Deg Degan Ya ?

880 Kata
Ayu menghentikan mobil di tempat parkir yang sudah terlihat ramai, padahal jam baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit. Dibiarkannya kakek dan nenek bergabung dengan teman temannya sementara ia menurunkan peralatan pancing dan kotak makanan. “ Butuh bantuan ?” “ Pak …" “ Abang …. kamu bisa memanggilku seperti Jenny dan Rayyan.” Ayu tidak menjawab, menutup bagasi dan memastikan mobil terkunci dengan benar ,” Sudah datang dari tadi ?” “ Belum lama. Kenapa gak mau dijemput ?” “ Biasanya juga gak ada antar jemput.” dibiarkannya Arfa mengangkat peralatan pancing kakek. “ Kan calon besan.” “ Ish …. “ “ Ish ….” Ayu melotot ketika Arfa menirukannya dengan tampal jahil ,” Kek … ini dibawa kesana sekalian ?” “ Sudah ….” Kakek mengambil peralatannnya dari tangan Arfa ,” Kami siapkan sendiri. Ay …. bawa makanan ke pondok itu, lalu kalian berdua boleh jalan jalan sendiri.” “ Wah, jadi juga kalian besanan.” “ Kapan nih ?” “ Nantilah, setelah adiknya Arfa. Ayu juga biar lulus dulu.” ujar Opa menjawab teman temannya, tertawa melihat Ayu mempercepat langkahnya. “ Kami jalan dulu kek, opa …" ujar Arfa disambut disambut kibasan tangan sebelum rombongan lelaki tua itu bersama sama mendekati pinggiran danau. “ Wah, itu cucumu ? Gak pernah lihat.” Ayu mengusap tengkuknya, drama nenek nenek dan ibu ibu yang heboh melihat lelaki dan perempuan potensial dimulai. Untung saja neneknya tidak pernah ikut ikutan, kendati hampir setiap bulan ia mengantar kakek neneknya. “ Mulai lagi deh.” guman salah satu lelaki delapan belas tahun yang sering jadi sopir neneknya tanpa melepas pandangan dari ponselnya. “ Untungnya kita masih anak sekolah.” sahut beberapa remaja yang bergerombol di teras pondok kayu, sama sama sibuk dengan gadgetnya. Ayu tertawa sambil menata beberapa makanan yang dibawa oleh teman teman neneknya, berikut perlengkapannya. Itu sebabnya ia lebih sering bergabung dengan remaja belasan ini daripada berada didalam pondok bersama beberapa cucu cucu lain yang sudah berusia duapuluhan. “ Kak Ay …. harusnya kamu disana, ikut ikutan cari jodoh.” Ayu mendengus. “ Nenek Kak Ayu gak pernah ikut ikut.” “ Padahal banyak yang ngelirik.” “ Kalau ikutan bisa kalah tuh tante tante kejar tayang.” “ Hish … gak sopan.” Ayu mendorong kepala gadis berambut cepak disebelahnya. Enam remaja seumuran itu tertawa terbahak bahak. “ Kak Ayu aman disini, gak ada yang melirik.” “ Kalau kakak mau, aku bersedia melirik. Asik kayaknya punya pacar kaya kak Ayu.” Dan Ayu menimpuk lelaki diujung bangku panjang itu dengan sebutir jeruk, tergelak ketika teman temannya mendorongnya sampai terjatuh ke lantai. Arfa melirik teras samping, mendesis geram melihat Ayu tampak menikmati disana bersama remaja usia belasan tanpa ada tanda tanda bakal menghampirinya. “ Arfa kantor kalian dekat, bisa sesekali makan siang bareng.” ujar seorang nenek sambil menyenggol bahu cucu perempuannya yang menampilkan wajah tersipu. Arfa berdecih lirih … raut wajah perempuan perempuan yang sudah membuatnya muak. Sekali lagi melirik ke teras dan melihat Ayu sudah asyik dengan ponselnya ikutan main game online ,” Nek, aku ajak Ayu jalan ya …. “ tanpa menunggu jawaban melangkahkan kaki ke teras samping ,” Ay …. temenin abang jalan.” Ayu mengangkat wajahnya sekejap ,” Kemana ? Disini ajalah.” “ Ah reseh …. “ “ Pulang aja, nanti opa sama oma aku antar.” “ Nurut dikit sama calon suamimu.” bisik Arfa geram. Ayu menelan ludah, wajahnya memerah ,” apaan sih ?” “ Ayo.” diraihnya lengan Ayu ,” Abang ajak kak Ayu dulu ya.” “ Iya Bang.” “ Mau diajak kemana, Bang ?” “ Ambil buku nikah” sahut Arfa, meringis ketika Ayu menggebuk lengannya ,” Emang bener kok.” Ayu beranjak sambil cemberut ketika teman teman kecilnya menyahut ramai. Arfa mengulum senyum, menjajari langkah Ayu … meraih pinggang gadis itu ketika menyadari beberapa mata mengawasinya dari dalam pondok ,” Sudah, jangan cemberut seperti itu.” “ Abang ih ….” “ Kamu juga gak bantuin abang.” “ Bantuin gimana ?” “ Emang kamu pikir enak berdiri di depan teman teman oma yang menawarkan cucu cucunya kayak orang dipasar ?” Ayu tergelak, mengaduh ketika Arfa menjitaknya pelan ,” Kita kemana ?” “ Jalan aja, asal gak disana.” Ayu melangkah menyusuri pinggiran danau setelah melepaskan diri dari pelukan Arfa ,” Di seberang sana ada yang jual bakso enak.” “ Enak beneran ?” Ayu meringis ,” Enak, karena sampai ke seberang sana sudah lapar.” Arfa tertawa kecil. “ Apaan sih …" Ayu merengut ketika Arfa meraih tangan kanannya ,” Emang mau nyebrang, pake gandengan segala ?” “ Truk aja gandengan.” sahut Arfa, menyelipkan jarinya dijemari Ayu. Ayu cemberut menyadari usahanya menarik tangan tidak berhasil. “ Santai aja, yang lain juga begitu.” Arfa menunjuk pasangan yang berjalan di depan mereka. Ayu diam, mencoba mengalihkan pandangan pada beberapa kelompok pemancing di dermaga kayu yang menjorok di beberapa titik. Sepelan mungkin diaturnya nafas yang sedikit tidak beraturan. “ Pas pacaran sama Dimas gak begini ?” usik Arfa merasa tangan digenggamannya berkeringat. “ Apaan sih …" “ Deg degan ya ?” goda Arfa ,” tertawa melihat wajah gadis disampingnya memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN