“ Sudahlah, aku kan sudah bilang … pelan pelan saja.” Arfa mendekat setelah terpaku diujung ruangan mendengar pembicaraan itu.
Jenny berdiri, memberikan tempatnya pada Arfa.
“ Pak …"
Arfa mengusap sudut mata Ayu yang basah ,” Jelek tahu …”
Ayu memajukan bibirnya sambil membersit ujung hidung ,” Biarin.”
Arfa tersenyum, lebih mudah melihatnya merajuk daripada bersedih.
“ Oma, Tante …. saya gak bisa janjikan apa apa, karena bukan cuma pak ehm … Kak Rayyan dan Kak Jenny yang berpikir seperti itu, saya juga harus hati hati karena ini menyangkut keluarga Opa. Dan saya sama sekali tidak tahu perasaan dan hubungan seperti apa yang dibutuhkan untuk itu.”
“ Bukannya kamu sempat pacaran ?” …. sela Jenny .”Ah, siapa namanya anak senat yang cakep itu ? Dimas …" tertawa melihat Arfa mengerutkan kening ,” Asli, cakep dia Bang, baik lagi. Tapi kelihatannya udah nggak lagi.”
Ayu melirik Arfa dan menutup wajahnya melihat lelaki itu menatapnya dengan pandangan jahil.
“ Kok gak dijawab ?”
Ayu menggeleng sambil menutup mulut dengan tangannya.
Arfa tergelak, merengkuh kepala Ayu kedalam pelukannya ,” Sudahlah …. kamu nikmati saja. Tugasku untuk mengenalkan rasa itu dan membuatmu jatuh cinta padaku.”
Ayu menarik kepalanya, menjauhkan diri dari rasa nyaman itu.
Arfa melepaskannya ,” Kapan makannya nih, lapar. Novi, Niel baringkan di kamar aja.”
Novi meraih anaknya dari pelukan Ayu.
“ Ayu ….” Arfa menatap gadis yang masih duduk ditempatnya sambil menggigit bibir ,” Pelan pelan saja.”
“ Belum terlambat makan siang kan ?”
“ Daffa …” Arfa melambai pada lelaki berkacamata yang memasuki ruangan.
“ Mama masak apa Bang ?”
“ Entah. Paling kesukaannya Rayyan ama Novi.”
“ Soto daging nih …. Eh, ini …” ditatapnya Ayu.
“ Ini Ayu.”
Ayu berdiri dan mengulurkan tangan ,”Ayu.”
“ Daffa.” Ujarnya sambil tersenyum ,” Mahasiswanya Jenny yang itu ?” Tanyanya lebih pada Arfa.
Arfa mengangkat alisnya ,” Yang itu.” sahutnya sambil tersenyum misterius ,” Ayu … ini calon suaminya Jenny.”
Ayu mengangguk sambil tersenyum tipis. Menatap lelaki yang terlihat cukup tenang dan terkontrol .. tidak dalam aura posesif seperti yang didengarnya.
Daffa tersenyum ,” Ayo makan.” ujarnya lalu mendahului ke ruang makan.
Ayu mengikuti disamping Arfa, melihat Daffa memeluk singkat anggota keluarga yang lain sebelum menarik pinggang Jenny untuk duduk disampingnya.