Bab 2

1617 Kata
Setelah mampir di kos Bagas, Agni melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan jam 13.00. Saatnya Agni harus menjemput Adnan. Adnan Surya Gondokusumo yang masih berusia 4 tahun. Dia adik Agni, lebih tepatnya adik adopsi. Ayah Adnan adalah salah satu pegawai dikantor papa, beliau mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat. Waktu itu Adnan masih dikandungan ibunya. Karena istrinya shock, tentunya berpengaruh pada kehamilan. Karena kesehatan fisik dan psikis terganggu, hal ini mengakibatkan Adnan lahir prematur. Dan tidak lama, beberapa hari kemudian ibunya juga meninggal. Karena kasihan, maka papa mengadopsi Adnan. Sudah beberapa hari ini, papa dan mama sedang keluar kota untuk kepentingan bisnis. Jika mereka keluar kota, Agni, Adnan dan Bu Mar selaku pengasuh tidur dirumah lama, kampung belakang kompleks perumahan mereka. Agni yang memintanya. Karena disitu banyak anak kecil, jadi Adnan bisa belajar sosialisasi juga. Agni senang melihat bocah ini tertawa dan berlari dengan teman-temannya. "Adnan!" teriak Agni. Dengan patuh, bocah kecil ini berlari menghampiri kakaknya. "Kenapa mbak?" tanya Adnan dengan nafas terengah-engah. "Mau ikut mbak Agni?" "Adnan mau main aja..." rengek bocah ini sambil menoleh ke belakang melihat teman-temannya yang asyik bermain. "Mbak Agni mau jemput papa mama lho! Beneran nggak mau ikut?" "Ikuuuuttt!" teriak Adnan dengan gembira dan antusias. Setelah memberi kesempatan Adnan bermain sesaat, Agni menjemput papa dan mama di bandara. Agni dan Adnan menunggu di bandara, layaknya anak kecil dia berlari kesana-kemari. Beberapa kali Agni memanggil dan mengingatkan Adnan untuk menjaga sikap. Tidak lama, mereka melihat papa dan mama yang melambaikan tangan. Mama berteriak, " Adnan! Anak ganteng! ". Adnan mencari sumber suara itu, sambil tersenyum dan berlari menuju mama. Dan dalam hitungan detik, bocah kecil ini sudah ada dipelukan mama. Papa tertawa sambil mengambil alih untuk menggendong Adnan, Adnan telah mengembalikan tawa mereka yang telah lama hilang. Mama mencium pipi Agni, di susul papa juga. Dalam perjalanan, Adnan berceloteh, dan mereka selalu tertawa, dan sesekali mencium pipi gembil Adnan. "Agni, tolong lusa kosongkan jadwalmu ya?" ujar mama saat mereka berada di dalam mobil. "Ada apa ya ma? Agni kan sibuk tugas akhir....." "Cuma makan malam kok." sahut papa. "O...kalo cuma makan malam, nggak usah sampe kosongkan jadwal pa. Paling cuma bentar." kata Agni. "Hm...itu.....Maksud papa, kita makan malam sama rekan kerja papa. Kebetulan teman lama juga. Bisa kan sayang?" tanya mama lagi. "Bisa ma." *** Hari dimana mereka akan makan malam. Agni mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Siapa?!" Tanya Agni dengan suara agak kencang. Perlahan pintu kamarnya terbuka. "Mama, sayang. Boleh masuk?" Mama bertanya balik. " Tentu donk ma...." Mama duduk di tepi ranjang dan melihat anaknya yang sedang sibuk membaca buku. "Agni, jangan lupa nanti makan malam. Dandan yang cantik ya." mama mengingatkan. "Iya ma." jawab Agni dengan menoleh sekilas ke mamanya. "Oh iya, rencana mau pakai gaun apa? Perlu gaun baru? Atau mau ke salon juga?" Mama memberi banyak pertanyaan. "Nggak perlu ma, gaun Agni masih banyak yang belum terpakai. Soalnya mama beli mulu. Ada yang bagus beli, ada diskon beli." "Soalnya, kalo mama yang pake, kok kayak nggak pantes." "Lagian ntar kita makan malam sama siapa sich ma? Kok kayaknya mama heboh banget." Agni menaruh curiga. "Surprise sayang, mama yakin kamu akan senang dengan acara makan malam ini. Mama keluar dulu ya? Mau anter Adnan sekolah". kata mama sambil berjalan meninggalkan anaknya. 'Kalo makan malam, pasti membosankan.', ucap Agni dalam hati. Karena papa dan rekan kerjanya pasti membicarakan topik yang tak bisa Agni pahami. Lalu ia kembali fokus melanjutkan tugas akhirnya. Sebenarnya Agni ingin menolak untuk datang di acara ini. Tapi Agni tak mungkin mengecewakan papa dan mama. Jadi gadis ini selalu menurut dan meluangkan waktu. Dan papa pernah menyampaikan, dalam setiap pertemuan selalu ada pelajaran yang dipetik. Entah ngeliat orang salah kostum, atau cara membersihkan tumpahan dibaju atau cara bicara menghadapi kolega, itu yang Agni ingat pesan dari papa. Waktu telah menunjukkan pukul 19.30, saatnya berangkat makan malam. Agni menuruni tangga, ia melihat papa menunggu di sofa sambil menatap layar tv. Dan mama keluar dari kamar Adnan. Mama mengecek Adnan sudah tidur atau belum. "Pa, lihat anak gadis kita, sudah saatnya kita punya mantu" ujar mama. "Apaan sich ma?" Balas Agni sambil tersenyum, pipinya merona karena pujian. "Yahhhh...papa sich terserah anaknya aja. Yang nikah kan Agni, mau sekarang atau kapan, pokoknya ingat, setahun lagi kamu harus keluar dari universitas itu. Dan setelah itu kamu magang kerja, supaya tau susah nya cari uang dan alur bisnis." papa pun ikut menimpali. Tak lama, mereka pun berangkat. Saat di dalam mobil, mereka berbincang ringan tentang tugas Agni. Dan tibalah di suatu restoran. Seorang staff, mengantarkan mereka menuju ke salah satu ruangan. Agni melihat beberapa rekan kerja papa. "Silakan Bu!" Ujar staff tersebut dan menarik kursi untuk mama. "Ah! Males banget! Aku benci keluarga ini" ucap Agni pelan saat menyadari ada siapa saja di meja bundar ini. "Ada apa nak?" Tanya papa seolah mendengar anaknya menggerutu. " Oh nggak ada pa. Aku baru ingat besok ada ujian praktikum, aku harap makan malam ini tidak terlalu lama", balas Agni menyembunyikan kekecewaannya. Keluarga Sutedja adalah rekan bisnis papa. Dan mereka sudah terkenal karena sombong dan selalu menilai dari segi materi. Agnj masih ingat, ketika anak gadis keluarga ini, yang bernama Carol menolak cinta Arga. Tapi setelah mereka tahu jika Arga adalah anak papa, sifat dan kelakuannya berbalik 180 derajat. Gadis itu balik mengejar Arga, tapi sayangnya Arga sudah terlanjur kecewa. Sedikit cerita tentang Arga Cahyo Gondokusumo. Dia adalah kakak Agni satu satunya. Setelah wisuda, dia menagih hadiah ke papa, sekaligus hadiah ulang tahunnya juga. 6 bulan kedepan, dia akan menikahi kekasihnya. Karina namanya, dia mencintai Arga tanpa memandang harta. Sebenarnya Arga ingin menikah sejak secepatnya, tapi Karin tidak bersedia. Karena dia harus menuntaskan kuliahnya lebih dulu. Orang tua Agni tidak mempermasalahkan, mereka siap menanggung seluruh biaya pernikahan dan biaya hidup, namun pihak Karin tetap tidak mau, sehingga pernikahan tersebut di undur. Setelah wisuda, mereka sudah mulai mempersiapkan pernikahan. Mulai mencari gedung hingga melakukan prewedding. Saat itu, papa dari luar kota datang dengan sebuah mobil yang mengantarkan motor sport impian Arga. Motor ini adalah motor impiannya. Papa membeli untuk hadiah ulang tahun Arga. Saking senangnya kendaraan itu langsung dicoba Arga. Papa tersenyum melihat anaknya mengendarai motor yang semakin menjauh. Tapi tak lama dari keberangkatannya, satpam perumahan datang membawa kabar buruk, bahwa Arga kecelakaan. Bagi keluarga Agni, malam itu adalah malam yang kelam. Seakan mimpi buruk yang tak pernah usai. Air mata terkuras hingga tak tersisa lagi. Hal ini di sebabkan Arga meninggal saat perjalanan ke rumah sakit. Karin yang saat itu bertamu ke rumah histeris, tidak percaya. Apalagi mama yang beberapa kali tidak sadarkan diri. Yang paling terpukul adalah papa, merasa bersalah karena telah membelikan motor sport itu. Tentu Agni pun juga kehilangan Arga. Karena jejaka ini selalu jahil, dan dia yang meramaikan rumah dengan kekonyolan nya. Agar papa tidak terlalu larut dalam kesedihan, mama menurunkan dan menyimpan foto Arga yang terpampang di rumah. Dan mama minta motor sport disembunyikan di rumah kampung, dan Agni lah yang merawat. Dengan kondisi papa yang kurang baik, income perusahaan turun drastis, karena papa tidak memperdulikan pekerjaan lagi dan beberapa kali harus menjual tanah dengan harga murah untuk menutupi biaya operasional. Dan di saat itu, papa sempat ingin meminjam uang kepada keluarga Sutedja. Tentunya dengan jaminan aset. Tapi sayangnya, mereka menolak. Akhirnya papa berusaha ke teman yang lain. Setelah kehadiran Adnan, semuanya berubah, Adnan mengembalikan keceriaan rumah. Papa bangkit lagi,dan bisnisnya juga semakin maju. Keluarga Sutedja kembali mencoba mendekati papa. Oleh sebab itu, Agni benar-benar membenci keluarga ini. Kembali ke perjamuan makan malam. Keluarga Sutedja hadir lengkap beserta Carol dan Carlie. Carlie memandang Agni lekat, seakan gadis ini mencuri sesuatu darinya. Tapi Agni cuek aja. Pura-pura tak tahu. Carol yang duduk tepat di sebelah Agni, beberapa kali mencoba untuk basa basi. Tapi Agni selalu menjawab dengan pendek dan dingin. Pertanyaan Carol seputar kisah asmara. Dia ingin tahu apakah Agni saat ini sedang berhubungan dengan seseorang. Dan makan malam pun berakhir, mereka kembali pulang. Ketika perjalanan pulang, mama membuka pembicaraan. "Agni, bagaimana makan malamnya?" Tanya mama. " Biasa aja ma." " Sayang, Carlie ingin menjalin hubungan sama kamu." Ujar mama. "Maksudnya?" Tanya Agni yang tak paham. "Maksudnya dia pengen kenal lebih jauh. Ya.....kayak pacaran gitu. Dan mungkin bisa berakhir di pelaminan kan pa?" "HAH?! PACARAN SAMA CARLIE?!" Pekik Agni melihat mamanya heran. Kok bisa mama menjodohkan dirinya dengan Carlie? Apa mama nggak ingat kejadian yang lalu-lalu? "Aku nggak mau punya hubungan sama keluarga Sutedja ya ma!" Ucap Agni tegas. Agni melihat mama terkejut melihat reaksi anaknya, papa hanya tersenyum. "Ma, aku masih kuliah, pengen lulus tahun ini!" "Kan nikahnya nggak langsung besok, atau lusa. Maksud mama, setidaknya coba dekat dulu, nak... " Mama masih merayu. Agni terdiam sesaat, otaknya bekerja keras untuk mencari alasan. "Aku sudah punya pacar ma, aku tidak mau menyakiti hatinya." Agni tak bisa mencari alasan. "Beneran nak? Kamu serius kan?" Tanya mama seakan tak percaya. "Iya ma.... " "Mama seneng akhirnya kamu punya pacar. Soalnya, mama kuatir ada penyimpangan, nak." "Astaghfirullah mama. Kok bisa mikir nya sampe sejauh itu sich?" "Ya gimana ya? Anak mama kan cantik. Masak nggak ada cowok yang mau?" "Astaghfirullah mama.... " "Ntar mama yang bilang kalo perjodohan ini dibatalkan." "Kapan papa bisa ketemu dengan calon mantu?" tanya papa yang sejak tadi diam. Agni menghela nafas, dia bingung harus mencari kebohongan apalagi. "Mungkin sekitar 10 hari lagi ya pa? Karena dia masih keluar kota." ucap Agni secara asal. "Baiklah sayang." kata papa. "Eh, papa baru ingat! Gimana kalo 2 minggu lagi? Soal nya lusa papa sama mama keluar kota lagi. Balik kesini 2 minggu berikutnya. Gimana, Agni?" ujar papa lagi "Oh iya nggak papa. Utamakan pekerjaan papa dulu. Kalo Agni dan pacar kan gampang pa... " Ujar Agni. Dia sedikit senang. Mungkin saja papa lupa tentang kebohongan ini kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN