25

630 Kata

Malam. Siang. Keduanya tak ada bedanya bagi Baginda Lion. Elixer itu berada di penjara, bersama aroma pengap dan tikus hitam yang kadang kala menyempatkan diri menyambangi mantan penguasa; menatap melalui manik hitam dan menimbang akankah ia berani menyicipi secuil daging sang elixer.  Sedari kecil, Baginda Lion tak pernah mampu memahami jalan pikiran ibu tirinya. Wanita yang tampak dingin dan terkesan angkuh. Dan mungkin, wanita itulah yang paling bahagia jika para fana bersimbah darah. Tanah Rea akan dikuasai elixer, sementara para siluman akan membungkuk hormat mengakui kedigdayaan kaum pengisap darah. “Sin,” katanya. Baginda Lion menatap sudut bayangan dalam penjara. “Akankah kau memaafkan ayahmu ini, Nak?” Anak yang begitu dikasihi kini diburu, sementara sang ayah yang seharusnya b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN