#36 Aura berjalan mondar-mandir. Tampangnya sudah tak keruan seolah ada awan hitam raksasa berada di atas kepalanya siap kapan saja melemparkan petir. Aku mengemut sedotan, mengalihkan rasa bersalah usai menceritakan rencana Altez —rencana yang menyambar kepalaku bak migrain di bawah terik matahari. “Gue nggak bisa,” gumam Aura setelah diam cukup lama. “Gue juga berpikir yang sama,” sahutku. Aura melirikku sinis. Aku mengulum bibir, merasa bersalah telah memberikan respons. Kadang perempuan memang begitu, di saat memiliki masalah, mereka nggak bersungguh-sungguh menginginkan saran dan pendapat. Mereka hanya ingin didampingi dan mendapatkan seseorang yang telinganya mau dikorbankan. “Lo harus cari cara agar gue nggak harus bertemu Derek.” Aura akhirnya duduk di sebelahku. Kami berada

