Sore itu, Bagas tiba di kos.
"Mas, beberapa hari yang lalu, ada cewek cari mas.
Dia taruh sesuatu di kotak."
"Oh iya mas. Makasih." Hanya itu ucapan Bagas.
Beberapa hari ini ia memang tak memeriksa kerdus sama sekali.
Karena tugas yang ia kerjakan belum selesai dan ia juga tidak ada pesan masuk untuk mengerjakan orderan baru.
Biasanya kerdus ini digunakan Bagas dan mahasiswa sebagai wadah untuk meletakkan hasil ketikan Bagas atau flashdisk.
Dia melihat paper bag di dalam kotak kerdus.
Dengan rasa ragu, ia membuka tas yang berbahan kertas tebal ini.
Ia tersenyum saat tahu apa yang ada di dalamnya.
Kaos yang ia pinjamkan saat momen kecelakaan itu.
Dia juga melihat catatan kecil.
"Oh... Namanya Agni... " Bagas berbicara sendiri dan tersenyum.
Bagas berusaha mengingat wajah Agni.
"Kok jadi pengen ketemu Agni ya?
Terus aku cari dia dimana? Nggak mungkin aku cari dia di kampus nya."
"Kenapa malam itu aku tidak mengambil fotonya.
Aku kok nggak pinter sich?!"
Bagas masih bicara sendiri, seakan dia kecewa dengan dirinya sendiri.
Bagas melewatkan hari seperti biasanya.
Tapi berbeda dengan Agni.
'Setidaknya sebentar aja kukenal kan sebagai pacar.
Beberapa Minggu kedepan aku ngomong ke papa kalo putus. Gampang kan?' itu yang dibayangkan oleh Agni.
Tapi ternyata tidak semudah itu.
"Duh! Jul! Ntar lagi papa pulang. Aku bawa siapa ke rumah?" Agni mengeluh kepada sahabatnya yang bernama Julia.
"Dari tadi aku sodorin beberapa nama, kamu nolak.
Harus yang gimana? Lagian ini kan cuma bohongan, Agni."
"Yang kamu sodorin, teman kita semua, Jul.
Dari penampilan dan wajah pasti di tolak sama papa.
Bisa-bisa aku beneran di jodohin."
"Terus kita cari kemana?
Lha kitanya aja uda angkatan terakhir disini." Julia putus asa.
Mereka masih berpikir keras untuk mencari sosok pria untuk Agni.
***
2 Minggu telah berlalu.
Bagas duduk termenung sambil menikmati malam yang sangat cerah ini.
Bintang tampak berhamburan di langit.
Tiba tiba Bagas ingin makanan resto cepat saji. Dan tak lama ia mengambil kunci dan berkelana sendiri sambil mengendarai motor matic.
Di sisi lain, Agni yang sedang kesepian di rumah, ingin pergi ke suatu tempat.
Dia juga suntuk memikirkan pria yang akan dikenalkan ke papa.
Apalagi hari semakin dekat.
Karena malas menyetir, maka Agni memesan taxi.
"Tujuannya kemana mbak?" Tanya driver dengan sopan.
"Bisa antar saya ke resto cepat saji yang ada dipojokan, pak?"
"Baik mbak"
Ketika tiba di resto ini, Agni duduk berdiam diri, menikmati coklat hangat, lagi-lagi dia melamun.
Tentu saja tentang kekasih sementara.
Namun tiba-tiba Agni melihat ibu Sutedja dan anak gadisnya turun dari mobil.
"Astaghfirullah! Kok bisa kebetulan gini sich?!" Agni menggerutu.
Lalu ia sedikit membungkuk kan badan dan menunduk lebih dalam.
Badannya hampir terlihat rata dengan meja.
'Moga mereka segera pergi dari sini, karena aku masih pengen berlama lama.' Agni membatin dalam hati.
"Agni! Sedang apa kamu disini?" Teriak Carol.
Dia berjalan ke arah Agni, sedangkan Bu Sutedja masih mengantri.
Ternyata usaha Agni membungkuk tadi sia-sia.
"Mati lah aku..." Ucap Agni lirih dan sedikit gugup.
Mau tak mau, Agni menegakkan badannya dan berusaha tersenyum ramah kepada Carol.
"Lagi nunggu pesanan Adnan." Jawab Agni asal.
"Oh iya. Kata Tante, kamu uda punya pacar ya? Kok kita ga tau sich?
Yakin dia pria yang baik?
Kalo Adek aku, Carlie, kamu kan uda tau bibit, bebet, dan bobotnya.
Selain itu, 2 keluarga kita, kalo di gabungkan menjadi 1, bisnis keluarga kita pasti berkembang pesat."
Agni mengeluarkan tawa yang di buat buat.
"Saya ngga bisa ngomong banyak. Yang pasti, saat ini, saya menjalin hubungan dengan seorang pria." Kata Agni.
Sekilas Agni melihat seseorang yang baru saja melepaskan helm di tempat parkir. Agni tersenyum, mungkin pria ini bisa menyelamatkan dirinya.
Ya....dia melihat sosok Bagas.
Si jejaka ini berjalan santai menuju pintu restoran.
Dia tidak tahu ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan nya.
Rasa lapar Bagas sudah tak tertahankan, apalagi ketika mencium aroma makanan khas resto ini. Perut Bagas seakan meronta-ronta minta di isi.
Dengan langkah ringan, Bagas memasuki resto. Tanpa melihat kanan kiri, dia langsung menuju counter pemesanan.
Setelah antri dan mendapatkan makanan yang Bagas mau, ia melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk yang nyaman.
Tampak dari jauh ada seseorang yang melambaikan tangan.
Bagas sedikit ragu, apa dia melambai untuknya atau siapa?
Tapi wajah itu membuat Bagas tersenyum lebar.
Gadis yang ia cari yang bernama Agni, tanpa ia duga bisa bertemu di tempat ini. Sungguh kebetulan sekali.
Dengan menahan senyuman, agar wajah terlihat cool, Bagas berjalan menuju ke arah Agni.
Bagas meletakkan nampan di tepi meja Agni.
" Tante, Carol, kenal kan ini pacar ku" Kata Agni sambil melihat Bagas dengan tersenyum.
Bagas sempat tertegun dengan ucapan Agni. Sorot matanya yang penuh tanda tanya menatap Agni.
"Ayo kenalan, ini Tante Sutedja dan Carol" Ujar Agni lagi.
Pria ini berdehem dan mengulurkan tangan.
"Bagas..." Dia hanya menyebutkan nama. Karena ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan lagi.
Duo Sutedjo ini terlihat kikuk, dengan berat dan memaksa senyum, mereka menjabat tangan Bagas secara bergantian.
"Baiklah, kami pergi dulu, salam untuk mama ya" ucap Bu Sutedja.
"Iya tante. Salam juga untuk om ya... " Balas Agni dengan sopan.
Lalu dua orang itu pergi meninggalkan Agni dan Bagas.
"Duduk mas!" Agni mempersilahkan Bagas duduk di seberang nya.
"Oh.. Iya... Terimakasih."
Bertemu Agni lagi bagaikan mimpi, dan rasa lapar Bagas mendadak hilang.
Semua orang pasti senang saat melihat wajah Agni yang cantik dan kalem.
"Mas Bagas, terima kasih ya. Mas Bagas uda menyelamatkan aku lagi." Agni tersenyum dan menunduk malu.
"Oh nggak papa." Balas si pria. Tapi Bagas bingung, maksudnya menyelamatkan lagi yang bagaimana.
"Ngomong-ngomong, mereka siapa?" Tanya Bagas.
Lalu Agni bercerita dengan singkat tentang perjodohannya. Tapi dia belum ada niat mengajak Bagas bermain sandiwara. Karena menurut Agni, Bagas terlalu asing untuk Agni. Dia butuh orang yang lebih akrab.
Saat Agni bercerita, Bagas cuma manggut entah dia paham masalah Agni atau tidak. Karena sejak tadi dia menatap gadis yang ada di depannya, diselingi senyum dan sedikit kata 'lalu', 'hm','ok'.
"Ya gitu dech mas ceritanya." Kata Agni mengakhiri ceritanya.
"Sori ya mas, jangan bilang ke pacar nya.
Ntar pacarnya cemburu.... " Kata Agni lagi.
"Nggak.... "
"Jadi pacarnya nggak cemburuan? Wah! Enak banget ya.... "
"Bukan. Maksud aku, aku nggak punya pacar." Bagas meluruskan statusnya.
Mereka pun kembali berbincang dengan topik ringan.
Agni yakin, cerita bahwa dia berpacaran dengan Bagas akan tersebar dengan cepat.
Karena Bu Sutedja mulutnya agak lemes.
Waktu telah menunjukkan pukul 20.30.
"Mas, uda malam. Aku harus pulang." Kata Agni dan berdiri.
"Iya, aku juga mau balik." Bagas ikut berdiri.
Mereka berjalan keluar resto.
"Oh iya. Terimakasih ya cemilannya" Kata Bagas.
"Maaf ya mas, aku telat kembalikan kaosnya." Ujar Agni.
"Nggak papa kok. Hm...itu... Kaos kamu mau di ambil? Atau saya antar?" Tanya Bagas.
"Sudah aku cuci kok, bra dan kaos nya" lanjut Bagas lagi.
'Astaghfirullah...kenapa diperjelas gitu sich?!' batin Agni dan sedikit malu.
"Oh..aku ambil sekarang aja mas." Agni merasa tak enak karena barang pribadinya ada di pria ini.
"Baiklah, kamu naik apa?"
"Tadi, kesini naik taxi."
"Mau boncengan sama aku?"
"Boleh... " Jawab Agni dan menganggukkan kepalanya.
Sebelum Agni naik, Bagas menghela nafas.
Dan jantungnya berdetak kencang saat Agni berada di belakangnya.
Sebenarnya banyak wanita yang telah ia bonceng, tapi kali ini rasanya berbeda.
Bagas tak yakin, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Tapi dia belum pernah merasakan jantung nya bergerak liar seperti ini.
Bagas merasakan kepalan tangan yang ada di kedua sisi tepi jaketnya.
Selama di perjalanan, mereka saling diam.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kos.
Bagas mempersilahkan Agni masuk, tapi gadis ini menolak.
Agni hanya mengambil kaosnya dan pamit akan pulang.
"Aku anterin ke rumah." Kata Bagas.
"Tapi ini uda malam."
"Justru ini uda malam, makanya aku anterin, Agni." Bagas bersikukuh.
Sebagi lelaki, Bagas tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang sendiri dimalam hari.
Akhirnya Agni bersedia di antar oleh Bagas.
Mereka tetap saling diam.
Tak lama, mereka tiba di rumah Agni.
"Hmmmmm Agni." Kata Bagas dengan ragu.
"Iya mas?"
"Aku boleh minta nomor HPnya?" Tanya Bagas dengan sopan.
"Oh iya. Nggak papa mas... "
Akhirnya mereka bertukar nomor ponsel.