Bab 1
"Hm... aroma mie instan ini benar-benar nikmat." Ucap seorang pria mengangkat mangkoknya dan mencium kepulan asap.
Gerimis diluar membuat dia malas keluar kos. Biasanya, saat makan malam, ia pergi ke warung tepi jalan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30.
Pria yang bernama Bagas Kurniawan ini, sambil menyantap makanannya, dia menelepon ibu dan adiknya. Sebisa mungkin, mereka saling berkabar.
Dia mempunyai seorang adik perempuan yang sudah menikah, Namanya Widya Kurniawan. Dan ibunya merupakan orang tua tunggal.
Rumah ibu tak jauh dari rumah Widya.
Secara fisik, Bagas bisa dikatakan tampan. Di tunjang lagi postur tubuhnya yang tinggi dan proporsional.
Sebenarnya banyak yang mencoba menarik perhatiannya, tapi dia merasa belum ada yang menggelitik di hati. Bahkan, beberapa kali dia menghindari wanita. Karena dia merasa risih dan membuatnya tak nyaman.
Untuk saat ini, dia masih tinggal di kamar kos. Dia bermimpi dan berharap bisa membeli rumah di kota ini. Jadi kalo ada ibu dan adek berkunjung, mereka tidak kesulitan mencari hotel atau losmen lagi.
Kebetulan Bagas menyewa kamar paling depan.
Dia sengaja meminta kamar depan, karena dia menerima jasa pengetikan.
Jasa pengetikan ini ditujukan untuk mahasiswa atau pelajar yang tak punya komputer. Jadi mereka bayar seikhlas nya.
Walaupun tak banyak, tapi income dari pengetikan lumayan untuk bayar kos.
Pulang kerja, karena tidak ada yang dilakukan, maka ia membuka jasa ini.
Selain itu, setiap Sabtu dia juga nggak kemana-mana.
Jadi komputer tadi, menjadi sumber second income buat Bagas.
Saat menikmati mie instan, secara tiba-tiba terdengar suara, "Aaaaaaaa!"
Brakkkkk!
"Bu, bentar ya? Kayaknya ada yang jatuh." Ujar Bagas kepada ibunya. Tanpa menunggu respon ibu, ia menutup panggilan telpon ini secara sepihak.
Bergegas dia meletakkannya mangkok, lalu lari keluar kamar.
Dia menengok kanan kiri, tidak ada warga kos yang keluar. Entah mereka mendengar suara tadi atau enggak. Atau bisa jadi suara tadi di kalahkan oleh suara hujan serta petir.
Akhirnya Bagas keluar sendiri, dan dia melihat ada seorang yg tergeletak di tengah jalan. Di sebelahnya ada motor sport terguling.
Dia bingung dan takut. Karena kuatir ini hanya jebakan yang ternyata awal kejahatan.
Dari kejauhan, dia melihat lampu kendaraan yang makin mendekat.
Bagas berjalan tanpa payung, menghampiri tubuh yang tergeletak lalu mengangkat kedua tangan dan melambaikan.
Motor itu pun melambat dan berhenti tak jauh dari Bagas berdiri.
"Ada apa mas?" tanya pria asing ini sambil mengusap wajahnya yang terkena air hujan.
"Tolong saya, mas! Bantu saya masukkan motor ini di garasi kos saya."kata Bagas dengan sopan.
"Saya mau angkat teman saya ini masuk ke kos"
Bagas mengaku, bahwa sosok yang tergeletak adalah teman kosnya.
Tanpa ucap, pria ini membantu memasukkan motor tepat di depan kamar kos Bagas.
Sedangkan Bagas sendiri, berusaha menggendong orang yang terjatuh tadi.
"Sudah saya masukkan mas, kenapa kok bisa jatuh?" Tanya pria ini.
"Mungkin licin, karena ujan. Jadi keseimbangannya kurang. Makasih banyak ya" jawab Bagas asal. Padahal ia sendiri tak tahu penyebabnya.
Pengendara asing pun pamit utk melanjutkan perjalanan.
Pria merebahkan dikasur kosnya. Dia melihat sekilas wajahnya yang masih menggunakan masker ala Rumah Sakit.
Badannya basah kuyup terkena air hujan dan Bagas melepaskan tas ransel, lalu jaket yang tertulis nama universitas di kota ini dan_
"Astaghfirullah! Ya Allah, ampuni aku..." Bisik Bagas dengan terkejut dan reflek mundur. Jantungnya berdetak kencang.
Tanpa sengaja ia menyentuh sesuatu yang menonjol, yang ada di tubuh bagian depan.
'Sebenarnya dia laki atau perempuan?
Kalo dia perempuan, tentu dia adalah wanita kuat, karena motor sportnya cukup berat.
Kalo dia laki, kok bagian tubuh depannya gitu?' Bagas membatin dalam hati.
Berpikir dan bingung mengenai baju yang sudah membasahi kasurnya.
'Kalo aku nggak ngelepas bajunya, dia akan kedinginan. Tapi bagaimana aku melepaskan baju itu?' Bagas masih terus membatin dan menatapnya.
Dia melihat telinganya, ada anting kecil yang melingkar, ya....ternyata mahluk yang saat ini di kamarnya adalah seorang perempuan.
Dengan berbagai usahanya, Bagas berhasil mengganti atasan wanita yang tak sadarkan diri ini.
Bagas memeriksa celana dan tas, tidak ada tanda pengenal apapun, SIM dan STNK juga tak ada. Tas hanya berisi sabun wajah, tisu, kaos tangan, kacamata, 1 plastik penutup hidung, lipstik, botol parfum mini.
Pria ini hanya bisa diam dan memandang wajah cantik yang terbaring di ranjang.
Lalu ia mengusapi kaki si wanita dengan minyak kayu putih.
Wanita ini bergerak, tapi dia diam lagi.
Bagas mendekati wajahnya sambil membawa botol minyak kayu putih di area hidungnya.
Tak lama, dia menyebutkan nama "mas Arga, tolong! Jangan tinggalkan, Mas Arga...."
'Siapa mas Arga?' Bagas kembali membatin.
Lalu gadis ini menggumam, dia menggerakkan kepala pertanda siuman. Dan kemudian ia mengerjapkan matanya.
Gadis ini melihat wajah Bagas, menyapu pandang kamar kos, dan melihat kaos yang ia kenakan.
Bagas mencoba tersenyum saat mata mereka beradu pandang. Pria ini menyodorkan air hangat, dan plakkkkk!
Tanpa ia duga, gadis ini tiba-tiba memukul sekitar Pundak Bagas. Dan pukulan ini meninggalkan rasa panas.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya gadis ini dengan sorot mata yang tajam seolah Bagas pencuri atau perampok yang telah mengambil sesuatu darinya.
"Ti-tidak ada, hanya mengganti bajumu yang basah" Bagas menjawab dengan tergagap. Karena ia terkejut setelah mendapat pukulan dari gadis ini.
Lalu si gadis berdiri dari ranjang, sehingga bagian bawahnya yang hanya tertutup segitiga pengaman terlihat jelas. Pahanya sangat mulus.Tanpa sengaja mata Bagas pun melotot , membuat jantungnya berdetak kencang lagi.
Padahal Bagas berusaha menyelimuti dengan sarung agar ia tidak melihat bagian terlarang ini, tapi dia sendiri yang memperlihatkan pada Bagas.
Dengan sadar, si gadis menyambar sarung dengan kasar untuk menutupinya. Wajahnya terlihat merah, pasti karena malu.
Berjalan memungut celana jeans,jaket mengenakannya dg cepat, sambil memunggungi Bagas.
"Kamu mau kemana? Ini jam 10 malam, istirahat aja disini, aku tidur ditempat lain" ucap Bagas. Ia juga kuatir jika ada yang mengganggunya saat di jalan.
"Bukan urusanmu!" balas si gadis misterius ini dengan nada ketus.
Dia langsung pergi tanpa mengucapkan kata.
Sedangkan Bagas hanya melongo menatap gadis bermotor sport ini menjauh.
'Apes banget malam ini, sudah ditolong, dapat pukulan. Tapi nggak pa pa, aku ketemu wanita cantik ...eh tapi siapa namanya?
Jangankan tanya nama, dia aja tidak mengucapkan terima kasih.
Tapi dia siapa?
Aku benar benar terpesona dengan wajahnya saat salah tingkah tadi.
