Benak Aria seolah dipenuhi dengan aneka bintang yang mulai saling berpilin dalam putaran cahaya. Ia tak mampu berpikir, terlalu keruh. Tiada daya, pasrah, Aria tak mampu menolak rasa panas yang memabukkan. Demam yang membaur bersama debaran jantung yang berdentum kencang. Kapan pun Aria akan roboh apabila Sin tak menahan tubuh Aria; tangan kiri Sin menjaga Aria, sementara yang lain mencengkeram helaian rambut Aria, memaksa bibir Aria tetap menyatu dengan bibir Sin. Jika keadaan ini tetap berlanjut, Aria takut akan hal yang tak ingin dialaminya. Sensasi pun terhenti ketika seseorang menarik Sin menjauh dari Aria. Aria jatuh bersimpuh, napas terengah-engah dan pandangannya nanar. Tepat di hadapan Aria, Ringga terlihat murka dan siap melumat Sin. Ringga mendorong Sin, menciptakan jarak p

