"Aku pikir, sifat identik dari anak-anak pondok itu cuek. Serius. Tidak suka bercanda. Tapi ternyata salah. Buktinya, si joko anak pondok tapi dia lucu. Hampir semua mahasiswa jurusan Bahasa Inggris ternyata lucu-lucu."
Setelah pembelajaran mata kuliah reading selesai. Kelas Bahasa Inggris D mulai ramai bak pasar yang sedang menjual getuk seribu tiga. Suara tawa berserakan dimana-mana, teman-teman menghampiri Dini yang duduk santai sendiri. “Dikau tidak mengapa my sist ?” ledek Rahma dengan Bahasa bakunya.
Semua mahasiswa Bahasa Inggris D terserang virus Bahasa baku. Dan bang kosma mulai mengklarifikasi bahwa hari ini adalah hari Bahasa baku khusus kelasnya.
Sunnah muakkat, mendekati hukum wajib untuk speak Bahasa baku hari ini. Semua mahasiswa manggut-manggut setuju sama bang kosma. Kelas heboh, bak ada di keraton kasepuhan yang gunain Bahasa kromo inggil.
Waktu istirahat, anak Bahasa Inggris D bertemu dengan tetangga kelas dijalan dan langsung berbicara menggunakan Bahasa baku. “Akankah kamu menemani daku memfotocopy makalah ini???” dan seterusnya virus itu menyebar kepenjuru kampus.
Dini dan teman-temannya keluar kampus jelajah cari makanan. Walau ujung-ujungnya hanya membeli masakan ibu ndut di restoran warteg depan kosan Mawar si pemilik mata genit. Dini buru-buru nyaplok timun, setelah semua selesai dibayar. Teman-teman meringis melihat sisternya lahap menelan lalaban timun.
Masih hari Bahasa baku, Nia pun sang perusak Bahasa kesulitan untuk bicara. Namun dia tetap berusaha untuk berbicara menggunakan Bahasa baku, dengan catatan tidak menghilangkan jati dirinya. “why you menyukai cucumber seperti demikian, apakah karena cucumber has long shape (apa karena timun memiliki bentuk yang panjang)?”
Dini hampir tersendak mendengarnya, pikiranya liar jadi c***l. Dini berusaha meyakinkan teman-temannya, bahwa sekalipun bentuk timun not long (tidak panjang) Dini tetap suka nggadoh timun. Swear !!!
Nia meled bak kadal kurang minum. Meledek Dini, tapi akhirnya nraktir Dini timun seperempat kilogram.
***
Dini pulang dari kampus. Kemudian ia menaruh traktiran timun dalam mesin pendinginnya. Gara-gara sibuk hari bahasa baku di kampus. Dini jadi amnesia lagi. Dia langsung lari-lari menuju warung yang lokasinya ada di samping rumahnya. Dia mencari kado untuk jagoan kecilnya.
Untung ibu dan adiknya sedang tertidur pulas. Jadi masih ada sedikit waktu untuk mempersiapkannya. Dini membelikan poster mobil dengan harga dua ribu rupiah, bukan pelit !!! tapi memang setahunya Sultan suka mobil balap. Pas sampai rumah kebetulan Sultan sudah terbangun dari tidurnya. Dini langsung buru-buru memberikan kado ulang tahunnya untuk Sultan. “ini kado untukmu adikku tercinta,” Dini mencoba untuk merayunya. Masih terkena virus Bahasa baku rupanya.
“Kok kadonya ini kak? Tatan kan sukanya obil bayap.” Sultan cemberut. Dini mulai pusing dan buru-buru mencari gagasan. “Sekarang kakak tanya, ini apa?” Dini senyum sambil nunjuk gambarnya.
Sultan pun ikut tersenyum sambil menjawab, “Ini obil bayap kak,hore !” Sultan yang lugu lagi-lagi dikibulin kakaknya yang slengean.
“Teyimakasih kakak, Tatan uka kadonya. Muacch,” Sultan memeluk dan mencium kakaknya yang super cerdik itu. Selanjutnya, Dini dengan mesra mulai menyentuh buku diarynya. Dan mulai mencatat tentang kejadian konyol yang dia alami hari ini.
***
Malam ini adalah malam minggu. Malam spesial bagi anak-anak muda. Hari raya bagi roh-roh yang punya gebetan. Dini tidak masuk dalam daftar roh itu. Karena Dia masih single. Dia berniat untuk boros melek malam ini, ada misi yang harus diselesaikannya.
