Clara sudah tahu niat busuk Elena, mengajaknya belanja tapi Clara yang harus membayarnya, Clara tanpa repot-repot membalas semua pesan panjang itu, ia lebih memilih mengabaikan dan memasukkan kembali hp kedalam tasnya.
Namun tak lama terdengar lagi panggilan terus-menerus, Clara yang jengkel terpaksa menerima panggilan tersebut. Sebelum Elena bicara Clara lebih dulu memotongnya.
"Maaf, aku sibuk," jawabnya singkat dengan nada yang datar. Tanpa menunggu jawaban dari Elena Clara langsung akhiri panggilan dan langsung mematikan handphone nya. Clara tak mau hari minggunya yang cerah harus diganggu oleh sibusuk Elena.
Kemudian ia memilih melanjutkan berbelanja berbagai macam barang-barang. Selesai belanja Clara memilih langsung pulang ke mansionnya, ia sudah lelah sekali rasanya berbelanja banyak barang-barang sendirian.
Tapi sebelum itu sang sopir memaksa Clara untuk berhenti dulu di sebuah restoran. Ternyata sang sopir sudah dapat perintah dari Kakeknya untuk mampir dan memaksa Clara makan saat jam makan.
Lihatlah walaupun Kakeknya itu tidak bisa menemaninya tetapi ia terus mengawasi Clara dan memberi perhatian kecil seperti ini.
Clara pun hanya bisa menurut untuk makan siang dahulu sebelum kembali ke mansionnya. Sampai di mansionnya Clara yang kelelahan segera merebahkan dirinya di kasur king sizenya tak lama ia pun terlelap.
"Hari senin yang membosankan," gumam Clara yang sudah sampai disekolah.
Ternyata lapangan sudah banyak dipenuhi siswa dan siswi yang akan melaksanakan upacara. Kemudian Clara bergegas ke kelas untuk menaruh tasnya dan kembali ke lapangan.
Sampai di lapangan ternyata sudah ada Elena yang memanggil-manggil namanya. Mau tak mau Clara harus menghampiri Elena daripada ia yang malu karena jadi pusat perhatian orang-orang. Sampai didepan Elena Clara berkata, "Apa?" Tanyanya cuek.
"Ih... kamu itu, kenapa si aku chat nggak dibalas telfon juga nggak diangkat," tanya Elena dengan cemberut.
"Oh aku nggak pegang hp dari kemarin," Clara hanya menjawab sekenanya.
"Terus kenapa tadi gak jemput aku, untung aku dah siap-siap tadi jadi bisa naik ojol," tanya Elena menuntut.
"Aku kesiangan Elena, nggak cukup waktunya buat jemput kamu," jawab Clara dengan jengah melihat wajah Elena.
"Sebagai gantinya nanti kamu traktir aku makan di kantin ya," ujar Elena.
"Harus pokoknya kalau tidak aku marah nih," lanjut Elena memaksa Clara.
Di dalam hati Clara mah bodoamat, mau si Elena marah kek, ngamuk apa teriak-teriak si terserah dia, tetapi demi memerankan sahabat yang baik ini Clara akan memasang wajah polosnya seperti dulu.
"Baiklah nanti ya di kantin," ucap Clara dengan segera meninggalkan Elena, la sudah sangat muak berbicara dengannya.
Clara lebih memilih barisan digerombolan kelasnya daripada harus sebaris dengan Elena dan mendengarkan keluhan Elena yang tiada hentinya nanti. "Sungguh parasit," ucap Clara setelah sampai dibarisan kelasnya.
Bel istirahat berbunyi, Clara lebih memilih menelusupkan kepalanya di meja. Rasanya enggan sekali untuk menuju ke kantin, ia sangat malas melihat wajah sok polos Elena.
Tetapi ternyata tuhan tidak mengabulkan keinginan Clara,si b*****t ini malah menghampiri kelasnya, Clara hanya menatap malas Elena yang memaksanya ikut ke kantin. "Ayolah Clara, aku tidak ada teman untuk ke kantin," ucap Elena memasang wajah sok sedihnya.
"Tidak ada teman katanya padahal ia punya geng sendiri di kelasnya," ucap Clara dalam hati sambil memutar matanya. Yah hanya saat seperti ini ia mau menghampiri Clara, Clara sadar sekarang Elena hanya memanfaatkannya.
Seperti menemani makan agar Clara yang membayar, antar jemput Elena dengan alasan uang saku yang tidak cukup untuk naik kendaraan umum ataupun belanja yang pasti selalu Clara yang membayarnya, Elena akan selalu datang pada Clara jika saat ia membutuhkan saja berbeda jika ada acara event atau kegiatan bebas disekolah, Elena lebih memilih bersama geng satu kelasnya dari pada Clara.
Elena selalu berasalan bahwa ia harus bersama teman satu kelasnya, kalau tidak ia akan dimusuhi. Clara sebenarnya sangat merasa sangat kesepian tetapi ia percaya saja dengan kata sahabatnya itu.
Clara memang selalu sendirian, hanya Elena lah satu-satunya teman dan sahabat yang Clara punya, tetapi ternyata ikatan persahabatan itu hanya Clara yang merasakannya, tidak dengan Elena dengan sangat terpaksa akhirnya Clara menuju ke kantin dan juga harus mentraktir Elena tentunya.
Clara makan dengan malas, mengabaikan celotehan kosong Elena yang tiada habisnya itu, ia bercerita banyak hal, juga sesekali memuji Clara.
"Kau fikir aku akan tersanjung mendengar ceritamu, siapa yang tahu bahwa di belakangku kamu menceritakan kebalikannya," ucap dalam hati Clara dengan memandang datar Elena.
Muak mendengar semua cerita Elena, Clara lebih memilih cepat menghabiskan makanannya dan segera beranjak meninggalkan Elena yang belum selesai makan itu. "Aku sudah selesai, mau ke toilet," pamit Clara Singkat.
Sampai di toilet Clara melamun memikirkan rencananya, ia sungguh muak harus bersama Elena dan juga bersikap polos seperti dulu.
Tetapi jika Clara terang-terangan memusuhi Elena pastinya ia akan kalah karena Clara saat ini belum punya dukungan sepeti teman misalnya.
"Ah... bagaimana mereka mau berteman dengan aku kalau jerawatku belum hilang," ucap Clara insekyur karena memang wajah rata-rata murid disini mulus-mulus.
"Tak apa aku harus lebih sabar lagi untuk terus memasang wajah polos didepan Elena sampai aku punya dukungan, jika aku bertindak gegabah maka yang ada Elena pasti curiga denganku," ucap Clara sambil melamun.
Tak terasa kini Clara tengah menghadapi ujian semester, selama itu pula Clara selalu memutar otak agar ia bisa menghindari Elena.
Sepertinya ia yang tak pernah menjemput Elena lagi, tidak ke kantin karena ia membawa bekal sendiri, bahkan jikapun Elena memaksanya untuk jalan-jalan ia pasti beralasan bahwa ia sedang sibuk belajar untuk ujian semester.
Clara berasalan karena Kakeknya melarang Clara untuk bermain, agar ia fokus pada ujian semester. Padahal yang terjadi hampir setiap weekend Clara pergi jalan-jalan sendiri, ia berpergian ke pusat wisata-wisata yang ada di kota ini.
Clara merasa bahwa sendirian tidak semenyedihkan dulu, ia sekarang mengerti bahwa sendirian tidak masalah asalkan ia bahagia mungkin sekarang Elena sedang misuh-misuh sendiri karena Clara yang terus menghindar sehingga iapun tidak bisa memanfaatkan uang Clara.
"Haha... biarkan dia merasakan itu," Clara hanya tertawa senang.
Biarlah ia fokus untuk semesternya dulu, ia akan meraih nilai tertinggi kali ini, agar Kakeknya itu percaya bahwa Clara mampu mengelola perusahaan Kakek nantinya.
Melewati ujian semester kali ini Clara tidak merasakan kesusahan sama sekali karena ia sudah rajin belajar ditambah ia dulu kan sudah mengerjakan soal ini saat di kehidupannya dulu, jadi ia ingat semua jawaban-jawaban yang benar, untung saja soal semesternya sama.
"Ada untungnya aku kembali ke masalalu ya," ucap Clara senang.
Tidak perlu menunggu lama Clara akan selalu keluar terlebih dahulu dari kelasnya karena ia selesai mengerjakan soal lebih dulu, setelah keluar kelas ia langsung pulang menuju ke mansionnya, jadi ia tak repot-repot untuk mencari alasan menghindari Elena.
Disisi lain Elena yang baru selesai mengerjakan soalnya pun misuh-misuh sendiri. la sudah cepat-cepat mengerjakan soal agar ia bisa bertemu Clara, tapi apa setiap ia keluar dari kelasnya Clara sudah pulang.
"Sebenarnya bagaimana Clara bisa mengerjakan soal secepat itu," selalu terpikir dibenaknya.