
"Kenapa harus jadi masalah kalau aku sanggup membiayai hidup kami. Bukankah Mama juga dulu memiliki karir yang lebih bagus daripada Papa?" sindir Lunaria.
Andini menelan saliva mendengar perkataan anaknya. "Luna Sayang, kamu tidak usah mengungkit masa lalu. Lagi pula dulu papamu sudah punya penghasilan tetap meskipun karir mama lebih bagus."
"Karena hal itulah mama dan papa bercerai," sahut David. "Karena mama kamu menganggap papa berpenghasilan lebih rendah darinya. Kamu tentu tidak mau itu terjadi padamu juga, bukan?"
Sebenarnya Andini merasa kesal dengan sindiran mantan suaminya itu, tetapi ia sedang tak ingin berdebat. Apalagi saat ini mereka harus kompak untuk menghalangi hubungan Lunaria dan Pedro. Sedangkan Lunaria terdiam sesaat. Ia merasa ucapan David dan Andini ada benarnya. Namun ia masih tak mau menerima karena ia masih menyayangi Pedro.
"Kurasa aku bisa menerima Pedro," sahut Lunaria tak yakin.
David menghela napas melihat Lunaria yang keras kepala. Ia yakin sifat keras kepala Lunaria itu menurun dari Andini.
"Bagaimanapun papa dan mama tidak akan merestui hubunganmu dengan Pedro," tegas David. "Dan malam ini kamu ikut papa makan malam ke rumah salah seorang kolega bisnis papa. Papa akan mengenalkan kamu dengan anaknya."
"Aku tidak mau, Pa." Luna menyilangkan lengan.
"Luna, sebaiknya kamu ikut saja. Papa dan mama tidak bermaksud menjodohkanmu, hanya ingin mengenalkan kamu dengan anak teman papa saja. Mana tahu cocok. Kami tidak akan memaksamu, Sayang." Andini berusaha membujuk putrinya.
Lunaria tak menyahut.
"Kamu bilang sama mama kalau papa membicarakan perjodohan di sana, mama akan memarahi papamu nanti," imbuh Andini lagi.
Akhirnya Lunaria mengangguk, tak ingin berdebat lagi. Sore itu Andini membantu memilihkan dress untuk Lunaria dan merias sedikit wajah anak gadisnya itu. Andini tahu Lunaria sudah dewasa dan bisa berdandan sendiri, tetapi kadang ia masih suka memperlakukan anak semata wayangnya itu seperti seorang gadis kecil.
"Ma, apakah Mama masih mencintai papa?" tanya Lunaria saat Andini menata rambutnya.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Andini terlihat salah tingkah.
"Jawab saja."
"Tidak, Luna. Mama sudah tidak mencintai papa lagi."
"Kalau begitu, kenapa masih sering dekat dengan papa hingga sekarang?" Lunaria menatap wajah mamanya dari pantulan cermin.
"Tentu saja itu karena kamu. Mama dan papa harus tetap baik-baik saja di depanmu meski kami sudah bercerai," kilah Andini.
Lunaria menghela napas. "Kalian tak perlu berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja di depanku. Justru itu terlihat aneh. Aku bukan anak kecil lagi, tentu saja aku sudah mengerti tentang keputusan kalian untuk bercerai."
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi hal itu." Andini berdehem kemudian memegang kedua bahu putrinya. "Lihatlah, betapa cantiknya dirimu, Luna. Padahal mama hanya meriasmu sedikit saja."
Lunaria tersenyum tipis memandang pantulan dirinya di depan cermin. Make-up tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik, serta dress polos selutut yang berpotongan sederhana namun membuatnya terlihat elegan. Lunarian menghela napas sambil mengikuti langkah Andini keluar.
David sudah menunggu di depan rumah sambil memanaskan mobil. Ia tersenyum melihat Lunaria yang akhirnya mau ikut ke acara makan malam di rumah salah seorang kolega bisnisnya. David harus mengakui kepintaran Andini membujuk Lunaria. Itulah pentingnya peran seorang ibu, David menyadarinya.
"Mama tidak ikut dengan kami?" tanya Lunaria.
"Tidak. Kamu dengan papa saja. Mama harus pulang sekarang." Andini mencium kedua pipi putrinya, lalu beralih kepada mantan suaminya. "David, jaga Lunaria dengan baik. Ingat, kamu tidak boleh menjodohkannya."
"Tenang saja. Aku pasti akan menjaga Luna dengan baik karena dia anakku," sahut David.
Tak menyahut lagi, Andini berjalan ke arah mobilnya. Setelah melambaikan tangan pada Lunaria, ia segera melajukan mobil meninggalkan rumah David. Lunaria menoleh pada sang papa yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Mau tak mau ia memasuki mobil dan bersiap untuk perjamuan makan malam yang sudah direncanakan oleh David.
Setengah jam perjalanan, mobil mereka memasuki sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas. Lunaria berasal dari keluarga berada, tetapi dari rumah mewah di hadapannya itu, ia bisa menilai bahwa kolega bisnis papanya adalah orang yang cukup kaya. Lunaria mengikuti langkah David memasuki rumah tersebut.
Seorang pelayan menyambut dan menuntun mereka menuju ruang tamu. Di sana sudah ada seorang pria paruh baya yang menunggu. Setelah saling menyapa, mereka kemudian duduk di sofa. Meskipun tak berminat pada pertemuan malam itu, Lunaria berusaha untuk bersikap sopan.
"Kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu mempunyai putri secantik ini, David?" seloroh Handoyo membuka obrolan.
David tertawa. "Anakku ini sibuk bekerja, sangat sulit membawanya ke acara-acara pertemuan."
"Siapa namamu, Nona?" sapa Handoyo.
"Lunaria, Om," jawab Lunaria tersenyum tipis.
"Kenapa kamu tak menyebut nama belakangmu?" protes David lalu menambahkan, "Namanya Lunaria Winata, putri dari David Winata."
Handoyo tertawa kecil menanggapi. "Ya, sudah. Ayo, kita langsung ke meja makan."
David dan Lunaria mengikuti langkah Handoyo ke ruang makan. Beberapa orang pelayan mempersilakan mereka untuk duduk. Di atas meja makan telah tersaji berbagai hidangan makan malam yang menggugah selera. Setelah mereka bertiga duduk, Handoyo memerintahkan salah seorang pelayan untuk memanggil putranya yang sedang berada di kamar.
Tak lama, terlihat seorang pria muda berpostur tinggi dan tegap menuruni anak tangga. Mata Lunaria membulat melihatnya. Bukan, Lunaria bukan sedang terpesona melihat ketampanan pria itu. Namun ia merasa sangat yakin bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Lunaria benar-benar tak percaya dengan penglihatannya.
Bukankah anak dari kolega bisnis ayahnya ini adalah pria gila yang melamarnya beberapa waktu lalu?
***