Tangan kecil itu mengepal dengan kuat dan memukul dengan keras meja kayu yang ada didepannya itu, menciptakan warna merah di jemarinya yang putih, teriakkan kesakitannnyapun turut bergema memenuhi ruangan itu. “ Sayang, sudah cukup! Ikhlaskan!” Sang mama mendekat, mengelus punggung rapuh itu dengan senyum sedihnya. “ Tidak bisa, Ma!” isakan itu mulai terdengar, “ Mas Bumi harus menikah denganku!” “ Winona, dengarkan Mama.” Tangan renta itu membawa wajah sang putri mendekat, menghapus lelehan air mata itu lembut. “ Kita tidak bisa menikah dengan pria yang sama sekali tidak menginginkan kita dalam hidup mereka. Menikah itu komitment antara dua orang yang saling menginginkan satu sama lainnya.” “ Ma..” “ Hust! Mama tidak mau kamu menjalani pernikaha

