Gara-Gara Datang Terlambat

1052 Kata
"Aku pikir jadi anak kuliahan itu keren. Mirip adegan di sinetron-sinetron. Mahasiswa gagah dengan kemeja kotak-kotaknya dan mahasiswi cantik dengan setelan tunik modernnya. Tapi ternyata salah!!! Tidak disini. Tidak di kampus ini. Ini kampus agamis. Mahasiwanya pakai topi kopiah yang biasa para ustad gunakan untuk sholat. Celananya bukan jeans ketat tapi celana bahan yang cut bray menggantung di atas mata kaki. Bajunya bukan kemeja kotak-kota tapi baju koko. Memang begitu setelannya. Karena kebanyakan mahasiswa kampus ini adalah anak pondok. Begitupun mahasiswinya. Kebanyakan para santri wati jebolan pondok-pondok ternama. Jadi tidak heran kalau banyak gadis-gadis bercadar dan berkerudung panjang berkeliaran di kampus ini. Dini jadi merasa sedang berada di negri Arab Saudi. Apa cuma aku yang berasal dari orang awam? Tidak paham agama. Apalagi harus wajib memakai hijab. Walau terasa gerah kepala ini. Tapi aku tetap memakainya. Kalau tidak, bisa-bisa aku di drop out dari kampus ini." Setelah pulang kuliah. Dini disambut pelukan hangat oleh Sultan si jagoan ciliknya. Sultan menagih kado ulang tahunnya. Dini mendadak amnesia karena lupa kalau hari ini adiknya ulang tahun. “Busyet ! jadi tatan ulang tahun hari ini, kakak inget ko, tapi kado-nya ketinggalan di rumah temen kakak. Besok kakak ambil, trus kakak kasih buat tatan yah hehe,” Dini kaget, tapi dia tidak ingin membuat jagoan ciliknya sedih karena kakaknya lupa membeli kado, jadi Dini mencoba menipu adiknya yang lugu nan tampan itu. Ibu langsung menceramahi dirinya. “Dini cepat cuci kaki, cuci tangan, cuci muka dan ganti pakaian.” Ibunya memang belum sadar. Kalau anak gadisnya sudah hampir 19 tahun, Dini merasa dirinya disamakan dengan Sultan, adiknya yang masih berusia 4 tahun. Setelah perintah dilaksanakan dengan baik, Ibu bersuara lagi. Memerintah Dini untuk memandu acara ulang tahun adiknya yang ke empat tahun. Sebentar lagi acara akan dimulai, sementara Dini tidak mempersiapkan apa-apa. Lima menit lagi, Dini akan menjadi Host kecil alias MC. Dini tiba-tiba teringat mimpinya yang tadi malam. Yang akhirnya terjawab sekarang. Jadi host beneran. Membawakan acara ulang tahun adiknya. Satu sekolah TK dan empat desa kumpul di rumah ibunya. Dini sedih karena ayahnya sibuk berlayar di Jepang. Mengarungi samudra dan lautan, untuk mencari uang di negri tetangga. Tapi, Dini juga bahagia karena dia paham arti dari mimpinya semalam. Acara pun game over, Sultan sangat bahagia karena daoat banyak kado dari teman-temannya. Tinggal kado dari kakaknya yang belum ada. Sultan mencoba mengingatkan kakaknya sebelum tidur. “ Kak, jangan yupa, becok ambiy kado diyumah temen kakak-nya ya! Muuachh...” Sultan mencium pipi kakaknya. Sebelum tidur, Dini mewajibkan dirinya untuk menulis di buku diary. Pikirnya, sejarah hidup harus diCATAT, karena penting. Memang sejarah bisa disimpan di memory otak, tapi Dini berusaha sedia payung sebelum hujan. Menurut prediksinya bertambah usia, akan berkurang daya ingat. Sebelum waktu itu tiba dan memory otak Dini mulai lowbet. Dia udah punya cadangan buku diary, yang kapanpun bisa di baca ulang dan di ingat lagi sejarah hidup yang dia lupa. *** Pagi yang cerah. Udara yang segar. Dan tiupan angin yang menggoyangkan tanaman cabe didepan rumah ibunya Dini. Dengan blouse warna hijau toska dan jeans warna hitamnya. Dini siap berangkat ke kampus tercinta. “Kosong-kosong !!!” teriak kenek yang tidak tahu diri. Muatan sudah penuh tapi kenek itu ngakunya kosong, dasar pendusta. Walau begitu Dini tetap naik. Darurat!!! jam kuliah sebentar lagi dimulai, tapi angkutan umum penuh semua. Dini gelantungan dipintu mobil angkutan umum, persis makhluk hutan. Tangannya megang erat besi pintu, berkali-kali dia terayun-ayun karena elp digas tanpa aturan main. “Alon-alon pir ! sampeyan bawa banyak nyawa orang,” protes salah seorang penumpang. Namun sang supir tidak peduli, malah asik balapan dengan elp lain. “Jangan takut, sopir kita pensiunan formula satu !” hibur sang kenek agar penumpang berhenti gaduh. Istighfar pun mulai terdengar dari mulut-mulut penghuni. Lima menit berlalu, akhirnya elp lawan terlanggar sudah, terkalahkan. Supir-pun mengeluarkan tinjunya dari jendela. *** Dini telat sepuluh menit, tiga detik. Mulutnya langsung komat-kamit semoga tidak ada masalah. Kata kakak tingkat, kalau mahasiswa telat pasti tidak akan mendapatkan absen. Dini berharap bisa dapat absen hari ini. Sa’at Dini buka pintu kelas dan hendak mengucap salam. “Dini ayu ...,” seru sang dosen yang sedang mengabsen seluruh mahasiswanya. “Yes, I am here !!!” dengan terengah-engah Dini menjawabnya. Mengucap salam pun tidak jadi. Dini masuk kelas dan duduk paling belakang, ujung kanan. Karena kursi sisa tinggal satu, disana. Semua penghuni natapnya meledek. “Wah...datangnya pagi sekali haha haha haha,” celetuk kosma, sang korban suruhan mahasiswa. “Selamat datang di indomaret, selamat berbelanja !!!” sindir joko, laki-laki yang sok lucu di kelas Bahasa Inggris empat. Tapi Dini tidak peduli. Yang penting hari ini dia berhasil dapet absen. Hatinya bersorak bak mercon tertawa. Mr. Afif adalah dosen mata kuliah reading. Dia memang baik, tampan, namun matanya over sa’at berkedip. Hal ini mbuat Dini penasaran dan suka memperhatikan dosen muda itu. Bukan naksir !!! Dini heran saja, ada apa dengan matanya? “Beby, kenapa kamyu ngelamun aja?” tanya Mawar si gadis pemilik kamar kos penuh simpati. “ngga apa-apa kok, aku lagi berimajinasi aja,” jawabnya asal bunyi. Mr. Afif melihat kearah Dini, dia terciduk sedang menahan tawa. Karena tidak kuat melihat mata dosen mudanya, berkedip over bak bocil cacingan. “Dosennya genit ya, kedipin mata terus hehe hehe,” sahut Dini pada temannya. “Bukan genit, itu dari sananya, BEBEH. Haha haha haha,” temannya tertawa gaduh persis ratu penunggu pohon mangga. Semua mahasiswa melihat kearah mereka. Mr. Afif paham, siapa yang menjadi biang keroknya. Dini kena batunya, disuruh maju kedepan kelas. Dosen mudanya nyindir karena Dini pakai jeans kekampus. “Kamu ! sudah datang telat, kaya tidak niat nuntut ilmu. Di kampus kita haram menggunakan jeans bagi kaum hawa, ngerti?!” sentaknya sok galak, padahal dosen muda itu memang tidak bisa marah. Matanya lagi-lagi berkedip over, Dini kuat-kuat nahan tawa. “Jangan harap bisa ikut mata kuliah saya, jika kamu masih menggunakan jeans. Apakah kau mengerti?” Dosen muda yang baik itu, mulai Berbahasa baku. “Tentu. Saya sungguh mengerti Mr,” jawab Dini yang kocak tidak mau kalah dengan Bahasa bakunya. Setelah Dini diizinkan duduk keasalnya, temannya langsung nyambut dengan Bahasa baku juga. “Tidakkah engkau mengetahui bahwa aturan kampus kita agamis sekali, sungguh malangnya dirimu.” Bisik Joko penuh iba namun mencela. Dini hanya tersenyum sinis, senyum sekedar menghargai bahwa lawakannya lumayan lucu kali ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN