Bab 1
SPW Bab 1
.
.
.
.
.
"Batalkan saja pernikahannya!" Gadis bermata cokelat itu berteriak frustasi.
"Jangan gila, kamu! Kamu ingin membuat malu keluarga, hah?!" Pria di hadapannya bersuara tak kalah tinggi darinya.
Emosi pria itu tersulut mendengar ucapan sang kekasih yang sangat ia cintai. Betapa tidak, ia berjuang sekuat tenaga mempertahankan hubungannya selama ini, hingga berada di titik di mana tak lama lagi keduanya akan bersatu dalam ikatan sakral.
Rossita menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja. Bahunya bergetar. Jelas sekali apa yang terjadi padanya. Dia menangis putus asa.
Raganata, sang kekasih, merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan emosinya terhadap gadis di hadapannya tersebut.
"Maafkan aku!" Raga merangkul bahu wanita yang ia cintai itu dan membenamkannya dalam dekapan.
"Aku lelah dengan semua ini," racau Rossi di sela-sela isakannya.
Raga mengerti dengan apa yang dirasakan Rossi. Karena, dia juga merasakan hal yang sama. Persiapan pernikahan mereka, tidak hanya menguras biaya dan tenaga, tapi juga menguras emosi dan perasaan.
Perbedaan tradisi dan adat istiadat, menjadi rintangan yang menghadang niat suci keduanya. Ternyata, menikah dengan cinta pun tak semudah yang mereka bayangkan. Bahkan menghadapi pasang surut hubungan mereka, nyatanya lebih mudah dibanding dengan menjalani proses persiapan pernikahan mereka.
**********
Kenalan, pacaran, kemudian lamaran. Begitulah proses sebelum pernikahan. Itu pula yang sudah dilewati oleh Rossi dan Raga.
Keduanya memutuskan untuk menikah setelah lima tahun berpacaran. Yang mereka kira semua akan berjalan dengan mudah ternyata jalan yang mereka tempuh begitu terjal. Mereka pikir setelah memiliki cinta yang sama dan juga berbekal restu dari kedua orang tua, maka tidak akan ada aral merintangi perjalanan keduanya untuk terikat dalam ikatan suci pernikahan.
Masalah demi masalah datang silih berganti. Menumbuhkan keraguan dalam benak duan insan yang tengah merajut asa, untuk masa depan yang bahagia.
***********
Rossi yang masih bergelung dalam selimut, terbangun manakala dentingan ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk dalam si pipih persegi cerdasnya.
[Sayang, kata Mamah pernikahan kita nanti jatuhnya tanggal 22]
Pesan dari Raga menyentak Rossi dari kenyamanan tidurnya.
[Lho, kok, Mamah cari tanggal juga? 'Kan Ayah juga udah menentukan tanggal waktu itu. Semua juga udah sepakat.]
Rossi membalas pesan Raga dengan perasaan bimbang menggelayuti hatinya.
[Kata Mamah tanggal 22 adalah hari baik untuk pernikahan]
Terdorong oleh rasa penasaran, Rossi pun menghubungi Raga via telepon.
"Hallo?" Suara Raga terdengar dari seberang telepon.
"Mas, ini gimana, sih? Bukannya pas lamaran sudah dibicarakan tanggal pernikahan kita?" Rossi bertanya dengan cepat pada Raga.
"Iya, cuma kata Pakde, tanggal 10 itu kurang baik. Jadi kita undur saja. Nanti Mamah sama Papah ke rumahmu untuk membicarakan ini sama Ayah dan Ibu," ungkap Raga, menjelaskan panjang lebar.
Rossi yang memang tidak paham tentang pilihan hari baik, mengiyakan saja perkataan sang calon suami. Baginya, yang terpenting bisa segera menikah dengan kekasih hatinya. Masalah penentuan tanggal, ia akan ikut saja apa kata orang tua dan keluarganya serta keluarga Raga.
"Ya udah, terserah Mas aja, gimana baiknya. Aku, sih, ngikut aja. Yang penting acaranya berjalan lancar," pungkas Rossi. Kemudian mengakhiri panggilan setelah berpamitan singkat pada sang kekasih. Ia lalu beringsut dari tempat tidurnya.
Pikirannya masih tenang, ia yakin pasti baik orang tuanya atau pun orang tua Raga, pasti ingin yang terbaik untuk acara sakral tersebut.
Usai membersihkan diri, Rossi turun menuju ruang makan. Dapat ia lihat sang Ayah sedang menikmati kopi hitam favoritnya sebelum memulai sarapan. Dan sang Ibu sedang menata aneka makanan di meja untuk sarapan.
"Pagi, Sayang!" sambut sang Ayah begitu malihat putri semata wayangnya mengambil duduk di sampingnya.
"Pagi, Ayah," balas Rossi dengan senyum secerah mentari pagi hari itu.
"Sayang, kau mau berangkat kerja hari ini?" Sang Ibu menimpali dengan pertanyaan.
"Iya, Bu. Ini hari terakhirku kerja," jawab Rossi seraya mengisi piringnya dengan nasi.
Rossi dan Raga bekerja di perusahaan yang sama, dan perusahaan tersebut punya kebijakan terhadap karyawannya untuk tidak terikat pernikahan sesama karyawan. Jadilah Rossi mengundurkan diri, karena Raga juga meminta Rossi untuk fokus pada rumah tangganya setelah menikah nanti.
"Oh, ya, Yah, kata Mas Raga, Mamah sama Papah mau ke sini. Mereka mau membicarakan tanggal pernikahanku." Rossi berkata sambil mengunyah sarapannya. Menikmati sajian pagi dihadapannya dengan tenang.
Sedangkan ayah dan ibunya saling pandang dalam kebingungan.
"Bukankah sudah dibicarakan waktu itu?" Ayah Rosi memastikan perkataan putrinya.
"Katanya ada perubahan. Kata Pakdenya Mas Raga, tanggal 10 kurang baik. Jadi diganti tanggalnya." Rossi bersikap santai dalam menanggapinya. Pikir Rossi itu bukanlah masalah, hanya diundur beberapa hari. Setidaknya ia masih ada waktu untuk menambahkan sesuatu jikalau ada kekurangan dalam persiapannya.
Namun, tanpa ia sadari, rahang Ayahnya mengeras. Sedang sang Ibu mulai cemas mendapati perubahan raut wajah suaminya. Khawatir dan takut kalau-kalau sang suami akan murka karena tak terima dengan keputusan calon besan mereka.
"Tanggal yang Ayah dapat juga dari paman Ayah. Dia ahli dalam perhitungan hari baik. Dari dulu kita selalu meminta bantuanya dalam mencari waktu yang baik untuk acara-acara sakral. Sekarang seenaknya saja mereka mau merubahnya. Ayah tidak akan setuju!"
Sang Ayah membanting sendok dalam genggamannya lalu beranjak meninggalkan ruang makan tersebut.
Bak tersambar halilintar, Rossi membatu mendengar penolakan sang Ayah yang disertai amarah. Dia tak menyangka masalah yang ia anggap sepele tersebut, memicu kemarahan sang ayah.
"Ya Allah, pertanda apa ini?" Sang ibu pun pergi menyusul suaminya dan meninggalkan putrinya dalam perasaan tak menentu.
_________________________________
Bersambung
_________________________________
.
.
.
.
.
Hai teman-teman ... Kita jumpa lagi di cerita baruku. Mohon dukungan dari para reader semua, supaya aku semangat buat nulis. Kasih moodbooster dengan tap love di cerita ini. Jangan lupa komentar di kolom yang sudah disediakan.
Baca juga ceritaku yang lain dengan cara klik Name Penn ku. kemudian pilih cerita yang ingin kalian baca.
Follow juga akun Staryku agar selalu dapat update cerita terbaru. Boleh juga Follow author di sss dan IG. Informasinya ada di profil author, ya, gengs ...