6. Special Dinner

1566 Kata
Tak ubahnya Lunaria, Leonard pun merasa heran dengan pertemuan mereka kembali yang tak disengaja malam itu. Jadi, Lunaria adalah anak dari kolega bisnis ayahnya? Kebetulan yang menyenangkan. Leonard mengulum senyum. Namun ia berusaha menjaga wibawanya di depan Lunaria yang tampak masih menyimpan kekesalan terhadapnya. Leonard menyapa David dan Lunaria, lalu duduk bergabung untuk makan malam. Ia mencuri pandang pada Lunaria yang juga masih menatapnya. Wanita itu terlihat cantik seperti saat pertama kali mereka bertemu beberapa waktu lalu. Tak lama kemudian, Lunaria mengalihkan pandangannya dari Leonard dan hanya menunduk menatap meja. "Ini anak saya satu-satunya. Leonard namanya." Handoyo memperkenalkan putranya. "Anakmu tampan sekali. Pasti banyak gadis yang menyukainya. Apalagi saya dengar Leonard ini sudah punya perusahaan sendiri," komentar David kagum. Handoyo tertawa kecil. "Ya, Leo memang sudah mendirikan Leonard Com sejak beberapa tahun lalu." "Leonard Com? Itu perusahaan yang sudah cukup terkenal. Hebat sekali kamu, Leo. Masih muda tapi sudah mempunyai perusahaan besar," puji David lagi. Leonard tersenyum. "Terima kasih, Om. Leonard Com belum menjadi perusahaan besar. Saya masih berusaha mengembangkannya." "Ah, kamu suka merendah seperti ayahmu." Ucapan David disambut tawa oleh Handoyo dan Leonard. Sedangkan Lunaria masih memasang wajah dingin, merasa sebal karena papanya terlibat obrolan hangat dengan Leonard dan Handoyo. Tingkah Leonard yang pura-pura berwibawa juga membuat Lunaria semakin kesal. Padahal menurutnya, Leonard tak lebih dari seorang pria muda kaya yang suka menggoda wanita. "Oh, ya. Lunaria juga punya karir yang bagus, bukan? Saya dengar dia adalah seorang chef di The Bright Moon Hotel. Salah satu hotel terbaik yang selalu ramai pengunjung," ujar Handoyo. "Ya. Putriku memang chef yang hebat." David menatap Lunaria. "Kenapa kamu diam saja sejak tadi Luna? Sama sekali tidak menyapa Leo." "Hei, Leo! Kamu laki-laki. Seharusnya kamu yang menyapa Luna lebih dulu." Handoyo berkata pada anaknya. Leonard berdehem. "Selamat malam, Lunaria. Senang bertemu denganmu malam ini," ucapnya tersenyum. Meski sebal, Luna tetap menjawab sapaan Leonard. "Selamat malam, Leonard," balasnya singkat sambil memaksakan seulas senyum. Handoyo memperhatikan kekakuan di antara Leonard dan Lunaria. Namun kemudian dia menyimpulkan bahwa mereka masih saling merasa canggung karena baru pertama kali bertemu. Ia yakin seiringnya waktu, mereka bisa menjadi akrab. "Kalau begitu, mari kita mulai makan malamnya. Nanti semua hidangan ini akan dingin," ucap Handoyo ingin mencairkan suasana, sekaligus perutnya sudah terasa lapar. Mereka berempat pun mulai menikmati semua masakan yang lezat itu. David, Handoyo, dan Leonard masih mengobrol membicarakan bisnis. Sedangkan Lunaria lebih memilih diam dan fokus menghabiskan makanannya. Sebagai seorang chef, lidahnya sudah terbiasa untuk menilai rasa makanan setiap kali mencicipi makanan baru. Menurut Lunaria, masakan yang disajikan malam itu terasa enak di lidahnya. Keluarga Leonard adalah orang berada, tentu saja mereka bisa memperkerjakan koki untuk menyediakan makanan lezat bagi mereka. Sambil mengunyah, Lunaria melirik pada Leonard. Begitu mereka bersitatap, Lunaria mengalihkan pandangannya lagi. "Leonard ini memang jago berbisnis, tapi dia payah dalam menghadapi urusan asmara." Handoyo berkata pada David. Kening Leonard berkerut mendengar perkataan ayahnya. Kenapa ayahnya mengatakan hal itu? "Dia ini selalu terjebak skandal dengan mantan pacarnya yang seorang model. Pemberitaan tentang mereka kadang masuk acara infotainment dan itu sangat memalukan," lanjut Handoyo lagi. "Ayah, kenapa Ayah harus mengatakan hal itu?" protes Leonard. "Tidak apa-apa," sahut