Sudah pukul 9 malam, tetapi aku masih berada di hotel karena pekerjaanku belum selesai. Padahal aku sudah memiliki janji dengan Pedro untuk merayakan ulang tahunnya. Aku menoleh pada timku yang masih sibuk melakukan plating untuk kelompok tamu terakhir pada event hotel malam ini.
Kuhela napas lega ketika akhirnya pekerjaanku selesai. Segera aku beranjak ke loker, melepas apron lalu mengenakan jaket sebelum meninggalkan hotel. Bergegas aku memasuki lift untuk turun ke basement dan segera mengendarai mobil menuju rumah Pedro. Aku sudah sangat terlambat.
"Maafkan aku terlambat, Pedro." Aku mengecup kedua pipi Pedro ketika sudah tiba di rumahnya.
"Tidak apa-apa, Sayang." Pedro balas mencium pipiku. "Ayo, kita makan malam bersama."
"Seharusnya aku mengajakmu makan malam di restoran."
"Tidak usah. Aku tahu kamu sudah letih kalau harus bepergian lagi. Kita makan malam di rumah saja. Aku sudah memesan makanan lezat secara delivery tadi," ujar Pedro tersenyum.
"Oh, ya. Aku juga sudah menyiapkan kado dan membuatkanmu cake ulang tahun tadi di hotel. Tertinggal di mobil. Bagaimana aku bisa lupa." Aku menepuk keningku sendiri.
Pedro menemaniku berjalan menuju mobil yang kuparkirkan agak jauh dari lokasi rumahnya. Jalan menuju rumah Pedro sangat sempit sehingga tidak bisa dilalui oleh mobil. Sesekali aku tersenyum menyapa sapaan para tetangga Pedro. Setelah mengambil kue dan kado, kami berjalan kembali ke rumahnya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah repot-repot membuatkan aku cake dan menyiapkan kado." Pedro memelukku ketika kami sudah berada di dalam rumahnya lagi.
"Tentu saja tidak repot kalau untuk pacarku tersayang." Aku balas memeluknya. "Selamat ulang tahun, Pedro."
Pedro kembali mengucapkan terima kasih dan dia mengecup bibirku. Lalu kami mulai saling memagut bibir. Meski bukan ciuman yang panas, aku sangat menyukainya. Usai bermesraan, kami berjalan menuju meja makan. Aku membuka kotak kue yang kubawa tadi. Black forest kesukaan Pedro.
Perlahan aku menyuapkan seiris black forest ke mulutnya dan ia melakukan hal yang sama padaku. Pedro adalah pria yang romantis. Sepertinya kebanyakan seniman memang seperti itu. Aku tak yakin. Tapi paling tidak, itu yang kulihat dari Pedro. Ucapannya selalu indah seperti lukisan yang dibuatnya.
"Ini lezat sekali, Lunaria," komentarnya.
"Terima kasih. Aku juga masih punya kado untukmu." Sekotak kado kuulurkan padanya.
Pedro tersenyum menerimanya. Perlahan ia membuka kotak kado dan matanya berbinar saat melihat seperangkat alat melukis di dalamnya. Ia mengucapkan terima kasih dan memelukku lagi. Selain baik, Pedro juga selalu menghargaiku. Membuatku semakin nyaman dan sayang padanya.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku harus kembali ke apartemenku karena besok harus bekerja. Pedro mengantarku hingga ke parkiran mobil dan dia kembali mengecup bibirku seolah tak ingin berpisah. Setelahnya, aku segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Jalanan memang masih ramai, tetapi aku tetap merasa takut karena rumah Pedro berada di daerah pinggiran. Aku baru menghela napas lega ketika mobilku mulai memasuki pusat kota. Saat tengah asik mendengarkan musik, ponselku bergetar. Nama mama tampak di layar ponsel. Aku segera mengangkatnya.
"Halo, Ma," sapaku.
"Halo, Luna. Kamu habis dari mana?" Suara mama terdengar di seberang sana.
"Maksud Mama? Aku baru saja pulang kerja."
"Jangan bohong, Luna. Mama lihat mobil kamu tadi." Mama terdiam sejenak lalu bertanya. "Kamu habis dari rumah Pedro, bukan?"
"A-aku ...."
"Luna, mama dan papa kan sudah bilang, jangan temui Pedro lagi."
"Tapi, Ma, aku kan juga sudah bilang bahwa aku menyayangi Pedro dan tidak akan meninggalkannya," jawabku bersikeras.
Mama berdecak. "Sudahlah, Luna. Besok kita bahas lagi. Kamu masih berada di jalan."
Aku menutup telepon dengan perasaan kesal. Volume musik kutambah, juga kecepatan mobiku. Nasib baik aku bisa selamat sampai apartemenku. Setibanya di apartemen, aku bergegas mandi dan berganti baju tidur lalu menghempaskan tubuhku ke ranjang. Karena merasa lelah, tak butuh waktu lama aku segera terlelap.
***
Kupikir mama tak akan membahas tentang Pedro lagi, tapi ternyata esok malamnya sepulang kerja aku mendapati mama dan papa sudah menunggu di apartemenku. Mama memang memiliki kartu akses apartemenku sehingga dia bebas datang kapan saja. Kini kedua orang tuaku duduk berdampingan di atas sofa.
Aku hanya bisa pasrah duduk di hadapan mereka dan mendengar omelan mereka tentang Pedro yang itu-itu saja. Entah kenapa mereka bisa begitu membenci pacarku. Sekalipun Pedro bukan orang berada, tapi seharusnya mereka melihat bagaimana Pedro menyayangiku.
"Mama dan Papa kenapa masih sekejam itu pada Pedro? Padahal aku sudah menuruti keinginan kalian untuk makan malam dan diperkenalkan dengan anak kolega bisnis Papa." Aku menyilangkan lengan.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Leonard. Kamu menikah dengan Leonard atau tidak, kamu tetap tidak boleh berhubungan dengan Pedro!" tukas papa.
"Luna sayang, mengertilah. Ini demi kebaikanmu juga." Mama berusaha membujukku.
"Ini bukan demi kebaikanku. Kalian hanya membenci Pedro!" sahutku.
"Luna ...."
"Sudahlah." Aku menyela ucapan mama. "Lebih baik Mama dan Papa pulang saja sekarang. Aku ingin beristirahat."
"Bisa-bisanya kamu mengusir mama dan papa demi membela Pedro!" hardik papa.
Mama menghela napas. "Ya, sudah, David. Kita pulang saja. Luna terlihat sangat lelah."
"Pokoknya papa dan mama tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Pedro! Kalau kamu tetap membantah, papa akan membuat perhitungan terhadap pacarmu itu!" Suara papa meninggi.
Mama berusaha menenangkan papa, lalu mengajaknya meninggalkan apartemenku. Sepeninggalan mereka, aku merebahkan tubuhku di sofa. Apa maksud papa tadi akan membuat perhitungan pada Pedro? Apakah papa ingin mengancam atau mungkin mencelakai Pedro?
Aku menutup mataku. Sangat mengerikan jika itu terjadi. Rasanya tidak mungkin papa akan bertindak sekejam itu. Namun bagaimana kalau ternyata papa benar-benar memberikan pelajaran pada Pedro jika aku tetap menjalin hubungan dengannya? Ini membingungkan!
Seketika tawaran Leonard untuk menikah melintas lagi di kepalaku. Apa kuterima saja tawarannya? Tapi bagaimana perasaan Pedro jika aku menikah dengan pria lain? Kembali aku memejamkan mata. Sungguh aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tanpa sadar malam itu aku tertidur di sofa tanpa berganti baju.
Paginya aku terbangun karena merasa lapar. Aku beranjak ke dapur dan membuka kulkas untuk mencari makanan. Hanya ada buah dan roti tawar di dalamnya. Aku baru ingat belum belanja bulanan. Perlahan aku mengambil roti tawar dan mengunyahnya setelah mengoles selai.
Kepalaku pusing luar biasa. Beruntung hari ini aku libur sehingga aku bisa beristirahat. Namun aku tetap tidak bisa tenang karena pikiranku terus melayang pada ancaman papa terhadap Pedro dan juga tawaran Leonard untuk menikah dengannya. Akhirnya setelah seharian berpikir, aku pun mengambil keputusan.