Misi membuat komik kartun bertema islami. Dini dapet info dari f*******:. Ada lomba komik kartun bulan ini. Padahal batas pengirimannya empat hari lagi. Tapi dia ingin menyelesaikannya malam ini juga. Dia mulai berimajinasi liar ke hutan larangan.
Hobi mengambar kartunya memang sudah dari jaman purba, jaman seragam putih-merah. Entah dapat warisan gen dari siapa hingga jari-jari tanggannya gemulai, mahir nyorat-nyoret barang yang ada didekatnya. Ayahnya memang seniman !!! tapi tidak bisa menggambar kartun. Bisanya juga menggambar pemandangan alam. Seperti gunung dan hutan yang ruwet sampai-sampai gambarnya sulit ditafsirkan.
Apalagi ibunya, sama sekali tidak ada bakat seni. Dini sujud syukur atas jimat yang digenggamnya, jimat keterampilan menggambar !!!
“Iiihhh ... kok jadi inget dia sih !!!” Keluh Dini sa’at meliat buku Diarynya.
Selain menggambar kartun dia memang hobii nulis juga. Puluhan koleksi buku Diarynya berbaris rapih di musium rak buku. Semuanya, kado dari teman-temannya yang paham kalau dia suka banget nulis. Tapi, ada satu buku Diary warna biru muda dengan gembok lope, pemberian dari gebetannya. Yang malam ini mengingatkann dia dengan masa lalunya.
***
Dini sudah mulai ikut lomba menggambar dan nulis sejak masih SD. Tapi tidak pernah jadi pemenang. Sa’at SMA pun dia ikut lomba nulis. Tapi lagi-lagi gagal jadi juara. Kalau sa’at SMP, dia vakum dari profesinya. lantaran dia kesem’sem temen sekelasnya.
Dini menjuluki gebetannya dengan sebutan pemuda lope. Alasannya karena laki-laki itu pernah memberikan kenang-kenangan buku Diary biru muda bergembok lope.
Pernah dia sharing ke teman-temannya. Tapi temen-temennya malah meledek. Dan memproklamasikan bahwa itu hanya cinta monyet. Lupakan saja!!!
Akhirnya, Dini malas cerita tentang pemuda lope lagi pada teman-temannya.
Mulut dia komat-kamit baca mantra biar bayangan pemuda lope kabur. Dia mulai mencoba untuk berkonsentrasi. Mencari gagasan untuk lombanya nanti. Hanya dengan waktu lima menit lebih satu jam dia berhasil nyandra judul nya.
Ini bukti, bahwa otaknya yang jenius mulai lemot gara-gara ingat gebetan SMP nya
Sambil melak-meluk buku diary warna biru muda berkembok lope pemberian gebetannya. Dini ngeluh bak tikus kejepit jebakan curut. “Haduuuhh ... miss you !!! Ya Allah, pengen ketemu dia walau sebentar, please !!!” rintihan Dini si cewek dungu dengan gaya slengeannya.
“Dini ... Dini ... ibu rebusin lalab timun nih buat kamu sayang,” ibunya berkicau sambil membuka pintu kamarnya, Dini sangat merasa kaget. Menyaksikan ibunya yang sedang mematung didepan pintu kamarnya. Sesegera mungkin dia sembunyikan buku diarynya. Karena takut ketahuan ibunya yang over perhatian itu.
Tanpa basa-basi dia menyantap lalab timun dengan lahap dan murka. Untuk merefresh otaknya yang makin malam mulai ngaco. Ibunya senang memantau putrinya penuh semangat. Sementara Sultan, hanya bisa terdiam membisu dan melongo melihat kakaknya seperti orang kesurupan. Melahap lalap timun tanpa henti.
Aku masih menyimpan rasa itu. Rasa cinta yang pernah ada di hati ini untuknya. Ya!!! Dia cinta pertamaku waktu SMP dulu. Kami tidak pernah putus. Dia pun tidak pernah mengatakan putus. Tapi hubungan ini, menggantung begitu saja setelah perpisahan sekolah. Tapi sejujurnya, aku masih selalu mengharapkan kehadirannya. Aku benar-benar kesulitan untuk melupakannya. Karena dia cinta pertamaku. Apa kita masih bisa bertemu, Tuhan???
***