Almira berjanji. Ia akan setia pada Ruthven. Sayang, kata-kata yang diucapkan Almira harus dibayar dengan air mata. Bagaimanapun Ruthven tak akan rela gadis yang dicintainya dimiliki oleh lelaki lain. Maka, dengan amarah memuncak Ruthven berkata, “Pilih,” tawarnya. Kuil Serenity dihujani darah. Puing-puing berhias ukiran lili tercemari cairan merah pekat. Ruthven berdiri di hadapan Almira, kedua tangannya terentang. “Kembali padaku atau kau akan melihat tak ada satu manusia yang hidup di tanah Rea.” Almira menutup mulut. Ia tak berani menyangkal. Tidak setelah jasad yang terbujur kaku memenuhi lantai kuil. “Ruthven,” ucapnya lirih. Sungguh, haruskah ia menyaksikan p*********n ini? Tak adakah satu hal yang mungkin bisa menyelamatkan segala yang Serenity berikan? Hidup terlalu indah untu