Perlahan kuraih ponselku dan menekan nomor Leonard yang sempat diberikannya saat aku ke rumahnya beberapa malam lalu. Sesaat aku menjadi ragu kembali, tetapi karena panggilan sudah terhubung, akhirnya aku tetap berbicara dengan pria itu. Aku menghela napas untuk membulatkan tekad.
"Halo, Lunaria." Suara Leonard di seberang sana terdengar.
"Leonard, saya menerima tawaranmu untuk menikah." Aku berkata pelan namun pasti.
"Really?"
"Ya, saya ingin kita menikah secepatnya," jawabku.
"Baiklah. Kamu ingin kita bertemu untuk membicarakannya lebih lanjut?" tanya Leonard.
Aku menyetujuinya ajakannya. Kami lalu bertemu di sebuah restoran untuk makan siang sambil membicarakan rencana kami. Aku menjelaskan tentang ancaman papa terhadap Pedro yang membuatku akhirnya menerima tawarannya. Leonard mendengarkan dengan saksama dan ia terlihat memaklumi.
Usai makan siang, aku mengajak Leonard ke rumah papa untuk memberi tahukan rencana pernikahan kami. Mama juga sudah kuminta datang ke rumah papa. Kebetulan hari ini adalah akhir pekan sehingga mereka memiliki waktu. Mereka merasa heran dengan apa yang ingin kubicarakan, namun aku meminta mereka menunggu sampai aku datang.
Setengah jam perjalanan kami tiba di rumah papa. Kedua orang tuaku mengerutkan kening melihatku datang bersama Leonard. Papa mempersilakan kami duduk, lalu memperkenalkan Leonard pada mama. Tak lama asisten rumah tangga menghidangkan minuman dan camilan untuk kami. Setelahnya, kami memulai pembicaraan lagi.
"Kenapa kamu bisa datang bersama Leonard, Luna?" tanya papa terlihat sangat penasaran.
Leonard berdehem. "Om, Tante, saya datang ke sini untuk melamar Lunaria. Kami sudah sepakat untuk menikah."
"Apa?!" seru mama dan papa bersamaan.
Sesaat mereka saling pandang lalu menatap kami lagi secara bergantian. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Papa tentu saja senang jika kalian menikah, tapi kenapa tiba-tiba?" Papa masih merasa heran.
"Benar. Bukankah kalian baru berkenalan?" Mama lalu menatapku. "Dan Luna, bukankah tadi malam kamu masih mengatakan bahwa kamu menyayangi Pedro dan marah saat kami menyuruhmu meninggalkannya?"
Aku mengangguk. "Memang begitu. Tapi setelah kupikir-pikir, sampai kapan pun mama dan papa tidak akan menyetujui hubunganku dengan Pedro. Sedangkan Leonard kaya raya, kalian pasti menyukainya. Jadi kuputuskan untuk menikahinya saja agar kalian senang," jawabku sekenanya.
Mama dan papa terperangah mendengar jawabanku. Kembali mereka beradu pandang, seolah masih belum yakin dengan pendengaran mereka.
"Tapi, Luna. Kalian bisa saling mengenal dulu. Tidak usah terburu-buru." Mama tersenyum.
"Aku ingin menikah secepatnya." Aku menyilangkan lengan. "Kalian bagaimana, sih? Bukannya kalian yang mengenalkan aku dengan Leonard. Sekarang kalian justru tidak mengizinkan kami menikah."
"Bukannya tidak mengizinkan. Kami hanya merasa heran karena sangat tiba-tiba. Tapi kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, tentu saja kami merasa gembira." Papa tersenyum.
Leonard menjelaskan bahwa sebelum undangan makan malam di rumahnya itu, kami sudah pernah bertemu sebelumnya dan ia sudah menyukaiku. Papa dan mama mendengarkan dengan saksama dan mereka tampak memercayai Leonard. Aku hanya diam sambil memainkan ponselku, sama sekali tak berminat mendengarkan obrolan basa-basi mereka.
Hal yang aku inginkan saat ini adalah menikah dengan Leonard secepatnya dan bisa menjalin hubungan dengan Pedro lagi tanpa rasa curiga dari mama dan papa. Sungguh aneh tapi kurasa ini adalah jalan satu-satunya. Meski aku tak tahu bagaimana akan mengatakan pada Pedro tentang pernikahanku dengan Leonard nanti.
***