"Sebenarnya bagaimana Clara bisa mengerjakan soal secepat itu," selalu terpikir dibenaknya.
Ya walaupun Elena tahu bahwa Clara memang pintar tapi tak sekalipun Clara secepat ini mengerjakan soal.
Memikirkan Clara yang semakin pintar pun Clara semakin iri dengannya.
"Sial kenapa hidup Clara sangat beruntung, punya Kakek kaya raya, fasilitas dan uang terjamin, otak yang pintar, huh kenapa bukan aku saja yang jadi Clara sih," ucap Elena iri.
Semakin banyak rasa iri dan dengki dihatinya tanpa sadar hati Elena semakin mati akan kebenaran. la sudah melakukan banyak kecurangan terhadap Clara juga selalu memanfaatkannya.
Elena lupa siapa yang membantunya disaat ia dulu terjatuh, ia lupa siapa yang menopang gaya hidup glamor nya itu. "Sialan, kenapa si Clara selalu menghindar terus dariku."
"Kalau gini caranya bisa-bisa aku ngak jadi beli tas branded incaranku."
"Mana uang sakuku gak nambah-nambah, masa cuma seratus ribu terus sehari kan kurang," Elena berjalan kearah gerbang dengan terus menggerutu. la akhirnya terpaksa memesan ojol lagi untuk pulang, ia sungguh malas harus berdesakan di angkutan umum.
Hari-hari yang dilewati Clara terasa sangat tenang karena ia terhindar dari si busuk Elena.
Tapi ternyata sudah tidak berlaku lagi mulai hari ini, ya semester sudah berakhir yang artinya tidak ada kegiatan pembelajaran,yang ada hanya kegiatan class meeting.
Sebenarnya Clara malas masuk disaat class meeting seperti ini, ia pasti akan selalu sendirian. Disaat teman-temannya asik mengikuti lomba antar kelas hanya dia yang tak pernah ikut lomba.
Disaat mereka tertawa lepas karena bisa berkumpul dengan gerombolan mereka dan asik nonton lomba, sekali lagi Clara hanya bisa melihat dari jendela kelasnya dan yang sudah pasti Elena selalu bersama dengan teman-teman kelasnya.
Jadi lebih baik ia tidur dikelas, ya ia hari ini masuk sekolah karena ingin melihat apakah dia ada remedial atau tidak, dan ternyata sama sekali tidak ada. Wah sungguh menggembirakan karena dulu ia selalu remedial 2-3 mata pelajaran.
Walaupun Clara termasuk cukup pintar tetapi ia masih tidak menyukai beberapa mata pelajaran, karena itulah nilai dimata pelajaran yang tidak Clara sukai selalu remedial.
Beruntung ia masih mau belajar semua meskipun enggan, tetapi ketika tau ia tidak ada remedial ia cukup lega. Tinggal berdoa saja semoga ia bisa dadi rangking paralel.
Setelah melihat mading Clara berencana langsung pulang, tetapi sebelum niatnya terwujud ia sudah dicegat olah Elena.
"Ah tumben sekali dia tidak bersama teman sekelasnya," pikir Clara curiga, pasti si busuk ini ada maunya.
"Hai Clara, akhirnya kamu ketemu juga, udah aku cari-cari lo dari tadi," ujar Elena tersenyum sangat lebar.
Entah apa maunya sekarang, tapi tak apalah Clara ladenin sekarang. "Oh kenapa, aku habis dari mading," jawab Clara.
"Kamu pasti remedial lagi ya, aduh Clara kan kamu sudah belajar kenapa masih remedial," ucapnya dengan nada yang lembut tetapi aku yakin ia asline ingin mengejekku.
Mendengar ucapan Elena, sekarang banyak orang disekitar ku yang menatap mengejek kepadaku.
"Oh ternyata ini, kamu mau mempermalukan aku, maka dengan senang hati akan meladenimu Elena," ucap dalam hati Elena sambil menyeringai licik.
Melihat banyak orang yang memperhatikannya dan Elena Clara sengaja berbicara dengan volume yang agak keras. "Sayang sekali Elena kali ini tebakanmu salah," ucap Clara sambil tersenyum miring.
"Aku sama sekali tidak mendapatkan remedial apapun dalam semester ini," ucap Clara sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang berhenti memandangnya remeh.
"Wah benarkah, kamu kan selalu remedial dulu bahkan sampai tiga kali," ucap Elena yang masih kekeh ingin mempermalukan Clara.
"Iya itu dulu yang penting sekarang kan tidak, apakah kamu sudah melihat mading?" tanya Clara Hanya gelengan yang ia akan dapat dari Elena, bagus maka dengan senang hati Clara memberitahukan berita bahagia ini.