Handoyo. "Ayah rasa semua orang sudah tahu tentang skandalmu dengan Helen." Mendengar itu, Lunaria tertawa kecil sehingga ia tersedak saat meneguk minumannya. Namun ia segera meredakan batuknya dan kembali mengulum senyum karena merasa geli dengan perkataan Handoyo tentang Leonard. Giliran Leonard yang menatap kesal ke arah Lunaria karena wanita itu menertawakannya. "Ah, sudah, tidak usah malu, Leonard. Itu biasa terjadi pada anak muda." David mengibaskan tangannya. "Masalahnya, Helen itu mantan pacar Leonard yang masih belum bisa move on darinya," sahut Handoyo. "Sudahlah, Ayah. Tidak usah membahas hal itu lagi. Itu urusan pribadiku." Leonard menatap ayahnya. Handoyo hanya mengedikkan bahu sambil mengunyah makanannya. Leonard kembali melirik Lunaria. Memang sebelumnya ia telah bercerita tentang skandalnya pada Lunaria. Namun entah kenapa dia merasa malu ayahnya membahas hal itu saat sedang makan malam bersama begini. "Lunaria pun tak berbeda jauh soal hubungan asmara. Dia justru memacari seniman yang menggantungkan keuangan padanya," ujar David. "Papa kenapa membahas hal itu di sini?" tegur Lunaria. "Memang begitu kenyataannya. Pedro adalah pria tanpa masa depan." Leonard menahan tawanya mendengar ucapan David. Lunaria tadi menertawakannya karena skandal. Ternyata wanita itu pun sama bodohnya dalam hubungan asmara. Bagaimana bisa Lunaria memacari lelaki yang menggantungkan hidup pada seorang wanita? Leonard merasa heran akan hal itu. Melihat tawa Leonard, rasa kesal Lunaria yang tadi sudah hilang, jadi muncul lagi. Ia benar-benar malu jika urusan percintaannya dibicarakan pada orang lain. Juga ia tidak suka papanya menjelek-jelekkan Pedro seperti itu. "Kalau Papa masih membicarakan Pedro di sini, maka aku akan pulang sekarang juga dan akan aku adukan Papa pada mama." Lunaria berbisik pada David. David menghela napas dan menjawab pelan. "Baiklah, jangan mengadu pada mamamu." Mereka pun melanjutkan makan malam sambil masih mengobrol ringan. Sampai ketika makam malam telah usai, Handoyo mengajak mereka untuk berbincang-bincang di ruang tengah. Lunaria merasa bosan dengan obrolan para lelaki itu. Hanya masalah bisnis saja yang dibicarakan. Lunaria hanya menimpali obrolan sesekali jika ia ditanya. Selebihnya, ia memilih sibuk dengan ponselnya dan saling mengirim pesan dengan Pedro. Leonard memperhatikan tingkah Lunaria. Sebenarnya ia ingin mengajak Lunaria mengobrol berdua, tetapi ia enggan melakukannya mengingat bagaimana sikap wanita itu padanya beberapa waktu lalu. "Leo, kenapa tidak kamu ajak Luna mengobrol berdua di taman itu?" tanya Handoyo sambil menunjuk taman di samping ruang tengah. "Ya, kalian mengobrol berdua saja sesama anak muda," imbuh David. Leonard mengangguk lalu menoleh pada Lunaria. "Mari, Lunaria, kita mengobrol di taman saja." Lunaria tak menyahut. Namun karena David menyuruhnya lagi untuk mengikuti Leonard, maka mau tak mau Lunaria bangkit dari duduknya. Ia mengikuti langkah Leonard yang sudah lebih dulu berjalan. Setibanya di taman samping, mereka duduk di sebuah bangku kayu. Pendar lampu taman memberikan cahaya temaram yang romantis. Untuk beberapa lama mereka hanya saling berdiam diri. Leonard memandangi wajah Lunaria. Sampai kemudian Lunaria menoleh, ia pun mengalihkan pandangannya. Keheningan kembali meliputi mereka sejenak. "Saya baru tahu bahwa kamu ternyata sudah punya pacar." Leonard membuka obrolan. "Ya, pacar saya adalah seorang seniman," sahut Lunaria singkat. "Tampaknya papamu tidak menyetujui hubungan kalian." "Memang. Mama juga tidak menyetujui. Mereka beranggapan Pedro tidak punya masa depan hanya karena Pedro adalah seorang seniman." Mata Lunaria menerawang. Leonard merasa lega Lunaria mau diajak mengobrol. Entah karena wanita itu hanya ingin bersikap sopan di rumahnya