Sejak bertukar nomor pribadi, rasanya Bagas ingin mengirimkan pesan.
Sambil berbaring santai di ranjang, ia melihat ponsel, tepatnya dia terus memandang nomor Agni.
Bagas ingin sekali menghubungi Agni.
Namun hati Bagas terasa berat, entah gengsi atau segan.
Padahal, biasanya Bagas selalu berinisiatif terlebih dulu untuk mendekati wanita.
Bagas merasa harus hati-hati memperlakukan Agni. Dia tidak mau sembrono.
Selain itu, mereka berkenalan dengan cara tak biasa. Dari sebuah kecelakaan.
Tiap malam dia hanya melihat nomor Agni, dengan harapan ada SMS nyasar dari Agni.
Tapi hingga beberapa malam, tak ada kabar apapun dari Agni.
Di sisi lain, Agni sibuk dengan skripsinya, tapi dia juga bingung dengan orang tuanya.
Karena tak lama lagi, orang tuanya pulang. Dan dia harus memperkenalkan seorang pria ke papa dan mama.
Agni melihat nomor Bagas. Dia ragu apakah keputusannya tepat untuk minta tolong ke Bagas lagi?
Dengan terpaksa Agni menghubungi Bagas untuk bersandiwara lagi.
Untuk mengawalinya, Agni mengirimkan pesan kepada Bagas. Karena ia juga kuatir menggangu kesibukan Bagas.
Agni : mas Bagas, ntar malam klo nggak sibuk, tolong kasih kabar ya? Agni pengen ngomong sesuatu.
Selang beberapa menit, ponsel Agni berbunyi.
Bagas : ngomong sekarang aja. Mumpung aku nggak sibuk, aku telpon atau kamu yang telpon?
Saat mendapat balasan dari Bagas, Agni langsung menghubungi Bagas, karena dia merasa yang membutuhkan.
"Assalamu'alaikum." Sambut Bagas.
"Walaikumsalam.. " Balas Agni.
"Ada apa Agni?"
"Mas, nanti malam, ada waktu untuk ketemuan?" Tanya Agni dengan sopan.
"Boleh. Kita ketemu dimana?" Bagas bertanya balik.
Tentu saja dia menerima ajakan ini, siapa yang bisa menolak gadis cantik seperti Agni.
"Di restoran cepat saji yang tempo hari kita ketemuan itu aja ya?"
"Ok. Kamu kesana naik apa? Atau mau aku jemput di rumah?" Bagas menawarkan diri.
"Nggak usah mas. Aku berangkat sendiri aja." jawab Agni.
"Ok. Ada lagi yang disampaikan?"
"Nanti malam aja, mas. Makasih ya..."
Dan setelahnya, Agni mengakhiri pembicaraan.
Bagas tersenyum karena ia tak menyangka Agni benar-benar menghubungi dirinya.
Bagas melewati sisa jam kerja dengan tidak fokus.
Antara senang dan penasaran.
Senang, karena akan bertemu lagi dengan Agni yang cantik.
Bagas penasaran, kira-kira apa yang akan di sampaikan Agni?
Setelah jam kerja usai, Bagas langsung pulang.
Setelah mandi, Bagas berdiri cukup lama di depan lemari. Dia bingung untuk memilih kaos yang akan ia pakai saat bertemu nanti.
Pada pukul 19.00, Bagas tiba di resto. Dia melihat Agni yang sudah duduk di dalam restoran.
"Kamu naik apa?" tanya Bagas dan duduk di seberang Agni. Di meja sudah ada makanan serta minuman.
"Naik motor itu." jawab Agni sambil menunjuk motor sport.
"Kamu ngagk berat naik motor segede itu?"
"Kalo uda jalan, nggak berat kok. Sekalian manasin juga."
" Kamu darimana? Kok bawa tas segala."
"Dari perpusatakaan, cari literasi."
"Silakan di makan mas!" Agni mempersilakan Bagas.
"Masalah makan, nanti aja. Katanya ada yang mau di sampaikan." ujar Bagas. Karena ia penasaran.
"Hm.....gini. Mas masih ingat tentang 2 wanita yang ketemu di sini kan? Mas juga masih ingat tentang rencana perjodohan?" Agni berusaha mengingatkan.
Karena di malam itu, mereka membicarakan banyak topik. Mungkin saja Bagas lupa kan?
"Iya. Kenapa?" tanya Bagas santai.
"Nah! Itu masalahnya, mas. Aku butuh cowok yang bisa jadi pacarku, untuk di kenalkan ke papa. Mungkin papa pulang sekitar 2 atau 3 hari lagi."
"Lalu?"
"Jadi aku minta tolong mas Bagas, untuk jadi pacarku."
Bagas tertegun sejenak, dia cukup terkejut apa yang di ucapkan Agni.
"Mas Bagas nggak mau ya?" tanya Agni. Karena ia melihat Bagas yang hanya diam menatapnya.
Bagas berdehem.
"Kamu nggak punya teman cowok?" tanya Bagas.
Karena wajah Agni yang cantik, tidak mungkin ada cowok yang menolak berteman dengannya.
"Kalo temen kuliah ya banyak mas. Tapi papa pasti nggak setuju dan pasti aku di suruh jalan sama anak Sutedja itu."
"Kenapa?" tanya Bagas. Dia ingin tahu alasan papa Agni tidak setuju.
"Papa pasti pengen anaknya berhubungan dengan pria yang sudah dewasa dan mapan. Dalam arti, sudah berpenghasilan sendiri.
Dan aku nggak kenal sama cowok yang uda kerja. Cuma mas Bagas doank."
Sambil mengetukkan jari di meja, Bagas menatap Agni.
"Jadi aku mesti ngapain?" Tanya Bagas.
"Kalo papa datang, aku minta tolong mas Bagas datang ke rumah.
Pura-pura jadi pacarku gitu...."
"Terus, kalo di tanya, uda berapa lama pacaran? Aku jawab apa?"
Agni sempat berpikir sejenak.
Dia mencari jawaban yang pantas dan natural.
"Jawab sekitar 4 atau 5 bulan aja, mas."
"Ok. Misalnya papa nanya lagi. Pacaran uda 4 bulan, tapi kok nggak pernah ke rumah?"
"Bilang aja sibuk dan nggak mau ganggu konsentrasiku buat skripsi."
"Kita ketemu dimana?" Tanya Bagas lagi.
"Bilang aja, kita sering ketemu di sini."
"Ok.... "
"Terus, kira-kira, papa tanya apalagi ya mas?" Agni bertanya ke Bagas.
"Aku nggak tahu ya. Ini aja, moga-moga aku inget jawabannya." Tutur Bagas. Dia juga ragu dengan dirinya sendiri.
"Ya... Mas Bagas... Minta tolong usaha dikit lah mas." Ujar Agni dengan melas.
"Soalnya sandiwaranya setengah-setengah."
"Maksudnya setengah-setengah gimana?" Tanya Agni tak paham dengan ucapan Bagas.
"Kalo mau bohong, itu harus maksimal, Agni."
Agni hanya diam, dia sama sekali tak paham apa yang dimaksud Bagas.
"Minimal aku tau warna favoritmu, makanan, pokoknya semua hal tentang kamu."
"O...... Ok.. " Akhirnya Agni paham apa yang dimaksud Bagas.
Mereka lanjut saling bertukar informasi tentang diri mereka sendiri dengan menulis di atas kertas.
"Ternyata banyak banget ya?" Kata Bagas saat membaca kertas milik Agni.
"Kata mas harus totalitas."
Bagas tak menjawab, dia membaca segala hal tentang Agni.
"Tapi mas mau kan nolongin aku lagi?" Tanya Agni dengan wajah memelas.
"Iya iya. Mana sanggup aku menolak permintaan gadis cantik seperti kamu, Agni." Jawab Bagas.
'Alah gombal!' batin Agni.
"Makasih ya mas.. " Balas Agni.
"Kalo papa sudah mau balik, ntar aku telpon mas Bagas ya?" Kata Agni.
"Iya. Mulai nanti malam, aku belajar. Aku hafalin semuanya..." Kata Bagas dan mengibaskan selembar kertas.
Agni tertawa dan tersipu.
2 hari kemudian, Agni menghubungi Bagas.
"Mas, besok papa pulang.
Mas Bagas uda hafal semua kan?" Tanya Agni.
"InsyaAllah hafal."
"Ok. Ntar kalo papa pengen ketemu mas Bagas, aku kabari lagi ya?"
"Kalo misalnya nggak minta ketemu, gimana?" Tanya Bagas. Dia kuatir tidak bertemu Agni lagi.
"Pasti ketemu, mas. Aku yakin."
Hari ini Agni menjemput papa dan mama di bandara.
"Kapan papa bisa ketemu calon mantu?" Tanya papa.
Agni tersenyum dalam hati ketika papa mengucapkan calon mantu.
"Pa, Agni baru pacaran, baru tahap pengenalan. Masak langsung mantu-mantuan gitu." Agni berusaha mencari alasan agar menunda pertemuan orang tuanya dan Bagas.
"Lho terus mau berapa lama pacaran nya, kita aja cuma 1 bulan ya pa?" mama tak mau kalah.
"Papa kan belum tau orangnya. Kira-kira papa setuju atau nggak sama pilihan Agni? Lagian Agni masih skripsi. Belum sanggup mikir ke sana, pa." Kata Agni.
"Selama dia menjadi pria yang bertanggungjawab, papa pasti setuju.
Atau kamu mau sama anaknya Sutedja?" Goda papa.
"Ya jangan donk pa!"
"Jadi uda yakin sama yang ini?" Tanya mama.
"Ma, tadi Agni kan uda bilang, kita baru jalan."
"Ya uda. Besok malam, undang dia kerumah, papa pengen tahu, pria mana yang bisa menaklukkan hati anak papa.
Selain itu, papa juga titip pesan, jangan sampe bikin anak papa sakit hati." Oceh papa.
"I-iya pa" Kata Agni dengan sedikit gugup.
"Dan papa ga suka pacaran lama...e....ujungnya putus, istilah jaman sekarang, jagain jodoh orang, ga baik pacaran lama-lama." tambah papa lagi.
"Iya pa, besok Agni ajak ke rumah." Kata Agni pasrah.
Ketika di kamar, Agni menelepon Bagas.
"Mas, besok jam 7 malam ke rumah ya?"
"Jadi beneran?" Tanya Bagas. Dia juga deg degan.
"Iya. Tapi besok bukan ke rumah yang mas anter lho ya.... "
"Ketemunya di restoran?" Tanya Bagas.
"Bukan, di rumah lain. Nanti aku SMS ya."
"Iya... " Jawab Bagas pasrah.
***
Malam ini Bagas berdandan lebih rapi dari biasanya. Setelah cukup yakin dengan penampilannya, Bagas menuju rumah Agni yang lain.
Dia melewati gapura perumahan yang sangat elite. Tapi ia ragu, dia kuatir Agni berbohong.
Lalu ia berhenti sesaat untuk bertanya kepada penjaga yang ada di dekat gapura.
Bagas menyebutkan alamat lengkap yang di berikan Agni, ternyata benar.
Untuk tiba di rumah Agni, Bagas harus melewati beberapa blok lagi.
"Rumahnya yang paling ujung, mas." Ujar si penjaga.
Bagas menuruti arahan dari penjaga.
Tak lama kemudian, ia berhenti di rumah mewah yang sangat besar dan megah.
"Ini beneran rumah dia?" Bagas bicara sendiri. Dia kembali ragu.
"Selamat malam.... " Tiba-tiba Bagas mendengar suara. Ternyata security.
Bagas tak tahu security ini muncul dari mana.
"Malam, pak. Mau tanya, rumahnya Agni dimana ya?" Tanya Bagas dengan sopan.
"Maaf, dengan mas siapa ya?"
"Saya Bagas."
"Oh... Iya mas. Silakan masuk. Tadi mbak Agni uda pesan."
"Gitu ya?" Tanya Bagas yang masih ragu.
Karena beberapa hari yang lalu, ia mengantar Agni ke rumah yang dikampung, bukan rumah sebesar ini.
"Mari saya antar. Motornya di masukan aja, mas." Ujar si security.
"Oh iya... "
Sambil menuntun motor, Bagas melihat dan memperhatikan rumah ini yang seperti ia lihat di sinetron di TV lokal.
Modern minimalis, banyak ornamen kaca dan juga tanaman hias yang rapi, ada pula gemiricik suara air terjun mini yang membuat hati dan pikiran tenang.
Melihat kesempurnaan rumah ini membuat Bagas ingin berkeliling. Dia penasaran, ada keindahan apa lagi di sisi yang lain.
'Pantes aja keluarga Sutedja pengen jodohin anaknya, lha wong Agni anak orang kaya. Ini bukan hanya kaya, tapi kayanya kebangetan' batinnya.
Setelah dipersilahkan masuk oleh security pribadi, Bagas menunggu di ruang tamu.
Dia duduk sambil menyapu pandang di sekelilingnya.
Jejaka ini tersenyum saat melihat foto keluarga yang tertempel rapi di dinding.
Seseorang berdehem dan membuat Bagas terkejut. Dia tak tahu siapa pria yang sedang berjalan menuju ke arah nya.
"Temannya Agni ya?" Tanya pria ini.
Bagas berdiri dan mengulurkan tangan.
"Iya pak, perkenalkan nama saya Bagas Kurniawan" ucap Bagas dengan jantung yang berdetak kencang karena gugup.
Bagas dan pria paruh baya ini saling berjabat tangan.
"Silahkan duduk, saya Condro Gondokusumo, papa nya Agni" ucap papa Agni.
"Saya suka lihat rumah bapak.
Pemilihan warna catnya pas dan perabotannya juga tidak berlebihan" Ucap Bagas mencoba mencari topik pembicaraan.
"Kalo cat atau perabotan, itu urusan wanita. Kita sebagai lelaki tugasnya cari uang dan menyenangkan hatinya" jawab si bapak dengan bijak.
"Iya pak"
"Ngomong ngomong udah berapa lama nak Bagas kenal Agni?"
"Kurang lebih 4 atau 5 bulan pak"
"Lalu mulai kapan suka dengan dia?"
"Waktu awal ketemu, kita biasa aja, pak. Tapi makin kenal sama Agni , saya semakin apa ya...." Bagas menggantungkan kalimat.
"Kayak nggak bisa lepas dari Agni." Tambah Bagas.
"Iya iya iya.... " Papa tertawa lirih mendengar pengakuan Bagas. Papa tau apa yang di maksud jejaka ini.
"Bagas kerja dimana?" Pak Condro bertanya lagi.
"Saya Sales consumer good dan menerima jasa pengetikan dirumah, eh kos maksud saya."
Pak Condro menganggukkan kepalanya.
"Kira-kira, apa kamu bisa membahagiakan Agni?"
Pertanyaan ini sungguh rumit. Di luar perkiraan Bagas.
Dia takut salah jawab.
"Mungkin saya belum bisa membelikan semua keinginan Agni, tapi apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan Agni."
"Apa kamu ada rencana untuk menikahi nya?"
"Ya?" Tanya Bagas seakan tak percaya apa yang ia dengar.
"Kalian nggak mungkin pacaran terus kan? Masak nggak ada keinginan nikah?" Tanya papa lagi.
"Maaf sebelum nya, pakah bapak tidak keberatan saya menikahi Agni? Karena saya hanya seorang sales." Bagas kembali meyakinkan. Dia bingung harus merespon bagaimana.
Karena dia dan Agni, tidak membicarakan pernikahan sama sekali.
" Saya tidak keberatan, asal kalian saling mencintai dan saling menghormati.
Dan yang paling utama, jangan sampai kamu melukai fisik apalagi hatinya." Papa sedikit mengancam Bagas.
"Insya Allah saya usahakan selalu menjaga nya"
"Lalu kapan nikahnya?" Papa Agni mendesak suatu jawaban
"Ih papa kok buru buru sich, yang mau nikah Agni atau papa?" Agni memotong pembicaraan sambil jalan menuruni tangga.
'Dia kok cantik terus sich?!' batin Bagas sambil melihat Agni.
"Mau sampai kapan kalian menjalin hubungan macam ini?" Suara seorang ibu tiba tiba muncul membuyarkan perhatian Bagas.
Spontan Bagas menoleh ke sumber suara.
"Saya Rani, mamanya Agni." Ujar wanita ini. Lalu mama dan Bagas saling berjabat tangan.
"Kalo orang tua maunya ya cepet aja, belajarlah mencintai setelah nikah" ucap mama Agni lagi.
"Iya Bu, saya serahkan ke Agni saja" ucap Bagas.
Karena Agni yang tau karakter orang tuanya, dan dia lah yang mempunyai ide pura-pura ini.
"Aku kan masih kuliah 1 tahun lagi" Sahut Agni mencari alasan untuk menghindari pernikahan.
"Memangnya ga boleh ya pa klo kuliah nikah?" Tanya mama menoleh ke suaminya.
"Ya boleh aja. Wong hamil aja boleh kok." jawab papa enteng.
"Nah kan! Mama ngomong gini, supaya menghindari fitnah dan zina.
Kita nggak ngerti apa yang kalian lakukan di kos nya Bagas."
"Mama! Kita nggak ngapa-ngapain ma. Kita aja jarang ketemu. Iya kan mas?" Tanya Agni melihat Bagas seolah butuh persetujuan.
"Iya. Karena kita sama-sama sibuk. Dan kalo pun ketemu, kita janjian di resto."
'Ya Allah....aku baru ingat, jika dalam 3 bulan ke depan aku belum tunangan atau menikah, sejak pertemuan itu maka keluarga Sutedja akan melamarku.' batin Agni. Otaknya kembali berputar, jangan sampai ada pernikahan dengan keluarga Sutedja.
'Tentu tidak akan kubiarkan, lebih baik aku bersandiwara dengan Bagas.' Agni kembali membatin.
"Baiklah, aku dan mas Bagas akan menikah bulan depan" sambil melirik Bagas.
Bagas mengangkat kedua alisnya, lagi-lagi dia tak percaya.
"Tapi aku minta, tidak ada resepsi, cukup ijab qobul saja, boleh lah undang keluarga Sutedja dan beberapa kerabat sebagi bukti bahwa aku sudah menikah" Agni memberi syarat.
"Kenapa? Kamu anak papa perempuan satu-satunya. Papa pengen pesta yang layak. Meskipun tak terlalu mewah. Ntar dikira orang, papamu mulai bangkrut." Oceh papa.
"Pa, mana mungkin kita bisa siapin wedding dalam sebulan?" Ujar Agni.
"Kamu sendiri, kenapa minta nikah bulan depan?"
"Kalo di KUA kan gampang pa."
Disisi lain, Bagas hanya bisa diam, dia tak peduli Agni berdebat dengan orang tuanya.
'Kok jadi kayak gini?'
'Beneran nikah sama Agni?'
'Terus ngomong ke ibu gimana?'
"Iya kan mas? Bulan depan kita nikah KUA dan syukuran kecil-kecilan aja ya?" Tanya Agni.
"Iya....Lalu kira-kira kapan orang tua saya bisa bertemu bapak dan ibu?" Tanya Bagas dengan sopan.
"Waduh! Kapan ya ma?" Papa Agni menoleh ke istrinya.
Karena jadwal perjalanan bisnis mereka sangat padat. Sedangkan pernikahan anaknya terbilang mendadak, bulan depan.
"Hm... Gini aja. Supaya jadwal kita tidak terganggu, dan rencana pernikahan tetap berjalan lancar, kita bisa berkenalan dan diskusi melalui telpon dulu."
"Gitu ya bu?" Tanya Bagas seolah tak yakin.
"Iya. Gitu aja. Kita fleksibel kok. Soalnya jadwalnya padat dan mepet.
Mungkin kalo kita lewat di kota Ibu nya Bagas, kita bisa ketemu bentar ya pa?"
"Iya, nggak papa ma. Mama aja yang atur. Otak papa uda ga muat." Kata Papa pasrah.
Setelah berbincang ringan tentang keluarga, Bagas berpamitan.
"Mas Bagas, aku mau ngomong!" Kata Agni saat mengantar Bagas keluar.
"Iya?"
Dan Agni pun cerita mengenai permainannya.
"Mas Bagas jangan lupa ya. Ini hanya sandiwara, pernikahan maksimal 2 tahun saja.
Kalo mas Bagas sudah ada wanita yang akan di pinang, mas Bagas ngomong aja. Kita pisah baik-baik aja."
"Fokus dulu ke rencana utama. Kita nikah." Kata Bagas.
"Ok. Nanti malam, mas kirimin aku nomor rekening ya... "
"Rekening untuk apa?" Tanya Bagas.
"Kompensasi. Mas kan uda nolongin aku... "
"Agni, aku ikhlas nolongin kamu. Beneran!"
"Jangan donk Mas...aku minta maaf sudah melibatkan mas Bagas dalam masalah ini.
Sekarang mas pulang, besok kerja kan?"
Bagas membalas dengan anggukan.
"Dan besok aku kirim draft perjanjian nikah kita."
"Iya...." jawab Bagas pasrah.