"Benarkah, Tadi saat aku melihat di mading kamu dapat lima remedial Elena." Ujar Clara.
Setelah Clara mengatakan itu wajah Elena sontak memerah, mungkin dia malu. "Oh itu aku hanya kurang fokus saja kok kemarin saat menjawab soal," jawabnya sedikit gugup.
"Ah iya aku baru teringat, ayo kita ke mall, sekarang ada banyak diskon loh Ra," ucap Elena tanpa rasa malu. Elena buru-buru mengalihkan pembicaraannya dengan Clara, mungkin ia tidak mau lebih malu lagi
Mendengar ajakan Elena sontak Clara mempunyai sebuah ide menyenangkan di otaknya.
"Oh baiklah, ayo berangkat kalau begitu," jawabnya dengan tenang seolah ia masih sama seperti dulu.
Elena yang mendengar itupun sontak mengembangkan senyum bahagia. "Ah akhirnya aku bisa belanja lagi," ucapnya senang dalam hati.
"Aku tidak sabar memborong semua barang-barang branded itu." Sungguh Elena sangat senang karena Clara akhirnya menuruti kemauannya, yang ia pikirnya hanya ingin berbelanja banyak.
Sampai dipusat perbelanjaan Clara dan Elena berjalan masuk ke toko-toko yang ada di dalamnya. Di sana Elena banyak mengambil barang-barang seperti baju sepatu ataupun tas dengan merk-merk terkenal. Sedangkan Clara ia hanya mengikuti Elena malas tanpa ada niatan berbelanja apapun.
Ketika sampai di kasir dan akan membayar belanjaan, Clara tiba-tiba berpura-pura menerima telfon. Dengan wajah yang dibuat panik ia menjawab ya aku akan pulang sekarang. Belum sempat Elena bertanya Clara lebih dulu memotong.
"Aku harus pulang sekarang Elena daahh." Ucapnya sambil melambai tangan dan setengah berlari Elena yang bengong pun seketika tersadar saat sang kasir memanggilnya.
"Nona untuk total belanjaan anda adalah 296juta, nona mau pilih pembayaran menggunakan apa?" Elena pun hanya terdiam, ia tidak mungkin punya uang sebanyak itu.
"Sialan, bagaimana aku membayar semua belanjaan ini," ujar marah Elena dalam hati.
Dengan wajah amat malunya Elena berkata, "Aduh maaf ya mbak,itu tadi teman saya yang mau membayarnya dan sekarang malah pergi."
Kasir yang mendengar itupun mendengus kemudian memasang wajah jutek. "Duh anak SMA jaman sekarang gak punya uang aja sok-sokan mau beli barang-barang segini banyaknya, menyusahkan saja," ucapnya tajam kepada Elena.
Banyak pasang mata yang memandang kasian pada Elena. Dengan perasaan malunya ia segera bergegas keluar dari toko tersebut.
"Ah sial... sial, tinggal sebentar lagi seharusnya Clara membayar tapi malah pergi," ucap Elena marah bercampur malu mengingat kejadian di toko tadi.
Kemudian ia mengeluarkan hp dari tasnya, Elena berkali-kali menghubungi Clara tapi nihil tidak ada jawabannya.
Hanya suara operator yang menjawab panggilannya. Dengan sangat marah dan kesal akhirnya Elena lebih memilih pulang ke rumahnya.
Disisi lain Clara yang saat ini di mobil pun hanya tertawa licik melihat banyaknya panggilan telepon dari Elena. Yah ia memang sengaja sudah merencanakan ini semua. Dimulai ia yang mau-mau saja menemani Elena belanja, la yang diam saja ketika Elena mengambil banyak barang-barang.
Dan ketika sampai di kasir ia sengaja berpura-pura mendapat telpon penting, padahal tidak ada telpon sama sekali. Sampai tadi Elena meneleponnya berkali-kali ia sengaja tidak mengangkatnya.
"Haha pasti Elena sangat malu saat di kasir." batin Clara senang. Yah salah siapa dia mau memanfaatkan Clara, maka ini balasan kecil darinya.
Sebenarnya ia masih belum keluar dari parkiran mall, ia masih duduk anteng di mobil. la sengaja ingin melihat wajah malu Elena saat keluar dari pusat pembelajaran itu.
Tak lama setelah dipikirkan terlihat Elena keluar dari pintu utama mall, dengan muka yang memerah malu,mulutnya yang tidak diam sama sekali.
"Mungkin ia sedang mengumpatiku sekarang," pikir Clara melihat bibir Elena yang komat kamit gak jelas Ah sungguh pemandangan yang sangat indah bagi Clara.