Sin dan Ringga berlari di sepanjang selasar istana. Mereka berdua bisa melihat hasil karya sang ratu elixer: mayat. Kedua pemuda itu tak saling berkata, yang ada di kepala mereka hanyalah keselamatan seorang gadis: Aria. Sin mendapati pintu kamar Aria dalam keadaan terbuka, berkali-kali ia memanggil nama sang gadis. Berbalik, ia bersitatap dengan Ringga. “Kau,” katanya. “Apa lagi yang harus diselesaikan?” “Tidak,” jawab Ringga. Ia menatap gedung aula agung. “Kita harus bergegas.” Sin tak membantah, elixer itu mengikuti arahan Ringga. Udara tercemar oleh rasa kelam yang begitu menekan. Tentu Sin tahu, siapa yang telah memorak-porandakan istana manusia. Hanya ada dua elixer, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan sebuah dinasti. Setelah sekian lama Ibu Suri tak memanjangkan tan