atau karena kekesalannya pada Leonard sudah hilang. Leonard memanfaatkan hal itu untuk melakukan pendekatan lagi, meski ia tidak tahu akan berhasil atau tidak. "Saya mengerti kekhawatiran orang tuamu," komentar Leonard. "Maksudmu? Kamu juga menganggap bahwa Pedro itu tidak punya masa depan?" tuduh Lunaria. Leonard menggeleng. "Bukan begitu. Saya tidak mengenal pacarmu. Bagaimana mungkin saya menganggap seperti itu? Hanya saja, dari perkataan papamu tadi bahwa pacarmu itu menggantungkan keuangan padamu. Tentu saja orang tuamu merasa khawatir." Lunaria mengangguk membenarkan. Meskipun dia mampu membiayai hidupnya, tentu saja jika ia menjalani hubungan dengan lelaki yang keuangannya tidak stabil akan membuat orang tuanya khawatir. Lunaria benci kenyataan itu karena dia menyayangi Pedro. "Apa kamu tidak mencoba backstreet dengan Pedro?" tanya Leonard penasaran. "Saya dan Pedro memang menjalani hubungan secara diam-diam. Namun entah bagaimana mama dan papa selalu bisa mengetahuinya." Lunaria menghela napas. Leonard terdiam sebentar lalu berkata, "Bagaimana kalau kamu menerima tawaran saya waktu itu." "Maksudmu tawaran untuk menikahimu?" Lunaria menyipitkan matanya. "Benar." "Apakah kamu ingin melihat saya marah lagi?" "Tentu saja tidak. Tapi saya hanya ingin kamu mempertimbangkannya lagi. Kalau kamu menikah dengan saya, orang tuamu tentu tidak akan curiga lagi kalau kamu masih berhubungan dengan Pedro," jelas Leonard. Lunaria mengernyit. "Maksudmu, kamu akan tetap mengizinkan saya berhubungan dengan pria lain meski sudah menikah denganmu?" "Itu terserahmu saja. Kemarin kan saya sudah bilang bahwa saya ingin menikah untuk menghilangkan gosip tentang skandal-skandal memuakkan itu. Jadi kalau kita menikah, maka akan saling menguntungkan untuk kita." Leonard berkata lagi. Tak menjawab, Lunaria terdiam sejenak. Meskipun terdengar aneh, tapi yang dikatakan oleh Leonard itu ada benarnya. Kalau ia dan Leonard menikah, tentu saja mama dan papanya tidak akan menaruh curiga lagi bahwa ia masih berhubungan dengan Pedro. Dengan begitu, ia bisa bebas berpacaran dengan Pedro, itu akan terasa menyenangkan. Namun Lunaria berpikir lagi. Kalau begitu, berarti ia dan Leonard akan menikah tanpa cinta dan Leonard bisa saja juga bebas menjalin hubungan dengan siapa saja. Apakah menyenangkan menjalankan rumah tangga tanpa cinta? Hal itu sangat konyol. Namun jika dia bisa berhubungan denga Pedro dengan cara itu, kenapa tidak? Lunaria bingung dengan pikirannya sendiri. "Apa kamu yakin kalau kita menikah, papa dan mama tidak akan menaruh curiga jika saya masih berhubungan dengan Pedro?" tanya Lunaria. Leonard mengangguk. "Kamu pikir saja. Pertemuan malam ini direncanakan untuk memperkenalkan kita. Secara tidak langsung orang tua kita sebenarnya ingin menjodohkan kita. Jika kita menikah, pasti mereka akan sangat gembira." Kembali Lunaria membenarkan ucapan Leonard dalam hati. Pertemuan mereka malam ini mungkin sudah menjadi takdir. Ia sudah menolak lamaran Leonard waktu itu. Namun siapa sangka mereka akhirnya justru bertemu lagi malam ini. Itu pasti bukan sekadar kebetulan. "Bagaimana, Lunaria? Apakah kamu menerima tawaran saya?" Leonard mencoba peruntungannya lagi. "Akan saya pikirkan lagi," jawab Lunaria pelan. "Ya, pikirkanlah terlebih dahulu." Leonard menyandarkan tubuhnya ke bangku taman. "Saya benar-benar tidak menyangka kita akan dipertemukan lagi dengan cara ini." Lunaria menatap pria di sampingnya. Membayangkan bagaimana kalau misalnya Leonard benar menjadi suaminya. Pria itu memang tampan, tapi Lunaria tidak memiliki perasaan terhadapnya. Bagaimana mungkin menjalani hidup dengan Leonard? Dan bukankah itu berarti dia akan mengkhianati Pedro? Lunaria kembali dilanda kebingungan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN