Satu tangan lelaki itu memegang stir sedangkan satu tangannya lagi memegang rem tangan, wajahnya senduh, ada kesedihan yang tak bisa ia perlihatkan, raut wajahnya seperti menyimpan ketakutan yang teramat dalam. Andai ia bisa berteriak, ia akan berteriak sekarang juga. Wanita yang duduk disampingnya menoleh dan menatap wajah senduh dan sedih lelaki yang kini mengemudikan mobilnya membela jalananan, hiruk pikuk kota New York, jelas terdengar, namun seperti sepi dan tak bersuara dipendengaran keduanya. Koper besar berwarna ungu menjadi saksi bisu sang anak adam hawa itu saling berdiam. Indari menunduk dan melihat tangan kanan Radika, ia pun menggenggam tangan itu dan mengelusnya pelan, Radika sesaat menoleh menatap wajah sang wanita yang menghiasi harinya beberapa hari ini. "Hem?" tanya

