“Tapi aku baru saja bercerai! Barry baru memberikan pengumuman selama dua atau tiga hari yang lalu. Kemudian, aku menikah dengan Wendy? Tidakkah itu lebih cepat dari kilat,” batin Damar dengan ekspresi kesulitan. “Barry tidak bisa duduk diam menunggu. Jika bukan karena kehadiranmu tadi malam, Wendy sudah teracuni,” kata Lilia. Damar menghela napas perlahan. Pria itu menampakkan senyum pahit dan menyangga wajahnya dengan satu tangan. “Tapi, Bu Lilia, kamu tahu, kan, kalau tubuhku, hatiku, dan seluruh ragaku milik—! Ah!” Sebelum Damar menyelesaikan ucapannya, Lilia melemparkan sendok ke dahi pria itu. “Jangan banyak omong kosong. Hanya ketika kamu ada di sisi Wendy barulah kita bisa tenang,” ujar gadis itu dengan dingin. Mendapatkan balasan tersebut, Damar melengkungkan bibirnya ke atas,