Oh iya, bra dan kaos nya tertinggal disini.' Bagas terus membatin dan melamun.
Dan ia ada keinginan untuk mencarinya di universitas yang tertulis dijaketnya. Tapi ia ragu, mencari gadis ini di fakultas atau jurusan mana? Karena universitas itu sangat besar sekali.
***
Gadis yang bernama , Agni Lintang Gondokusumo masih berusia 22 tahun ini mengendarai motor sportnya menuju rumah. Meskipun hujan makin deras, ia seolah tak peduli. Karena ia ingin segera lari dan menjauh dari kamar kos Bagas. Rasanya dia malu sekali.
Kejadian tak terlupakan ini bermula Ketika ia merasa kesepian di rumah ini. Adiknya Adnan sudah tidur ditemani Bu Mar, Wanita paruh baya yang khusus menangani adiknay saat mama dan papa Agni tidak ada di kota ini.
Agni mengeluarkan motor sport untuk sekedar mencari udara segar dan keramaian.
Berhenti di resto cepat saji, hanya untuk membeli segelas coklat hangat, duduk sendiri di area parkir sambil menikmati coklat dan melihat lalu lalang kendaraan, hal ini biasa Agni lalukan Ketika tidak ada yang menemaninya.
Sekitar pukul 20.15, tiba tiba hujan turun.
Tidak menunggu lama, gadis ini langsung mengendarai motor sport itu.
Agni sangat menyukai saat wajahnya diterpa angin dan hujan, rasanya luar biasa. Lalu mendadak terlintas kucing menyeberang. Membuatnya terkejut, dan aku kehilangan keseimbangan. Lalu Agni sudah tidak ingat lagi.
Saat ia tak sadar diri, samar samar bayangan kejadian masa lalu yang suram kembali lagi. Agni tidak menyukainya, dan ia berusaha bangun. Saat membuka matanya. Ia merasa bagian kepalanya terasa berat, aroma minyak kayu putih yang sangat menusuk hidungnya.
Perlahan Agni buka matanya, ternyata ada orang asing disampingnya.
'Kemana pakaian ku?' batin Agni saat ia melihat baju yang ia kenakan bukan miliknya.
Spontan ia berdiri, tapi tidak ia sangka bagian bawah tidak memakai apa apa. Hanya memakai pelindung bagian dalam saja.
Untuk menutupi malu, Agni langsung pergi tanpa pamit dan tanpa mengucapkan terimakasih.
Ketika di tengah jalan, Agni merasa menyesal. Setidaknya mengucapkan terimakasih pada pria tadi, tapi kejadian itu sungguh membuatnya benar-benar malu.
Karena belum ada pria yang melihat area bawahnya.
***
Seminggu telah berlalu.
Sebenarnya Agni ingin sekali ke tempat Bagas. Karena kaos ini bukan miliknya, jadi harus di kembali kan. Sekalian mengucapkan terimakasih.
Namun sisi malunya lebih kuat, beberapa kali ia melintas di depan rumah kos Bagas, tapi nyalinya tak kuat.
Tapi tiap malam, tidurnya tak nyaman. Seperti menanggung beban.
Hari ini, Agni bertekad mengembalikan kaos.
Gadis ini membawa sedikit cemilan sebagai rasa terimakasih.
Dia sudah berdiri di depan pintu kamar Bagas, tapi ia tidak melakukan apapun.
Agni menghela nafas untuk mengumpulkan nyalinya.
Antara malu dan berani, Agni mengetuk pintu kamar kos Bagas. Tapi tidak ada respon.
"Cari siapa mbak?! Mas Bagas belum pulang, dokumen nya tarus aja disitu" ucap seorang pemuda dari 2 kamar sebelahnya.
"Baik mas, terima kasih" balas Agni.
Rasanya dia bahagia sekali karena tidak bertemu Bagas, tapi dia berhasil mengembalikan kaos yang ia pinjam. Agni merasa bebas, tanpa beban.
Dia tak peduli kaos atau barang lainnya masih di simpan oleh Bagas.
Yang penting, ia telah mengembalikan yang bukan milik nya.
Agni mengambil secarik kertas, dan menulis
"Terima kasih, maaf atas segalanya. Agni".
Dengan tersenyum, Agni melangkah pulang.